Life Of Dea

Life Of Dea
43


__ADS_3

Dea menghubungi Gerald tapi sayang nomornya tidak aktif. Dea berlindung dibali kontainer yang ada dipelabuhan, sesekali dia melihat keadaan apakah aman jika berpindah tempat.


Dea akhirnya menghubungi Nahendra, karena dia tahu bahwa Unclenya mantan Hacker. Ia ingin melihat keadaannya saat ini.


"Uncle, Help me" kata Dea lirih


"I know, i'm hacking your area. Are you oke?" Nahendra yang sibuk dengan komputernya dan didampingi oleh Willi menantunya.


"Yes, im fine" jawab Dea pelan, pandangan matanya tidak lepas dari sekitarnya saat ini.


Nahendra fokus pada layar komputernya, akhirnya dia ketemu lokasi Dea yang saat ini, Dea sedang bersandar di belakang kontainer, sementara Rico berada di kapal dikawal oleh bodyguard-nya. Sebelah kanan, kiri, muka dan belakang tempat Dea terdapat masing-masing 15 orang yang sudah bersiap, Nahendra tidak yakin jika Dea selamat kali ini.


"Nak, kamu masih disitu?" tanya Nahendra cemas


"Iya Uncle, bagaimana keadaannya Uncle?" tanya Dea pelan


"Situasimu tidak menginzinkan kau selamat. Tapi-," Nahendra diam beberapa detik "Gunakan Alibimu agar kau bisa keluar dengan selamat dan berjumpa langsung dengan Rico. Aku berharap kau pulang selamat nak" kata Nahendra tangannya meremas mouse komputer yang ada ditangannya.


"Uncle, kau tahu aku sudah jatuh cinta pada adik iparmu" kekeh Dea yang masih bisa bercanda.


"Seriously??" Nahendra yang kaget mendengar pengakuannya tentang perasaannya terhadap Martin.


"Ya Uncle, aku berharap kau merestui kami, aku ingin punya keluarga Uncle."ucap Dea sendu.


"Aku merestui kalian, cepatlah kembali dan berhati-hatilah" balas Nahendra sembari tersenyum.


"I miss you Uncle, sampaikan padanya jika aku merindukannya"


"Baiklah" kekeh Nahendra.

__ADS_1


Willi mendengar percakapan mertuanya dengan Dea kebingungan sendiri dan penasarannya untuk bertanya pun menggebu-gebu. Nahendra menoleh kearah menantunya itu dengan tersenyum


"Kau pasti heran bukan kenapa kami berbicara santai padahal situasi gawat darurat" sambil memperhatikan pergerakkan anak buah anakbuah Rico


"Aku bingung harus bersikap apa saat ini, cemaskah, bahagiakah, atau kuatir" ucap Willi mendudukan pantatnya kekursi tepat disamping Nahendra.


"Keduanya"kekeh Nahendra


"Kamu tahu usia Dea saat ini 28 Tahun, tidak pernah dia meminta tolong padaku bahkan menghubungiku. Tapi kali ini dia memilih aku, berarti dia mengingat siapa aku dulunya atau dia mencari tahu siapa aku." Nahendra menerawang kemasalalu.


"Aku dulu seorang mafia dan aku pintar menghacker CCTV bahkan Satelit sekali pun, jika dia sudah menghubungi aku berarti dia sudah dijalan yang buntu Willi. Perasaannya sekarang tidak sinkron dengan kenyataannya, dia hanya mengalihkan rasa takutnya saja. Dea selalu berlajar dalam segala hal apa pun, karena dia hanya sendirian didunia ini, sementara Kinan hanya fokus pada belajar bisnis tapi IQ mereka jauh berbeda. Dea memiliki diatas rata-rata diusianya ke 20 Tahun dia bisa membuktikan dia bisa menjadi pemimpin perusahaan mereka karena itu dia mempunyai sikap yang dingin dan cuek untuk saingannya tapi, untuk yang terdekat dengannya dia sangat menyayanginya termasuk pada Kinan."ucap Nahendra menjelaskan.


"Apa Dady yakin dia akan selamat kali ini, walau pun kita sudah mengutus anakbuah yang terbaik disisinya termasuk Hiro dan Gerald."tanya Willi.


"Aku berani jamin itu" Nahendra dengan kenyakinan penuh.


Dea saat ini hanya berdiam diri, sudah lebih setengah jam dia hanya diam dan berfikir bagaimana caranya mengalihkan perhatian anakbuah pamannya itu.


Dea mengeluarkan Hp-nya menghubungi pamannya.


"Uncle, kita butuh bicara berdua" ucap Dea ketus


"Hello keponakanku yang cantik, kau sudah berani menipu ku. Kau berpura-pura menjadi tukang service untuk memata-mataiku" kata Rico dengan santai


"Aku tidak butuh dongengmu Uncle, aku ingin bertemu dan kerahkan anakbuahmu sekaranh juga" balas Dea sembari melirik kekanan kekiri.


"Baiklah, datanglah kegudang, dari tempat mu belok kanan dan sekitar 500 meter ada gudang, masuklah" ucap Rico.


Dea memutuskan panggilannya, dan melihat kearah kapal dimana Rico dan empat anakbuahnya yang berada dibelakangnya mengikutinya.

__ADS_1


Dea langsung mengirim pesan kepada Nahendra bahwa dia akan berjumpa dengan Rico digudang yang tidak jauh dari tempatnya semula.


Tanpa diberitahu Nahendra sudah melihatnya kali ini dia bersama Martin dan Willi diruangan itu memperhatikan setiap pergerakan anakbuahnya.


"Kerahkan anakbuah lainnya target menuju arah selatan" ucap Nahendra berbicara dengan anakbuahnya yang tidak jauh dari tempat tersebut.


Dea keluar dari persembunyiannya, dan langsung dikepung oleh anakbuah Rico dan mengambil semua senjata termasuk ponselnya tapi mereka tidak tahu bahwa masih ada pisau mini dibawah sepatu bootsnya dan ponsel jadul Dea yang ada di dalam sepatu boots yang dia pakai saat ini.


Mereka akhirnya memasuki gudang tersebut, dengan bau tak sedap. Sepertinya disini mereka melakukan jual beli ilegal. Dea mengedarkan pandangannya keseluruh lokasi mencari cara keluar dari gudang tersebut. Dan dia melihat ada Bom disetiap dindingnya, Dea memaki dirinya sendiri saat ini. Dia tidaj menyangka pamannya sangat ambisi dengan harta milik ayahnya.


"Katakan, apa yang mau kau katakan" kata Rico to the point.


"Aku ingin membicarakan masalah dokumen surat yang Uncle minta tempo hari" ucap Dea sebisa mungkin mengulur waktu agar anakbuahnya cepat melumpuhkan lawan mereka yang berada diluar gudang.


"Dimana kau sembunyikan" tegas Rico dengan menahan amarah dan menatap tajam kearah Dea keponakannya.


"Aku tidak tahu, tapi Kinan yang tahu. Dan dia sedang menuju kemari. Aku menyuruhnya mengantar surat-surat itu semuanya. " balas Dea berbohong. Nyatanya Kinan sedang disandra oleh Hiro agar tidak dapat lari menjumpai Dea pada saat ini. Dea hanya takut Kinan kenapa-kenapa. Itu sudah tekad bulatnya meskinpun dia mati, dia ingin mati sendiri dan jangan sampai orang lain mati karenanya.


Rico menatap manik mata kecoklatan itu, mencari kebohongan, ternyata dia tidak bisa menilai karena Dea menyakinkan dirinya bahwa Pamannya harus percaya, apa yang dia ucapkan adalah kebenarannya.


"Baiklah, aku memberimu waktu 1 jam, ikat dia" bentak Rico kepada anakbuahnya.


Dea hanya diam saja, tepat disaat anakbuahnya ingin memegang tangannya. Dea langsung memutar tangan anakbuah Rico dan mendapatkan senjatanya dan Dea membanting anakbuah Rico dan senjatanya mengarah kearah pamannya.


"Jatuhkan senjata kalian, jika tidak aku tidak akan segan membunuhnya" teriak Dea berjalan kearah Rico dan mengunci tangan Rico kebelakang tubuh pamannya itu.


Rico menganggukan kepalanya tanda menyuruh anakbuahnya menjatuhkan senjatanya. Tepat disaat anakbuahnya yang hanya ada sembilan orang tersebut dengan gerakan cepat Dea menembak semuanya dan semua mati ditempat.


Karena suara senjata yang bertubi-tubi dari dalam gudang, anakbuah Nahendra mengabari bahwa ada suara senjata dari gudang. Nahendra langsung menyuruh anakbuahnya membunuh semua musuhnya.

__ADS_1


Jangan Lupa Like Komen dan Vote 😍😘


__ADS_2