Life Of Dea

Life Of Dea
#101


__ADS_3

"Oh my God!!" teriak Yuni melihat putrinya di gendongan Unclenya. Yuni mengikuti langkah Unclenya yang menuju kekamar putrinya itu.


"Uncle" lirih Yuni pelan dan duduk disisi ranjang tempat tidur putrinya.


"Seseorang telah menyelamatkannya" ucap Martin, Martin mengalihkan pandangannya kepada Willi dan mereka saling bertatapan "Ikut aku" ucap Martin meninggalkan Yuni dan Siska.


Martin memilih kekamar Kakak Iparnya, ia sangat rindu dengan almarhum Kakaknya itu. Martin melihat ruangan itu tidak ada perubahan hanya saja cat dinding kamar Nahendra baru diganti oleh Yuni.


"Ada apa Uncle, dimana Uncle menemukan Siska" tanya Willi penasaran.


"Itulah yang harus kita bahas, ketika aku diperusahaan Siska menghubungiku. Katanya dia harus menggunakan bahasa ibunya maksud ku bahasa indonesia agar penculiknya atau pun oranglain mengetahuinya. Cuma yang menjadi penasaran, penolong tersebut menyebut nama ku pada Siska dan memberikan phonsel tersebut untuk menghubungiku." ujar Martin yang dimana kedua tangannya terlipat diatas dada bidangnya.


Willi yang tampak berfikir, siapa yang menolong putrinya itu. Tapi siapa pun itu, Willi sangat berterima kasih atas itu semuanya.


Yuni yang masih menatap putrinya yang terlelap tidur, ia langsung membuka baju yang dikenakan Siska yaitu pakaian seragam sekolahnya. Dan Yuni membasuh tubuh putrinya dengan kain basah, Yuni bahkan melakukan itu semua sembari menangis. Ia menyesal atas semuanya karena iya tidak menunggu putrinya pulang.


"Maafkan Mommy sayang" lirih Yuni mengelus kepala putrinya dengan lembut.


Willi yang sudah selesai berbicara dengan Uncle Martin ia langsung menuju kamar Siska melihat keadaan putrinya. Namun ia melihat Yuni dan putrinya tertidur pulas, Yuni memeluk erat tubuh kecil putrinya dengan sisa air mata disudut matanya. Willi melihat hal itu, mencium sisa air mata Istrinya itu dan beralih mencium putrinya dengan lembut.


Sementara kamar Nahendra diketuk oleh Gavrael, begitu iya tahu Grandpa-nya datang, ia telah menunggu dan ingin ikut bersekolah di London bersama Siska.


"Grandpa" teriak Gavrael


"Yes, soon. How are you boy?"

__ADS_1


"i'm great, grandpa" balas Gavrael yang naik keatas pangkuan Martin dan mengalungkan kedua tangannya kelehernya.


"Aku merindukan Grandpa and Grandmom" ucap Gavrael dengan wajah gemesnya.


"I miss you too soon"


"Bagaimana, sekolahmu lancar?" tanya Martin dan membawa Gavrael naik keatas ranjang milik Nahendra.


"Sangat membosankan" jawab Gavrael penuh dengan antusias.


Martin tertawa mendengar ucapan Gavrael yang selalu bosan jika ditanya tentang bagaimana belajarnya dan berulang kali Gavrael menjawab dengan jawaban yang sama, sangat membosankan.


"Uncle, siapa yang sudah menculik adik ku" tanya Gavrael dengan tatapan serius.


Martin menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan memandang manik mata kecoklatan yang sama dengan miliknya.


"Apakah anak seusia ku tidak boleh mengetahuinya, Grandpa?" tanya Gavrael kembali tapi dengan wajah yang sangat kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Grandpanya.


"Yes, saatnya kamu tidur karena ini sudah larut malam." kata Martin sambil memeluk Gavrael tidur diatas ranjang king size milik Nahendra.


Gavrael hanya mengikuti apa yang dikatakan Grandpa-nya, karena Gavrael anak penurut kedua orangtuanya dan Grandpa-nya.


Setelah Gavrael tertidur nyenyak, Martin mengambil phonselnya karena seharian ini ia tidak menghubungi istrinya.


"Hallo Honey"

__ADS_1


"Yes sayang, bagaimana keadaan Siska?" tanya Dea keceplosan


Martin terdiam dan menepis pikiran buruknya, "Sayang, tahu dari mana Siska sudah pulang" tanya Martin yang tidak ingin berfikir buruk pada istrinya.


"Hemm, itu aku baru saja dikabari Yuni" balas Dea yang baru ingat ketika sedang mengirim pesan pada Dea untuk menyemangati keponakannya itu.


"Oh, besok Siska akan kami bawa kerumah sakit untuk memeriksa keseluruhannya, Honey"


Martin menghirup udara dalam, "Aku hanya takut dia mengalami trauma sayang" ucap Martin kembali.


"Oh my God, semoga ini yang terakhir ada pada kita dan keluarga sayang. Aku sangat cemas memikirkan keadaan cucu kesayanganku itu" balas Dea


"Kita semuanya menyayanginya, Honey aku ingin istirahat. Dan sekarang aku dikamar Kakak bersama Gavrael, kamu tidak apa-apa bukan?" tanya Martin dengan suara yang lembut.


"Istirahatlah, jangan lupa mandi dulu, biar badan mu lebih segar dan enteng sayang' balas


"Yes, I love you" ucap Martin


"Love you too" balas Dea.


Martin langsung menuju ke walk in closet dan menanggalkan semua pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi dan setelah satu jam Martin langsung memakai piyama bekas baju Kakak iparnya dan langsung bergabung tidur dengan Gavrael dibawah satu selimut dengan cucu kesayangannya itu, sebelum tidur Martin mengecup kening Gavrael "Have nice dream soon" ucap Martin dan langsung memejamkan matanya menuju ke alam mimpi.


Jangan lupa dukungannya


Maaf lama updatenya karena sedang sakit

__ADS_1


Trimah kasih dukungannya. . . 😍🥰😘


__ADS_2