
Sebulan sudah kematian Virez, Paman Dea Rico menjadi buronan, keluarga Rico yang merupakan bibi dea datang menjumpainya agar mencabut tuntutan yang diajukan Dea bersama Nahendra.
"Nona, ada Nyonya Tertua didepan" kata pelayan
Dea menghempaskan nafas dalamnya dan menatap tajam kearah pelayannya, karena mereka tidak mendengarkan perintah Dea untuk tidak menganggunya dalam hal menyangkut pamannya.
"Pergilah, aku akan turun" kata dea dengan malas
Pelayan tersebut meninggalkan ruang kerja Dea dan menutupnya kembali.
Dea langsung bergegas menuju ruang tengah, dan dia melihat anak tertua dan bibi tertuanya sedang duduk diruang tengah. Dea turun dari tangga dan Bibinya melihat, langsung berjalan cepat kearah Dea dan menamparnya.
PLAAAK...
"Anak tak tahu diri, sudah dibesarkan dirawat tapi kau tidak mau mencabut gugatanmu!" teriak Bibi Mori dengan emosi
"Mom tenangkan dirimu" ucap Mori menenangkan Ibunya
Dea mengelus pipinya yang kena tampar oleh Bibinya, dan menatap tajam kearah Bibinya sambil berjalan.
Bibinya merasa tercekik dengan tatapan keponakannya kali ini, dia hanya memundurkan langkahnya, karena Dea terus berjalan kearahnya dengan manik mata yang tajam.
"Dea! Apa yang kau lakukan pada Ibuku?" bentak Mori
Dan tiba-tiba Mori melebarkan kedua matanya melihat aksi yang diberikan Dea kepada Ibunya.
__ADS_1
Bibi Mori sudah mentok kedinding dan langsung menjambak rambutnya kebelakang dengan keras membuat rambutnya rontok dan menamparnya sebanyak sepuluh kali dan mencekiknya dengan kuat.
Mori berusaha melerai Dea dan Ibunya sampai akhirnya dilepaskan Dea, dan Dea tertawa kencang.
"Kau tahu Bibi, aku bisa saja melakukan lebih dari ini tapi, itu hal yang sangat mudah sekali dan tidak seru." ucap Dea sambil mendorong tubuh Bibinya sampai tersungkur dilantai.
"Paman Rico buronan polisi saat ini, jadi siapkan hati mu dan langkahmu agar aku tidak menemukannya pertama kali karena, jika dia sampai ditangan ku duluan akan ku pastikan dia akan menderita sebelum ajal menjemputnya" tegas Dea dan pergi meninggalkan mereka berdua diruang tengah.
Braaak
Dea menghempaskan pintu ruang kerjanya dengan keras, sampai terdengar kebawah. Bibi Mori terkejut dan Mori membantu Ibunya untuk berdiri dan mengajaknya meninggalkan kediaman Dea. Dea termenung diruang kerjanya sambil menyalakan rokoknya dan dia menuangkan wine dan menyesapnya dalam diam.
Setelah kejadian bulan lalu dan meninggalnya Virez, Dea lebih banyak mengurung diri diruang kerjanya. Dia bahkan tidak pernah datang ke perusahaan, dia lebih banyak kerja dari rumah karena, Dea masih belum bisa menerima kematian Virez, dimana dia yang selalu ada buatnya.
Martin sudah bisa berbicara pelan dan beberapa kata, luka luarnya sudah berangsung mengering.
"Ka-kakak" lirih Martin menatap langit kamarnya
"Ya, katakan apa yang kau mau" kata Nahendra yang berada disisi ranjangnya.
"Apa dia baik-baik saja" ucap Martin yang masih belum melihat kearah Kakak Iparnya
"Dia hanya syok, dan semua akan baik-baik saja. Jika kau kuatir akan keadaannya, maka fokuslah penyembuhanmu dan lamar dia boy" kata Nahendra
Martin menoleh dan menatap kearah Kakak Iparnya, biasanya Nahendra sangat seleksi masalah jodohnya karena masalalu yang menimpanya, tapi ini dengan entengnya Kakak Iparnya itu menyuruh melamarnya.
__ADS_1
"Apa dia cocok untuk ku Kak"
"Apa kau menyukainya" ucap Nahendra yang balik bertanya kepada Martin
"Aku tidak tahu, usia kami terpaut sangat jauh. Dan dia wanita yang cerdas, sukses. Apa menurut Kakak dia mau dengan ku jika aku mengatakan kepada bahwa aku menyukainya" tanya Martin dengan antusiasnya.
"Dia sudah lama menyukaimu Martin tapi dia tidak pernah melihat rupamu, bahkan dia lupa dengan diriku jika aku tidak menjelaskan kepadanya. Kau ingat kita liburan tahun lalu, pertama kali kalian berjumpa dia tidak mengenalku sama sekali. Sangat lucu" kekeh Nahendra sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku akan mencoba mendekatinya, tapi selama aku tidak sadar apa dia pernah kemari?"
"Kau mau aku jujur" tanya Nahendra
"Jujur saja Kakak Ipar" balas Martin
"Jawaban ku TIDAK, dia tidak pernah menjengukmu karena, dia merasa terpukul akan kejadian itu. Bahkan yang ku dengar dari Kinan bahwa dia tidak pernah keperusahaan dan hanya berdiam diri dikamar mau pun ruang kerja. " kata Nahendra menjelaskan panjang lebar.
"Aku akan menjumpainya setelah aku sembuh kak" kata Martin dengan raut wajah yang sendih.
Dea saat ini memasukkan beberapa bajunya, dan memasukkan perlengkapan lainnya termasuk senjatanya kedalam tas ranselnya. Dia akan pergi ke Rusia, karena dia mendapat laporan jika Paman Rico berada disana saat ini.
Dea sudah tidak sabar akan memberikan yang terbaik untuk Paman Riconya tersayang.
**Jangan Lupa tinggalkan jejaknya
Like Komen Vote dan Favorit, thank you**.
__ADS_1