Life Of Dea

Life Of Dea
#49


__ADS_3

Nahendra saat ini termenung didalam kamarnya sendiri, duduk bersandar disofa panjang dengan mata terpejam, berusaha mengingat kenangan waktu bersama ayah Dea Akseno.


Akseno yang ibunya memiliki nama belakang keluarga Watson dari kalangan bawah yang dibawa Kakek Dea setelah ibunya meninggal dunia, dibunuh oleh suruhan istri dari Kakek Dea sendiri.


Akseno merupakan hasil dari perselingkuhan Kakek Dea, karena istrinya tidak bisa memberikan anak meski mereka sudah lama menikah dan istri Kakek Dea berselingkuh dengan mantan kekasihnya dan menghasilkan Rico paman Dea.


Kakek Dea menerima Rico sebagai anaknya dan sangat akrab dengan Akseno ayah Dea.


Tapi sebelum ajal menjemput, Kakek Dea memberikan semua hartanya kepada Ayah Dea karena hanya dia mengalir darah axton.


Ayah Dea mengetahui itu semua kebenaran itu, ketika Kakek Dea meninggal dunia


Dan pengacara keluarga membacakan surat wasiat dimana semua harta milik axton jatuh ke tangan ayah Dea. Sementara istri sah Akseno tidak terima, dan dia tidak ingin ayah Dea hidup.


Karena itu istri dari Kakek Dea yang merupakan Ibu tiri Akseno mengasut putranya untuk membalaskan dendamnya dan itu sudah terwujud sebelum meninggalnya Nenek Dea yang merupakan Ibu tiri Akseno karena sakit kanker yang dia derita selama ini.


Sementara Dea yang merupakan anak kandung Akseno tidak tahu apa-apa, karena yang dia tahu bahwa pamannya itu sangat baik kepadanya hanya istri pamannya dan sepupunya yang sering julid dan menghina dirinya.


Ayah Dea menikahi wanita dari keluarga Watson yang merupakan sahabat dekat dari istri Nahendra Yuki, karna dia merindukan ibunya yang sudah lama meninggal dunia.


Semenjak itu keluarga Nahendra dan Akseno sangat dekat dan menjalin kerja sama sampai tragedi menimpa Nahendra dan Nahendra menghilang dari peredaran bersama Martin adik dari Yuki istri Nahendra.


Nahendra membawa Martin agar tidak dapat dibunuh orang yang dibayar oleh adiknya sendiri. Karena itu, Akseno mau pun Nahendra tidak ada kabar sama sekali dalam jangka waktu yang lama.


Nahendra bertekad, jika ini sudah selesai, ia ingin meceritakan semuanya kepada Dea agar dia mengerti kenapa pamannya tega berbuat demikian kepadanya.


Tiba-tiba matanya tertuju pada kursi roda milik Martin dan langsung mengambil phonselnya yang ada diatas meja depan sofa yang ia duduki.


"Hallo Kak,-" ucap Martin, terputus


"Kekamar sekrang juga" celah Nahendra, dan memutuskan panggilannya dan matanya tak lepas dari kursi roda yang dipakai Martin selama dia sakit.


Tok...Tok..Tok..


"Masuk" kata Nahendra


"Ada apa" ucap Martin dan langsung menuju kehadapan Nahendra.


Mata Nahendra masih melihat tubuh Martin sedari dia masuk sampai berhenti dihadapannya.


"Apa kau sudah tahu, kalau kau sudah bisa berjalan?" tanya Nahendra dan memandang Martin


"Maksud kakak apa? Aku kan memaa,-" Martin langsung melebarkan manik matanya dan melihat kebawah keaarah kakinya.


"Oh my God," lirih Martin, mengusap pelan wajahnya dan langsung berhamburan kepelukan Kakak Iparnya yang sudah dia anggap Ayah dan Kakaknya sendirinya.


"Kau tidak menyadarinya"kekeh Nahendra


"Bagaimana bisa aku tidak sadar Kak" balas Martin yang masih seperti mimpi baginya.


"Kak, Dea bagaimana apa sudah ada kabar? ini sudah mau satu jam setelah dia dibawa kedalam kapal." tanya Martin, duduk berdampingan dengan Nahendra.


"Semua anggota mengikuti mereka, tapi kita tidak bisa gegabah karena ditubuh Dea ada Bom. Remotenya ada sama Rico, jika kita salah langkah saja dia akan membunuhnya" ucap Nahendra, panjang lebar.


"Aku akan menyusulnya" ucap Martin


"Jangan, tetap disini karena kita harus memantaunya dari sini." tegas Nahendra.


Martin terdiam dan lesu mendengar ucapan Nahendra, ingin dia menerjang malam ini langsung kesana. Ingin rasanya dia membunuh semua orang yang menyakitinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengampuni semuanya Kak" kata Martin, dengan tangan mengepal kuat.


Sementara dikapal ditengah laut lepas Dea sudah berdiri diujung kapal, jika tubuhnya tidak seimbang dia akan jatuh kedalam laut dalam. Ombak yang kuat dan angin yang kencang harus ditahan Dea agar tak jatuh.


Dea hanya memandang Rico dan Jerry yang ada dihadapannya, dan anak buah Rico lainnya berjaga disisi kapal dengan senjata mengarah kearah Dea.


Tidak terasa air mata Dea lolos begitu saja, dimana orang yang selama ini disayanginya ternyata dialah yang membunuh ayahnya secara perlahan-lahan.


"Keponakanku, waktu mu masih ada sedikit lagi. Cepat katakan dimana surat-surat itu semuanya??? atau aku akan mempercepat kau menyusul ayahmu yang tidak berguna itu." kata Rico, menghirup cerutu yang ada disela jari-jarinya sebelah kanan.


Langit mencekam dan tiba-tiba suara petir yang kuat terdengar dan hujan datang. Seakan ikut merasakan kesedihan seorang anak yang tumbuh besar tanpa kasih sayang orangtuanya. Dea mengangkat wajahnya, wajahnya langsung basah diterpa hujan yanh tidak begitu lebat hanya saja, angin malam ini sangat kencang membuat posisi Dea hampir terjatuh.


Dor....


Rico menembak kaki Dea, dan secepat kilat Jerry membunuh semua anak buah Rico yang berdiri dipinggir kapal tanpa persiapan apa pun.


Rico melihat ke arah Jerry, dan tapi sayang senjata Jerry sudah mengenai kepala Rico. Sekali tekan saja, peluru dari senjata itu bisa menembus kepala Rico.


"Kenapa kau membunuh mereka"?tanya Riko yang marah kepada Jerry yang telah berhianat


"Aku sudah tidak tahan lagi, aku yang akan membunuhnya bukan dirimu" ucap Jerry.


Sementara kapal anakbuah Dea dan Sniper suruhan Nahendra mendekati kapal Rico dengan lampu kapal dipadamkan agar musuh tidak mengetahui bahwa mereka sudah mulai mendekat.


Mereka mendengar suara tembakan beruntun, membuat mereka saling pandang. Apa yang sudah terjadi disana itulah dalam benak mereka masing-masing. Seorang Sniper menghubungi Nahendra, panggilan ketiga baru dijawab.


"Katakan," tegas Martin, dengan menspeaker phonsel Kakak Iparnya.


"Suara tembakan beruntun berasal dari kapal Rico, kami belum bisa mendekatinya sebelum ada aba-aba dari Nahendra." ucap Sniper


"Perdekat dan lihat situasi, jika sudah aman pastikan bunuh mereka semua yang bawa Dea kemari" kata Nahendra, memberikan perintah kepada anakbuahnya dan anakbuah Dea.


Seorang Sniper meneropong kearah kapal, tapi tidak ada tanda-tanda orang disana karena posisi mereka membelakangi kapal. Sementara Dea, Rico dan Jerry berada dibagian depan kapal.


Jerry masih menodongkan senjatanya kearah Rico.


"Kau lupa remote control bom ditubuhnya ada padaku, jika itu kau mau bunuh dia sekarang juga" bentak Rico pada Jerry


Jerry langsung melangkah kedepan, melewati Rico dan Jerry menarik pelatuk senapan tersebut.


"Bangsaaaatt" maki Jerry kuat dengan suara menggelagar disekitar tempat mereka.


DOR.....


Tubuh Dea tepat dijantungnya keluar cairan darah, tubuhnya langsung ambruk dan Rico langsung melihatnya untuk memastikan apakah Dea sudah mati atau tidak.


"Akhirnya kau menyusul orangtuamu jalaaang" ucap Rico, dengan suara yang lantang dan keras. Rico menendang tubuh Dea dan terjatuh kedalam laut yang dalam sambil tertawa kencang.


Dalam benaknya dia hanya akan mengurus satu orang lagi, anak manja Kinan.


Jerry melihat kearah Rico tersenyum kecut, Rico tidak menyadari bahwa kapal mereka sedikit melaju agak kencang meninggalkan tempat Dea yang terjatuh.


Itu rencana Jerry agar dia bisa meledakkan kapal itu tanpa mengenai Dea sama sekali.


Dia yakin Dea pasti bisa melepaskan ikatan yang tidak kuat yang diikat Jerry ditangan Dea sebelum keluar dari ruangan sekapnya.


"Rico, You'r Game Is Over" teriak Jerry dengan lantang dan langsung melompat keadalam laut bersama awak kapal.


Rico kebingungannya, dengan situasi saat ini.

__ADS_1


Selang beberapa detik Jerry dan awak kapal yang berenang agak jauh dari kapal melihat Rico masih kebingungan sambil mengacak-acak kasar rambutnya.


Jerry menekan remote Control yang sudah diganti Jerry beserta Bom yang sudah terpasang dikapal sementar Bom yang ditubuh Dea, Bom tiruan yang menyerupai seperti aslinya.


Jika yang tidak paham dengan Bom, mereka akan mengira bahwa itu bom asli.


"Go to hell, bastard!!" ucap Jerry, tersenyum devil dan menekan tombol on diremote control bom yang terpasang dikapal.


Duuuuaaaaarr


Suara bom menggelegar ditengah laut, kapal yang ditumpangi anakbuah Dea terkejut bahkan sampai syok melihat kapal itu pecah dan kobaran api diatas laut yang tidak berapa jauh dari lokasi mereka.


Begitu juga kapal yang ditumpangi anakbuah Nahendra terdiam terpatung melihat semuanya, tubuh seorang sniper yang biasanya memberikan kabar ke Nahendra merosot kelantai seakan tidak percaya apa yang terjadi.


Duuuuuuaaaaarrr...


Duuuuuuuaaaaaaarrr...


Suara ledakan ketiga terdengar, secara menyeluruh kapal beserta isinya hancur berkeping-keping.


"Who about this" lirih salah satu sniper lainnya


Tiba-tiba dering phonsel berbunyi, mereka melihat nama Nahendra muncul dilayar phonselnya.


Dia menelan salivanya kasar, dengan tangan gemetar dia menjawab panggilannya.


"Tuuu,...tuaaan,," lirih Sniper bayaran


"Ada apa" bentak Nahendra yang merasakan aura yang tidak enak dari gelagat suara anak buahnya itu.


"Kapal hancur, Bom meledak" ucapnya


"Katakan yang jelas, kapal siapa yang hancur bom apa yang meledak" bentak Nahendra


Martin mendengar itu semua, langsung merampas phonsel Nahendra.


"Katakan jika itu tidak benar" gertak Martin


"Benar Tuan, ketika kapal kami ingin melaju mendekati kapal musuh. Tiba-tiba kapal itu hancur dan suara ledakan terdengar sampai tiga kali Tuan" ucap sniper panjang lebar


"Dea, Dea bagaimana" ucap Martin terbata-bata


"Semua hancur Tuan" balas sniper


"Cari sampai dapat, apa pun itu yang menyangkut Dea" teriak Martin dan langsung ambruk kelantai dan air matanya membasahi wajahnya.


"Tidak,, tidaakk ini tidak mungkin" teriak Martin kencang, memukul-mukul dada Martin dan tatapannya kosong.


Yuni langsung berlari kearah kamar Papanya begitu mendengar suara teriakan Martin, yang pintu kamar papanya tidak tertutup membuat suara Unclenya terdengar cukup keras sampai kebawah.


"Uncle, What happen" ujar Yuni dan memeluk pamannya dengan erat.


"Aaaaaaaarrgghh" teriak Martin, mendongkakan wajahnya keatas.


Nahendra memalingkan wajahnya dan menghapus air matanya dalam diam.


**Jangan Lupa Dukungannya


Like Komen Vote dan Favorit 😘❤️❣️**

__ADS_1


__ADS_2