
Dea dan Gerald menyewa apartemen yang berdekatan dengan apartemen paman Rico, saat ini sedang kota itu diguyur hujan yang lebat dan berkabut. Dea memakai coatnya karena merasa kedinginan, itu faktor tubuhnya masih belum sembuh total. Ia beranjak dari jendela yang mengarah kebalkon apartemen dia tempati.
Mereka saat ini membahas susunan penangkapan pamannya dan kali ini tidak boleh lengah dan sampai target melarikan diri lagi. Gerald sangat serius menjelaskan pada Dea, membuat Dea terkagum-kagum dengan kepintaran Gerald, kewaspadaannya dan Gerald mempunya wajah yang tampan.
"Apa kau punya kekasih?" ucap Dea sembari meminum teh hijau buatan Gerald yang fokus pada kertas yang bercoret tentang rencana mereka besok pagi.
Gerald mendengar pertanyaan random calon Nyonya Dimitri menelan saliva-nya, dia takut ada mata-mata dan matanya langsung menyusuri sekitar kamar apartemennya untuk memastikan ada atau tidak cctv diruangan, karena dia takut ada yang akan mengabari kepada Bosnya bahwa dia sedang digoda oleh Nyonya muda, jika itu terjadi maka tamatlah nyawanya.
"Maaf nona saya tidak bisa menjawab, ini masalah pribadi saya, dan itu privasi saya" kata Gerald yang masih menghargai Dea sebagai kekasih Tuannya tanpa memandang kearah Dea.
"Ck, kau tak seru. Padahal aku ingin menjodohkan mu dengan seseorang" ucap Dea masih memandang ketampanan asisten uncle Nahendra-nya.
"Oh ya, Siapa??" ucap Gerald spontan dengan mulut yang sedikit ternganga karena saat ini Dea sedang menertawakannya dengan kencang.
"Tidak perlu lagi Nona" balas Gerald lagi yang merasa dikerjai oleh Dea
"Kau lucu sekali, aku suka gayamu" ucap Dea sambil mencubit kedua pipi Gerald karena gemesnya. Dan hal itu langsung membuat wajah Gerald memerah karena groginya.
Glek
Gerald menelan salivanya dan berusaha bersikap biasanya, meskipun yang dibawah sudah memberontak ingin keluar.
"Kita hanya berdua dikamar ini, apa kau tidak ingin kita bermesraan?" goda Dea lagi sambil beranjak dari kursinya dan mendekat kearah Gerald.
"Nona kita dua orang dewasa, jangan mendekat nanti nyawaku melayang dibuat Tuan Nahendra dan Tuan Martin dan aku belum menikah "tegas Gerald yang sudah serba salah, dan kondisinya saat ini sudah meremang karena Dea sedang menghembuskan nafasnya kebelakang kuping Gerald dan tekuk lehernya.
Dea mainkan jarinya kearah dada Gerald dan menatapnya dengan sayu.
"Come on, aku ingin kita bersenang-senang baru besok kita bekerja keras" ajak Dea yang masih memainkan jarinya. Sesekali Dea menjilat jari telunjuknya dengan mengeluarkan lidahnya. Gerald panas dingin dan dibawahnya sudah mulai meremang dan haredang.
"Shiit" maki Gerald pelan karena sekujur tubuhnya meremang karena ulah Dea.
Dengan kesadaran penuh Gerald mendorong tubuh Dea dan dia berlari keluar kamar dan menutupnya dengan keras. Dea yang berada didalam kamarnya tertawa kencang tapi tidak lama dan langsung berubah kesifat dinginnya.
Yah itu yang dia inginkan, karena dia tidak mau ada lagi ada yang mati karena dirinya. Cukup Virez kepercayaanya yang meninggal deminya.
__ADS_1
Gerald akhirnya menuju kamar mandi yang ada dikamarnya, dan melakukan ritual solonya. Ia sangat bergairah saat mendengar suara seksi Dea dan sentuhan dari Kekasih Tuannya sendiri. Ah bukan kekasih tapi calon kekasih tapi dia sadar jika itu salah dan dia juga masih sayang dengan nyawanya.
Dea merancang semua rencananya dan pagi-pagi buta Dea sudah bangun, dia melihat kearah Gerald yang masih tertidur pulas akibat kelelahan. Dea akan pergi sendiri tanpa membangunkan Gerald.
Pistolnya sudah berada di kedua kakinya dan dibelakang bajunya dan pisau kecil benda kesayangannya berada disaku samping kirinya. Karena Dea ingin menyerang dengan sendirinya.
Hiro tidak bisa menemukan Dea dan Gerald tapi Hiro tetap mencari mereka dengan bantuan orang kepercayaannya, dan dia juga belum menerima info dari Martin, dan Martin pun belum memberikan kabar kepada Hiro bahwa Dea bersama Gerald disebuah apartemen.
❣️❣️❣️
Martin saat ini sedang gelisah, begitu dia mendapat kabar bahwa Dea sudah tidak bersama Gerald asisten Nahendra lagi. Martin marah, Nahendra yang melihat adik iparnya hanya bisa memberikan semangat dan selalu mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Jika kakinya sudah bisa berjalan normal mungkin dia langsung mengejar wanitanya, tapi kondisinya yang membuatnya semakin marah dan frustasi.
"Tenangkan dirimu, kita akan menjaganya dengan mengirim orang-orang yang bisa melindunginya." ucap Nahendra menempuk pelan pundak Martin.
"Sejarah hidupku baru kedua kali aku merasakan ketakutan, awalnya kematian kakak ku dan saat ini Dea disana tanpa ku. Aku benci situasi ku saat ini, tapi jika dia kenapa-kenapa aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri Kakak Ipar. Bahkan aku belum menyatakan perasaanku padanya"isak Martin dipelukan Nahendra.
Nahendra sangat mengerti, bahwa adik iparnya sudah jatuh cinta dan sangat mencintai Dea saat ini. Kekuatirannya membuktikan cintanya begitu besar, dan Dea sangat berpengaruh besar pada hidup Martin saat ini. Yang menjadi pertanyaanya apakah Dea mencintai adik iparnya ini, Nahendra belum bisa memastikan karena dia harus berjumpa dengan anak sahabatnya itu.
Nahendra meninggalkan kamar Martin dan berjalan kelorong belakang, dan meminta ponselnya pada pembantunya.
Dea sedang menyamar menjadi laki-laki dan menjadi Service Elektronik kebetulan penghangat dikamar Rico rusak dan dia memanggil jasa elektronik dan Dea masuk dengan penyamaran sempurnanya.
"Tolong service dengan baik, saya akan keruang tengah menunggu kau siap mengerjakannya." kata Rico yang masih belum menyadari siapa tukang service penghangat pagi ini.
Dea tidak menjawab tapi langsung bergerak pura-pura mengerjakan pekerjaan. Setelah Rico menutup pintu kamarnya, Dea langsung bergegas memasang cctv mini diruangan kamar Rico dan penyadap suara. Setalah terpasang semua Dea membagusi penghangat kamar tersebut sampai selesai, sebelum ia keluar kamar itu ia menggeledah ruangan tersebut mencari apa yang bisa dia bawa pulang. Tapi tidak ada yang ia dapat kamar itu, ia menilai kamar yang ditempati pamannya seperti kamar biasa tidak ada tanda-tanda mencurigakan sama sekali.
Dea langsung keluar kamar dan menutupnya, dia memandang seluruh ruangan bawah mencari celah dimana yang aman menanamkan penyadap suara miliknya.
Dia melihat sebuah Gucci ada bunga didalam-nya dan dia membuat penyadap itu sekitar gucci itu dan setelah itu dia menjumpai Rico dan Rico menoleh kearahnya dan tersenyum.
"Oh kau sudah selesai, tunggu sebentar aku akan mengambil upahmu" kata Rico melangkah kearah kamarnya yang ada dilantai dua.
Dea memasang penyadapnya kembali dan cctv diruang tengah, Dae memasang penyadap diselah kursi sofa yang berada disitu dan cctv dipinggir difigura yang menghadap ke pintu utama dan ruang tamu.
__ADS_1
"Perfeck" gumam Dea pelan.
Rico turun dari tangga dan memberikan upah Dea dan Dea permisi pamit dengan menekan suaranya agar terdengar serak dan berat menyerupai suara pria.
Dea keluar dari apartemen Rico, ia tersenyum devil dan melangkah cepat meninggalkan perkarangan apartemen tersebut menuju apartemennya yang ada disebrang apartemen Rico.
Gerald yang sudah menyusuri kota itu tidak dapat menemukan Dea dan dia seharian ini mendapat makian dan bentakan dari Martin maupun Nahendra begitu juga Hiro yang sudah capek mencari keberadaan Dea setelah dapat kabar dari Martin.
Dea saat ini sedang tertidur disofa apartemennya dengan tenang dan damai bagaikan tidak berdosa dan sedang bermimpi indah. Gerald yang lelah dan memilih pulang hampir dini hari karna lelahnya dia lupa makan malam.
Sesampai diapartemen dia kaget apa yang dia lihat dihadapannya kali ini. Bahkan dia mengucek sampai beberapa kali matanya memastikan bahwa dia tidak bermimpi. Dan spontan dia berlari dan mengguncang tubuh Dea.
"Nona!Nona!Nona" teriak Gerald masih mengguncang tubuh Dea dengan kencang.
Dea yang sudah dialam mimpi terpaksa membuka matanya karena tidurnya terganggu dan melihat Gerald dengan matanya sudah berkaca-kaca melihat kearahnya
"Ada apa Gerald, kau mengganggu tidurku" bentak Dea dan menarik selimutnya kembali.
"Kau dari mana saja Nona, aku capek mencarimu dan sangat kuatir. Nona tahu seharian ini aku habis dibentak oleh Tuan Nahendra dan Martin karena aku mengabari bahwa Nona sudah pergi melarikan diri" tutur Gerald panjang lebar.
"Bukankah sudah ku bilang kalau kita akan menyerangnya, jadi kita berdua yang akan pergi menghadapinya bukan pergi sendiri-sendiri. jelas Dea kesal karena tidurnya terganggu.
"Aku keluar ada yang ku beli dan kau tenang saja aku baik-baik dan bisa menjaga diri ku sendiri" ucap Dea kembali dan langsung duduk dipinggir sofa.
"Thanks God,"lirih Gerald.
"Nona ayo kita makan aku sangat lapar." rengek Gerald.
"Pesan online saja Gerald" ucap Dea kesal
"Jangan sering menahan lapar itu tidak baik"kata Dea menatap mata Gerald dengan tajam
"Pesankan aku steak, susu almond dan puding karena aku ingin memakannya. Karena kau aku jadi lapar lagi" ucap Dea mencebik sudut bibirnya
"Siap Bos, tugas dilaksanakan. Kita makan bersama diruang tengah nona bukan dikamar lagi" kata Gerald sambil berjalan meninggalkan Dea berada diruang tengah.
__ADS_1
Dea hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah laku Gerald malam ini, seperti takut diterkam oleh mangsanya.
Jangan Lupa Like Komen dan Vote ya ❣️😍