
Di kota Los Angeles Pria yang berusia lima puluhan sedang memarahi anak buahnya.
"Bagaimana kalian tidak ada yang tahu dia ada dimana??" bentak Nahendra yang duduk dikursi ruang kerjanya.
Willi menantunya, menghela nafas dalamnya.
"Dad, coba kita hubungi uncle terlebih dahulu, siapa tahu dia akan memberi tahu kepada kita uncle ada dimana" ucap Willi berusaha menenangkan Nahendra yang marah-marah karena, Martin sudah dua hari tidak ada dimansion bahkan diapartemennya dan yang membuat Nahendra marah, helikopternya berangkat atas suruhan Martin dengan tujuan Amsterdam.
"Baiklah, kita coba hubungi silajang kapuk itu" Nahendra meraih phonselnya dan menghubungi Martin adik iparnya.
"Kau lagi dimana?" teriak Nahendra disebrang sana yang sudah kesal karena Martin tak kunjung mengabari keberadaanya dan menyuruh helikopter menjemputnya ke Amsterdam
Martin langsung menjauhkan benda pipih itu dari telinganya karena suara Kakak Iparnya menggema ditelinganya.
"Aku lagi dirumah Dea Kak, why?"dengan memelas karena tahu bahwa Nahendra akan memarahinya.
"Dea sudah kembali? Kenapa kau tidak memberitahu ku, Hah??!" bentak Nahendra
"Bisakah satu hari saja, Kakak tidak marahi aku? Aku bukan anak kecil lagi Kak!" ucap Martin kesal yang selalu dimarah-marah
"Baiklah, itu kabar bahagia. Apa dia sehat?
"Hem, dia sehat Kak. Ada apa menghubungiku" tanya Martin
"Aku mau kesana, melamar Dea" kata Nahendra santai
"What?? Kakak, aku sudah janji akan melamarnya dua minggu lagi bersama mu dan keluarga kita" kata Martin sambil mengusap rambutnya dengan kasar
"Aku melamarnya bukan untuk mu." ketus Nahendra
"Maksud Kakak apa?!" pekik Martin penuh dengan kekesalan. Karena dia tahu bahwa Nahendra akan selalu menjahilinya dan mengganggunya.
Dea, melihat kearah Kinan dan Jerry mereka dengan kompak mengangkat bahunya menandakan bahwa mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Aku ingin melamar Dea untuk diriku sendiri" ucap Nahendra santai.
PRAAAAAANG
Suara pecahan piring terdengar keras, karena reflek tangan Martin menyenggol piringnya sendiri dan terjatuh karena Martin syok mendengar jawaban dari Kakak Iparnya.
Dea, Kinan dan Jerry terkejut dan menatap lekat kearah Martin yang kelihatan syok dan itu sangat terlihat dari wajahnya.
__ADS_1
Dea menghampirinya dan mengelus pundaknya.
"Sayang, kamu kenapa?" Martin tersadar karena sentuhan lembut dari Dea dan menoleh kearah Dea.
Martin langsung memeluk erat Dea dan membuatnya semua yang berada di meja makan semakin bingung.
"Baby, jika Nahendra melamarmu jangan terima ya?" ucap Martin yang masih memeluk erat Dea
"Hei, you are Crazy?? Aku tak segila itu sayang. Lagian mana mungkin Uncle Nahen melamarku" cerca Dea yang merasa lucu karena perkataan Martin.
"Tadi Kakak Ipar menghubungiku, katanya dia mau kemari sekarang. Karena dia ingin melamarmu, jadi aku bilang bahwa aku sudah janji pada mu akan datang dua minggu lagi,-" Martin menjeda perkataannya dan menghembuskan nafas beratnya.
Sungguh lidahnya sangat kelu untuk jujur.
"Tapi-, tapi dia berkata jika dia ingin melamarmu untuk dia sendiri" ucap Martin dan disambut tawa oleh Dea, kinan dan Jerry.
"Ck, bikin malu saja" ucap Jerry meninggalkan ruang makan seraya menggelengkan kepalanya karena, merasa malu melihat tingkah calon adik iparnya yang menurut Jerry sangat cemburu.
Kinan hanya tertawa sampai menahan perutnya karena, merasa lucu dengan kejujuran Martin dan Dea berusaha menahan tawanya karena takut menyinggung perasaan kekasihnya. Dea tahu bahwa Uncle Nahendra pasti mengerjai Martin.
Sementara Martin sudah sangat malu, dia keceplosan karena dia lupa jika selain mereka ada orang lain yang melihat tingkah manjanya.
Dia sangat malu kepada Kinan maupun Jerry saat ini. Jika ada baling-baling bambu dia ingin terbang ke angkasa menutupi rasa malunya.
"Sayang" panggil Dea, yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya sendiri.
Martin duduk disisi ranjang dengan menatap Dea dengan wajah malu-malu kucing.
Dea hanya tersenyum menanggapi, tingkah Martin yang seperti anak kecil sedang ingin dibujuk oleh ibunya sendiri.
"Ck, umur saja sudah tua. Manja mu melebihi anak TK sayang" cercah Dea wajah yang cemberut.
Martin berdiri, memeluk pinggang Dea. Merapikan anak rambut Dea kesela telinga Dea.
"Sayang, aku lupa memberitahu mu. Jika hari ini aku harus pergi. Ada rapat yang tidak bisa aku cancel atau digantikan. Kamu tidak apa-apa aku tinggal disini?" ucap Martin memandang Dea dengan hangat.
"Pergilah, aku akan menunggu mu untuk melamarku." bisik Dea dan mengalungkan kedua tangannya keleher Martin
Martin menarik pinggang Dea, mengikis jarak diantara mereka. Martin langsung ******* bibir merah milik Dea dengan lembut.
"Jangan nakal selama aku tidak ada" bisik Martin disela ciuman mereka dan tangannya masih memeluk pinggang ramping Dea.
__ADS_1
"Jangan terlalu lama, aku sudah bosan sendiri" balas Dea membalas ciuman Martin dengan liar dan panas.
Martin ******* bibir bawah dan atas milik Dea secara bergantian.
Tangannya mulai berkelana didalam kaos yang dipakai Dea. Dea yang diraba tubuhnya membuat tubuhnya bergetar ada sensasi yang berbeda dari tadi pagi yang mereka lakukan.
Dea makin memperat kakinya karena takut jatuh, tangannya mengelus rahang Martin yang ditumbuhi bulu-bulu halus, dan mengelus rambut pirang Martin. Tangan Martin naik keatas dan mengelus punggung halus milik Dea dan langsung melepaskan pengait aset milik Dea yang menempel ditubuh Dea.
Begitu terlepas Martin masih mengelus punggung Dea sampai ke tekuk leher Dea.
Dea merasa geli dan meremang karena ulah jemari aktif Martin yang menjelajahi tubuhnya
Martin mulai meraba kedua aset milik Dea dengan pelan dan lembut sambil mencium leher jenjang Dea dan menghisap sampai memerah.
Martin tersenyum melihat tanda dileher kekasihnya semakin banyak. Martin membuat itu berupa tanda kepemilikannya. Tidak ada yang boleh menyentuh bahkan melihatnya sekalipun.
Dea memandang Martin dengan lembut dan tersenyum.
"I love you honey" ucap Martin
"Love you too" balas Dea mencium dada martin dengan bibirnya dan mencium kuping Martin dan turun keleher Martin dan Dea menghisap leher Martin meninggalkan tanda merah sebagai tanda kepemilikan dirinya
"Baby, apa kita tidak melakukannya saja?? Ini sangat nikmat sayang" ucap Dea bersandang dipundak Martin
"No honey, adegan kita kena skip beberapa hari ini jika kita melakukannya disini, dan aku tidak mau mengecewakan pembaca yang lama menunggu update cerita kita selanjutnya.
Tapi aku hanya memberikan kenikmatan sementara. Agar kau ingat jika aku bisa memuaskanmu dengan lidahku, apalagi dengan yang dibawah ini. Jangan harap kau bisa berjalan selama tiga hari sayang" ucap Martin memeluk Dea dengan erat.
"Aku tidak keberatan asalkan senikmat ini, tapi bagaimana jika ditolak NT lagi?" balas Dea mengecup bibir Martin
"Jika ditolak ya itu urusan para pembaca, dan author saja gimana menyalurkan malam pertama mereka dulu seperti apa. Karena mereka sudah lebih berpengalaman dari kita sayang" balas Martin
"Ga seru dong, padahal para pembaca pengen tahu adegan malam pertama kita nantinya" kesal Author dan Dea karena selalu kena tolak adegan 21+ hahaha😆😂
Martin menggigit hidung mancung Dea dan tertawa pelan. Baginya memiliki Dea sudah sangat beruntung, Martin sangat posesive jika LDR dan karena itu Martin membuat foreplay agar wanitanya selalu merindukannya dan merindukan setiap sentuhannya.
***Jangan Lupa Dukungannya
Like Komen Vote dan Favorit yah 😍😘
Dukunganmu, membuat author semangat update***
__ADS_1