
Lampu ruang operasi mati menandakan operasi telah selesai, seorang pria yang berpakaian dinas rumah sakit bagian bedah keluar dan menghampiri Martin yang sedang duduk menunduk dengan mata terpejam karena kelelahan membuatnya mengantuk
"Heemk!! Permisi" ucap Dokter tersebut sambil menepuk pundak Martin. Martin mendongkak wajahnya keatas dan melihat seorang Dokter yang berdiri dihadapannya membuatnya reflek langsung berdiri dan rasa kantuknya menjadi hilang seketika.
"Dokter bagaimana keadaanya?" ucap Martin dengan paniknya.
"Operasinya berjalan lancar, pasien sudah melewati masa kritisnya dan pelurunya sudah dikeluarkan dalam tubuhnya. Beruntung tidak mengenai organ vitalnya jadi pasien bisa kami selamatkan meskipun sempat melakukan tranfusi darah karena pasien banyak kehilangan darah sebelum kemari. Perlu yang anda ketahui saat ini pasien hanya belum sadarkan diri, dan pasien harus beristirahat total sampai keadaan pasien sembuh total dan jangan melakukan pekerjaan yang berat." Dokter menjelaskan kondisi dea saat ini.
"Trimakasih banyak Dokter" balas Martin sambil menjabat tangan dokter tersebut karena dia senang dea selamat.
"Pasien akan dipindahkan keruang nginap, selang satu jam lagi baru bisa dijenguk"
__ADS_1
"Baik Dokter, sekali lagi terimakasih banyak"
"Sama-sama Tuan, saya permisi dulu karena saya mau melihat pasien lainnya" ucap Dokter sambil menepuk sebelah bahu Martin.
"Ya Dokter" balas Martin sambil tersenyum
Martin kembali keruangannya menunggu satu jam lagi dia akan keruangan dea yang sudah diantarkan oleh perawat. Martin saat ini masih marah dengan adanya peristiwa yang baru saja dialaminya dan dialami Dea bahkan dia tidak menyangka orang yang selama ini dibangga dea tega berhianat dibelakangnya selama puluhan tahun dan tepatnya bahwa pamannya yang sudah memberikan racun kepada ayah dea dan mengakibatkan ayah dea meninggal tapi pihak rumah sakit mendiagnosa bahwa almarhum ayah dea terkena serangan jantung, begitu liciknya dan pintarnya paman dea memberikan racun tersebut secara perlahan-lahan agar tidak ada yang mencurigainya. Tapi Nahendra sahabat dekat almarhum ayah dea mengetahui itu semuanya dari pengacara ayah dea sendiri yang pernah melihat pelayan mansion tempat ayah dea tempati menaruh bubuk kedalam kopi ayah dea dan dari sana pengacara ayah dea memberitahukan apa yang dia lihat tapi ayah dea sudah pasrah dan ayah dea langsung melindungi semua asetnya dan surat-surat penting disimpannya ditempat yang aman jauh dari jangkauan pikiran manusia karena semua asetnya disimpannya dikuburan istrinya.
Martin ingin membalaskan atas perbuatan paman dea saat ini juga tapi anak buahnya belum mengetahui keberadaan Virez dan Paman Dea saat ini. Hal itu membuat Martin semakin marah dan murka karena tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan Virez, orang kepercayaan dea.
Martin mencoba menghubungi Hiro tapi sayang nomornya sedang tidak aktif.
__ADS_1
"Ck, pada kemana semua manusia ini!! Tidak ada satupun yang bisa dihandalkan disituasi saat ini" geram Martin sambil mengacak rambutnya sankin frustasinya.
Martin berjalan keluar dari ruangannya dia rasa sudah satu jam dia dalam ruangannya berperang dengan pikirannya sendiri dan saat ini langkah kakinya menuju ruangan dea berada.
Martin melihat banyak alat ditubuh Dea masih menempel itu untuk memantau detak jantung Dea sampai Dea sadar. Martin melangkah mendekati Dea yang sedang terbaring lemas dan terpasang oksigen dihidungnya, Martin melihat semuanya itu membuatnya lemas dan semakin bersalah karena dia datang terlalu lama.
"Gadis nakal, aku tahu kamu kuat. Cepatlah bangun agar kau memukulku, memarahi ku dengan cerewetmu. Maafkan Aku Dea" ucap Martin sambil mengelus tangan Dea dengan lembut.
"Bangunlah, banyak hal yang ingin ku sampaikan kepadamu" ucap Martin kembali.
Martin tetap menggemgam tangan Dea sambil menundukkan kepalanya karena tidak tahan menahan ngantuk dan lelahnya, selang beberapa menit Martin akhirnya tertidur pulas disamping Dea dan tangannya masih menggemgam tangan Dea dengan erat.
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen Vote dan Favoritnya