Life Of Dea

Life Of Dea
#37


__ADS_3

Saat ini mereka sedang diperjalanan menuju rumah sakit karena keadaan Virez yang mengkwatirkan karena Rico menghabisi Virez dengan cara, tidak memberikan dia sedikit pun minuman atau pun makanan selama dua minggu.


Dan tubuhnya babak belur serta matanya membiru akibat pukulan dan tubuhnya banyak luka, lebam seperti kena cambuk. Anak buah Virez hanya satu yang selamat, yang lainnya mati ditempat karena tembakan dan karena dehidrasi dan siksaan dari anakbuah Rico.


Dea yang sudah menunggu dirumah sakit dengan tubuhnya yang gemetar, dan keringat dingin. Banyak hal yang dipikirkan Dea saat ini, penyesalan didalam hatinya menyelimuti seluruh tubuhnya dan membuat tubuhnya ambruk. Dea terduduk dan menangis begitu mendengar keadaan Virez, teman kecilnya. Pria yang pertama dia kenal selain papanya dan pamannya.


Virez satu sekolah bersama Dea sampai mencapai Sarjana dan Dea melanjutkan studg S2 di Luar Negeri sementara Virez mengurus Cabang perusahaan Dea bersama Kinan tapi, Kinan tak mengetahui siapa Virez sesungguhnya karena setelah lulus sekolah dasar Dea dan Virez melanjutkan sekolah diluar negeri bersama.


Banyak hal dilalui mereka, banyak suka, tawa dan duka telah dilewati bersama-sama. Jika hal terburuk terjadi maka itu akan teramat sakit bagi Dea akan kehilangan orang yang dia sayangi.


Namun ketika Dea masih termenung dilorong rumah sakit, Dokter berlari bersama perawat membawa dan mendorong Hospital Bed atau Tempat Tidur Pasien dengan tergesa-gesa. Dea bangkit berdiri dan menahan tangan salah satu perawat yang melewatinya.


"Ada Apa" tanya Dea dengan panik


"Ada Pasien yang kritis dan baru tiba Nona" balasnya


Dea langsung mengikuti arah perawat tersebut dan melihat dari depan ada Virez, Martin dan Anakbuahnya dalam keadaan memperhatikan.


"Mereka kenapa Dokter" tanya Dea sambil memegang wajah Virez yang sudah hampir bengkak karena pukulan dan sedikit rusak.


"Maaf Nona pasien mau kami operasi terlebih dahulu" kata Dokter sambil masuk keruang operasi.


Dea menangis melihat keadaan mereka semuanya, hanya karena dia mereka sampai seperti itu. Hanya karena sebuah surat mereka rela memberikan nyawanya untuk menyelamatkannya.


"Vi-Viirez, Martin" lirih Dea yang menangis senggugukan didepan pintu ruang operasi.


"Aaaahhk" jerit Dea karena dia merasa sakit kepalanya semakin menjadi-jadi. Dan perawat yang ada disekitarnya akhirnya membawanya keruangannya dan menyuntikkan pereda sakit kepalanya dan akhirnya Dea tertidur.

__ADS_1


Nahendra, Willi, Yuni, dan Anaknya sudah berada di rumah sakit sekitar setengah jam setelah Dea tidak sadarkan diri. Nahendra yang mendapat kabar dari anakbuahnya bahwa mereka melakukan penyerangan dan akhirnya memutuskan untuk langsung ke Paris bersama keluarganya dan mereka menginap di Hotel menunggu kabar dari Martin. Tapi benar dugaan Nahendra dan perasaan Nahendra tak pernah meleset, dia sudah menduga bahwa akan terjadi seperti ini.


Nahendra duduk dilorong rumah sakit bersama Willi dan Yuni sementara anak mereka di Hotel bersama bodyguard dan pengasuh. Nahendra menghapus air matanya yang tak terasa jatuh dengan sendirinya membasahi pipinya. Willi melihat mertuanya sedih langsung memeluknya dan memberikan kekuatan.


"Uncle, akan baik-baik saja Dad"


"Kita berdoa saja Dad, dia pasti kuat melewati masa kritisnya" kata Willi sambil mengelus punggung mertuanya yang sudah mulai membungkuk itu.


Yuni langsung memeluk papanya, ingin dia menangis tapi diurungkannya karena dia takut papanya akan bertambah sedih.


" Kamu kuat ya" ucap Willi mengelus kepala Istrinya.


Dua jam kemudian akhirnya Dokter keluar, Nahendra langsung berdiri dengan tongkatnya dan melangkah mendekat dengan dokter tersebut.


"Bagaimana keadaannya" kata Nahendra dengan segala kekuatirannya.


"Dan saya memohon maaf sebesar-besarnya, untuk dua orang lagi kami tidak bisa menyelamatkannya" ucap Dokter sambil menunduk hormat.


"Tidak!!" teriak Dea yang sudah berdiri dibelakang mereka, sedari tadi Dea sudah mendengar semuanya ucapan dokter itu.


Nahendraz Willi Yuni dan Dokter melihat kearah Dea, Dea berjalan kearah Dokter itu dan mendorong kuat serta mencekiknya.


"Katakan, bahwa ini semua bohong" ucapnya dengan suara berat dan nafas yang tidak beraturan


"Aaarg, lepaskan Nona kaa-kau bisa membunuhku" kata Dokter terbata-bata sambil memegang tangan Dea yang mencekik lehernya


"Caitlyn!! Lepaskan!" bentak Nahendra

__ADS_1


Dea langsung sadar apa yang sudah dilakukannya, dan mendorong Dokter tersebut dan berlari kedalam ruangan UGD dan disusul oleh mereka semuanya.


"Vii-Viiiirez!" teriak Dea histeris dan memeluk tubuh kaku orang kepercayaannya dan teman kecilnya.


Nahendra melihatnya hanya bisa menunduk dan mencekram tongkatnya dengan kuat. Dan dia melangkahkan kaki nya kearah Martin yang ingin di pindahkan keruang VVIP dengan alat ditubuhnya.


Mereka semua keluar dan meninggalkan Dea yang masih menangis dengan kencang. Dia tidak terima kematian Virez yang tanpa meninggalkan sepata kata untuknya.


"Virez aku berjanji, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri, terima kasih telah sayang, setia kepada ku selama hidupmu" gumam Dea dalam hati.


Kinan mendengar kabar Virez telah meninggal dunia terkejut dan kuatir akan keadaan adiknya saat itu. Kinan menghubungi Dea tapi HP nya tidak aktif.


Mayat Virez dibawa ke Los Angeles dengan pesawat pribadi Nahendra dan Martin dipindahkan ke Los Angeles agar mudah dipantau oleh keluarga.


Sepanjang persiapan perpindahan mereka dan akhirnya sampai ke London Dea hanya diam, dibandara sudah disambut oleh kumpulan Organisasi Mafia lainnya. Mereka yang bekerja sama dengan Virez, merasa kehilangan sosok pemimpin yang kuat seperti ayahnya dan mati pun seperti ayahnya untuk melindungi Papa Dea.


Dea turun dari pesawat memakai kacamata hitam dan pakaian serba hitam. Semua menunduk hormat kepadanya dan salah satu bodyguard datang membawa payung dan mempayungi diatas kepala Dea atau bos mereka agar tidak terkena panas matahari.


Mereka melakukan penguburan untuk kedua orang yang mampu bertahan hidup melawan musuh mereka.


Dea tidak bisa menahan air matanya, Kinan yang berada disampingnya akhirnya memeluk pundaknya dengan erat dan Hiro mewakili Nahendra dan lainnya pada acara penguburan Virez disamping makam kedua orangtuanya.


Dea terjongkok dan memegang tanah merah gundukan yang ada dihadapannya saat ini sambil menangis kencang dan memeluk pusaran itu. Dea kehilangan orang yang dia sayangi lagi, hal itu membuat jiwanya sedikit terguncang kembali.


Hari-hari dilewatinya penuh dengan mistery, dan dendam orang-orang yang tamak akan harta papanya. Kemaren Dea sempat berfikir ingin menyerahkannya tapi kematian Virez dia tidak akan mengampuni siapa saja yang menyakitinya dan dia harus mati dan tersiksa lebih dulu.


**Hallo para pembaca kesayangan aku, jangan lupa tinggalkan jejak ya, tetap dukung aku selalu

__ADS_1


Jangan Lupa Like Komen Vote dan Favorit 🥰😘**


__ADS_2