Life Of Dea

Life Of Dea
#76


__ADS_3

Saat ini pukul 12 malam Dea masih setia menunggu diruang tengah, Dea mencoba menghubungi suaminya namun hasilnya tetap sama, berdering namun tidak dijawab. Dea menatap kedepan dengan tatapan kosong dan jiwa yang terguncang.


Dea tersenyum smirk, dia tidak menduga bahwa perjalanan hidupnya akan seperti ini rasanya. Dea beranjak kekamar dan menyusun semua pakaiannya kedalam koper, dia akan pergi dari apartemen Martin dan akan langsung menuju tempat honeymoon mereka karena ia ingin berjalan-jalan menenangkan pikirannya.


Pukul dua pagi Dea pergi meninggalkan Apartemen Martin menuju mansion Nahendra, sebelum kesana Dea menghubungi Yuni. Berketepatan Yuni terbangun dari tidurnya karena Gavrael sedikit rewel saat itu, dan Yuni mengangkat phonselnya dan menyuruh Dea kemansion sekarang juga.


Selama diperjalanan Dea hanya menangisi nasibnya kali ini. Baru dua hari menikah, dia sudah merasakan sakitnya. Tidak seperti kata orang-orang pernikahan itu sangat indah diawalnya. Tapi bagi Dea baginya itu sebuah penderitaan diawal hidupnya.


Dea melaju kencang, tanpa memikirkan nasibnya seperti apa.


Selang beberapa menit mobil Dea saat ini sudah berparkir di mansion Yuni, dan Yuni langsung membuka pintu samping agar tidak ada yang tahu jika Dea datang kesana. Dea dan Yuni berada di Paviliun samping mansion papa Yuni. Dea menceritakan semuanya kepada Yuni, karena bagi Dea tidak mungkin menceritakan ini kepada Kinan, mau pun Jerry. Jerry pasti murka jika dia sampai tahu kebenarannya.


"Aku harap Bibi bisa kuat dan bersabar. Karena kita tidak tahu Uncle ada dimana dan sedang apa. Jangan berfikir negatif Bi, semua akan baik-baik saja" bujuk Yuni memeluk Dea menangis yang senggugukan dengan badan yang gemetar hebat menahan suara tangisnya.


"Tapi kenapa dia tidak jujur" isak Dea seraya menghapus air matanya, Yuni terus menepuk pundak Dea dengan pelan dalam hatinya memaki-maki unclenya. "Awas kau paman, akan ku tendang bokongmu" ucap Yuni dalam hati.


Setelah Dea tenang, Dea menuju kamar ruang tamu yang dituntun oleh Yuni kedalam kamar. Yuni memastikan Bibinya sudah terlelap tidur baru ia keluar dan menutup matanya. Tapi Dea tidak tidur, dia hanya memejamkan matanya saja dan menunggu suasana sunyi baru dia pergi dari mansion Nahendra.


Yuni beranjak dari kamar Dea ke luar tempat anak buah papanya, Yuni langsung menyuruh anakbuah Papanya mencari pamannya. Sementara Dea sedang beristirahat di kamar tamu lantai dasar mansion Nahendra.


Sekitar sampai jam empat pagi mereka berkeliling dan mencari Martin berada. Ternyata Martin didapat anakbuahnya di salah satu Bar di Los Angeles, ia sedang minum dan mabuk berat. Martin yang mengigau sebuah nama dan terkadang Martin memaki nama tersebut.

__ADS_1


"Ros,.. F*uck You Rossi" teriak Martin yang berdiri semponyongan dan dibantu berdiri oleh anakbuah Nahendra.


Mereka meletakan Martin dibangku belakang dan menuju mansion Nahendra. Namun kesialan berpihak pada mereka, Yuni berpesan agar Papanya tidak tahu akan hal ini. Tapi sekarang mobil yang membawa Martin berhenti tepat didepan pintu pagar mansion, karena pagi pagi sekali sekitar pukul jam enam kurang ada Nahendra sudah menunggu disana memakai sweater bulu, syal dan topi rajut dan selimut diatas pahanya menatap tajam kearah anakbuahnya.


Ya Nahendra tahu dari CCTV karena tepat saat Dea datang, Nahendra bangun dan melihat kearah Paviliun Dea menangis dalam pelukan putrinya, ia menghubungi Martin namun sayang tidak diangkat. Jadi Nahendra memilih esok pagi untuk membicarakan apa yang telah terjadi kepada Dea dan Martin


Mobil tersebut berhenti, orang yang berada didalam, tubuhnya gemetar ketakutan keluar dari dalam mobil. "Selamat Pagi Tuuu,-tuaan "ucap Salah satu anakbuahnya.


"Buka pintu belakang, bentak Nahendra" kata Nahendra marah, setelah itu dia membawa Martin ke Paviliun dan karena disana ada kolam renang dan ia berencana membuang Martin disana langsung namun karena ia melihat Martin seperti orang mati ia menundanya.


Kursi roda Nahendra didorong oleh salah satu anakbuahnya, menuju paviliun bersama dengan Martin yang di gendong oleh dua orang anakbuahnya, lalu Martin direbahkan diatas tempat tidur. Sesekali Martin mengigau nama Rossi meski pelan Nahendra masih mendengarnya. Nahendra membiarkan Martin beristirahat dipaviliun dan ia mengunci martin dari luar, agar Martin tidak bisa lari kemana-mana.


Nahendra memilih duduk diruang tamu, menikmati teh madunya sambil membaca koran, tiba-tiba Yuni kaget melihat papanya sudah bangun. Tapi Yuni berusaha bersikap seperti biasanya agar Papanya tidak curiga padanya.


"Pa, papa sudah bangun?" tanya Yuni sedikit panik melihat Papanya sudah duduk diruang tengah melamun sendiri. Nahendra mengalihkan pandangannya menatap putrinya yang cantik seperti istriya. Yuni yang sedari tadi ditatap oleh Papanya, langsung menghampiri Papanya dan memeluknya.


"Good Morning Dady" ucap Yuni dan terlihat sederetan giginya yang putih itu dan bergelut manja dilengan papanya.


"Katakan, apa yang terjadi semalam?" kata Nahendra memandang lekat Putrinya.


Yuni menelan salivanya dan menundukkan kepalanya karena ia merasa sudah ketahuan.

__ADS_1


"Pa,.. Sorry, aku tidak ingin Papa cemas. Karena itu aku memilih diam dan bergerak sendiri. Bahkan suamiku tidak mengetahuinya pa" jawab Yuni yang tahu arah kemana pembicaraan papanya itu.


Yuni menghembuskan nafasnya dengan mendongkakkan kepalanya keatas,


Huuuff


"Uncle meninggalkan Bibi setelah mereka sampai ke Apartemen dan Uncle menerima telfon dari Om Gerald dan setelah itu Uncle tidak kembali ke Apartemen hingga saat ini. Karena itu aku menyuruh anakbuah Papa mencarinya karena Bibi sangat sedih dan kecewa pa." jelas Yuni panjang lebar.


"Mana Bibi?" tanya Nahendra lagi


"Tadi aku melihat kamarnya sudah kosong, kata pembantu Bibi sudah pulang dari jam tiga pagi itu Pa." balas Yuni dengan raut wajah bersalahnya.


"Baiklah, Pergilah urus anak dan suamimu. Papa ingin kekamar istirahat. Biar Papa yang mencari Uncle mu." jawab Nahendra berbohobg sambil memegang erat tangan putrinya dan tersenyum lebar.


Nahendra yakin jika Yuni tidak tahu jika Unclenya ada dimansion saat ini.


"Papa sarapan dulu ya," ucap Yuni. Nahendra tersenyum melihat Yuni putrinya itu, lalu Nahendra menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka akhirnya menuju meja makan dan disana sudah ada Willi dan Gavrael yang sedang sarapan. Nahendra tersenyum melihat keluarganya saat ini, berkumpul bersama.


"Nanti giliranmu boy, persiapan mental dan tubuhmu. Bisa-bisanya kau sakiti putri sahabatku dan menyebut nama Jaaalang itu lagi. Hemm Awas kau !!!"ucap Nahendra dalam hati yang sudah emosi


Jangan lupa dukungannya

__ADS_1


__ADS_2