
Diruang yang gelap dengan bau asap, seseorang duduk dikursi sambil menghisap cerutu yang ada ditangan kanannya, dan kakinya kanannya menyilang dan berpangku pada kaki sebelah kirinya.
Rahang yang ditumbuhi bulu, rambut yang mulai memanjang dan tidak terurus. Dia setiap hari diruangan itu, bersembunyi didalam gelap dan hanya mengandalkan adiknya saja untuk melakukan tugas lainnya termasuk merawatnya.
"Kakak, kenapa kau tidak pernah membuka jendela kamar mu?" ucap adiknya Miko yaitu Veronica Quen Axton sembari membuka gorden kamar Miko.
Veronica menghampiri meja yang ada didalam kamar kakaknya dan mengambil kemoceng.
"Kakak, kau tau satu bulan lagi dia akan menikah" ucapnya sambil membersihkan debu yang ada diperabotan kamar kakaknya
"Hemm, apa mommy baik-baik saja?" ucapnya dan berdiri dari kursinya menuju arah jendela memandang hujan yang jatuh membasahi kota itu.
Veronica memberhentikan pekerjaannya lalu menatap kearah kakaknya dengan wajah sedih.
"Bagiamana ku katakan baik, jika Mommy selalu menyebut nama Daddy. Kita kehilangan Dady dan Momy stress karena itu, keluarga kita hancur kak" isak Veronica menundukkan kepalanya
"Aku akan membalas dengan caraku sendiri, kamu pergilah bersama Mommy ketempat yang jauh. Nanti malam kalian akan berangkat dan aku akan memberikan tiket kalian. Kita bertemu dibandara nanti." ucap Miko menyesap asap rokok yang keluar dari mulut dan hidungnya
"Kakak, aku harap kakak jangan sampai ngelakuin yang bikin hidup kakak sakit lagi. Aku tidak mau harus sampai kehilangan mu Kak. Cukup Dady saja, aku gak mau lagi yang lain Kak" tangis Veronica makin kencang, firasatnya mengatakan jika dia akan kehilangan Kakaknya untuk selamanya.
Miko hanya diam saja, tanpa menjawab perkataan adiknya. Dia diam tanpa ekspresi apa pun, tidak ada yang tahu apa yang ada dibenaknya saat ini. Itulah sifat Miko, yang pendiam dan tidak suka bersosial.
Sementara Dea sudah kembali bekerja diperusahaannya bersama Kinan. Setelah acara pertunangannya dengan Martin.
Sama halnya dengan Martin yang sudah bekerja di Negaranya saat ini. Dua minggu lagi Dea akan ke Los Angeles, untuk mengurus acara pernikahan mereka nantinya.
__ADS_1
Dering phonsel Martin berdering, ia tersenyum melihat siapa yang menghubunginya saat ini.
"Hallo sayang" sapa Martin dengan senyuman
"Sayang lagi dikantor?" tanya Dea.
Mereka sering berkomunikasi saat berjauhan begini, walau pun hanya menanyakan kabar saja itu sudah membuat keduanya bahagia dan nyaman.
Karena bagi Martin komunikasi itu sangat perlu jika berjauhan agar rindu terobati.
"Yes honey. Kamu sedang apa ?" tanya Martin sambil menandatangani berkas-berkas laporan yang ada dihadapannya saat ini.
"Sedang bekerja dan mikirin kamu" gombal Dea sambil terkekeh pelan
"Aku tahu menggombalkan dari mu sayang" celah Dea tak mau kalah
"Ya ya, kamu benar honey. Jangan telat makan siang nanti ya. Dan jangan dekat-dekat dengan laki-laki" ucap Martin dengan posesifnya.
"I know honey. Sudah ribuan kali kau mengatakannya padaku sampai aku tidur pun mengingat kata-kata itu" kata Dea
"Karena aku mencintaimu, jadi aku tidak mau wanitaku dekat dengan pria lain selain aku. Aku harap kau tidak keberatan dengan sikap ku ini" Martin menjelaskan panjang lebar dengan sikapnya yang berlebihan mencintai Dea
"Ya, meski aku kerepotan dengan sikapmu tapi aku bahagia" balas Dea sambil tersenyum kecil dengan wajah yang merona merah.
"Baiklah. Sayang aku mau meeting, kamu tidak apa-apa kan jika nanti siang aku menghubungimu lagi?" ucap Dea lagi.
__ADS_1
"Ya honey, no problem. Baik-baik disana, jangan telat makan siang." jawab Martin
"I love sayang, semangat bekerja"
"I Love you too and take care honey" jawab Martin dengan tersenyum lebar.
Martin meletakkan phonselnya diatas meja dan kembali kewajahnya yang dingin dan datar.
"Katakan, bagaimana laporanmu" ucap Martin kepada suruhannya yang sedari tadi diruangan itu menunggu bos mereka selesai berkomunikasi dengan kekasihnya.
Mereka diutus untuk memantau keluarga Dea yaitu anak dari paman Dea.
"Mereka masih ditempat lama mereka Tuan. Tapi baru tadi saya dapat laporan dari yang lainnya bahwa Miko memesan 2 tiket ke Ukraina dengan atas nama Veronika dan Ibu mereka Tuan.
Martin diam saja tanpa ada jawaban. Seakan tenggelam dengan pikirannya sendiri.
"Baiklah. Pantau Miko jangan sampai lengah dan kirim orang kita satu pesawat dengan Veronika dan Ibunya" balas Martin
"Baik Tuan. Saya permisi" ucap suruhan Martin yang menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Martin seorang diri diruang kerjanya.
Martin saat ini berfikir bahwa dia harus secepatnya membawa Dea ke Los Angeles bersama Kinan. Biarlah orangnya yang mengurus perusahaan Dea sampai mereka menikah.
Firasatnya kali ini sangat buruk dan tidak tenang. Dia harus menceritakan ini kepada Kakak iparnya dan Dea pulang kerja nanti.
Jangan Lupa Like Komen dan Votenya
__ADS_1