
"Tahan pasukan, mereka akan meledakkan bom disetiap bangunan yang ada disekitar kalian. Agar kalian teralihkan, dan jangan paksa jika kau memaksa pasukan mendekat kearah mereka, Maka mereka tidak akan tinggal diam dan mereka akan meledakkan disekitar kalian dan kalian akan mati sia-sia." kata Nahendra, berbicara pada salah satu anakbuah Dea yang mulai mendekat kearah gudang tempat Dea disekap.
"Cepat keluar!! Aku akan mengikutimu" ujar Rico pada Dea dan mendorong tubuh Dea dengan kasar.
"Angkat tanganmu!! Dan buat dibelakang lehermu" ucap Rico kembali.
Dea mengikuti kemauan Rico, dia berjalan sambil menenangkan pikirannya dan berfikir bagaimana caranya mengambil remote control bom tersebut dari tangan pamannya itu.
Dea melangkah dua langkah dari pintu gudang dan menatap lurus kedepan dengan tatapan tajam.
"Shiiitt"ucap salah satu Sniper, dan bersamaan dengan orang-orang yang ada dimansion Nahendra yang saat ini sudah ada Yuni yang spontan menutup mulutnya dengan gemetar dan langsung dirangkul Willi.
Martin melihat Dea seperti itu rahangnya mengeras, dan menghubungi salah satu sniper.
"Bunuh mereka semua secara bersamaan"ucap Martin, mencoba meredam emosi dan amarahnya.
Dea yang sudah berada diluar dengan Rico memegang pundak Dea keras dan senapannya mengarah kekepala Dea begitu juga dengan ketujuh anakbuahnya kepercayaanya.
"Tahaan" bentak Nahendra, yang melihat salah satu sniper ingin menembak kearah anakbuah Rico.
Nahendra melihat Dea yang sedang menatap kearah mereka, tapi aslinya dia menatap langit yang luas diatas sana. Dea memberikan isyarat dengan berbicara tanpa suara dengan mata terpejam, jika orang menilai dia sedang berdoa sebelum ajal menjemputnya. Padahal itu kode dari Dea bahwa Remote Control Bom yang ada ditubuhnya saat ini ada ditangan Rico. Dan Dea berpesan "Trust me, and I'll be back there" Nahendra memperhatikan gerak mulut Dea, yah hany orang-orang tertentu menggunakan cara ini dan kode yang diucapkan Dea dari angka huruf.
__ADS_1
Nahendra memindahkan setiap kode dan sampai dimana Dea menurunkan wajahnya menatap luruh kearah boots bersama Rico dan anakbuah Rico.
Nahendra memecahkan kodenya.
"Uncle, Remote Control Bom ini ada ditangan Rico. Percayalah pada ku, aku akan kembali kesana"
Martin langsung menarik kertas tersebut dan membacanya menjadi sebuah kalimat.
"Kenapa aku tidak menyadarinya" kata Martin lirih dan langsung terduduk dikursi sofa yang ada diruangan itu.
Saat ini semua anggota Dea, dan Nahendra begitu juga para Sniper menahan senjata mereka karena itu keputusan mutlak dari Dea dan Nahendra meski harus berlawanan dengan Martin. Nahendra percaya penuh pada anak sahabatnya itu.
Langit mulai gelap cuaca mulai dingin, dan lampu disana sudah menyala otomatis. Rico masuk kedalam kapal yang sudah menunggu mereka sedari tadi, dan mereka membawa Dea bersama mereka.
Pria itu memandang sendu kearah manik mata Dea, Dea langsung mengerutkan keningnya dan seakan tak percaya dan begitu dia mendekat ingin mengikat kaki Dea, pria tersebut menyebutkan kode yang sama dengan disebutkan Dea kepada Nahendra.
Dea mendengar itu langsung melotot seakan tak percaya akan hal yang baru saja dia dengar.
Pria tersebut tersenyum miring, dan memegang lengan Dea menyelipkan Gps di jaket yang dipakai Dea.
Senyum pria tersebut langsung hilang ketika pintu kamar salah satu kapal itu tertutup. Dia mendapat tugas untuk menjaga Dea agar tidak kabur, dan kapal yang mereka naiki akhirnya bergerak dan meninggalkan lokasi penyerangan itu.
__ADS_1
Martin marah besar kepada Nahendra, tapi Nahendra menerima semua kekecewaan Adik Iparnya itu, Martin tak menyangka bahwa Kakak Iparnya membiarkan mereka pergi begitu saja membawa Dea bersama mereka.
"FuuuCk" maki Martin, sembari berjalan meninggalkan Kakak Ipar dan lainnya dan membanting pintu kamar dengan kencang dan keras dan membuat yang didalam terkejut.
"Dady are you oke" tanya Willi kuatir
"Paa,..."lirih Yuni, memeluk Papanya
"Dia hanya emosi, Dea akan selamat. Percayalah" ucap Nahendra kepada Yuni dan Willi.
Nahendra menyuruh menantu dan putrinya keluar karena dia ingin sendiri, Nahendra menghubungi salah satu Sniper andalannya.
"Apakah dia bersamanya??"
"Ya, dia sudah mengatakan semuanya kepada Dea dan saat ini dia bertugas menjaganya"
"Bagus, jangan sampai ketahuan, karena aku yakin dia tidak mungkin menghianati ku dan ayah Dea, aku sudah yakin dia mempunyai alasan kenapa memilih Rico saat ini" ucap Nahendra, menganggukkan kepalanya pelan.
"Kami akan persiapkan dari sekarang" balas Sniper
"Baiklah, berhati-hati" kata Nahendra, memutuskan panggilannya dan melihat kearah monitor yang ada dihadapannya.
__ADS_1
**Jangan Lupa Dukungannya
Like Komen dan Vote Favorit 😍❤️**