
Ketika Dea dipindahkan kekamar ruang nginap, Martin yang sedang berbicara dengan dokter langsung meninggalkan Dokter tersebut begitu saja dan menghampiri Dea istrinya.
"Honey," ucap Dea memegang tangan mungil Dea dan mengecupnya beberapa kali dan merapikan anak rambut Dea kebelakang kupingnya
Dea masih tidak sadarkan diri, selang oksigen tertancap di lubang hidungnya dan jarum impus ditangan kirinya.
Martin melihat wajah Dea yang pucat, dia kuatir jika Dea sadar akan semakin membencinya, apalagi mereka kehilangan calon baby mereka. "Sebaiknya anda jangan membiarkan dia sendirian dan stress karena itu akan mempengaruhi psikologisnya, ajak beliau refreshing seperti liburan yang membuatnya tenang" jelas Dokter kepada Martin yang saat ini mereka diruangan Dea. Nahendra dan Kinan hanya diam saja, Kinan berada disisi sebelah kiri Dea, sesekali ia mengusap dahi dan pucuk kepala Dea dengan lembut. Air mata Kinan masih mengalir meski tanpa suara.
Kinan merasa sudah gagal menjadi kakak untuk Dea, dia berusaha menahan suara tangisnya dan membuat tubuhnya gemetar.
"I'm so sorry" bisik Kinan disela isak tangisannya.
"Hiro bawa Kinan dan Uncle mu pulang, biarkan aku yang menjaga Dea" kata Martin.
Kinan langsung menatap tajam kearah Martin, "Apa kau akan meninggalkannya lagi, lalu menyakitinya dan karena kau dia kehilangan calon bayinya..!" ujar Kinan menggebu-gebu karena ia masih kecewa dan sangat kecewa pada Martin suami adiknya.
"Sorry, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan menjaganya, dia istriku seluruh jiwaku hanya untuknya" balas Martin yang menatap sendu kearah Dea yang tertidur dengan tenang.
Tanpa mereka ketahui, Dea sudah sadar sedari tadi hanya dia lelah dan merasa bersalah tidak bisa menjaga calon bayinya, Dea sangat terpukul begitu tahu dari Dokter jika ia mengalami keguguran dan mengatakan kepada perawat dan dokter agar tidak memberitahu jika ia telah sadar. Dea merasa dirinya yang salah karena tidak mengetahui jika ia sedang hamil muda, Dea merasa dirinya seperti anak-anak yang kabur dari masalah. Karena itu ia memilih diam untuk sementara waktu dan menenangkan pikirannya kembali.
"Baby, kau butuh istirahat. Kita ke apartemen Dea saja sekalian kita nanti malam kemari membawa beberapa pakaian Dea." ucap Hiro memegang kedua pundak Kinan.
Kinan akhirnya luluh dan menatap kearah Martin "Jaga dia baik-baik, jangan pernah sakiti dan tinggalkan dia" tegas Kinan.
Martin tidak menjawab dan membantah apa pun yang dikatakan Kinan, Martin tidak menoleh sekali pun kearah Kinan. Ia hanya menatap kearah istrinya yang terbaring lemah dan pucat.
__ADS_1
Hiro dan yang lainnya akhirnya pergi meninggalkan Martin seorang diri menjaga Dea, kabar Dea masuk rumah sakit terdengar ketelinga Jerry. Jerry kecewa dengan Martin yang bodoh atas mengambil sikap terhadap mantannya. Tapi bagaimana pun dia akan tetap menghargai keputusan Dea nantinya.
Keesokkan harinya Dea terbangun dari tidurnya, perutnya terasa lapar karena sudah hampir dua hari dia tidak makan apa-apa.
Dea mengerjapkan matanya dan mengangkat tangannya pelan-pelan. Pergerakkan Dea membuat Martin terbangun dari tidurnya, karena Martin tidur disisi Dea dan menggemgam tangan kecil Dea.
"Honey, kau sudah bangun. Mau apa sayang?" tanya Martin membantu Dea, lalu ia menyetel tempat tidur Dea agar terangkat keatas untuk menyandarkan punggung Dea.
Martin mengusap pipi Dea dan memeluknya erat serta mengecup pucuk kepala Dea dengan lembut. "Baby, maafkan aku. Aku sungguh menyesal meninggalkanmu saat itu" bisik Martin terisak. Martin tidak tahan untuk memendam rasa bersalahnya terlebih karena calon bayi mereka telah tiada.
Dea mengendorkan pelukannya dan memeluk pinggang suaminya kembali, "Maafkan aku sayang"lirih Dea sembari memukul pelan pinggang Martin. Martin mengelus pundak Dea, "Aku yang salah sayang. Aku yang salah, sungguh aku yang salah" ucap Martin berkali-kali. Dea tidak merespon kembali dan mereka berdua kembali larut dalam kesedihan mereka masing-masing.
Martin menatap tatapan sendu Dea dan menyeka air mata Dea dari pipi mulusnya, dan Martin ******* bibir Dea dengan lembut. Air mata Martin kembali jatuh, ia mengingat darah yang mengalir dan membasahi tangannya. Dea merasakan air mata suaminya kembali jatuh dan membasahi pipinya juga, "Honey, I love you" kata Dea mengecup pipi suaminya yang basah karena air mata.
"Katakan lagi" lirih Martin
"I love you my husband" ucap Dea dengan tersenyum kecil.
"Thank you, Honey!' Martin memeluk erat Dea dan mengecup seluruh wajah Dea 'Love you too, Baby" balas Martin yang bahagia.
"Aku lapar" bisik Dea
"Oh my, wait. Aku akan mengambil makananmu. Apa kau menyukai makanan rumah sakit sayang?" tanya Martin
"Hemm, apa pun. Asalkan kau berada di sampingku dan menyuapiku." balas Dea.
__ADS_1
Martin tersenyum dan mencium pipi Dea, "Aku akan selalu disisi mu. Jangan pernah tinggalkan aku apa pun yang terjadi pada kita" kata Martin, "Hemm" Dea menganggukkan kepalanya.
"Tunggu sebentar aku akan menyuruh perawat mengantarnya. "kata Martin dan langsung menuju meja perawat yang berjaga malam. Dan Martin bisa melihat perawat disitu sedang bersiap-siap ingin ganti shift.
"Tolong antarkan sarapan keruangan istri saya" kata Martin tegas dan perawat tersebut langsung pergi kebagian gizi dan makan untuk melihat apakah sudah selesai untuk menu sarapan diruangan Dea berada.
Martin kembali keruangan Dea sembari meminta kepada perawat agar mengantar makanan mereka. Selang setengah jam bubur dan ikan salmon sudah ada tersedia dimeja yang ada diatas kasur Dea. Dengan telaten Martin menyuapi bubur tersebut kedalam mulut Dea dan Dea memakannya dengan lahap karena memang dia sangat lapar.
"Kamu lapar banget sayang" ucap Martin
"Ya, aku sangat lapar karena aku kemaren-kemaren tidak nafsu makan" jawabnya sambil melahap bubur yang ada di mangkok itu.
"Cepat sembuh sayang, aku ingin mengajakmu kepantai. Di sini katanya ada pantai yang sangat indah, apa kau mau?" kata Martin disela menyuapi Dea
"Hemm, aku ingin berenang dilaut. Apakah boleh honey?"
"Dengan senang hati sayang, apa pun yang kau mau. Aku siap mengabulkannya tapi jangan pernah meminta untuk berpisah dari ku" kata Martin tegas.
"Yaya,, sudah beribu kali kau mengatakannya kepadaku sayang. Aku ingin kau tahu jika aku sudah mengetahui kita kehilangan calon anak kita, apa cinta mu akan berkurang pada ku?" tanya Dea
"Hei, kau bicara apa?? Aku selalu bersama mu bagaimana pun keadaanmu" kata Martin tegas.
"Makasih Honey, aku mencintaimu sayang" ucap Dea tersenyum lebar.
"I love you too sayang" balas Martin memeluk Dea dengan lembut
__ADS_1