
Melepasnya? Jika bisa, maka Nayaka akan melakukan itu. Ia sudah mencoba selama beberapa tahun ketika Delilah meninggalkannya bersama Kyomi. Ia juga beberapa kali menjalin hubungan bersama wanita lain, tetapi tetap saja Delilah selalu berada dalam benaknya.
Apa ia harus ikhlas? Mungkin dengan begitu bayang-bayang Delilah memudar. Namun, Nayaka tidak mengerti. Ia ingin Delilah. Hatinya seakan tidak rela. Sudah tiada baru terasa. Ya, Nayaka merasakan itu.
Ucapan Reyhan terngiang di telinganya. Delilah selalu menyakitinya, lalu buat apa ia masih mencari. Atau mungkin perkataan Angel ada benarnya. Sebenarnya mereka hanya cocok menjadi adik dan kakak.
Nayaka selalu menuruti Delilah karena ia menyayanginya. Ia takut kehilangan wanita yang selalu menemaninya. Bukan! Nayaka yakin inilah cinta sesungguhnya.
Ketika tiba di Dubai, Nayaka memandang sosok perempuan yang tengah hamil anaknya. Dia adalah wanita yang mencintainya. Menerima ia apa adanya. Sejak dulu, dan bukankah dicintai itu lebih baik daripada mencintai. Tapi, haruskah ia melupakan Delilah? Mungkin perpisahan ini memang takdir bahwa jodohnya bersama Delilah cukup sampai di sini, dan berharap sang mantan istri di sana bahagia.
Semoga Delilah mendapat pengganti yang sesuai dengan keinginannya. Membayangkannya saja Nayaka merasa sakit. Ia mengingat perselingkuhan itu. Tidak rela, itu yang Nayaka rasakan.
Angel tersenyum, ia meraih lengan suaminya. Nayaka turut membalas dengan senyuman tipis. Bukannya wanita ini yang ia harapkan sebagai pendamping? Lalu, kenapa seakan ia ingin Angel pergi dari kehidupannya? Semua sudah terjadi, dan Nayaka tidak mungkin menyakiti hati istrinya. Ia tidak ingin menjadi pria yang bermakna habis manis sepah dibuang. Menerima, dan itu yang harus ia lakukan. Kemudian mengikhlaskan, meski hatinya tidak rela.
"Bagaimana perjalananmu?" Angel mencoba basa-basi.
"Menyenangkan."
Lalu, Angel beralih pada Kyomi. "Sayang, apa senang berada di Indonesia?"
"Mama tidak ada di sana. Tapi Kyomi dapat hadiah banyak dari Kakek Reyhan. Lihat ini." Kyomi menunjukkan tas berisi hadiah. Entah apa saja di dalamnya.
"Apa Mama boleh lihat?"
Kyomi langsung memeluk tas itu, kemudian menggeleng. "Tidak boleh. Papa juga tidak Kyomi izinkan untuk melihatnya."
Nayaka tersenyum. "Kyomi istirahat dulu, ya. Nanti saja buka hadiahnya."
Kyomi langsung melangkah pergi dari hadapan kedua orang tuanya. Ia masuk kamar, dan tidak mempedulikan pesan Nayaka. Hadiah dari Indonesia yang ia bawa begitu sayang untuk dilewatkan.
"Sepertinya Kyomi tidak ingin pulang kemari."
__ADS_1
"Iya. Tadinya mau beberapa hari lagi di sana. Tapi, kau tahu, kan, kalau aku punya banyak pekerjaan."
"Jadi, kau tidak menemukan Delilah?" tanya Angel.
"Aku tidak ingin membahasnya, Angel. Aku lelah dari perjalanan jauh." Nayaka melepas lengan Angel yang memeluknya. Ia pergi masuk ke kamar.
Angel menghela napas. Ia merindukan suaminya itu. Setelah mengetahui dirinya hamil, Nayaka masih belum menyentuhnya. Pria itu beralasan kalau takut untuk berhubungan bersama wanita hamil. Angel tahu itu alasan. Namun, ia tetap berpikir positif. Mungkin saja itu benar.
Nayaka boleh mengatakan ia ingin melupakan Delilah. Namun, setiap saat pria itu selalu mengumpulkan barang yang berkaitan dengan Delilah.
Sang mantan menyukai parfum dan tas keluaran terbaru. Nayaka membelinya, lalu menyimpannya di kamar utama. Kemudian, Nayaka mengumpulkan batu-batu mulia. Ini karena Delilah suka membuat perhiasan.
Taman bunga juga dibentuk sedemikian rupa. Rata-rata bunga yang memang Delilah sukai yang di tanam di sana. Memang pria itu tidak pernah lagi menyebut nama sang mantan, tetapi tetap saja hal-hal kecil begini, begitu menyakiti hati Angel.
Dalam kehamilannya, Angel makan hati akan perbuatan suaminya. Nayaka tetap perhatian, tetapi salahkah ia menginginkan suami untuk tidak lagi mengingat sang mantan?
"Kau ingin aku melupakan Delilah? Kau tahu sendiri itu tidak mungkin. Ada Kyomi di antara kami, dan Delilah dari kecil bersamaku."
"Aku tidak menyuruhmu melupakannya, tetapi aku minta untuk tidak membuat Delilah seolah berada di sini."
"Kau tahu maksudku, Nayaka. Kau membeli barang yang menjadi kesukaan Delilah. Kau membuat rumah ini seperti apa yang mantanmu sukai. Kau mengumpul batu permata karena Delilah seorang designer perhiasan. Aku mohon padamu untuk berhenti melakukan itu. Kau juga masih menyimpan fotonya di dalam dompetmu, dan menjadikan hari lahirnya sebagai kunci ponselmu.
"Aku paham kau mungkin ingin agar Kyomi bisa merasakan kehadiran ibunya. Coba kau berpikir, Nayaka. Ibu macam apa yang kembali meninggalkan putrinya? Apa dia ada memberi kabar selama beberapa bulan ini? Tidak ada, kan? Dan perlu kau tahu, Nay. Anakmu bukan hanya Kyomi saja. Dalam hitungan hari, aku akan melahirkan."
Tanpa sadar, Kyomi mendengar itu semua ketika ia hendak masuk ke kamar orang tuanya. Semua benar. Yang dikatakan Sydney terjadi. Ibu tiri akan berubah setelah punya anak sendiri.
Dering telepon rumah berbunyi. Kyomi yang mendengar itu berjalan gontai menghampiri meja. Ia raih gagang telepon tanpa kabel, lalu duduk di sofa sembari mengangkat panggilan itu.
"Halo, Kyomi di sini." Dengan malasnya ia berbicara.
"Sayang, ini Mama!"
__ADS_1
"Mama Delilah?"
"Iya, Sayang. Ini Mama. Kyomi baik-baik saja, kan? Mama merindukanmu, Sayang."
Kyomi tiba-tiba menangis kencang, dan itu membuat Nayaka dan Angel keluar dari kamar. "Mama ke mana, sih? Mama tinggalin Kyomi lagi, ya? Kyomi enggak mau punya adik bayi. Mama pulang, dong."
"Sayang, ada apa? Apa Angel menyiksamu? Apa Papa tidak menyayangimu?" Delilah panik mendengar suara tangisan putrinya.
"Mama harus pulang."
Telepon rumah itu, langsung direbut Nayaka. "Sayang, kau di mana?"
Nayaka terdiam, telepon langsung diputus. Kyomi kembali meraih gawai itu dari tangan sang ayah, dan kembali mendekatkannya ke telinga.
"Kenapa Mama hilang lagi? Ini gara-gara Papa. Mama itu enggak mau bicara sama Papa!" Kyomi berkata dengan suara sedikit keras.
"Kyomi!" Angel menegur. "Apa begitu bicara sama orang tua?"
"Ini semua karena Papa dan Mama Angel. Mamaku jadi pergi." Setelah mengatakan itu, Kyomi berlari ke kamarnya.
Nayaka hanya bisa meratap karena Delilah tidak mengizinkannya untuk bicara. Ia hanya ingin menanyakan keberadaan wanita itu saja.
Di satu sisi, Delilah bersandar dengan mengembuskan napas panjang secara perlahan. Detak jantungnya berpacu cepat ketika mendengar suara Nayaka.
"Bodoh! Kenapa aku malah takut padanya? Kami sudah bercerai, dan wajar saja, kan, kalau berbincang sebagai mantan suami dan istri."
Gumaman itu membuat sang bayi dalam perutnya bergerak. Delilah mengusap pelan, dan sadar kalau ini memang belum waktunya untuk kembali.
"Papamu sudah punya Kyomi dan adik baru. Kita belum bisa kembali. Nanti saja setelah kau lahir."
Sebuah ketukan terdengar. Delilah bangun dari duduknya, dan berjalan hati-hati karena rumahnya berserakan. Kehamilannya membesar, dan Delilah cuma bisa bertahan dari hasil menjual aksesoris yang ia buat dan jual secara online.
__ADS_1
Pintu dibuka. Delilah kaget melihat pria di depannya ini. Bagaimana bisa? "Kakak!"
Bersambung