Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Kehidupan Kelas Atas


__ADS_3

Yang dikatakan Nayaka ada benarnya. Kedua istri Omar tampak tidak suka pada suaminya. Rupanya dua wanita itu tergabung dalam kelompok sosialita. Tapi Delilah tidak akan mau masuk dalam circle wanita yang akan mencampai umur kedewasaan. Ia sudah bertekad untuk membuat kelompoknya sendiri.


Untungnya Nayaka hanya betah sehari di rumah sang ayah. Esoknya, pria itu memboyong keluarga kecilnya ke rumah baru. Delilah terperangah atas mewahnya kediaman suaminya, dan bisa dibilang rumah mereka dengan Omar berdekatan. Mungkin juga satu tanah yang dipisah.


"Rumah Kak Reyhan saja kalah."


Delilah berceletuk seakan baru pertama kali melihat megahnya sebuah bangunan. Luas tanahnya diperkirakan sekitar enam puluh ribu kaki persegi. Dilengkapi fasilitas mewah, seperti bioskop pribadi, spa, gudang anggur, ruang karaoke, sampai garasi yang memuat 14 mobil.


Tengah menggagumi kediaman baru mereka, Delilah dikejutkan dengan suara hewan buas yang dibawa oleh penjaganya. Singa jantan berwarna putih itu mengaum.


"Bawa dia keluar!" Delilah berteriak takut. Ia meraih lengan Nayaka dan bersembunyi di belakang tubuh suaminya. "Kenapa di bawa kemari, sih, Sayang?"


"Dia peliharaanku."


"Aku enggak mau dia di sini. Bahaya, Sayang. Apalagi ada Kyomi." Menyebut nama sang anak, Delilah baru sadar jika putrinya tidak berada di dekatnya. "Kyomi!"


"Mama!" Kyomi tiba dengan melambaikan tangannya.


Mata Delilah melotot melihat Kyomi yang naik ke punggung harimau putih. "Turun, Nak!"


"Kenapa banyak hewan di sini? Rumah ini bukan kebun binatang."


Delilah takut untuk maju meraih Kyomi. Anak itu begitu senang mendapat mainan baru berupa boneka hewan hidup.


"Kakak!" Delilah menggerutu.


"Oh, harimau putih itu milik Kyomi. Hadiah dari Kakeknya. Kau mau memelihara hewan apa?" tanya Nayaka.


"Sejak kapan kau menjadi pecinta hewan?"


"Aku juga enggak mau, Del. Tapi kata Papa ini sebagai simbol."


Delilah menggeleng. "Aku enggak mau ada hewan buas di rumah ini. Pelihara saja di rumah Papa."


"Ya, sudah kalau enggak mau."


Sumpah! Nayaka juga pura-pura berani saat menurunkan Kyomi dari atas punggung hewan itu.


"Kalian bawa kembali hewan ini. Pelihara saja di rumah Papaku."


"Baik, Tuan Muda."


"Yah, harimau Kyomi, kok, dibawa pergi." Gadis kecil itu tampak kecewa.


"Kita bisa dimakan, Kyomi," kata Delilah.

__ADS_1


"Suka sama rumah barunya?" Nayaka menyela.


"Suka banget!" Delilah langsung memeluk suaminya itu.


"Menurutku rumah ini terlalu besar. Bagaimana kalau kita beli apartemen saja? Lebih sederhana, lebih enak."


Delilah berdecak. "Jangan mulai lagi, deh, Kak. Terus rumah ini mau gimana?"


"Maksudku, aku mau beli pakai uang yang aku hasilkan sendiri. Ini, kan, rumah pemberian Papa."


"Pikiranmu itu selalu begitu. Milik Papa adalah milikmu juga. Dia sudah memberimu segalanya."


"Benar juga, sih. Tapi aku kepingin banget buka usaha sendiri, terus beli properti pakai uang sendiri. Dulu aku kerja keras buat kumpulin uang."


"Sama saja nantinya. Kamu usaha saja agar perusahaan Papa lebih berkembang. Kalau bisa, buat dirimu terdaftar di majalah ternama sebagai orang terkaya di dunia."


"Iya, aku akan berusaha," ucap Nayaka.


Tentu saja rencana resepsi pernikahan, tidak akan terlupa oleh Delilah. Dengan dibantu oleh kepala pelayan rumah, Delilah mencari butik ternama dan toko perhiasan.


Kesibukkan orang berada tentu sangat berbeda. Hari itu juga, Delilah pergi melihat sekolah internasional untuk buah hatinya, sedangkan Nayaka mempersiapkan diri untuk masuk kantor.


Sudah diputuskan, pesta mewah resepsi pernikahan akan diadakan tiga bulan ke depan. Semua sudah ada yang mengatur, Delilah tinggal melihat laporan dari para suruhannya.


Beberapa hari kemudian, Nayaka disibukkan dengan urusan pekerjaan, dan Kyomi harus bersekolah. Sebagai ibu dan istri yang baik, Delilah menjalankan perannya. Setiap pagi membuat sarapan dengan tangannya sendiri, mengantar-jemput Kyomi sekolah, lalu sorenya selalu menunggu Nayaka pulang kantor dan makan malam bersama.


"Memangnya aku selalu pergi? Saat tinggal di apartemen, aku selalu ada untukmu."


Nayaka tergelak, ia meraih jemari istrinya. "Iya, kau yang terbaik."


Kyomi heran melihat ayah dan ibunya yang senyum-senyum tidak jelas. Ia tidak berkomentar, makanan enak di depan mata sayang untuk dilewatkan.


Bunyi pesan beruntun terdengar dari ponsel Delilah. Nayaka meraih telepon genggam itu, tetapi Delilah lekas mencegahnya.


"Pesan masuk dari grup orang tua murid. Kau ingin membacanya?"


"Kau sudah punya teman?"


"Tentu saja, Sayang," jawab Delilah. "Salah satu anak dari duta Australia bersekolah di tempat Kyomi. Kami berkenalan dan akan menjadi teman baik. Ada juga anak sultan dari pengusaha minyak."


Nayaka cuma tersenyum menanggapi. Sekarang beginilah kehidupan mereka. Nayaka juga bertemu teman baru yang tentu saja sesama pengusaha muda.


"Boleh berkumpul bersama teman-temanmu, tapi ingat keluarga."


"Kakak!" Delilah protes. "Apa aku begitu? Di Indonesia saja aku mengurangi jadwal kumpul bareng teman karena kau dan Kyomi."

__ADS_1


"Iya, Sayang. Aku cuma mengingatkan saja."


"Kyomi sudah selesai makan." Kyomi menggeser piringnya. "Kyomi boleh main ponsel?"


"Boleh."


"Tidak."


Delilah mengizinkan, tetapi Nayaka menyayangkan. Satu memberi kebebasan, dan yang lain tidak menginginkan itu.


"Hanya sebentar, Papa."


Nayaka menggeleng. "Kecuali hari libur."


"Sayang!" Delilah mencoba untuk membela.


Nayaka tetap kukuh dalam pendiriannya. "Jangan dibiasakan, Del."


Delilah mencebik. Ia beralih pandang pada sang anak. "Kyomi pergi belajar saja."


"Capek belajar terus."


"Mama mau belanja parfum, Kyomi mau juga?"


Mata anak itu berbinar. "Kyomi mau."


"Tidak ada hal begituan. Kyomi harus pergi belajar. Ayo, Sayang. Ikut Papa."


Dengan malas Kyomi mengikuti sang ayah untuk menerima pengajaran. Sementara Delilah menyuruh pelayan membersihkan meja makan, dan ia berlalu menuju ruang TV.


Baru sebentar saja sudah ada lima ratus pesan masuk di grup obrolan. Delilah membalas satu per satu teman yang memanggil namanya. Besok siang, mereka membuat janji untuk kumpul bersama. Tentu saja itu tidak bisa Delilah lewatkan. Ia setuju untuk bertemu.


Sebulan tinggal di Dubai, Delilah telah menemukan teman satu frekuensinya. Terdiri dari 11 wanita kaya. Ada yang bersuami pengusaha, artis, dan wanita karier.


"Mau ke mana?" tanya Nayaka.


"Aku ketemu teman-teman dulu, Sayang."


"Ini Sabtu. Temani Kyomi dulu. Aku enggak mungkin batalin janji buat berkuda sama Tuan Ashraf. Ini juga demi bisnisku. Kau tahu, kan, aku juga ingin berkecimpung dalam tambang minyak."


"Yah, Sayang. Kamu enggak atur waktu, sih. Aku sudah janji duluan sama teman."


"Kasihan, Kyomi."


"Aku bakal pulang cepat. Nanti kami akan jalan-jalan." Delilah berjinjit untuk dapat mengecup bibir suaminya. "Hanya sebentar saja. Hari ini pembukaan arisan. Aku harus datang."

__ADS_1


Menjadi seorang bos bukan berarti Nayaka bisa bersantai. Ia harus membangun relasi untuk menguatkan posisi. Bukan hanya Delilah saja yang perlu berkumpul bersama teman-temannya, Nayaka juga perlu.


Bersambung


__ADS_2