
Delilah langsung memeluk Nayaka ketika pria itu bisa ia temui. Baru semalam, tetapi wajah kekasihnya seperti tahanan yang sudah satu bulan berada di jeruji besi.
"Apa mereka memukulimu?" tanya Delilah.
Nayaka menggeleng. "Tidak."
"Teman-teman di dalam sel," ucap Delilah.
Nayaka terdiam sesaat, lalu bertanya balik, "Bagaimana Kyomi?"
"Dia bersama kakakku."
"Kyomi pasti menangis karena aku tidak berada di dekatnya."
"Kak Anna bisa mengatasinya. Hanya saja dia tidak sekolah. Kyomi menangis semalaman. Kakak tenang saja, sebentar lagi kau akan keluar dari sini," ucap Delilah. "Aku akan melaporkan Juno juga karena dia telah memukulimu lebih dulu."
Nayaka mengangguk. "Iya, aku percaya padamu."
"Nona Delilah, sudah waktunya pergi," ucap Erick, pengacara yang menangani Nayaka.
"Bertahanlah sedikit lagi, Kak. Kau akan segera keluar dari sini."
"Ya, pergilah. Katakan pada Kyomi kalau aku baik-baik saja."
Delilah memeluk sekali lagi sang kekasih, lalu keluar. Sementara Nayaka segera dibawa ke dalam jeruji besi lagi. Rupanya Juno melaporkan Nayaka dengan kesaksian dari Fely serta bukti visum dari dokter pribadi pria itu sendiri yang menguatkan dugaan kekerasan itu. Yang lebih mengejutkan lagi ada video pemukulan itu. Pertanyaannya, kapan dan siapa yang mengambil rekaman itu? Saat itu Delilah malah termenung, seakan tidak sadar atas apa yang terjadi.
Pelakunya sudah pasti Fely karena wanita itu tidak melerai perkelahian itu, malah membiarkan keduanya baku hantam. Delilah yakin sekali Fely yang melakukannya karena wanita itu punya dendam dengan Nayaka.
Sementara, laporan Delilah tidak begitu kuat. Dikarenakan hanya berdasarkan apa yang dilihat. Namun, pihak berwajib tentu saja akan memanggil Juno serta Fely untuk dimintai keterangan.
"Apa Nayaka tidak bisa dikeluarkan sekarang juga?" tanya Delilah.
"Tentu saja tidak, Nona. Kita harus menunggu lagi," jawab Erick.
"Aku ingin secepatnya dia bebas. Kau lakukan apa saja yang bisa membuatnya lepas dari tuduhan ini."
"Berharap video pemukulan ini tidak tersebar di ruang publik. Jika sampai terjadi, tuan Reyhan sendiri juga tidak bisa apa-apa," ucap Erick.
"Kalau begitu, aku memang tidak bisa membuat Fely atau Juno marah. Karena mereka bisa saja mengancam."
"Lebih baik jangan temui mereka seorang diri," kata Erick menyarankan.
"Sayangnya hari ini aku akan bertemu keluarganya," ucap Delilah, lalu berjalan menuju mobil putih miliknya.
Keluarga Juno sudah setuju untuk datang menemui Reyhan di kediamannya. Tentu saja mereka tahu apa yang ingin disampaikan oleh keluarga Delilah serta hal yang terjadi pada Juno.
Setelah kembali dari kantor polisi, Delilah segera menemui anaknya. Kyomi lagi-lagi menangis mencari Nayaka dan itu membuat Anna serta putri kembarnya kewalahan.
__ADS_1
"Papa akan segera kembali. Jika Kyomi nangis terus Papa tidak akan pernah menemuimu," ucap Delilah.
"Kau jahat!" teriak Kyomi dalam bahasa Perancis-nya.
Sekarang Delilah paham, jika Kyomi sudah bicara dalam bahasa itu, maka artinya, Kyomi tengah memakinya.
"Kyomi! Jangan pernah memaki ibumu," ucap Delilah.
"Sudah, Del. Sabar dalam menghadapi anak kecil," sahut Anna.
Delilah mengembuskan napas panjang, ia meraih Kyomi dalam gendongan, lalu membawanya ke taman belakang. Tentu saja sang anak memberontak karena tidak menginginkan Delilah berada di dekatnya.
"Kyomi mau berenang?" tanya Delilah.
"Enggak mau," tolaknya.
"Maafkan Mama," ucap Delilah. "Tadi Papa bilang kalau dia akan lekas kembali."
Kyomi meronta untuk diturunkan dan Delilah menurutinya. Anak itu berjalan menuju kolam, lalu merendam kakinya di sana. Kyomi terdiam dengan memainkan kakinya di dalam air.
"Delilah," tegur Anna.
"Kyomi belum makan?" tanya Delilah.
"Dia tidak mau. Mungkin ini pertama kalinya Kyomi berpisah dari ayahnya."
Anna mengangguk. "Setelah itu bersiaplah, keluarga Juno akan tiba. Ayyena dan Anthea akan menbawa Kyomi ke rumah bermainmu. Dia tidak boleh berada di sini dan mendengar semuanya."
"Iya, Delilah akan bersiap."
Anna berlalu dari hadapan keduanya. Delilah duduk di samping sang anak, menyodorkan satu suap nasi, tetapi Kyomi menolaknya.
"Makan dulu, Sayang," ucap Delilah.
"Kyomi enggak mau makan itu."
"Nasi campur ayam ini enak. Nenek Anna yang masak."
"Kyomi mau telur."
"Ini dulu dimakan," bujuk Delilah.
"Enggak mau!" tolaknya.
"Kyomi ingin pergi ke rumah bermain waktu itu? Kak Ayyena dan Anthea akan membawamu ke sana."
Kyomi menoleh, lalu membuka mulutnya. Untungnya sang putri kecil bisa dibujuk. Delilah tidak dapat membayangkan Nayaka yang dibuat repot oleh Kyomi. Bagaimana cara pria itu merawatnya hingga Kyomi bisa tumbuh sebesar sekarang.
__ADS_1
Satu piring nasi dapat Kyomi habiskan karena memang tadi pagi anak itu tidak ingin sarapan. Ayyena dan Anthea lekas membawa sepupunya itu ke rumah bermain karena adanya pertemuan keluarga.
Dua buah mobil warna hitam masuk ke halaman rumah. Melihat itu, pekerja di kediaman Reyhan lekas memberitahu tamu penting yang telah ditunggu kedatangannya.
Reyhan dan Anna lekas menyambut kedatangan keluarga Priyo Hermawan, sang istri, lalu pria yang wajahnya terluka akibat perkelahian.
Delilah juga turut menyambut keluarga calon tunangannya, dan tentu saja tidak mendapat sambutan baik dari keluarga Priyo.
"Silakan duduk," ucap Reyhan, mencoba bersikap ramah.
Ketiganya duduk di sofa panjang berhadapan dengan Reyhan, Anna dan Delilah. Terlihat tatapan kebencian ibunda dari Juno. Tentu saja mereka marah karena perbuatan dari Delilah.
"Begini, Tuan Priyo," ucap Reyhan.
"Kami tidak terima diperlakukan seperti ini. Kalian harus bertanggung jawab atas reputasi kami yang tercoreng," kata Priyo.
"Saya juga menyesali ini, Tuan Priyo. Ini sungguh kejadian yang tidak kami duga. Delilah telah memiliki anak. Apa Tuan masih ingin menjadikan Delilah sebagai menantu?" ucap Reyhan.
"Saya tidak sudi menjadikan wanita murahan sebagai menantu," sahut Nyonya Priyo. "Wanita yang tidak bisa menjaga diri. Dia tidak pantas untuk bersanding dengan keluarga kami."
"Kau lihat, anakku saja dipukuli oleh kekasihnya itu. Sudah hamil di luar nikah, tukang selingkuh lagi," Priyo menimpali.
"Saya mohon untuk menjaga perkataan Anda, Tuan," sahut Anna.
"Apa yang saya ucapkan ini salah, Nyonya Anna?" ucap Priyo.
Anna terdiam karena memang apa yang dikatakan tuan Priyo adalah benar. Sementara Reyhan cuma bisa menahan amarahnya saja.
"Kau bahkan melaporkanku, Delilah," ucap Juno.
"Kau lebih dulu memukuli Nayaka," sahut Delilah.
"Sampai sekarang saja kau masih membela pria itu. Kau memang murahan!"
"Aku ingin pertunangan ini dibatalkan. Aku ingin kita putus," ucap Delilah.
"Siapa juga yang ingin melanjutkan pertunangan ini. Keluarga kami tidak bisa menjalin kekerabatan dengan keluarga yang memelihara seorang wanita badung seperti Delilah," kata Nyonya Priyo.
"Anda sangat keterlaluan, Nyonya," ucap Reyhan. "Anda pikir Juno itu baik?"
"Setidaknya anak kami tidak membuat hamil anak orang."
"Kalian ingin membicarakan keburukan?" Reyhan sudah emosi.
"Sabar, Sayang," ucap Anna.
Priyo, istri serta anaknya bangkit berdiri. "Hubungan ini sampai di sini, tetapi ingat, kami tidak menerima semua penghinaaan ini," ucap Priyo, lalu berlalu bersama istri dan anaknya.
__ADS_1
Bersambung