
"Aku harus pulang," kata Delilah dengan menarik laci lemari pajangan dan mengambil kunci mobil.
"Tunggu dulu, Nak," cegah Anna.
"Aku mau pulang, Kak," kata Delilah dengan berjalan keluar.
Delilah menyuruh penjaga untuk mengeluarkan mobil dari garasi. Sementara Anna masih menahan Delilah agar tidak pergi.
"Nayaka punya anak dari siapa?" tanya Anna.
"Aku tidak tahu, Kak," jawab Delilah.
"Sebenarnya ada apa, Del?"
"Tidak ada apa apa, Kak. Kumohon untuk tidak mendesakku," kata Delilah yang berjalan menuju mobil setelah kendaraan itu keluar dari garasi.
Anna menggeleng ketika Delilah sudah meluncur bersama mobil yang dikendarainya. Sesuatu yang disembunyikan Delilah dan Anna yakin jika itu berkaitan dengan Nayaka. Terlebih Delilah yang sengaja menyusul ke Inggris untuk bersama Nayaka.
"Sebenarnya apa yang dilakukan gadis itu?" gumam Anna.
Delilah tidak pulang ke rumah, melainkan pergi ke kediaman Nayaka. Meski ia berjanji tidak akan datang karena jadwal yang pria itu berikan, tetapi Delilah tetap nekat untuk bertandang ke tempat Nayaka.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Untungnya komplek perumahan Nayaka hanya ada penjaga keliling di siang hari karena pada saat itu kondisi perumahan memang sepi disebabkan aktivitas warganya yang pergi bekerja.
Delilah mengetuk berulang kali sampai pintu dibuka oleh sang pemiliknya. Delilah masuk begitu saja dan tidak peduli betapa kesal Nayaka akan sikapnya itu.
"Ini bukan apartemen yang bisa kau kunjungi seenaknya," kata Nayaka.
"Aku ingin melihat anakku saja."
"Dia tidak sudah tidur dan jangan menganggunya."
"Hanya sebentar," kekeh Delilah yang langsung masuk ke kamar Kyomi.
Nayaka ikut masuk ke kamar. Delilah malah berbaring di atas kasur yang sama dengan putrinya. Memeluk gadis kecil yang dari kecil ia tinggalkan.
"Aku memang bersalah," ucap Delilah tiba-tiba. "Aku mencintaimu, dan kita melakukannya. Saat dia lahir, aku merasa semua telah direnggut dariku. Aku egois dengan meninggalkannya."
"Lalu kau ingin mengambilnya?"
"Dia milikmu. Kau lebih berhak dariku. Tapi aku ibunya. Perasaan ini tidak bisa bohong, aku merindukannya."
"Setelah bertahun-tahun?" tanya Nayaka.
"Kadang penyesalan itu datang terlambat, kan? Aku hanya ingin mengasuhnya bersamamu," ucap Delilah.
"Aku sudah mengizinkannya."
__ADS_1
"Apa kita akan saling menyakiti?" tanya Delilah.
"Kau yang membuatku sakit hati," jawab Nayaka.
"Kau masih mencintaiku?"
Nayaka menatap Delilah yang mengusap puncak kepala Kyomi. "Aku selalu mencintaimu."
"Kau juga mencintai Angel?"
"Aku pikir menikah tidak butuh cinta. Aku akan setia dan bertanggung jawab padanya."
Delilah tersenyum. "Kupikir aku juga begitu bersama Juno. Aku memilihnya karena dia sepadan denganku."
Nayaka mengangguk. "Iya, itu bagus. Sekarang pergilah. Tidak baik bermalam di sini."
Delilah bangkit dari rebahannya, lalu mengecup kening Kyomi sebagai tanda perpisahan. Keduanya sama-sama keluar. Nayaka menarik pintu dan mempersilakan Delilah pergi.
"Aku juga mencintaimu," ucap Delilah.
"Kuharap kau tidak marah lagi ketika Angel berada di sini."
"Itu hanya reaksi ketika milikku dilirik orang lain."
Nayaka menatap bibir Delilah yang bengkak. "Ya, aku juga kadang begitu."
Delilah melangkah pergi. Sebelum itu, ia menoleh ke belakang menatap Nayaka yang menutup pintu dengan perlahan.
Mungkin ini kedatangan Delilah yang tidak mendapat gerutuan dari Nayaka. Pagi-pagi sekali wanita itu datang hanya untuk sekadar membuatkan sarapan bersama Kyomi. Ya, meskipun sang putri masih tidak menyukai Delilah.
"Kyomi sudah selesai," ucapnya.
"Sarapanmu belum habis," kata Nayaka.
"Tapi Kyomi sudah kenyang."
Nayaka mengerti kenapa putrinya tidak kenyang makan. Kyomi terlihat mengambil satu toples dari dalam kulkas.
"Apa itu?" tanya Delilah.
"Ini cokelat. Semalam Kyomi, Papa dan tante Angel membuatnya."
Delilah langsung memandang Nayaka. Ia terlambat untuk moment menyenangkan seperti itu.
"Kyomi ingin membeli buku jurnal. Dia suka membuat seni menempel kertas," kata Nayaka.
"Mama bisa membelikan itu semua untukmu, Sayang. Jurnal, stiker, kertas printing," ucap Delilah yang selalu bangga akan kelebihannya.
__ADS_1
"Kyomi bisa membelinya sendiri. Kyomi akan menjual cokelat ini kepada teman-teman di sekolah, dan uangnya ditabung."
"Kak, kau membiarkannya bekerja."
"Itu untuk melatihnya. Biarkan dia mandiri," kata Nayaka. "Dia akan menghargai apa yang tengah ia perjuangkan. Kau tentu tahu, Kyomi bukan dirimu."
Akhir-akhir ini Delilah terbiasa akan sindiran dari Nayaka. Tapi yang diucapkan sang mantan memang benar adanya.
"Mama bisa membuat cokelat," kata Delilah.
"Kau bisa menjualnya juga? Kita bisa menjual ini di taman," ucap Kyomi.
Nayaka mencoba menahan tawa. Ia dan Kyomi sudah terbiasa berjualan di taman ketika di Paris. Hanya untuk iseng di hari Minggu dan kini Kyomi ingin Delilah berjualan cokelat. Mau taruh di mana wajah wanita itu.
"Mama cuma bisa membuatnya," kata Delilah.
"Tidak seru," sahut Kyomi. "Kau tidak seperti tante Angel."
"Jangan panggil seperti itu Kyomi. Dia Mama," sahut Nayaka.
Kyomi melihat Delilah, ia lalu berlalu dari hadapan keduanya dengan membawa satu toples plastik cokelat buatannya tadi malam.
"Apa Angel akan terus berada di sini?" tanya Delilah lantaran kesal karena ia selalu dibandingkan.
"Hari ini Kyomi akan bersama pengasuhnya. Tapi aku tetap mengizinkan dia untuk datang. Kau tahu kalau aku merasa cocok padanya. Lalu, kau, kuharap jangan seenaknya datang. Aku tidak nyaman dengan tetangga sekitar. Meski di sini rumah mereka selalu tertutup, tetap saja aku tidak mau ada keluhan tentang diriku," tutur Nayaka.
"Aku ingin Kyomi sesekali berada di tempatku," kata Delilah.
"Kau terlalu banyak permintaan."
"Dia harus tahu keluarganya, Kak. Kita sudah sepakat untuk mengasuhnya bersama. Aku ingin kita menjadi keluarga normal."
"Maksudmu, Kyomi tahu kita adalah orang tuanya dan dia juga tahu bahwa kita tidak bisa bersama?" tanya Nayaka.
"Apa aku salah?"
Nayaka menggeleng. "Faktanya memang begitu. Apa Kyomi akan seperti kita?"
"Maksudmu?" tanya Delilah.
Keluarga seperti apa yang mereka berdua berikan pada Kyomi. Apa seperti yang Delilah katakan, yaitu normal. Di sini Kyomi yang akan menjadi korban bila keduanya sama-sama memiliki pasangan. Terlebih jika ada anggota baru nantinya.
"Aku merasa aku dan kau masih beruntung," kata Nayaka. "Ayah dan ibumu tiada karena cinta. Kau sempat merasakan kasih sayang mereka. Sementara aku pun sempat merasakan itu ketika kecil. Sebelum mimpi buruk itu datang dalam rumahku. Lalu, Kyomi? Dia hadir karena kita saling menyukai. Dia akan tersisih karena cinta ketika kau dan aku memiliki pasangan, lalu kita punya anak dari pasangan itu. Kau yakin dia tidak akan merasa tersisih? Dia bahkan hanya satu bulan bersama ibu yang melahirkannya."
"Aku tidak akan mungkin melupakannya."
Nayaka menggeleng. "Berkata begitu mudah, Delilah."
__ADS_1
Ini yang selalu menjadi beban pikiran Nayaka. Ia ingin memberi ibu pada Kyomi, tetapi ia takut anaknya akan merasa tersisih dengan hadirnya keluarga baru.
Bersambung