Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Ungkapan Ashraf


__ADS_3

Seharian ini Kyomi tidak keluar kamar. Anak itu merajuk lantaran perkataan Nayaka. Itu artinya, ia akan bernasib sama seperti temannya yang berada di Perancis.


Kyomi tidak mengerti ada apa dengan keluarganya. Orang dewasa itu begitu rumit. Ibu dan ayahnya selalu bertengkar, dan sekarang ada Angel, yang telah menjadi ibunya.


"Kau akan punya adik?" tanya Sydney.


"Begitulah." Kyomi menjawab panggilan video itu dalam bahasa Perancis.


"Ibu dan ayahku punya anak baru, dan aku di lupakan. Kedua orang tuamu pasti akan begitu juga."


"Harusnya kau senang. Kau punya teman sekarang."


"Berbagi itu tidak enak. Kalau umurku sudah 16 tahun, aku akan pergi dari sini. Aku akan tinggal di tempat lain."


Kyomi terperangah. Ia menggaruk kepalanya. "Kau ini bicara apa?"


"Kau ini sungguh ketinggalan zaman. Kau kunjungi situs Outcast. Kau akan menemukan anak-anak seperti kita."


"Kau tahu dari mana? Kita masih anak-anak, Sydney."


"Kau harus rajin-rajin membaca artikel dan komentar di sana. Ada juga foto. Kau akan lihat penderitaan mereka."


Sungguh Kyomi tidak mengerti apa yang temannya ini bicarakan. Pembahasan Sydney berbeda dari terakhir kali mereka melakukan panggilan video.


"Baiklah. Nanti aku akan coba buka."


"Sepertinya di rumahmu tidak bisa. Ayahmu pasti telah melindungi internetnya."


"Kau tahu dari mana semua ini?" Kyomi penasaran.


"Kau tidak perlu tahu."


Ketukan pintu terdengar. Kyomi mulai panik. "Nanti kita bicara lagi. Aku tutup dulu."


Panggilan itu diputus. Kyomi menutup laptopnya, beranjak dari meja belajar ke tempat tidur.


"Kyomi!" Nayaka berseru. "Papa masuk, ya?"


Kyomi enggan untuk menyahut. Tidak diizinkan pun ayahnya akan tetap masuk. Pintu itu terbuka, dan Nayaka masuk ke dalam.


Nayaka tidak bermaksud membentak putrinya. Ia pusing karena rengekan Kyomi yang ingin bertemu Delilah.


"Masih marah?" Nayaka bertanya sembari mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


"Ke mana Mama? Apa dia meninggalkan Kyomi lagi? Dia tidak sayang padaku, kan?"


"Mama belum sempat bicara saja. Mungkin nanti Mama akan menelepon."

__ADS_1


"Papa akan dapat anak baru. Pasti Kyomi diabaikan nanti."


Nayaka terkesiap. "Kenapa bicara seperti itu? Papa akan selalu menyayangimu."


"Mama pergi, itu karena Papa yang tidak sayang."


"Ketika Kyomi dewasa, Kyomi akan mengerti mengapa Papa dan Mama berpisah."


"Mama pasti tidak suka Tante Angel."


Nayaka mengusap puncak kepala putrinya. "Papa ada urusan kerjaan. Kau di sini dulu."


"Papa mau ke mana?" tanya Kyomi.


"Papa harus menghadiri undangan bersama Mama Angel. Kyomi mau di sini saja atau ke rumah Kakek Omar?"


"Di sini saja, siapa tahu nanti Mama menelepon."


Sementara Nayaka berharap di pesta nanti ia dapat bertemu Delilah. Pasti Ashraf akan membawa kekasihnya untuk dipamerkan.


"Kau sudah siap?"


"Ya, aku sedikit gugup karena ini pertama kalinya aku ke pesta." Angel menyunggingkan senyumnya.


Nayaka mengerutkan keningnya melihat penampilan Angel. "Bukannya itu pakaian Delilah?"


"Ganti pakaianmu."


"Aku hanya pinjam sebentar, Nay."


"Kau tidak punya pakaian sampai memakai barang miliknya. Kau ingin menunjukkan pada Kyomi kalau kau akan menggantikan ibunya. Kembalikan semua barang milik Delilah ke kamarnya. Jangan pernah sekali kau masuk ke sana." Nayaka geram melihat tingkah Angel kali ini.


"Kau ingin membuangnya atau menyimpan kenangannya? Jika sudah berpisah, lebih baik membuang kenangannya."


"Kau memakai pakaiannya, bukankah kau sengaja mengingatkan diriku tentang dirinya. Kau tidak usah pergi saja. Kau kembalikan semua barang milik Delilah ke kamarnya. Kau membuatku kecewa."


Nayaka langsung keluar kamar dengan membanting pintu. Ia melangkah cepat menuju ke beranda depan, memerintahkan sopir untuk segera berangkat.


Sementara Angel tidak bermaksud seperti itu. Tadi ia masuk ke kamar Delilah, memang berniat meminjam pakaian wanita itu. Dalam selera berpakaian, Delilah begitu pandai, dan karena ini pesta penting, Angel ingin tampil cantik.


Saat telah berada di pesta, Nayaka mengedarkan pandangan mencari keberadaan Ashraf. Namun, batang hidung pria itu sama sekali belum terlihat.


"Tuan Nayaka, kau mencari siapa?" tegur pria yang merupakan rekan bisnis.


"Tidak, aku hanya ingin menyapa teman-teman yang lain."


"Oh, itu Tuan Ashraf. Siapa wanita yang dia bawa?"

__ADS_1


Mendengar itu, jantung Nayaka berdegup kencang. Itu pasti Delilah. Mantan istri yang baru saja ia ceraikan. Dalam hati, Nayaka mengutuk teman masa kecilnya. Baru beberapa hari saja, Delilah terang-terangan menggandeng Ashraf.


"Ayo, kita temui dia," ucap pria itu.


Tentu Nayaka menyetujuinya. Ia memang ingin bertemu Delilah. Namun, saat memutar diri menghadap depan, Nayaka tidak menemukan sosok yang dia cari. Ashraf menggandeng seorang wanita baru dan Nayaka tidak mengenalinya.


Keduanya saling menatap. Masih ada rasa dendam Nayaka pada pria yang telah menghancurkan pernikahannya ini.


"Kau tidak membawa istri mudamu, Tuan Nayaka." Pertanyaan Ashraf itu seperti mengejek.


"Kau jadikan ke berapa Delilah? Sekarang kau malah menggandeng wanita baru."


"Istrimu itu? Aku akan menjadikannya yang pertama jika dia mau menikah denganku. Sayangnya Delilah tidak mau."


"Kau puas, kan, telah menghancurkan pernikahanku." Nayaka mengepal.


"Aku mencintainya. Aku akan merebutnya darimu. Tapi sayang, Delilah malah mempertahankan pernikahannya denganmu."


"Sialan!"


Nayaka melayangkan tinjunya ke wajah Ashraf, dan suasana kembali heboh. Tamu yang hadir mulai melerai keduanya.


"Setelah kau puas menidurinya, kau malah menggandeng wanita lain. Kau memang pria paling buruk yang kukenal!" Nayaka menyuarakan itu dengan lantang.


"Aku tidak pernah menidurinya, Sialan!" Ashraf membalas.


"Kau kira aku percaya. Kau berbuat hal itu di depan mataku sendiri."


"Jika aku mau, aku sudah lama ingin menidurinya. Tapi aku, ingin dia menjadi istriku. Bahkan bersedia menjadikan dia satu-satunya milikku. Tapi kau, malah menduakan dia."


"Jangan sok suci. Karena kau, aku kehilangan istriku!"


Nayaka meronta dari pegangan beberapa rekannya. Dengan kekesalan hati, ia berlalu dari pesta. Sementara Ashraf juga ikut pergi bersama wanitanya. Daripada semua pandangan menatapnya, lebih baik memang pergi saja.


Beberapa kali Nayaka memukul setir kemudi. Sopir yang mengantarnya tadi, sudah ia suruh pergi. Nayaka mengingat apa yang tadi Ashraf katakan.


"Dia pasti berbohong. Ashraf hanya membual saja."


Lebih kepada rasa bersalah. Kalau Ashraf berkata benar, itu artinya Nayaka telah memberi tuduhan keji pada istrinya.


Berbulan-bulan ia menyakiti Delilah dengan membawa wanita lain ke rumah. Nayaka juga sadar kalau mantan istrinya itu tertekan. Terbukti dengan fisik Delilah yang semakin kurus.


"Apa yang kulakukan?" Nayaka menekan keningnya pada setir. "Inggris!" Secepatnya Nayaka menelepon Sofwan. "Kau siapkan keberangkatanku ke Inggris. Aku ingin berangkat besok."


Dari seberang telepon sana, Sofwan mengiakan. Yang pasti Nayaka akan pergi mengunakan pesawat pribadinya. Jika Delilah tidak ada di Indonesia, maka Inggris adalah tujuannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2