
"Semua sudah menunggu kita di butik," kata Juno. "Kau melupakan acara penting kita?"
Delilah memang ingin melupakan hari penting baginya. Ia ingin pernikahan ini batal. Yang pasti saat ini Delilah tidak mau menikah. Ada hal yang lebih penting, yaitu pengakuan dari Kyomi.
Ponsel berdering, Delilah meraih gawai itu dari dalam tas dan benar saja jika keluarga sudah menunggu sebab Anna telah menelepon.
"Kenapa bisa pagi ini?" tanya Delilah.
"Sayang, kau ini kenapa? Jangan karena sibuk kau melupakan jadwal yang telah kita susun," ucap Juno.
"Aku kira kita ke butik nanti siang."
"Kita pergi bersama keluarga dan semua sudah berkumpul menunggu kita." Juno tidak percaya. "Kau sibuk sendiri, Delilah. Kau berubah akhir-akhir ini."
"Aku hanya sedikit sibuk. Ayo, kita berangkat saja sekarang," kata Delilah mengalihkan pembicaraan.
Juno menahan kekesalannya. Akhir-akhir ini Delilah terasa menjauh darinya. Kadang pesan yang ia kirim lama sekali baru dibalas, dan Delilah juga jarang mengangkat telepon padahal waktu pernikahan sebentar lagi akan tiba.
"Aku merasa ada hal yang kau sembunyikan," kata Juno ketika mereka berada di dalam lift.
"Jangan berprasangka buruk padaku."
Juno memeluk Delilah, mengecup pipi kekasih yang begitu ia rindukan. "Aku rindu padamu."
"Ini kantor, Juno. Jangan begini," kata Delilah.
"Inilah perubahanmu. Dulu kau begitu senang aku peluk."
Delilah mencoba melepaskan jeratan tangan Juno. Ada rasa takut dalam hatinya dan ia terbayang pada Nayaka. Bagaimana jika mantan kekasihnya itu melihat? Nayaka bisa tiba-tiba berdiri di depan lift saat ini.
"Lepasin aku dulu, Sayang," ucap Delilah lembut.
Namun, Juno tidak ingin melepasnya. Ia kecup bibir manis Delilah. Mendesak masuk, menggoda agar sang kekasih membalas belitan yang diberikan.
"Ada apa denganmu?" tanya Juno kesal ketika Delilah diam saja.
"Ini kantor. Kau ini yang kenapa?"
"Sial! Kau biasa tidak begini. Katakan padaku kalau kau punya pria lain."
Delilah menangkup kedua pipi Juno, lalu mengecup bibir pria itu. Ia memberikan apa yang kekasihnya itu inginkan. Delilah harus mengalihkan perhatian dari topik itu. Belum saatnya Juno tahu rahasia besarnya.
"Aku sudah melakukannya. Kau puas?" tanya Delilah.
"Aku tidak pernah puas," ucap Juno seraya tersenyum.
"Di mobil saja. Pintu lift sudah terbuka."
Keduanya keluar berpapasan dengan Mery yang membawa berkas di tangan. Mery menyapa dulu keduanya sebelum masuk lift.
__ADS_1
"Pasangan yang sempurna," ucap Mery kagum.
Rekan kerja Nayaka itu lekas masuk lift khusus karyawan. Dengan tidak sabarnya Mery ingin memberitahu apa yang barusan ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Nayaka kaget ketika Mery masuk dengan suara kerasnya. Wanita itu menutup wajah seraya melompat-lompat girang. Nayaka menghentikan pekerjaan, dan mendengar apa yang rekannya itu sampaikan.
"Kau ini kenapa?" tanya Sofi, rekan satu tim Nayaka dan Mery.
"Tadi aku lihat ibu Delilah dan tuan Juno."
"Seperti tidak biasa saja."
"Masalahnya bukan itu," kata Mery. "Aku lihat lipstik bu Delilah belepotan. Kalian tahulah mereka habis ngapain. Gila! Tuan Juno hot banget."
"Tubuh kekar, wajah tampan, aduh! Bikin ngiler," sahut Sofi.
Mery melirik Nayaka. "Dia juga tampan. Kayak bule campur arab."
"Sayang, sudah ada yang punya," sahut Sofi.
"Nayaka, kau sudah menikah?" tanya Mery. "Yang waktu itu putrimu, kan?"
"Iya, aku sudah menikah dan dia memang putriku," jawab Nayaka.
Lebih baik mengiakan saja dugaan Mery serta lainnya. Ini juga sebagai bahan agar tidak ada gosip menyebar mengenai kedekatannya bersama Delilah.
"Kau teman bu Delilah?" tanya Mery. "Kau lebih sering bersamanya."
Sofi menyenggol bahu Mery agar tidak lagi bertanya mengenai kehidupan pribadi Nayaka, dan Mery lantas menutup mulutnya.
...****************...
Kedua keluarga memang sudah menunggu di butik yang direkomendasikan oleh Anna. Untuk pakaian pengiring pengantin serta keluarga akan diserahkan pada orang lain. Sementara untuk gaun pengantin yang dikenakan Delilah haruslah buatan dari Anna.
"Kalian terlambat," kata Reyhan.
"Aku harus menjemput tuan putri ini. Dia malah pergi bekerja dan lupa jadwal mengukur baju," sahut Juno.
Delilah tersenyum. "Aku sedikit sibuk."
Reyhan mendekati adiknya. "Kau juga jarang ke rumah."
"Kakak, kan, tahu kalau aku sedang ingin fokus pada pagelaran perhiasan itu," ucap Delilah.
"Jangan lupakan hari penting ini juga. Memang masih lama, tapi persiapan harus dilakukan, kan?"
Delilah mengangguk. "Iya, aku minta maaf, Kak."
Memang Delilah dan Juno dahulu yang diukur, tetapi Delilah tidak bisa pergi karena harus menunggu semuanya sampai selesai. Belum lagi pemilihan kain yang membuat acara itu begitu lama.
__ADS_1
"Aku, kan, sudah memilih bahan untuk gaunku sendiri sama kak Anna," kata Delilah.
"Kau ini kenapa, sih? Biasanya kau menyukai acara keluarga seperti ini," tegur Ayyana.
"Kau setuju kalau kita memakai warna pink atau biru laut?" tanya Anthea.
"Bagaimana kalau warna hijau tosca?" sahut Anna.
"Oh, itu tidak bagus, Mama," ucap Anthea.
"Warna apa saja yang dipakai, kalian tetap sama saja bentuknya," sahut Kiano.
"Memangnya kami siluman bisa berubah?" Ayyana menimpali.
Guyonan itu membuat semua tertawa, tetapi tidak bagi Delilah. Ia tidak banyak bicara dan hanya tersenyum. Delilah memikirkan Kyomi yang sebentar lagi akan pulang sekolah dan ia ingin menjemputnya.
"Sayang, coba dulu baju buat acara siraman sama malam hena," kata Anna.
"Iya, Sayang. Aku ingin lihat gaun yang cocok untukmu," sahut Juno.
"Aku akan mencobanya," kata Delilah, lalu menoleh pada Anna. "Kakak temani aku."
Anna lantas meraih tangan adik iparnya, lalu membawanya ke kamar ganti. Delilah mengganti pakaiannya dengan dibantu Anna. Kebaya warna biru tua begitu indah di tubuh ramping sang adik.
"Kak, aku tidak ingin menikah," ucap Delilah.
"Apa? Katakan sekali lagi," pinta Anna.
Delilah membalik dirinya. "Aku tidak ingin menikah."
"Apa ini karena Nayaka? Kau mencintai pria itu."
"Aku tidak tahu, tapi aku ingin menunda pernikahan ini."
"Apa yang kau katakan, Sayang?" Anna membuka pintu kamar ganti, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa pun di ruang tunggu yang artinya, semua berkumpul di depan. Anna lantas menutup pintu kembali. "Kau sudah bertunangan dan kau tahu siapa keluarga Juno. Nama kita akan tercoreng. Kakakmu pasti akan malu."
"Tapi aku tidak ingin menikah," kata Delilah.
"Tahan air matamu dan jelaskan apa yang terjadi," pinta Anna.
"Aku hanya belum siap."
"Datanglah ke rumah nanti malam. Kita bicarakan ini," kata Anna.
Delilah mengangguk. "Iya, aku akan datang."
"Pasang wajah bahagiamu, Sayang. Jangan membuat kacau untuk saat ini. Tunjukan kebaya yang kau pakai ini kepada Juno."
Delilah mengiakannya. Keduanya keluar dari kamar ganti dengan senyum bahagia di bibir masing-masing. Calon mertua Delilah serta Juno begitu takjub melihat penampilan calon anggota keluarga baru mereka.
__ADS_1
Bersambung