Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Ucapan Pisah


__ADS_3

Kiano seakan menantang Nayaka. "Maksudmu pertanyaanku tadi?"


"Kau membuat Kyomi berpikiran yang tidak-tidak."


"Aku hanya ingin memberitahu Kyomi kalau dia bakal punya Papa baru."


"Kyomi enggak mau punya Papa baru!" Kyomi mengatakan itu sembari menyilangkan tangan di perut. Wajahnya ditekuk, bukti Kyomi tidak setuju untuk punya banyak orang tua.


"Loh, bukannya Kyomi punya Mama baru juga?" tanya Kiano.


"Tante Angel bukan Mama Kyomi."


"Tapi Kyomi suka Mama Angel, kan?"


"Kyomi suka semua orang. Tapi Kyomi enggak mau punya dua Mama dan dua Papa."


"Sudahlah, Kiano. Kau ini bicara apa, sih?" Delilah menegur.


Sementara Nayaka dapat bernapas lega atas ucapan Kyomi. Ada untungnya juga putrinya itu berteman dengan Sydney. Pengalaman teman Kyomi yang tinggal di Perancis itu penyebabnya.


"Lebih baik kita foto bersama." Vincent menyahut.


"Vin, kau suka sama Delilah?" Lagi-lagi Kiano memancing pertanyaan yang mengundang emosi bagi Nayaka.


Vincent memandang lekat Delilah. "Ya, aku suka dia." Lalu, pria itu tersenyum.


"Aku setuju kau bersamanya." Kiano terkekeh, lalu keduanya bertos ria.


Delilah tersipu malu. Siapa yang tidak bergetar dibilang seperti itu oleh pria tampan. Delilah juga wanita biasa.


Makin dibiarkan, maka bikin emosi. Jika Nayaka menyanggah, maka Kiano akan semakin menjadi. Abaikan. Nayaka sebisa mungkin menenangkan amarah dalam dirinya.


Semua berfoto bersama termasuk Delilah dan Vincent. Nayaka cuma melihat saja. Apa ia harus mencegah? Maunya seperti itu. Tapi, siapa ia bagi Delilah sekarang? Delilah seorang janda. Mereka telah berpisah secara agama. Nayaka muak dengan keadaan ini. Ia beranjak dari duduknya, lalu keluar dari rumah. Bisa-bisa ia gila berada di dalam.


"Siapkan tiga tiket untukku, Sofwan. Aku ingin pulang sore ini juga. Oh, ya, kau kirimkan orang untuk kemari. Hanya untuk mematai Delilah saja." Nayaka berkata di telepon. Setelah Sofwan mengatakan 'iya' barulah ia menutup panggilan itu.


"Kenapa?"


Nayaka terkesiap. Ia menoleh ke belakang. "Aku akan pulang sore ini."


"Kau marah?"

__ADS_1


"Tidak sama sekali."


"Oh, kau mau pulang karena merindukan istrimu?"


"Cukup, Del!"


"Kau masih tidak percaya padaku? Kau bahkan menyewa orang untuk memata-mataiku."


"Wajar, kan, aku takut kau dalam bahaya. Kau hanya tinggal bersama dua orang asisten rumah tangga. Anak kita juga masih bayi. Aku memikirkan itu."


Asisten wanita yang Nayaka kirim, sudah datang terlebih dulu ke Swiss.


"Kenapa kau mau pulang kalau mengkhawatirkan diriku?"


Nayaka meraih tangan Delilah. "Ikut bersamaku, ya?"


Delilah melepas genggaman tangan sang mantan. "Tidak!"


"Kalau begitu, tunggu aku."


"Sampai kapan?" Delilah mengalihkan pandangannya.


Nayaka meraih dagu itu. Menatap kedua mata Delilah. "Hanya sebentar."


Sorenya, Nayaka benar-benar pulang. Hanya sendiri. Kyomi dan Omar tetap tinggal untuk semalam lagi.


Pukul tiga pagi, baru Nayaka tiba di kediamannya. Ia tidak langsung ke kamar Angel, melainkan menuju kamar utama. Apalagi selain menghindari pertengkaran. Nayaka juga lelah dari perjalanan jauh, meski hanya duduk di dalam pesawat.


Pagi hari ketika hendak sarapan, barulah Angel tahu suaminya pulang. Tapi ia tidak ingin menganggu Nayaka yang tertidur pulas. Angel hanya melihat suaminya yang tidur dengan melepas pakaian atasnya.


Perlahan ia naik ke atas tempat tidur. Merebahkan diri di samping Nayaka, memperhatikan wajah yang tengah lelap. Ia merindukan suaminya. Harusnya ini waktu yang tepat untuk memadu kasih.


Angel memberanikan diri untuk menyentuh tubuh Nayaka. Ia mengusapnya dengan lembut. Lebih mendekatkan diri pada Nayaka agar ia bisa mengecup tubuh berkulit cokelat itu.


"Nay ...." Angel berhasrat. Ia memerlukan suaminya. Bukannya Omar juga ingin ia cepat hamil? Angel ingin hamil kembali agar bisa memberi mertuanya seorang cucu.


Kembali Angel mengecup tubuh depan Nayaka. Leher, tulang selangka, tidak lepas dari jamahannya. Nayaka mengerjap, merasakan sesuatu yang mengusik dirinya.


Matanya membulat. Nayaka mendorong Angel hingga terjungkal ke sisi samping tempat tidur.


"Kau mengganggu tidurku." Nayaka kesal. Bukan karena terbangun, melainkan apa yang Angel lakukan.

__ADS_1


"Maaf, Nay. Aku menginginkan dirimu."


Nayaka menggeleng. "Kau keluarlah dulu. Aku perlu bicara padamu."


"Kau ingin bicara apa?"


"Keluarlah dulu, Angel. Jangan selalu memancing amarahku. Kau ini kenapa, sih? Kau seperti bukan Angel yang kukenal."


"Wanita sepertiku bisa berubah, Nay. Kalau kau ingin bilang untuk menceraikanku, aku tidak akan terima. Kau tidak punya alasan untuk membuangku."


"Aku tidak mencintamu," ucap Nayaka. "Daripada bersama, lebih baik pisah. Kita cari kebahagian kita masing-masing."


"Hidup berumah tangga bukan soal cinta. Aku tidak akan mengharapkan cintamu lagi. Aku hanya ingin kau bertanggung jawab padaku. Aku istrimu, Nay."


"Sekarang tidak lagi. Aku menceraikanmu, Angel! Kau bukan istriku lagi. Mulai detik ini, kau dan aku bukan pasangan suami dan istri."


"Nay!" teriak Angel.


"Maaf juga tidak akan bisa menyembuhkan lukamu, Angel. Aku bersalah, tapi aku lebih salah lagi bila membiarkanmu tetap di sisiku. Aku di sini, tetapi pikiranku pada wanita di sana."


"Aku tidak menerima ini. Kau menceraikanku karena Delilah. Kau pikir Delilah akan menerimamu kembali? Kau salah memahami kekasih kecilmu, Nay. Kau akan menderita olehnya. Kau akan menyesal telah kembali padanya!" Angel terisak. Ia tidak dapat lagi membendung air matanya.


"Jika benar demikian, maka aku rela tersiksa kembali. Aku pernah jatuh berkali-kali karena dirinya. Aku tidak keberatan untuk sekali lagi terjatuh. Aku tidak bisa bersamamu bukan hanya karena Delilah. Tapi hatiku tersiksa, Angel. Aku menyesali pernikahan ini sejak awal."


"Kau tidak akan pernah bahagia, Nay. Kau menyakitiku!"


"Aku tahu. Itu sebabnya aku melepasmu lebih awal agar sakit itu tidak semakin dalam. Kau tersiksa dalam pernikahan ini, aku juga. Berpisah adalah jalan terbaik."


Nayaka beringsut bangun dari tempat tidurnya. Mengambil kemeja di atas sofa, lalu keluar dari kamar.


Begini lebih baik. Ia sendiri, Delilah sendiri, begitu juga Angel. Tinggal takdir saja menentukan ke mana nasib cinta terakhir mereka akan berlabuh. Entah pada pasangan baru atau pasangan lama.


Kekuatan pernikahan ini tidak kuat. Sekali Nayaka berucap talak, maka putuslah ikatan pernikahan itu. Tidak ada kekuatan, juga tuntutan untuk menggagalkannya. Angel hanya bisa pasrah.


Karena Angel belum meninggalkan rumah, Nayaka pulang ke apartemen miliknya. Ia ingin bicara pada mantan istrinya itu mengenai apa saja yang Angel inginkan. Namun, sepertinya ini tidak tepat.


Nayaka belum memberitahu Delilah ketika ia melakukan panggilan video. Biarlah dulu seperti ini. Delilah juga memberitahu kalau Kyomi akan semalam lagi di tempatnya karena Omar memutuskan untuk pulang dengan pesawat pribadi.


"Nyonya, Anda mau ke mana?"


Si pelayan rumah heran melihat Angel yang mengeret koper di tangan.

__ADS_1


"Jika Tuan Nayaka bertanya pada kalian, bilang saja kalau aku liburan ke Eropa. Aku ingin menenangkan diri dulu."


Bersambung


__ADS_2