Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Ajakan Kyomi


__ADS_3

Tidak peduli Delilah menolak, Nayaka tetap memeluk wanita itu. Kerinduannya tidak dapat lagi dibendung. Ini seperti mereka telah berpisah selama bertahun-tahun.


Dalam pelukannya, Nayaka membisikkan kata maaf. Bahkan keduanya menangis. Cinta yang saling menyakiti telah dijalani Nayaka dan Delilah selama bertahun-tahun. Ketidakcocokkan itu dipaksa untuk bersatu.


Delilah mendorong pelan tubuh mantan suaminya itu. Ia mengusap air matanya. "Pelukan ini, aku anggap sebagai adik kakak saja."


"Aku akan mengejarmu kembali."


Ia menatap lekat Nayaka. "Itu pilihanmu. Tapi aku katakan padamu. Aku tidak pernah ingin berbagi pria dengan siapa pun."


Setelah mengucapkan itu, Delilah melangkah pergi. Di sini Nayaka menyadari suatu hal. Ia ingin mengejar Delilah, tetapi statusnya bukan seorang single. Ia punya istri yang menunggu di rumah.


"Apa yang kulakukan sebenarnya?" Nayaka mengutuk dirinya dalam hati. Alat balas dendam kini menjadi boomerang bagi dirinya.


"Papa, kenapa bengong di situ?" Kyomi menegur.


Nayaka tersentak. "Eh, enggak, kok, Sayang."


"Mama panggil buat makan."


Pria itu mengangguk. "Iya, Sayang. Kita ke ruang makan."


Tiba di dapur sederhana, Delilah menghidangkan makanan yang seadanya saja. Lebih banyak makanan yang Kyomi suka dan praktis dibuat.


"Aku belum sempat belanja dan Mbak Santi juga baru datang. Dia belum terbiasa di sini."


"Tidak apa-apa. Biar aku nanti yang belanja," sahut Nayaka. "Aku akan kirim satu pelayan untukmu. Kau juga tidak perlu menjual aksesoris. Aku akan kirim uang bulanan."


Delilah menyunggingkan senyum miring. "Ya, sultan mudah saja memberi uang."


Kyomi memandang ibu dan ayahnya. Lagi-lagi ia mendengar nada suara yang seperti dulu, dan ini pasti akan berujung pada pertengkaran.


"Mama dan Papa enggak pernah akur. Selalu bertengkar. Papa sama Mama Angel juga. Mama Angel malah sering menangis. Papa ini jahat sekali."


"Sayang, kau suka Mama atau si Angel itu?" Delilah memberi pilihan.


"Kyomi sayang Mama, dong. Suka sama Mama Angel juga. Kan, dia baik. Tapi dulu. Sekarang enggak lagi."


"Apa Kyomi dipukul?"


"Enggak dipukul, tapi Mama Angel pernah marah."


"Kapan?" tanya Nayaka sembari mengerutkan kening.


"Waktu itu Kyomi main permata. Terus Mama Angel main ambil toples dari tangan Kyomi. Katanya, Papa bisa marah kalau Kyomi main itu. Permatanya jatuh, terus Mama Angel jadi jatuh."

__ADS_1


"Kyomi bikin Mama Angel jatuh?" Nayaka belum sempat untuk menyelidiki jatuhnya Angel saat itu.


"Kau mau apa?" Delilah terlihat menantang.


"Aku hanya bertanya, Del."


"Kau terlihat ingin menyalahkan putriku."


"Aku hanya bertanya. Angel jatuh dan dia kesakitan."


"Di mana-mana yang namanya jatuh itu, ya, sakit."


"Teruskan, Sayang." Nayaka ingin agar Kyomi meneruskan cerita. Nanti dulu soal Delilah.


"Kan, Mama Angel jatuh sendiri. Bukan salah, Kyomi, dong. Kan, permatanya jatuh karena Mama Angel yang jalan tidak hati-hati."


"Lain kali Kyomi jangan seperti itu lagi. Kan, Papa sudah larang buat mainin batu permata itu."


"Itu karena Kyomi kangen sama Mama. Papa juga kangen Mama Delilah, kan? Makanya enggak boleh ada yang masuk kamar utama."


Delilah terbatuk mendengarnya. Kamar utama? Apa maksudnya? Kyomi juga menyebut batu permata. Sejak kapan Nayaka menghabiskan uang untuk koleksi permata?


"Aku akan kirimkan permata itu padamu." Nayaka sepertinya tahu akan pikiran Delilah.


"Oh, tapi aku tidak punya uang untuk membayarnya."


"Kyomi makan dulu. Setelah itu tidur," kata Nayaka.


"Kyomi mau tidur sama Mama dan Papa. Sama adik bayi juga."


"Iya, tapi makan dulu."


Ketiganya makan bersama dalam hening. Karena hari masih sore, Nayaka memutuskan untuk pergi berbelanja setelah makan. Delilah terima saja. Rezeki kenapa juga harus ia tolak.


Malam tiba, barulah Nayaka pulang dengan tangan yang menenteng banyak barang. Delilah menyambut semua pemberian mantan suaminya itu.


"Kau baik sekali. Kau membeli banyak bahan makanan. Ini cukup untuk sebulan."


Entah kenapa setiap ucapan Delilah merupakan sindiran bagi Nayaka. "Del, aku ini Nayaka, bukan orang asing."


"Iya, aku tahu kau temanku. Kau tidak perlu mengingatkannya. Lebih baik kau makan malam dulu. Makanannya masih sama dengan yang tadi. Tapi ada daging panggang untukmu."


"Terima kasih," ucap Nayaka. "Kau duduk saja. Biar aku yang bereskan belanjaannya."


"Aku tidak mungkin menyuruhmu."

__ADS_1


"Del, berhenti untuk menganggapku orang lain."


"Sudahlah, Nay. Aku tidak ingin membahasnya lagi. Oh, ya, aku tadi bicara pada Miss Eliza. Dia bersedia menyewakan kamar untukmu. Rumahnya ada di seberang rumahku ini. Kau bisa tidur dengan nyaman."


Semakin kesal Nayaka mendengarnya. "Kau ingin aku tidur di tempat lain?"


"Hanya ada tiga kamar di sini. Satu untuk Mbak Santi, aku dan Kanaka. Di kamar Kanaka tidak ada kasur yang muat untuk orang dewasa."


Nayaka tergelak. "Dari kau berumur 10 tahun, kita sudah tidur dan tinggal bersama. Aneh saja sekarang kau menyuruhku untuk tinggal di tempat lain."


Delilah berkacak pinggang. "Dulu dan sekarang berbeda. Dulu, kau hanya milikku. Tapi sekarang kau itu punya istri. Aku tidak mau dianggap sebagai perebut suami orang."


Ponsel Nayaka berdering ketika Delilah bicara. Keduanya terdiam. Nayaka mengeluarkan telepon genggam itu dari saku celananya, dan Delilah berjalan mendekat. Ia melihat nama Angel di sana.


"Aku bilang juga apa. Istri tersayangmu sudah memanggil."


Nayaka tidak jadi mengangkat panggilan itu. Ia langsung mematikan ponsel. "Aku bisa tidur di sofa."


"Tidak bisa. Ruang tamu akan kupakai untuk kerja malam ini. Ada banyak pesanan dan aku belum menyelesaikannya."


"Kau pembuat perhiasan, bukan aksesoris. Kau punya perusahaan di Indonesia. Kenapa kau ini ingin susah?"


"Sama saja perhiasan dan aksesoris. Hanya material saja yang dibedakan. Anggap saja aku tengah merintis bisnis di sini. Jadi, tidak akan ada yang bakal membandingkan diriku dengan wanita lain."


Harus sabar. Nayaka tidak lagi menanggapi omongan Delilah. Lebih baik ia menikmati hidangan di depan mata.


"Papa, Mama, Kyomi mau tidur." Putri kecil muncul dengan membawa boneka di tangan dan sudah mengenakan piama tidurnya.


"Biar Mama temani." Delilah menyahut.


"Papa juga."


"Papamu lagi makan, Sayang."


"Kyomi mau tidur berempat," ucapnya


"Kita tidur bertiga saja." Delilah mencoba ingin menjelaskan kalau ia tidak bisa satu ranjang bersama Nayaka.


"Kenapa tidak berempat. Kyomi enggak mau pisah-pisah tidurnya. Pokoknya Kyomi mau tidur sama Mama dan Papa. Titik!"


"Sebentar." Nayaka mempercepat makannya, lalu membereskan piring.


Delilah menatap tajam mantan suaminya itu dalam arti, Nayaka harus memberi penjelasan pada Kyomi.


"Besok pagi saja cuci piringnya. Ayo, kita pergi tidur," ucap Nayaka tanpa mempedulikan tatapan Delilah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2