
Sayangnya Kyomi tidak bisa jalan-jalan bersama ibu serta adiknya. Kanaka baru lahir, dan Delilah belum lepas dari masa nifas.
Memang tidak masalah jika berkunjung ke beberapa tempat wisata. Delilah juga bisa berjalan, dan ia tidak lagi memikirkan tradisi yang mengatakan jika wanita hamil baru boleh keluar setelah 40 hari.
Masalahnya Nayaka juga Anna yang mewanti-wanti agar ia tidak keluar. Delilah juga diharuskan minum jamu, memakai bedak khusus ibu hamil di kening, dan segala macam hal yang berhubungan perawatan nifas.
"Waktu melahirkan Kyomi, aku tidak begini. Tapi bentuk tubuhku bisa kembali normal."
Delilah menatap jamu yang enggan untuk ia minum. Masih perlu waktu lama untuk siksaan dari rasa pahit ini.
"Itu karena kita tidak mau sampai Kyomi diketahui orang lain." Nayaka menyahut sembari menyodorkan permen. "Makanmu juga harus dijaga. Kau menyusui Kanaka."
"Ya, aku tahu. Tapi, kita ini tinggal di luar negeri, Kak."
"Apa pun itu, Del. Turuti saja apa yang Kak Anna katakan. Oh, ya, besok lusa aku harus pulang. Kyomi juga harus sekolah. Kapan kau akan pindah ke Inggris? Aku akan siapkan rumah."
"Tidak perlu. Aku tidak mau sampai istrimu marah. Apa dia rela membiarkan suaminya menafkahi perempuan lain?"
"Bisa tidak, kita tidak membahas Angel?"
"Loh, mau enggak mau, Angel tetap masuk dalam pembicaraan kita." Delilah mencengkeram gelas kecil, lalu meneguk airnya. Ia terbatuk, Nayaka lekas memberinya air putih, kemudian memasukkan permen ke dalam mulut Delilah. "Ish, aku bukan anak kecil."
"Nanti kau muntah minum jamunya."
"Tunggu Kanaka usia 3 bulan dulu, baru aku pindah ke Inggris. Mencari suasana dan suami baru tentunya. Aku ingin pacar yang punya bola mata biru. Aku akan hamil kembali. Pasti anakku tampan bisa bersama pria seperti itu." Delilah mengucapkannya sembari tersenyum.
"Jangan memancingku, Del. Bicara apa, sih? Kita sudah punya anak dan belum resmi berpisah," protes Nayaka.
"Aku tidak terikat hubungan bersama siapa pun. Wajar, dong, kalau aku ingin menentukan siapa pendampingku nanti. Untuk masalah cerai, aku akan mengurusnya. Kau tinggal duduk manis dan manjakan saja istrimu itu."
Nayaka meraih tangan Delilah, ia bahkan beranjak dari kursi, lalu duduk berlutut di hadapan kekasih kecilnya. Nayaka merebahkan kepalanya di atas pangkuan Delilah.
"Maafkan aku, Del. Kita bisa bersama. Ini demi anak-anak."
"Ingin bersama, tapi kau masih berstatus suami orang. Aku sudah bilang untuk tidak menyakiti hati wanita lagi. Kau jalani hidupmu."
Nayaka mendonggak, menatap Delilah dengan rasa sesal teramat dalam darinya. "Jangan mencari pria lain."
"Kau egois."
"Ya, aku memang egois. Aku akui itu. Tapi ini demi anak kita, Del. Kembali padaku."
__ADS_1
Delilah mendorong pelan Nayaka. "Kau tidak perlu seperti ini. Jalani saja, Kak."
"Delilah ...."
"Berhenti mendesakku."
Ini masih belum seberapa. Nayaka harus berjuang demi mendapatkan hati Delilah kembali. Ia tahu ini tidak mudah, tetapi ia tidak akan menyerah.
Tanpa terasa waktu kepulangan Kyomi tiba. Delilah harus merelakan sebab putrinya harus sekolah, dan Nayaka juga bekerja. Jika tidak demikian, bagaimana pria itu menghidupi anak dan istrinya?
Dua kartu hitam ditinggalkan. Delilah tidak menolaknya. Anggap ini sebagai uang nafkah dari Nayaka untuk putranya, dan pria itu berjanji akan datang kembali bulan depan. Lagi pula bulan selanjutnya, Reyhan juga akan datang dan membuat acara untuk si kecil Kanaka.
"Aku pulang dulu. Kau baik-baik di sini. Aku kirim pelayan untuk membantumu." Nayaka mengusap rambut Delilah.
"Kirim fotonya jika kau mengirim orang kemari. Takutnya ada yang iri terus mencelakaiku."
Nayaka menggeleng. "Cobalah berpikir positif."
"Kau sudah lama hidup bersama seorang wanita. Tapi, kau tidak tahu cara memahaminya. Kau rasakan sendiri nanti. Istrimu itu akan mengomel setelah kau tiba di rumah."
"Anggap aku tidak punya istri."
"Papa dan Mama kembali bertengkar." Kyomi berkacak pinggang.
Kyomi mengangguk. Mengecup pipi sang ibu, dan Kanaka. Nayaka juga mendaratkan bibir di pipi sang putra.
"Delilah!"
"Apa?"
Delilah mematung. Nayaka mencuri kecupan di pipinya. "Kita, kan, sudah lama bersama. Anggap saja kita berdua masih remaja. Kau adik kecilku."
Delilah menarik sebelah sudut bibirnya. Ia tidak marah, terlebih depan Kyomi. Kecupan pipi bukan masalah baginya.
Mobil jemputan tiba. Nayaka dan Kyomi melambaikan tangan pada Delilah yang menggendong Kanaka. Berharap bulan selanjutnya, mereka akan berkumpul kembali.
Tiba di rumah, keduanya disambut Angel. Nayaka memperhatikan mata istrinya yang bengkak. Ya, apalagi kalau bukan karena menangis.
"Mama Angel lihat adik Kyomi?"
Angel mengangguk, lalu tersenyum. "Ya, Mama lihat adik Kyomi."
__ADS_1
"Tampan, kan?"
Angel mengangguk dengan pandangan menatap Nayaka. "Ya, sangat tampan."
"Besok Kyomi mau ke tempat Kakek Omar," ucapnya.
Gadis kecil itu berlari menuju kamarnya. Sementara Nayaka dan Angel berjalan menuju bilik mereka.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri, Angel." Sebenarnya Nayaka malas untuk bertengkar, tapi apa boleh buat jika Angel sendiri yang mengundang.
"Kau ingin kembali bersamanya?"
"Ya, aku ingin bersama istri pertamaku. Ingat lagi dengan apa yang kukatakan waktu itu. Kau menawarkan, dan aku menerima. Aku memberi syarat, kau pun menerimanya. Salahku menyakitimu. Haruskah aku mengatakan hal ini, Angel? Kau tahu diriku, kan?"
Angel mengangguk. "Ya, aku tahu. Tapi aku mencintaimu, Nay. Kau masih ingin bersama wanita yang telah menyakitimu?"
"Aku juga menyakiti Delilah. Aku juga salah, Angel. Coba kau lihat dari sisi Delilah. Aku salah padamu dan padanya."
"Sedikit saja, Nay. Beri aku cintamu."
"Aku pernah bilang. Jangan mengharapkan cinta. Kau tahu kenapa kita menikah, kan?"
Jelas Angel tahu kenapa mereka bisa menikah. Waktu itu Nayaka kembali ke Indonesia. Awalnya hanya untuk mengenang masa-masa kecil dirinya bersama Delilah. Sakit hati yang dirasakan Nayaka seakan tidak ada obatnya. Sebagai teman, Angel tentulah menghibur.
"Aku juga pernah berada di sisimu, Nay. Pria yang kucinta telah menjadi milik orang lain. Aku mengobatinya dengan menjalin kasih dengan lelaki lainnya, dan dia pun mengkhianatiku. Impian untuk menikah telah pupus."
"Aku hanya tidak menyangka saja. Delilah mampu melakukan ini padaku."
"Kenapa kita tidak menikah saja, Nay? Kita sama-sama terluka oleh pasangan yang kita cintai."
"Menikah?" Nayaka menggeleng. "Aku tidak berniat untuk menambah istri. Mungkin ini sudah nasibku."
"Kalau kau begini terus, maka Delilah akan semena-mena padamu. Jangan mudah untuk memaafkan. Bukan maksud untuk aku mencampuri urusanmu. Tapi, kau tahu seperti apa Delilah. Jika tidak diberi pelajaran, maka dia akan berbuat hal seperti itu." Angel memandang Nayaka. "Sejujurnya, Nay. Aku suka padamu. Dari dulu, sejak kita masih sekolah."
"Tapi aku tidak bisa memberi cinta. Mungkin aku bisa menceraikanmu ketika hubungan kami membaik. Apa kau bersedia?"
Dendam dalam hati Nayaka tidak membuat sadar atas apa yang ia ucapkan. Nayaka berpikir, kenapa ia tidak menikah untuk yang kedua kalinya? Delilah juga harus merasakan apa yang ia rasakan.
Angel mengangguk. "Aku bersedia."
Dalam hati Angel berkata, "Semoga kau juga mencintaiku."
__ADS_1
Bersambung