Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Bujuk


__ADS_3

Meski Kyomi tetap tidak ingin pergi bersama ibunya, Delilah masih bisa mengantar anak itu ke sekolah dengan mengikuti dari belakang. Kyomi juga dapat bersalaman dengannya meski masih dibujuk oleh Nayaka.


"Kak, aku ingin kalian bermalam di tempatku," kata Delilah.


"Kau yakin ingin kami menginap di rumahmu?" tanya Nayaka.


"Kita bisa tinggal di apartemen atau rumah permainanku."


"Kami bisa menginap di hari Jumat. Hanya satu kali dalam seminggu. Aku juga akan membujuk Kyomi agar dia mau ditinggal sendiri bersamamu."


Delilah tersenyum. "Iya, terima kasih. Aku akan siapkan segalanya untuk kita tinggal bersama."


Kehidupan normal yang Delilah maksudkan di sini adalah hidup bersama layaknya keluarga pada umumnya. Ada ibu, ayah dan anak. Delilah akan menciptakan dunianya sendiri yang akan diisi oleh mereka bertiga.


Keduanya kembali mengendarai kendaraan masing-masing menuju tujuannya. Nayaka lekas ke kantor, sedangkan Delilah segera mempersiapkan tempat tinggal mereka.


Mobil tiba-tiba dihentikan di tepi jalan. Delilah menggelengkan kepala karena merasa itu ide yang buruk untuk bersama Kyomi dan Nayaka di rumah yang sudah diketahui oleh Juno maupun keluarga.


"Sepertinya aku harus membeli tempat baru," gumam Delilah.


Mengecek beberapa iklan di media sosial, lalu langsung menuju lokasi untuk mengecek hunian baru. Sampai di Sanayan Residence, Delilah langsung bertemu bersama agen yang menawarkan unit apartemen yang dijual.


"Kau bisa memastikan jika bangunannya kokoh? Aku akan tinggal bersama anakku di sini," kata Delilah.


"Tentu saja, Nona. Kami sudah menjual beberapa unit apartemen di sini dan kami selalu mendapat komentar positif dengan kualitas gedung yang kami bangun," ucap agen itu. "Jika Nona punya bujet yang lebih, kami bisa tawarkan gedung yang lebih mewah."


Delilah menatap tajam pria bertubuh kurus dan berkacamata itu. "Kau pikir aku tidak mampu untuk membeli unit apartemen paling mewah di Jakarta ini?"


"Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud begitu."


"Aku perlu tempat khusus. Jangan tanya alasannya. Beritahu saja fasilitas di sini. Aku bisa membeli atau menyewanya," kata Delilah.


Setelah berdiskusi tentang harga, fasilitas serta melihat beberapa unit kamar yang dijual, Delilah memutuskan untuk membeli di Tower 2 lantai 15 nomer 22 D.

__ADS_1


"Apartemen ini untuk Kyomi nantinya," gumam Delilah ketika menyelesaikan pembayarannya. "Untuk dokumennya, segera selesaikan. Aku ingin pindah jumat ini."


"Siap, Nona," ucap agen itu.


Di lain sisi, Nayaka tidak memusingkan Delilah yang belum datang ke kantor. Para karyawan wanita mulai bergosip tentang atasan mereka itu. Tanpa tahu jika Nayaka bisa saja memberitahu segalanya pada Delilah.


"Kalian sudah menyelesaikan semua pekerjaan?" tanya Nayaka.


"Tidak ada lagi yang perlu dikerjakan. Mery sudah pergi bertemu model Rachel," jawab Sofi.


"Lebih baik aku yang pergi tadi," kata Nayaka.


"Mery tidak akan membiarkanmu," kata Sofi terkikik. "Dia itu penggemar dari Rachel."


"Itu sebabnya dia bersemangat. Baiknya kita pergi makan. Istirahat sudah tiba," kata Nayaka.


Waktu istirahat tiba, semua bubar dengan masing-masing tujuan. Namun, ketika Nayaka ingin beranjak dari duduknya, Delilah menelepon.


"Aku sudah siapkan tempat tinggal. Kita bisa pindah hari jumat nanti," kata Delilah di ujung telepon sana.


"Hanya menginap, bukan pindah," ralat Nayaka.


"Aku paham. Kau sudah berjanji padaku, Kak. Aku minta kau membujuk Kyomi nanti."


"Kau tidak datang ke kantor?"


"Aku akan bekerja dari rumah," sahut Delilah, lalu memutus sambungan teleponnya.


Nayaka menghela, pulang kantor nanti, ia akan mencoba untuk bicara pada Kyomi. Sang ibu yang telah menyesal ingin bersama putrinya. Mencoba mengganti waktu saat tidak bersama sang anak.


Hari pertama tanpa Angel di rumah. Nayaka menjemput Kyomi di rumah penjaganya yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka sendiri. Untungnya Nayaka membekalkan anaknya baju ganti serta makan siang.


"Apa Kyomi merasa senang hari ini?" tanya Nayaka.

__ADS_1


"Kyomi senang karena cokelatnya terjual semua. Tapi Kyomi kesepian tidak ada tante Angel."


"Kita akan mengundangnya ke rumah nanti."


"Apa wanita itu akan datang malam ini?" tanya Kyomi.


"Dia Mama, Kyomi. Jangan bicara tidak sopan padanya."


"Baiklah," kata Kyomi.


"Ada yang ingin Papa bicarakan," ucap Nayaka seraya membuka pintu rumah.


Kyomi masuk dengan meletakkan tas ransel di meja, lalu duduk di sofa. Ia mendengarkan sang ayah yang ingin bicara, tetapi pria itu masih belum mengutarakan satu patah kata pun.


"Kyomi, Papa adalah ayahmu dan Delilah adalah mamamu," ucap Nayaka. "Papa tahu dia meninggalkan kita. Tapi itu masa lalu dan sekarang dia bersama kita."


"Papa bicara apa?" Kyomi tidak mengerti.


Nayaka mengembuskan napas. Kyomi masih kecil untuk tahu segalanya. "Setiap hari Jumat, kau akan tinggal bersama mama."


"Tidak mau!" tolak Kyomi.


"Papa akan di sana juga. Kita menginap satu malam di sana."


Kyomi bangkit dari duduknya. "Kyomi tidak ingin tinggal bersamanya."


"Kyomi," panggil Nayaka.


Anak itu tidak peduli atas seruan Nayaka. Kyomi lantas masuk ke kamar dan mengunci pintu. Nayaka bersandar di badan sofa sembari menengadahkan kepala ke atas menatap langit rumah.


"Dia memang anak ibunya," gumam Nayaka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2