Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Diamnya Nayaka


__ADS_3

Hening melanda keluarga Nayaka sejak peristiwa semalam. Pagi ini, Delilah mencoba untuk membalik keadaan seperti sebelumnya. Ia bangun pagi-pagi membuat sarapan.


Sayangnya, Kyomi masih berada di rumah sang kakek. Delilah pun enggan untuk menjemput lantaran hubungannya kini masih memanas bersama Nayaka.


Saat suaminya itu muncul di ruang makan, Delilah sigap melayani, menuangkan makanan yang ia buat ke dalam piring, lalu mempersilakan Nayaka untuk mencicipinya.


Nayaka tetap makan apa yang dihidangkan istrinya itu. Entah itu racun atau madu yang masuk ke mulutnya, ia tidak peduli. Makan, ya, makan saja.


"Makanannya enak, Sayang?" Delilah mencoba berbasa-basi.


Namun, Nayaka cuma diam saja, dan terus melanjutkan makannya. Selesai mengisi perut, pria itu beranjak dari duduknya, lalu melangkah pergi tanpa pamit pada sang istri.


"Kakak!" seru Delilah, lalu sedikit berjalan cepat menyusul suaminya. "Maaf, Kak." Delilah meraih tangan Nayaka, tetapi ditepis. "Kak, aku minta maaf."


Tidak peduli atas ucapan Delilah, Nayaka masuk mobil, lalu lekas menyuruh sopir untuk mengemudikannya.


"Kakak!" teriak Delilah.


Percuma, mobil yang Nayaka tumpangi sudah berlalu pergi. Delilah mengerti jika suaminya masih marah, dan ia akan meminta maaf kembali setelah pria itu pulang dari kantor.


Ingin berubah, dalam arti, Delilah ingin kehidupan pernikahannya seperti sebelum mengenal Ashraf atau teman sosialitanya. Ia hendak menjemput Kyomi pulang sekolah, tetapi pesan dari Ashraf membuat Delilah harus mengurungkan niatnya itu.


Delilah memilih pergi menuju restoran di sebuah hotel ternama yang biasa mereka berdua kunjungi.


"Kau datang juga." Ashaf hendak memeluk wanitanya, tetapi Delilah menolak. "Kenapa, Sayang?"


"Ashraf, aku ingin kita berhenti berhubungan. Nayaka marah padaku, dan aku tidak ingin pernikahan kami hancur."


"Ini malah bagus, kan? Kita bisa menikah tentunya."


"Menikah denganmu, tetapi kau sudah punya istri. Aku tidak mau dipoligami."


"Ayolah, Delilah. Kau tahu kalau pria bisa menikahi 4 orang wanita."


"Aku tahu dan aku tidak ingin membahasnya. Menikah denganmu bukan keinginanku. Cukup sampai di sini saja hubungan pertemanan kita. Aku ingin bersama keluargaku!" Delilah mengatakannya dengan kesungguhan hati.

__ADS_1


Ashraf meraih tangan wanitanya. "Jangan putuskan hubungan ini, Del. Lagi pula, seperti katamu, kita ini teman. Dari itu, ayo, kita berteman saja."


"Kau tahu maksudku, Ashraf. Hubungan kita jauh dari kata teman. Kita telah berbuat lebih, meski kita belum tidur bersama." Delilah menggeleng. "Aku tidak mau lagi. Cukup di sini aku mengenalmu. Aku ingin keluargaku. Aku ingin suami serta anakku."


"Del ...." Ashraf berucap lirih.


"Maaf, Ashraf. Kita akhiri hubungan ini."


Selepas mengatakan itu, Delilah melangkah pergi tanpa makan siang bersama pria itu. Ia kembali ke rumah mertuanya, menjemput Kyomi dari sana.


"Tumben Mama ada di rumah," ucap Kyomi.


"Kenapa? Kyomi tidak senang Mama di rumah?"


Kyomi menggeleng. "Kyomi senang Mama di rumah. Tapi tumben Mama enggak pergi arisan."


Delilah mengusap puncak kepala putrinya. "Minggu depan arisannya. Hari ini kita di rumah saja."


"Kita nonton saja, Ma."


Delilah mengangguk. "Iya, kita nonton film sama-sama."


Namun, ia masih enggan untuk bicara. Sakit hati ini tidak bisa hilang begitu saja. Kesalahan Delilah sudah fatal, dan menatap wajah istrinya itu, sungguh membuat amarahnya muncul.


"Papa!" Kyomi berlari memeluk sang ayah.


"Kok, Kyomi ada di sini?"


"Di jemput Mama tadi."


Nayaka cuma bergumam menanggapinya. "Papa mandi dulu, ya."


"Iya ...."


Bagaikan patung, Delilah yang berdiri di samping suaminya sama sekali tidak dipedulikan. Tapi ia tidak menyerah begitu saja. Delilah ikut menyusul suaminya ke kamar. Menyiapkan pakaian ganti untuk pria itu.

__ADS_1


"Kak, aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


Nayaka menatapnya sebentar, setelah itu, ia berjalan masuk ke bilik mandi. Entahlah, rasanya permintaan maaf itu terasa sia-sia. Dulu Nayaka tidak masalah saat Delilah bersama Juno. Ya, karena memang hubungan mereka dalam keadaan berpisah. Tapi ini, mereka telah menjadi pasangan suami istri, dan Delilah telah berselingkuh. Membiarkan pria lain menyentuh dirinya, dan dilakukan setiap malam karena istrinya itu selalu pulang di atas jam 12 malam.


Dapat dibayangkan apa yang terjadi pada mereka berdua. Rasanya begitu sesak, Nayaka sungguh tidak dapat menerimanya.


Diamnya sikap Nayaka ini terus berlanjut. Sudah seminggu keduanya berpuasa bicara, dan selama tujuh hari ini, Delilah terus berada di rumah.


Ia pun tidak menyerah untuk minta maaf, tetapi Nayaka mengabaikannya. Tentu saja hal ini menjadi bahan pertanyaan Kyomi akan sikap ayah dan ibunya. Karena itu juga, Nayaka kembali menitipkan Kyomi ke rumah sang ayah.


Omar sudah tahu apa yang menjadi permasalahan antara anak dan menantunya. Ia tidak ingin ikut campur, meski kecewa atas apa yang Delilah perbuat. Untung saja kabar ini tidak tersebar di depan publik.


Malam ini, Delilah menginginkan suaminya. Mungkin saja dengan tidur bersama, amarah Nayaka bisa membaik, dan bila diingat, sudah lama juga mereka tidak berhubuangan di atas ranjang.


"Sayang ...." Delilah memegang bahu suaminya yang berbaring membelakangi dirinya. "Aku ingin dirimu."


Nayaka menepis tangan istrinya. Mereka tetap tidur di ranjang yang sama. Nayaka memakan masakan istrinya, dan apa pun Delilah lakukan padanya, ia terima. Hanya saja, Nayaka puasa bicara.


"Kakak ...." Delilah berkata lirih.


Merasa tidak nyaman akan permintaan Delilah, Nayaka beringsut bangun. Ia turun dari tempat tidur kemudian keluar kamar. Di tunggu sampai satu jam, Nayaka tidak kunjung kembali. Delilah pun menyusul keluar dan mencari keberadaan suaminya.


Satu per satu kamar di lantai atas, Delilah periksa. Ya, suaminya tidur di salah satu kamar itu, dan menolak berhubungan suami istri.


"Jika ini keinginanmu, teruskan saja," ucap Delilah dengan membanting pintu karena kesal atas ulah Nayaka.


Sebenarnya Nayaka tidak tidur. Ia tahu ketika Delilah membuka pintu kamar, dan ia hanya berpura-pura saja terlelap.


"Aku tidak ingin seperti ini, tapi kau yang membuat ini terjadi, Delilah."


Jika ia bicara, Nayaka yakin, ia akan kembali memukuli istrinya. Diam adalah caranya meredam emosi, tetapi semakin dipendam, begitu terasa menyakitkan.


Karena sikap suaminya ini, Delilah pun menjadi masa bodoh. Ia tidak mau lagi membujuk Nayaka untuk memaafkan dirinya. Sudah lelah baginya, dan ia tidak lagi menghubungi Ashraf, meski sesekali pria itu masih menelepon.


Delilah tetap berkumpul bersama teman sosialitanya. Namun, ia tetap ingat waktu pada suami serta anak. Meski Kyomi berada di rumah kakeknya, setiap hari Delilah mengunjunginya. Lagi pula, jarak rumah mereka berdekatan.

__ADS_1


Kini giliran Nayaka yang selalu pulang di waktu pukul 10 malam. Untuk membuang pikirannya dari mengingat perselingkuhan sang istri, Nayaka terus menyibukkan diri dengan bekerja. Kerja sama antara Ashraf juga batal lantaran kejadian ini.


Bersambung


__ADS_2