Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Hah?


__ADS_3

Bangun tidur, Delilah sudah dibuat kesal oleh telepon yang masuk. Jatuh tempo kartu kreditnya hari ini karena bulan lalu ia belum membayar. Termasuk tagihan pengelolaan apartemen. Air, listrik, parkir, laundry, dan segalanya masih belum Delilah bayar. Sementara uang yang ada pada dirinya, telah ludes tanpa tersisa sedikit pun.


"Uangku habis semua. Gimana mau bayar?" Delilah membongkar habis isi tas, dompet, tetapi uang yang ia perlukan telah habis.


Tanpa sadar, ia menghabiskan uang simpanannya. Harusnya Delilah berhemat karena telah meninggalkan keluarganya. Hidup tanpa uang itu begitu sulit, terlebih hidup di kota yang memang semuanya memerlukan kertas bernilai itu.


Delilah terkekeh. "Perhiasanku masih banyak. Mobil juga ada. Mending aku jual saja. Lunasi semua tagihan kartu kredit, lalu kembali berhutang. Semuanya beres.


Tidak semudah itu untuk menyingkirkannya. Reyhan mungkin menganggap adiknya tidak akan sanggup bertahan di luar. Tapi buktinya apa? Delilah masih sanggup untuk menghidupi dirinya sendiri.


Bergegas Delilah mengumpulkan semua perhiasan yang ia punya. Barang mewah itu senilai 150 juta. Ya ampun! Ia bisa membeli sebuah kendaraan roda dua atau mobil seken dengan uang itu. Hidup melarat rupanya enggan untuk menghampirinya.


Selesai membersihkan diri, Delilah lekas pergi ke toko, tempat ia membeli perhiasan. Semua dijual dan perhitungannya meleset. Hasil yang ia dapat senilai 110 juta karena Delilah tidak membawa surat pembelian. Namun, itu tak menjadi soal. Delilah butuh uang secepatnya.


Mendapat uang, Delilah langsung membelanjakannya. Ia membeli beberapa pakaian untuk Kyomi, juga mainan untuk buah hatinya. Delilah juga beli sepasang syal bermerek yang sama untuk ia dan putrinya. Lagi-lagi tanpa sadar Delilah menghabiskan separuh uangnya.


Ini harus dihentikan! Sebenarnya ia bukan seseorang yang suka belanja. Entah kenapa, saat sudah tidak punya uang, keinginan belanja itu malah semakin besar.


Segera saja, Delilah mengendarai mobilnya menuju alamat yang Nayaka berikan. Tujuannya adalah Kyomi, dan Delilah juga penasaran akan perkataan Nayaka semalam.


"Rumah yang bagus," gumam Delilah ketika sampai di kediaman mewah itu.


"Nona, Anda mencari siapa?" tanya penjaga.


Delilah mengibaskan rambut indahnya. "Katakan pada Nayaka. Ibu dari putrinya ingin bertemu."


Penjaga itu terkesiap, memperhatikan penampilan Delilah dari atas sampai bawah, dan itu membuat sang empunya tubuh merasa tidak enak.


"Jangan memandangiku seperti itu. Kau ingin kehilangan matamu?"


"Maaf, Nona." Penjaga itu lekas menelepon rumah, dan memberitahu atasannya.


"Cepat buka gerbangnya!" Delilah seperti seorang pengemis saja yang menunggu sumbangan.


"Baik, Nona. Silakan masuk." Penjaga itu lekas membuka gerbang rumah.


Delilah menghentikan langkahnya. "Oh, ya, Apa wanita yang bernama Angel ada di sini?"


"Nona Angel setiap hari ada di sini."


Delilah melotot. "Bawa semua belanjaanku ini. Barang ini untuk Kyomi."


"Baik, Nona." Tergopoh-gopoh penjaga berseragam jas hitam itu menyambut tas belanjaan yang dilemparkan Delilah padanya.

__ADS_1


Pelayan datang menyambut. Sekarang tidak tahu status Delilah ini apa. Mereka putus, tetapi terikat oleh anak. Tapi, bukan hanya itu saja. Nayaka dan Delilah ini adalah satu. Meski terpisah, tetapi tetap bersama. Dominasi Delilah pada Nayaka tetap terasa.


"Kau punya waktu untuk datang rupanya." Nayaka menegur.


"Sebenarnya apa maumu? Aku datang salah, aku tidak datang juga salah."


"Kyomi!" panggil Nayaka. "Kemarilah, Sayang."


Terdengar suara tawa dari Kyomi. Delilah tersenyum melihat putrinya, lalu raut wajahnya berubah ketika ada Angel di belakang sang anak.


"Sayang!"


Kyomi berhenti berlari. "Mama!" Seakan lupa pada kelakuan ibunya, Kyomi datang memeluk Delilah.


"Sayang, Mama bawakan hadiah untukmu."


"Mana?"


"Ayo, kita lihat hadiahnya."


Delilah bersyukur dalam hati. Kyomi tidak lagi marah padanya. Lagi pula Kyomi hanya anak kecil. Ya, Delilah bisa berpikir begitu. Tapi, ada bekas di dalam benak Kyomi. Ia tidak lupa bahwa orang tuanya memang suka bertengkar.


"Bajunya cantik. Kyomi suka."


"Mama juga punya syal untuk Kyomi. Lihat ini, warna dan modelnya sama. Kita kembaran."


Delilah tersenyum. "Kakakku sayang. Jangan lagi mengajakku untuk berdebat. Jangan lagi membuat suasana hati putriku sedih."


Nayaka terdiam. Delilah benar, mereka tidak boleh lagi bertengkar. Suasana hati Kyomi tengah membaik saat ini, dan yang harus dilakukan adalah bercengkerama bersama keluarga.


"Di mana Papamu?" tanya Delilah.


"Di ruang kerja."


Delilah memandang Angel. Ingin sekali ia melabrak wanita itu. Emosi dirinya meletup-letup saat ini. Tapi, ini di depan Kyomi. Meski bibirnya gatal untuk mencaci maki, Delilah tetap harus menahannya.


Kyomi mengambil syal yang ibunya berikan, lalu beranjak menghampiri Angel. "Tante, ini bagus, tidak?"


Angel tersenyum, terlihat dari wajahnya, wanita itu begitu penuh kasih sayang. "Kyomi sangat cantik dengan syal ini."


"Papa?" Kyomi mengajukan pertanyaan yang sama.


"Kyomi cantik pakai syal ini."

__ADS_1


Ini sudah cukup bagi Delilah. Ia membelikan syal itu untuk Kyomi, tetapi anaknya malah bertanya pada wanita lain.


"Sayang, cobalah syal itu dengan baju putih ini." Delilah mengulurkan baju baru pada putrinya.


"Biar Kyomi coba." Anak itu merebut baju yang disodorkan Delilah, kemudian berlari menuju kamar.


Nayaka tahu kalau Delilah sudah menyuruh Kyomi untuk pergi. Sudah pasti akan ada pertengkaran lagi di antara mereka.


Delilah bangun dari duduknya. Menatap tajam Angel yang menurutnya adalah wanita tidak tahu diri.


"Pergi dari sini." Delilah masih mengatakannya dengan nada lembut.


"Delilah!" Nayaka menegur.


"Kau tidak ingin kita bertengkar, kan? Tapi kau malah membawa pemicu pertengkaran itu."


"Angel temanku. Kyomi juga suka padanya," ucap Nayaka.


Delilah bertepuk tangan. "Jadi, kau ingin menikahi wanita ini?" lalu Delilah beralih pandang pada Angel. "Seharusnya kau sadar diri. Kau ingin menjadi istri Nayaka, itu tidaklah mungkin. Kau harusnya menyadari jika Nayaka hanya akan menjadi milikku."


"Delilah!"


"Diam kau!" bentak Delilah pada Nayaka. "Aku sedang memberi penjelasan pada gadis ini."


"Jaga kata-katamu." Nayaka memberi pesan.


"Sekarang Nayaka sudah kaya, dan kau semakin ingin mendekatinya. Kau pikir aku akan membiarkan kau mengambil semuanya dariku!" Delilah benar-benar marah. Ia meraih tangan Angel, lalu menyeretnya menuju pintu luar.


"Lepaskan aku!" Angel meraih tangannya.


Delilah menarik Angel, lalu mendorong wanita itu keluar rumah. "Ini peringatan terakhir dariku. Jangan lagi kau mencoba mengambil Kyomi dan Nayaka."


"Kau keterlaluan, Del!" Nayaka ingin menghampiri Angel, tetapi Delilah menahannya.


"Kau ingin membela pelakor itu!"


"Kita tidak punya hubungan apa-apa. Kau tidak berhak melarangku bersama wanita lain!"


"Kau bilang tidak punya hubungan apa-apa. Kau merusakku. Kau membuat diriku hamil. Setiap malam kau meniduriku. Kau harus bertanggung jawab atas diriku!"


"Kau sendiri tidak menginginkanku. Kau egois. Kau selalu merendahkanku."


"Diam!" teriak Delilah. "Apa pun yang terjadi, kau harus menikahiku. Karena aku tengah mengandung anakmu!"

__ADS_1


"Apa?!"


Bersambung


__ADS_2