
Tangisan Kyomi menyadarkan Nayaka. Seakan setan yang tadi merasukinya lenyap begitu saja. Ia sadar atas apa yang baru saja dilakukan, yaitu melukai kedua wanita yang ia cintai.
"Papa jahat!" teriak Kyomi dengan melempar boneka beruangnya.
Pintu kamar tidak ditutup. Semua apa yang dilakukan Nayaka pada Delilah telah disaksikan oleh putrinya. Nayaka membenamkan wajahnya ke tangan. Tidak! Ia menggeleng kalau ini bukan dirinya. Ia tidak mungkin lepas kendali.
Bagaimana mungkin ia tega melukai Delilah yang bahkan untuk mencubitnya saja ia tidak tega. Tidak mungkin ia membuat wanita yang begitu ia cintai terluka seperti sekarang ini.
"Kyomi!"
Nayaka bergegas menghampiri putrinya, tetapi Kyomi berlari menjauh. Anak itu masuk kamar, lalu menutup dan mengunci pintunya.
"Buka pintunya, Kyomi." Nayaka mengedor pintu.
"Enggak mau!" teriaknya. "Kyomi takut."
Dua kali Kyomi telah menyaksikan dirinya memukuli orang. Pertama Juno, lalu kedua Delilah. Rasanya ini seperti mimpi. Ia dapat menahan segala amarahnya saat ini. Mau dihina, dipukuli atau apa pun itu, Nayaka tetap bisa mengontrol keinginan untuk membalas. Ia bukan pria seperti ayah kandungnya. Namun, sekarang memang benar. Ia anak kandung Omar. Pria yang sedari dulu menyakitinya.
Nayaka lantas masuk kamar sebelahnya. Delilah menangis sembari memeluk tubuhnya sendiri. Nayaka mendekat, tetapi kekasihnya beringsut menjauh.
"Sayang." Panggilan yang begitu lirih dari bibir Nayaka.
"Menjauh dariku."
Sungguh Nayaka menyesal. Ia naik ke atas tempat tidur, lalu memeluk Delilah. "Jangan, Del." Nayaka mendekapnya erat ketika kekasihnya itu meronta ingin dilepaskan. "Maaf. Aku minta maaf. Aku ...."
"Pergi!" Delilah mendorong tubuh kekasihnya. "Jangan menyentuhku."
Nayaka menggeleng. "Aku kehilangan kendali. Itu bukan aku, Sayang. Aku tidak mungkin menyakitimu."
Delilah menangis tersedu-sedu. Rasa sakit di hati melebihi perihnya luka di tubuh. Untuk satu tamparan, Delilah memakluminya, tetapi ini di luar batas. Nayaka secara brutal telah menghajarnya.
"Del ...." Nayaka bersuara lirih.
"Pergi!"
"Aku minta maaf."
"Aku bilang pergi!" Delilah mengencangkan suaranya.
Nayaka beringsut dari tempat tidur. Ia menatap sekali lagi kekasihnya, berharap Delilah mau memaafkan sekali saja atas kesalahannya ini. Namun, saat ini bukanlah hal tepat. Wanita itu marah dan Nayaka sebaiknya menghindar.
Ia berhenti di depan kamar Kyomi. "Sayang." Nayaka masih mencoba mengetuk pintu. Tapi Kyomi tidak mau membukanya. "Papa mau pergi."
Tidak ada tanggapan, Nayaka pun mengambil kunci motor di atas nakas, lalu melangkah keluar apartemen. Sembari berjalan ia masih memikirkan kejadian tadi. Hubungan cintanya, perbuatannya. Semua itu membuat kepalanya berat.
"Bisakah kita bicara? Aku perlu teman." Nayaka memutus sambungan teleponnya ketika mendengar jawaban persetujuan dari yang bersangkutan.
Dengan mengendarai sepeda motornya, Nayaka berhenti di taman kota. Menunggu seorang teman untuk sekadar bercerita. Ya, ia perlu itu. Memendamnya seorang diri rasanya begitu sesak.
__ADS_1
Langkah sepatu membuatnya menoleh. Nayaka tersenyum, lalu bergeser dari tempat duduknya. "Silakan."
Sebuah senyuman ia dapatkan. Angel membenamkan diri di bangku besi yang juga diduduki Nayaka.
"Kau baik-baik saja?"
Nayaka menggeleng. "Aku tidak baik-baik saja."
"Dari tampangmu begitu."
"Menurutmu aku bagaimana?" Nayaka memalingkan wajah menatap Angel.
"Kau baik."
"Kau salah, Angel. Aku pria buruk. Seorang pecundang dan pemukul. Aku memukuli kekasihku, dan membuat putriku takut."
Angel tidak percaya atas perkataan Nayaka. Namun, ia juga tidak ingin bertanya apakah itu benar. "Pasti ada alasan dari tindakanmu, meski itu salah. Kau manusia biasa, Nay. Kau juga bisa kehilangan kontrol dirimu. Kau bisa marah dan meluapkan segala amarah di hatimu. Air yang tenang pun bisa meluap. Kau jangan merasa terlalu bersalah."
"Aku tidak sengaja melakukannya."
Angel ragu-ragu untuk mengangkat tangan. Tapi akhirnya, ia berani untuk mengusap lengan Nayaka. "Kau tenangkan dirimu. Setelah itu minta maaf pada kekasih dan putrimu."
"Ini tidak mudah baginya," ucap Nayaka.
"Memang. Dia mungkin akan semakin membakar amarahmu lagi. Kau hanya harus tenang. Kau sudah lama bersamanya. Kau tahu cara menghadapinya."
Nayaka mengangguk. "Terima kasih, Angel. Terima kasih telah mendengar keluh kesahku."
"Kau benar, dan kau tempat ternyaman buatku saat ini."
Angel hanya bisa menyunggingkan bibir atas ucapan Nayaka. Andai, ia juga menjadi wadah bagi cinta Nayaka. Tentulah cinta yang selama ini dipendam, tidak bertepuk sebelah tangan.
Nayaka sengaja kembali ke apartemen di jam makan malam. Di tangannya sudah ada burger kesukaan Kyomi serta makanan jadi yang Nayaka beli untuk Delilah.
Sandi yang telah ia hapal di luar kepala membuatnya bisa masuk ke apartemen. Saat itu juga, Nayaka disambut oleh Kyomi.
"Papa!"
Dalam hati berucap syukur. Kyomi kembali padanya. Nayaka memeluk putrinya sekaligus meminta maaf atas kejadian tadi siang.
"Kyomi takut?" Nayaka mempertanyakan itu.
"Kenapa Papa jahat?"
Nayaka menggeleng. "Papa marah pada mama."
"Kalau Papa marah sama Kyomi, apa Kyomi juga dipukul?"
"Tentu tidak, Sayang. Perbuatan Papa tadi tidak patut dicontoh. Papa sudah menyakiti mama."
__ADS_1
"Mama tidak keluar dari kamar. Kyomi lapar, tapi takut buat panggil Mama Delilah."
"Lalu, Kyomi makan apa?"
"Roti sama es krim yang tadi siang Papa beli sama makan buah."
Nayaka beralih pandang pada sofa yang terlihat berantakan. "Kyomi ingat pesan Papa, kan? Bungkus cemilan harus dibuang ke tempat sampah."
"Iya, Kyomi bakal beresin."
"Nanti dulu, Kyomi makan burger ini dulu. Habis itu baru beresin sofanya. Papa mau jenguk mama."
Kyomi cepat mengambil makanan kesukaannya itu yang disodorkan sang ayah. Nayaka menggeleng, ia tersenyum melihat putrinya yang langsung memakan burger itu.
Kyomi anak dari orang tua yang berkecukupan, tetapi lihatlah, bahkan untuk makan saja sulit. Bukan berarti susah membelikan makanan, melainkan tidak diperhatikan.
Nayaka masuk kamar setelah meletakkan makanan jadi di ruang makan. Pandangannya bertabrakan pada Delilah yang tengah berdiri di depan kusen jendela sembari menatap pemandangan di bawah sana.
"Anakmu kelaparan, Del. Kau tidak mengurusnya?"
Delilah menatap tajam kekasihnya itu. "Ingin marah lagi, lalu memukulku? Pukul saja, Nayaka. Kau bunuh saja aku."
Setelah itu Delilah terisak. Ia beralih dengan duduk di atas ranjang. Membenamkan wajahnya pada dua telapak tangan sembari menitikkan air mata.
"Maafin aku, Del." Nayaka berlutut di depan kekasihnya. "Aku minta maaf."
Delilah mendorong Nayaka hingga terjungkal ke belakang. "Aku membencimu!"
"Cukup, Sayang. Jangan sampai Kyomi mendengar kita bertengkar lagi. Kumohon," ucap Nayaka seraya memegang tangan Delilah.
Delilah menepis tangan itu. "Persetan dengan anak itu!"
Nayaka melotot mendengar kalimat yang baru saja Delilah lontarkan. Ibu dari anaknya, tega bicara seperti itu. Nayaka bangkit berdiri, ia memandang Delilah dengan rasa tidak percaya.
"Maaf, Sayang." Nayaka memeluk kekasihnya, meski Delilah terus memberontak.
"Lepasin!" teriak Delilah.
"Iya, aku melepasmu."
Setelah mengucapkan itu, Nayaka keluar kamar dengan menutup pintu. Ia tersenyum melihat Kyomi yang membereskan sofa dari sisa bungkus makanan.
"Sayang," tegur Nayaka.
"Kyomi sudah membereskan sofanya."
Dengan lembut Nayaka mengambil alih plastik sampah dari tangan putrinya. "Ayo, ikut Papa."
"Ke mana?"
__ADS_1
Nayaka tersenyum. "Pulang."
Bersambung