
Seharian Delilah harus menghabiskan waktu bersama Juno dan keluarganya. Makan bersama serta membahas kelanjutan dari persiapan dari pernikahan mereka.
Sementara pikirannya selalu pada Kyomi yang pasti sudah bersama Angel. Wanita itu telah diperingatkan, tetapi masih berada di sekitar Kyomi. Sebagai seorang ibu, Delilah tidak ingin anaknya menganggap orang lain sebagai ibu kandung. Hanya dia yang berhak menjadi orang tua dari Kyomi. Ia yang melahirkan dan ia yang memberi nama. Kelahiran pertama Kyomi telah meminum susu darinya. Hanya ia yang pantas untuk putrinya.
"Kau sudah tahu di mana kita akan bulan madu," bisik Juno.
Delilah tersentak. "Apa yang kau bicarakan?"
"Ayolah, Sayang. Aku ingin tahu negara mana yang menjadi tujuan liburan kita kali ini."
"Tidak ada yang indah selain benua eropa," jawab Delilah.
"Kita perlu waktu selama satu bulan buat mengelilinginya," kata Juno.
"Kau harus menyediakan waktu yang banyak untuk rencana itu."
"Pasti," sahut Juno. "Di saat itu, aku ingin kau langsung mengandung anakku."
Delilah mengiakan saja ucapan Juno. Sungguh ia ingin memberitahu segalanya saat ini agar beban yang ia tanggung bisa sedikit berkurang. Namun, nyali Delilah ciut ketika memandang wajah dari orang terdekatnya. Kekecewaan serta rasa malu pasti akan mereka dapatkan bila sampai rahasia itu terbongkar.
"Sudah sangat sore, kita akhiri saja kumpul keluarga ini," ucap Reyhan.
"Aku juga sudah sangat lelah," sahut Priyo Hermawan, ayah dari Juno.
"Kiano dan si kembar saja sudah pergi," Juno menimpali.
"Mereka terlalu lelah untuk mendengar obrolan kita," ucap Anna.
Juno menatap kekasihnya. "Mau diantar ke rumahmu atau ke rumah Kak Reyhan?"
"Rumah Kak Reyhan. Aku juga ada perlu sama Kak Anna. Ini soal gaun yang aku pesan."
"Tapi aku ingin bersamamu dulu. Kita ke apartemenku dulu," kata Juno.
Tidak bisa menolak karena Juno terlalu mendominasi. Pria itu bukan Nayaka yang lemah lembut terhadap wanita. Juno terbiasa memimpin. Pria yang tegas mengungkapkan ketidaksukaannya. Berbeda dari Nayaka yang memilih bertindak sesuai perasaan.
Keduanya berpisah dari restoran menuju mobil masing-masing. Juno membawa Delilah menuju apartemen miliknya di Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
"Kau mau minum apa?" tanya Delilah, ketika mereka telah sampai di unit apartemen.
"Cokelat dingin," jawab Juno.
Delilah segera menuju dapur, tetapi sebelum itu ia mengintip Juno yang tengah memutar film. Ia mengembuskan napas lelah. Pikirannya tidak berada di sini, melainkan pada Kyomi dan Nayaka.
Segera cokelat dingin Delilah sajikan serta cemilan untuk menemani mereka nonton. Memang Delilah sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama Juno. Jadi, wajar saja pria itu ingin bersamanya.
"Kau menahanku di sini," kata Delilah seraya meletakkan dua cangkir cokelat dingin di meja serta biskuit keju. "Aku akan lupa dengan apa yang akan aku sampaikan nanti."
"Sudah lama kita tidak bersama. Kau tidak rindu padaku?" Juno menepuk tempat duduk di sebelahnya.
"Kau sendiri yang ingin aku mengurus secepatnya pernikahan kita, tetapi kau malah menahanku. Ada rancangan yang ingin aku ubah," ucap Delilah beralasan.
__ADS_1
"Kau bisa membicarakannya nanti. Malam ini kita bersama dulu."
Delilah mengembuskan napas kasar. Juno yang melihat itu lantas memeluknya, lalu berbaring di pangkuan sang kekasih. Jika ia sudah menetapkan, maka apa pun itu harus ia dapatkan.
Pukul sembilan malam barulah Delilah di antar oleh Juno ke tempat Reyhan. Setelah menghabiskan waktu bersama, dan membuat bibir Delilah sedikit bengkak karena penyatuan yang mereka lakukan.
"Aku masuk dulu. Kau pulang saja," kata Delilah.
"Kau marah?" tanya Juno.
"Kau tahu alasannya."
"Aku hanya merindukanmu dan tidak sengaja membuat bibirmu bengkak."
"Sudahlah, aku masuk dulu," kata Delilah, lalu keluar dari mobil.
Juno cuma bisa menatap kepergian sang kekasih yang berjalan masuk ke halaman rumah. Setelah pintu rumah terbuka barulah ia berlalu dari kediaman Reyhan.
"Kakak kira kau tidak akan datang," kata Anna.
"Aku mau pinjam mobil," ucap Delilah.
"Kau mau ke mana?"
Delilah menatap Anna. "Pulang ke rumah."
Anna mengerutkan kening. "Kau belum cerita kenapa ingin membatalkan pernikahan. Apa kau mencintai Nayaka?"
Anna dan Delilah kaget tiba-tiba saja Reyhan menyahut. Rey memandang secara bergantian istri serta adiknya.
"Kau bukannya tidur tadi,'' kata Anna.
"Memangnya aku bisa tidur tanpa kau di sisiku?" sahut Reyhan. "Apa yang kalian bicarakan? Siapa Nayaka?"
"Kakak lupa, dia teman Delilah."
"Temanmu?"
Anna berdeham. "Anak dari Nilam."
Reyhan mengangguk. "Kau masih berhubungan dengan anak itu? Kakek tidak menyukai dia dan Kakak rasa dia tidak cocok dijadikan teman."
"Kau sama saja dengan om Bastian, Rey," sahut Anna.
"Aku tahunya jika anak itu kurang baik. Kukira memang begitu." Reyhan mengedikkan bahu dan memang ia tidak tahu apa-apa.
Setelah Dion dan Dila meninggal, Bastian mengambil pengasuhan pada Delilah. Yang Reyhan tahu memang ada beberapa teman yang tidak disukai Bastian dan Reyhan yakin mereka semua memang tidak baik.
"Dia baik, Kak," kata Delilah.
"Lalu, ada apa dengan Nayaka itu?" tanya Reyhan.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa."
Anna memandang Delilah agar memberitahu keinginannya. Namun, wanita itu merasa takut untuk bicara. Ia takut Reyhan akan marah.
"Kalian kenapa saling diam?"
"Kak, aku tidak mau menikah," ungkap Delilah.
Reyhan terdiam sesaat setelah Delilah mengucapkan hal itu. Ia kembali memandang Anna, dan istrinya itu cuma menunduk.
"Karena Nayaka itu?" tanya Reyhan.
Delilah menggeleng cepat. "Bukan! Aku merasa ini terlalu cepat."
Reyhan tersenyum. "Pasangan akan sering bertengkar pada hari-hari persiapan pernikahan. Kau tenang saja. Semua akan membaik."
"Aku memang tidak ingin menikah bersama Juno," ucap Delilah.
"Juno menyakitimu?" Reyhan berjalan mendekat, ia sedikit menunduk memperhatikan bibir Delilah yang bengkak. "Apa yang kalian lakukan?"
Delilah mundur beberapa langkah. "Aku baik-baik saja. Hanya saja aku tidak ingin menikah."
"Kalau kau tidak ingin menikah, lalu kenapa kau menerima lamaran Juno?" kata Reyhan. "Jangan membuat malu keluarga kita, Delilah!"
"Aku tidak ingin menikah!"
"Apa alasannya?" tanya Reyhan.
"A-aku ...."
"Karena pria bernama Nayaka itu?" terka Reyhan dengan memotong kalimat adiknya. "Kalian membicarakan pria itu, kan?"
"Aku belum siap saja, Kak. Juno menginginkan anak dengan segera setelah kami menikah," dusta Delilah.
Reyhan menghela napas. "Hanya karena itu kau ingin membatalkan pernikahan? Kau ingin membuat malu keluarga kita?"
"Aku hanya ingin menundanya saja."
"Tolong kau jelaskan pada adik manjaku ini, Anna. Jelaskan kenapa dia harus punya anak setelah menikah," ucap Reyhan. "Pikiranku sudah pusing, malah ditambah dengan kabar tidak mengenakkan ini."
Reyhan langsung berjalan pergi meninggalkan Anna dan Delilah. Sementara Anna memandang lekat adik iparnya yang mulai terisak.
"Nayaka sudah menikah, lalu kau ingin bersamanya?" tanya Anna.
"Dia tidak menikah."
"Tapi dia punya anak," kata Anna.
"Anak itu sebenarnya ...."
Bersambung
__ADS_1