Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Lamaran Lagi


__ADS_3

Delilah langsung memeluk Nayaka. Ia bahkan mengecup pipi pria yang tidak jelas statusnya ini. Yang pasti Delilah tahu kalau Nayaka adalah ayah dari anak-anaknya.


"Kau sengaja tidak mengatakannya padaku. Kau orang kaya. Oh, Sayangku."


Wanita sama saja. Tahu seorang pria punya uang banyak, maka dia akan menempel. Seperti Delilah ini. Lihatlah, Delilah memeluk dan mengecup pipinya. Coba kemarin, Nayaka tidak bisa menyentuhnya. Ah, tahu begini, Nayaka akan mengatakannya lebih awal.


"Kenapa kau mau bersusah payah begini? Kyomi sampai sekolah di tempat biasa."


"Heh, kau sendiri ingin hidup begini."


"Kau tidak bilang padaku, Sayang." Delilah mengucapkan kata itu.


Dasar wanita! Nayaka merangkul pundak kekasihnya. "Waktu dulu perusahaan ini belum terkenal. Setelah bertahun-tahun, sahamnya naik. Oh, ya, aku dapat undangan wawancara. Apa aku tolak saja?"


"Undangan apa?"


"Hanya berbagi kisah saja tentang aku yang sukses." Nayaka menaikturunkan alisnya.


"Kau harus menerimanya. Aku mau lihat kau di TV."


"Kalau begitu, aku terima saja?"


Delilah mengangguk. "Ya, kau harus menerimanya."


"Baiklah. Aku akan menelepon mereka nanti."


"Kau sudah sukses. Sekarang giliranku." Delilah bertekad untuk melakukan itu.


"Jadi, kapan kita menikah?"


"Tunggu dulu."


Nayaka menghela napas panjang. "Aku mau menikah denganmu."


"Nanti dulu."


Harus bersabar lagi dan Nayaka akan melakukan itu. Masalahnya Delilah tidak ingin terburu-buru kembali bersama Nayaka. Ada hal-hal lain yang harus ia jadikan pertimbangan.


"Kau mau menerima gedung itu, kan? Aku membelinya dengan harga mahal," kata Nayaka.


Delilah menyengir. Menampilkan deretan gigi putihnya. "Karena itu uangmu, tentu saja aku mau menerimanya. Itu akan menjadi kantorku."


"Kau tidak mau memberiku hadiah?"


"Apa?"


"Pipi saja tidak cukup, Del."


Delilah mengibaskan tangan. "Kau jangan berpikiran jauh. Tetaplah berpuasa sampai kita menikah. Atau kau boleh menikahi perempuan lain. Tapi, jangan harap kau bisa kembali padaku."


"Aku hanya akan menikah denganmu."


"Hantarannya harus banyak. Lebih dari yang dulu."


"Aku harus bekerja keras lagi tampaknya."

__ADS_1


Delilah tergelak. "Pastinya."


Karena gedung itu diberikan Nayaka, maka Delilah menyiapkan diri untuk pindah. Ada sedikit renovasi karena ia ingin memiliki kamar yang bisa digunakan untuk Kanaka.


Delilah juga merekrut dua orang pekerja yang bisa membantunya dari Indonesia. Lebih baik mengambil karyawan lama karena perusahaan perhiasan di Jakarta telah mati sejak Delilah tinggal pergi. Promosi melalui iklan di media sosial juga gencar di lakukan.


"Saat Papa ada di sana, kita harus diam dan fokus ke depan," ucap Delilah.


"Iya, Mama." Kyomi menyahut.


Nayaka menerima undangan sebagai narasumber yang sukses di usia muda. Delilah begitu kagum ketika nama calon suaminya dipanggil oleh pembawa acara dan tepuk tangan penonton menyambutnya.


Terdengar suara Kanaka yang menegur. Bahkan Kanaka menghampiri televisi dengan kereta rodanya. Ia menepuk-nepuk layar karena memang televisi besar itu berada di jangkuannya.


"Kanaka, sini." Delilah bertepuk tangan agar putranya mendekati dirinya.


"Kanaka, sini, dong. Jadi, enggak nampak gambarnya." Kyomi menyahut.


Kanaka bertingkah, seolah menunjukkan kalau orang yang berada di layar kaca itu, adalah papanya.


"Itu Papa, Sayang." Mau tidak mau Delilah beranjak dari sofa, menjauhkan sang putra dari layar TV.


Namanya anak, Kanaka masih ingin berada pada hal yang ia sukai. Ketika dijauhkan, maka ia akan menangis.


"Minum susu saja, ya?" Delilah mengangkat Kanaka, lalu menyusuinya. Mudah saja, sang anak jadi diam, dan acara menonton TV menjadi tenang. "Papa jadi terkenal."


"Iya, Papa jadi terkenal." Kyomi membenarkan itu.


Delilah pun tidak mau kalah. Ia juga ingin seperti Nayaka. Ia bekerja keras disela kesibukkannya mengurus sang buah hati.


"Ke mana?"


"Ikut saja. Hanya kita berdua."


Delilah mengangguk. "Aku akan bersiap kalau begitu."


Baru kali ini rasanya pergi berdua. Biasanya mereka akan pergi berempat. Ya, Delilah juga enggan untuk meninggalkan Kyomi dan Kanaka. Ini tidak seperti dulu. Bersama anak-anak terasa menyenangkan.


Bingung. Nayaka tidak mengatakan akan mengajaknya makan malam. Hanya bilang ikut saja. Delilah pun memakai pakaian biasa. Ia mengenakan baju yang di dampingi dengan outer warna cokelat. Celana jeans yang dipadu padankan dengan boots bertumit datar. Sementara rambutnya digerai, tetapi Delilah membuat ujungnya bergelombang.


"Mama pergi sebentar. Kyomi jaga Kanaka sama Mbak Santi, ya?"


Kyomi mengangguk. "Iya ... tapi, jangan lama-lama perginya."


"Mama pergi sama Papa."


"Mama jangan pergi lagi."


Delilah menyadari jika dirinya waktu itu sangat bersalah. Dua kali ia mengabaikan putrinya, dan ia masih diberi kesempatan untuk bersama.


"Tidak lagi, Sayang. Mama akan selalu bersama Papa dan kalian." Delilah mengecup kening Kyomi. "Mama pergi, ya?"


Kyomi mengangguk. Jika demikian, berarti keluarga mereka akan bersatu. Kyomi senang, dan ia tidak akan bergabung dalam kelab anak buangan di situs yang Sydney sarankan.


Nayaka tidak berkata apa-apa saat mereka telah berada dalam mobil. Syukurlah. Delilah tidak salah kostum karena Nayaka juga berpenampilan casual.

__ADS_1


"Kita ke London Eye."


"Sudah lama tidak ke sana."


"Aku ingin mengenang masa-masa kita dulu."


"Ah, manisnya." Delilah merebahkan kepalanya di pundak Nayaka.


Mengunjungi London Eye itu memang bagusnya di malam hari. Tiba di sana, Delilah ingin minta di foto. Mengapa London? Di sini ada kenangan dirinya bersama Dila, Dion, dan tentu saja Nayaka.


"Kita naik kapsulnya."


"Ayo ...!"


Bersama dengan pengunjung lain, mereka masuk pada kapsul yang bergerak. Pemandangan kota London sangat indah di malam hari. Nayaka memeluk Delilah dari belakang selagi benda itu bergerak.


"Pejamkan matamu."


"Enggak mau. Aku tahu kau bakal menunjukkan kota malam London." Delilah menolak untuk itu.


"Aku mencoba untuk romantis."


Delilah tergelak mendengarnya. "Baiklah. Aku coba untuk memejamkan mata."


"Dalam hitungan ketiga, kau boleh membuka matamu."


"Iya ...."


Delilah mulai memejamkan mata, dan Nayaka mulai menghitung. Dalam hitungan ketiga, Delilah membuka matanya, dan ia melihat satu cincin yang berkilauan.


"Untukku?" Delilah menoleh pada Nayaka.


"Menikah lah denganku?"


Sebuah lamaran dari Nayaka. Emas putih yang bertakhtahkan berlian pink di atasnya. Di samping ada berlian putih kecil yang menjadikannya tampak berkilauan.


"Gimana, ya?" Delilah tampak berpikir.


"Kau meragukanku lagi?"


"Ini, pakaikan di jari manisku."


Nayaka beralih posisi dengan menghadap Delilah. London Eye masih berputar, dan aksi Nayaka ini disaksikan oleh pengunjung yang berada di dekat mereka.


"Sayangku, maukah mau menikah denganku?"


"Wah! Ada acara lamaran," celetuk pengunjung yang menyaksikan Nayaka dan Delilah yang saling berhadapan.


"Jangan begitu, aku malu."


"Jawab dulu."


Delilah mengangguk. "Iya, aku terima."


Nayaka menyematkan cincin itu ke jari manis Delilah. Ia mengecup punggung tangan itu, dan mengecup kening kekasihnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2