
Tidak salah lagi, wanita yang berpangku pada Ashraf, adalah istrinya. Delilah Malik Hawwas. Perempuan yang Nayaka cintai, tetapi inilah balasan cinta yang tulus itu.
Pengkhianat pernikahan. Setiap malam istrinya bersama seorang pria. Saling bersentuhan, dan Nayaka sendiri tidak ingin membayangkan apalagi yang Delilah lakukan bersama Ashraf.
Sebebas-bebasnya pergaulan Nayaka, tetapi ia tetap setia. Ingat pada istri dan anak, meski dihadapkan dengan banyak wanita cantik selama menjadi seorang pengusaha.
Namun, kesetiaan itu tidak ada gunanya. Wanita yang ia ingat dan pikirkan, bahkan lupa kalau punya seorang suami dan anak. Ini lah kehidupan yang Delilah inginkan. Bebas melakukan apa pun, meski dirinya telah bersuami.
Meski berat, Nayaka tetap melangkah menuju meja yang berada di pojok sana. Berharap jika penglihatannya ini salah. Wanita itu pasti bukan istrinya. Bukannya tadi siang, Delilah pamit untuk bertemu teman-temannya? Nayaka berharap istrinya tengah kumpul arisan atau ke salon atau ke mana pun, tetapi bersama teman perempuan. Tapi itu mustahil. Ini sudah larut malam. Istrinya pasti telah selesai arisan dan ke salon.
Semakin mendekat, terlihat jelas siapa yang tertawa di pangkuan ashraf. Wanita itu meneguk minumannya, dan Ashraf sesekali mengusap punggung belakang Delilah.
"Sayang!" Nayaka mengucapkannya dengan sedikit keras.
Delilah tersedak. Ia menoleh pada suara yang memanggil. Sontak saja, ia bangkit dari pangkuan Ashraf dan mengerjap beberapa kali jika pria di depannya ini benar-benar Nayaka.
"Kakak!"
"Tiap malam kau seperti ini?"
Ashraf juga bangun dari duduknya. "Nayaka!"
Tapi Nayaka tidak menghiraukan teguran Ashraf itu. Ia memandang Delilah lekat, ada gurat kesedihan di matanya, dan beragam pertanyaan yang ingin Nayaka utarakan pada istrinya.
"Aku hanya minum bersamanya. Aku tidak melakukan apa pun." Delilah mengatakannya dengan tergagap.
"Sudah berapa lama?" tanya Nayaka.
Delilah menggeleng. "Ini tidak seperti yang kau pikir. Aku tidak melakukan apa pun."
"Aku menyukai Delilah!" Ashraf menyela.
Pandangan Nayaka beralih padanya. "Kau tahu dia istriku, kan?"
"Aku mencintai istrimu."
"Sialan kau!" Nayaka maju dengan melayangkan bogem mentahnya.
__ADS_1
Suasana menjadi ribut karena perkelahian. Ashraf yang tidak terima, lantas membalas perbuatan Nayaka. Keduanya saling baku hantam.
"Beraninya kau melakukan ini padaku." Nayaka mendorong Ashraf ke arah pengunjung yang tengah berdansa.
"Sudah, Kak!" teriak Delilah.
Ashraf tidak mau kalah, ia meninju tepat di wajah Nayaka. Namun, Nayaka dapat melawan dengan menendang perut pria itu.
"Kenapa kalian diam saja?" seru Delilah.
Pengunjung malah pada merekam aksi kedua pria yang tengah memperebutkan wanita ini. Ada juga yang tidak peduli, dan tetap berjoget. Setelah petugas keamanan kelab datang, memisahkan Nayaka dan Ashraf barulah perkelahian itu selesai.
"Kau akan lihat pembalasanku nanti!" Ashraf mengancam. Wajahnya babak belur dipukuli Nayaka.
"Kau pikir aku takut? Kau tunggu saja perhitungan dariku!" Nayaka pun tidak mau kalah mengancam.
"Sudah, Kak!" seru Delilah. "Ayo, kita pulang!"
Nayaka menepis pegangan tangan istrinya, lalu melangkah pergi dari kerumunan. Delilah lekas meraih tas selempangnya, menyusul Nayaka yang telah berlalu dari kelab.
Namun, ketika hendak melangkah, Ashraf menahannya. Pria itu tentu tidak ingin ditinggal begitu saja dengan wanita yang ia cintai.
"Lepaskan aku, Ashraf. Aku harus bicara pada Nayaka. Ini menyangkut tentang pernikahanku!"
"Ceraikan dia. Kau ikut bersamaku. Aku mencintaimu!" Ashraf sampai membentak Delilah.
"Kau bicara omong kosong." Delilah menarik diri dari Ashraf, kemudian melangkah pergi menyusul Nayaka.
Tidak mendapatkan suaminya di tempat parkir, Delilah segera masuk mobil sendiri, mengendarainya dengan kecepatan tinggi menuju rumah.
Sampai di rumah, Nayaka menghancurkan barang yang ada. Semua rasa sakit tengah ia rasakan sekarang. Ia merasa telah dibodohi. Di permainkan, tidak dihargai dan segala keburukkan telah disematkan padanya.
Tidak puaskan Delilah bersamanya? Apa kurangnya? Sebab apa sampai istrinya berpaling? Sesibuk-sibuknya Nayaka, ia masih meluangkan waktu untuk istri dan anak.
"Sialan!" teriak Nayaka dengan melempar vas bunga ke jendela kaca. Untung saja Kyomi saat ini berada di tempat Omar, dan putri kecil itu tidak dapat melihat kemarahan sang ayah.
"Kakak!" Delilah muncul, dan segera menghampiri suaminya. Ia memegang tangan Nayaka erat. "Maaf ...."
__ADS_1
Nayaka menarik tangan dari genggaman itu. "Puas!"
Delilah terisak sembari menggelengkan kepala. "Aku tidak melakukan apa-apa."
"Kau berpelukan. Kau menyatukan bibirmu dengannya, dan itu kau lakukan setiap malam. Kau juga pasti tidur dengan pria itu." Nayaka menggeleng. "Apa aku kurang memuaskanmu di ranjang sampai kau berpaling dariku?!"
"Aku tidak tidur dengan Ashraf. Aku bersumpah hubungan kami hanya sebatas teman."
"Tidak tidur bersamanya, tapi kau selalu menemuinya di apartemen. Kau lebih memilih menemui kekasih gelapmu, daripada menemani putrimu!" Nayaka melayangkan tangannya tepat mengenai pipi Delilah. "Jangan membodohiku!"
Delilah terisak. "Kak, maafkan aku. Sumpah! Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Aku sudah mengatakannya padamu. Sekali kali lagi kau berbuat kesalahan. Kau tidak akan pernah aku maafkan!"
"Kakak ...." Delilah terisak, tubuh merosot, duduk berlutut di hadapan Nayaka. "Maaf, Kak. Aku khilaf. Tapi sungguh, aku tidak tidur dengan Ashraf."
Perih hati ini masih terasa, meski Nayaka telah meluapkannya pada barang mati. Ingin sekali menendang wanita yang tengah bersujud ini, tapi ini tidak akan membawa perubahan. Kenyataannya, Delilah telah berselingkuh.
"Lakukan apa pun yang membuatmu senang, Delilah. Sekarang ini, aku akan bersikap masa bodoh. Mau kau selingkuh, pulang malam atau tidak sekalian, aku tidak peduli!"
Nayaka menarik kakinya dari pegangan Delilah. Kemudian masuk kamar, dengan membanting pintu.
"Maaf ...." Delilah menangis. "Aku minta maaf, Kak."
Hanya itu yang bisa Delilah katakan. Ia salah, ia tidak dapat membela dirinya. Ia menyesal telah melalukan perbuatan itu. Bukan karena mencintai Ashraf, ini karena sebuah kesenangan belaka. Delilah yang selalu menganggap bisa mendapatkan segalanya. Pergaulan yang terlalu bebas, dan kini ia harus menanggung hasil dari perbuatannya itu. Nayaka yang kecewa. Delilah butuh kesempatan. Pemberian maaf dari Nayaka, tentulah sangat diharapkan agar hubungan ini kembali seperti dulu.
Untuk meredakan amarahnya, Nayaka mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Kejadian di kelab tadi tidak bisa hilang. Masih saja terlintas di pikirannya akan adegan mesra itu.
Sudah berapa lama? Setiap malam pria lain menyentuh istrinya. Astaga! Nayaka meninju dinding hingga melukai buku tangannya. Ia mengumpat sekeras-kerasnya, tapi tetap nyeri hati tidak bisa menghilang dengan cepat.
Kenapa sampai adanya perselingkuhan? Nayaka ingin menyalahkan dirinya. Betulkah ia tidak seberguna itu di depan istrinya?
"Perempuan murahan!" Nayaka kembali meninju dinding. Tubuhnya merosot ke lantai yang dingin dengan air yang masih mengguyurnya. Dalam keadaan itu, Nayaka menangis. Ya, dia bersedih lantaran nasib yang selalu tidak memihak padanya.
Bersambung
Mampir ke sini ya!
__ADS_1