Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Hilangnya Delilah


__ADS_3

Tanpa sadar, Nayaka bermalam di apartemen Delilah, dan untuk pertama kalinya ia bangun di pukul delapan pagi.


"Delilah!" seru Nayaka. "Kau sengaja tidak membangunkanku? Aku harus pulang pa ...."


Nayaka terdiam. Ia mengusap wajah dengan dua buah tangan, dan mengingat kejadian semalam.


"Mungkin saja dia sudah kembali."


Ia turun dari tempat tidur. Pertama, Nayaka memeriksa kamar mandi. Tidak ada Delilah di sana. Kemudian, Nayaka keluar, dan mencari ke segala ruangan. Hasilnya nihil. Delilah memang sudah pergi dari tempat tinggalnya dan dari kehidupannya.


Nayaka menggeleng. Hubungan ini tidak bisa putus begitu saja. Delilah pasti kembali karena ada ikatan di antara mereka. Ada Kyomi. Mungkin ini hanya kemarahan sesaat wanita itu, dan ke mana lagi Delilah kalau bukan kembali bersamanya?


Kenapa Nayaka bisa melupakan Ashraf? Ya, Delilah pasti bersama pria itu. Nayaka sudah membebaskannya, dan mereka bisa menikah.


Membayangkan itu, amarahnya kembali meledak. Nayaka langsung keluar dari apartemen. Ia sengaja mengganti nomor sandi pintu supaya Delilah tidak dapat lagi masuk ke dalam.


Sampai di rumah, Nayaka di sambut Angel. Tentu wanita itu heran karena suaminya pulang terlambat.


"Tidak seperti biasanya. Kau mau pergi olahraga golf? Tadi Papa Omar mencarimu."


Nayaka menggeleng. "Aku ingin di rumah saja."


"Ada apa? Kenapa matamu bengkak? Kau habis menangis, ya?" Melihat penampilan suaminya, Angel tidak tahan untuk bertanya.


"Kyomi sudah berangkat sekolah?"


"Ini, kan, hari libur."


"Oh, iya, aku lupa. Di mana dia?"


Angel terdiam sesaat, dan itu membuat Nayaka heran. "Ada apa?"


Angel mengembuskan napas panjang. "Kyomi marah."


Kening Nayaka berkerut. "Marah kenapa?"


"Coba kau tanya sendiri. Aku sudah membujuknya, tetapi Kyomi malah semakin marah."


"Aku pergi lihat dia dulu."


"Sarapan dulu, Nay."


"Nanti saja."


Nayaka langsung melangkah menuju kamar Kyomi, sedangkan Angel hanya bisa menghela napas.


"Sayang, boleh Papa masuk?" seru Nayaka seraya mengetuk pintu.


"Masuk saja!"

__ADS_1


Suara Kyomi dapat Nayaka dengar, dan ia mendorong pintu, lalu masuk. Melihat Kyomi dengan wajah ditekuk seperti itu, mengingatkan Nayaka pada Delilah.


Gadis kecilnya, begitu mirip dengan sang ibu. Wajah cemberut Kyomi, gaya yang angkuh dengan melipat kedua tangan di perut, dan sorot mata kemarahan.


Nayaka ingat, jika sudah begini, maka ia akan datang pada Delilah, dan siap mengorbankan punggungnya untuk dinaiki.


"Ada apa, Sayang?" Nayaka duduk di tepi tempat tidur.


"Papa ini kenapa, sih, sama Mama?"


"Kenapa?"


"Mama tidak pulang dan kemarin Mama datang malah marah-marah. Saat Kyomi panggil, Mama malah pergi. Kenapa kalian ini selalu bertengkar?"


Mengapa Nayaka bisa lupa kalau putrinya sudah besar, dan Kyomi bisa mempertanyakan tentang kondisi hubungannya bersama sang mantan.


"Mama dan Papa baik-baik saja."


"Kalau begitu, Kyomi mau jalan sama Papa dan Mama. Ini, kan, hari libur. Pokoknya Kyomi mau jalan!"


Mendengar itulah, Nayaka tersadar. Bagaimana bisa ia mengabulkan permintaan Kyomi jika Delilah saja sudah pergi entah ke mana.


"Sama Mama Angel saja perginya." Nayaka memberi sebuah pilihan.


"Enggak mau. Kyomi mau sama Mama Delilah. Ayo, Papa. Kita ke apartemen." Kyomi meraih tangan Nayaka, ia menariknya agar sang ayah bangun dari duduknya, dan pergi bersama.


"Mama Delilah pergi ke salon, Sayang. Mama sibuk hari ini," dusta Nayaka.


"Iya, Kyomi yang sabar. Papa telepon Mama dulu."


Baru teringat untuk menghubungi Delilah. Dengan panggilan telepon ini, Nayaka berharap Delilah mengangkatnya. Ini menyangkut soal anak, dan tidak mungkin Delilah mengabaikan panggilan ini, meski wanita itu sedang marah.


Entah mengapa kepanikan itu hadir dalam benak Nayaka. Teleponnya sama sekali tidak tersambung pada Delilah.


"Gimana, Papa? Mama angkat telepon?"


"Sayang, kau tunggu dulu. Papa ada urusan sebentar."


Nayaka bergegas keluar kamar, dan membuat Kyomi semakin bingung. Nayaka masuk ke ruang kerja, dan ia men-dial nomor Sofwan.


"Kau minta orang untuk mencari istri pertamaku. Tadi malam dia pergi dari apartemen, dan mungkin sekarang ada di hotel atau bandara. Pokoknya cari secepatnya." Nayaka tidak dapat membendung rasa khawatirnya.


Mendapat jawaban dari Sofwan, barulah Nayaka memutus sambung telepon itu. Ia mondar-mandir dengan terus mencoba menghubungi Delilah.


"Nay ...." Angel tiba-tiba saja muncul.


"Ada apa?"


"Kau belum membersihkan dirimu dan kau belum sarapan juga. Ayo, isi dulu perutmu."

__ADS_1


"Iya, Angel. Aku akan makan nanti."


"Ada apa sebenarnya?"


Nayaka menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku ingin sendiri dulu. Bisa kau tinggalkan aku?"


Angel mengangguk. "Iya, baiklah."


Berat hati sebenarnya meninggalkan ruangan kerja Nayaka tanpa mengetahui apa permasalahan yang tengah suaminya itu hadapi. Dari pada membuat Nayaka kesal, lebih baik Angel pergi saja.


Dalam beberapa jam, belum sampai sehari. Jejak Delilah lenyap tanpa bekas. Terakhir, menurut rekaman CCTV, Delilah tampak menumpang taksi. Setelah di cek, sopir itu menurunkan Delilah di pinggir jalan. Entah ke mana tujuan Delilah selanjutnya, sopir taksi itu tidak tahu.


"Kenapa aku harus repot mencarinya?" Nayaka bergumam. "Paling dia pulang ke Indonesia atau ke Inggris. Biar saja. Dia bebas ke mana pun."


Nayaka bisa berkata demikian. Buktinya, dalam beberapa hari, ia tetap menyuruh orang untuk mencari Delilah karena Kyomi terus merengek untuk bertemu ibunya.


"Kau bisa membawa Kyomi ke apartemen, kan?" ucap Angel.


"Masalahnya bukan itu, Angel. Delilah tidak ada di sana."


"Di mana dia? Liburan?"


Nayaka menggeleng. "Aku dan dia sudah berpisah. Aku dan Delilah sudah bukan suami istri lagi."


Angel tersentak mendengarnya. "Kalian berpisah?"


"Ya, aku sudah menalak Delilah. Sekarang dia pergi."


"Kau tinggal memberitahu kebenarannya saja pada Kyomi biar dia tidak merengek terus."


"Apa bagimu itu begitu mudah?" Nayaka memandang lekat istrinya itu.


"Kenyataan memang pahit, tapi Kyomi harus menerima bahwa ibu dan ayahnya telah berpisah. Aku janji padamu, Nay. Kyomi tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ibu."


"Kuharap begitu."


Namun, Nayaka tidak tega memberi tahu kabar yang menyakitkan itu. Ia kembali beralasan kalau Delilah saat ini tengah liburan dan akan pulang dalam beberapa hari.


Kyomi sempat tenang, tetapi mulai lagi ketika janji yang Nayaka ucapkan tidak ditepati. Kyomi bahkan menelepon Reyhan dan mengatakan semua yang terjadi saat di pesta perayaaan kehamilan itu.


"Papa bohong!" teriaknya. "Kenapa Mama tidak pulang dari liburan? Kakek Reyhan bilang kalau Mama tidak ada di sana. Terus Mama di mana?"


"Kyomi!" Nayaka sedikit membentak putrinya. "Bisa bicara pelan-pelan?"


Kyomi mengentakkan kakinya. "Kyomi mau Mama. Mau Mama Delilah!"


"Mama dan Papa sudah berpisah. Mama tidak akan pernah pulang ke rumah ini lagi!" ucap Nayaka pada akhirnya.


"Berpisah?" Kyomi terlihat bingung.

__ADS_1


"Seperti orang tua Sydney. Mama akan punya pendamping baru, dan Papa punya Mama Angel. Kau mengerti, kan, sekarang?"


Bersambung


__ADS_2