
Delilah kehilangan kata-kata. Tidak percaya apakah ini mimpi atau Nayaka yang tidak jujur padanya selama ini. Anak dari seorang pengusaha Omar Malik Hawwas. Ia menggeleng kalau kekasihnya pasti bukan anak dari pria itu.
Siapa yang tidak kenal Omar Malik. Rata-rata pembaca berita majalah bisnis dunia, atau pengusaha ternama pasti mengenalnya. Wajahnya sering menghiasi majalah itu, dan tahun ini pria itu masuk dalam jajaran top 50 orang kaya di dunia.
Sial! Delilah menggeleng. Mungkin nama yang sama, tetapi pasti bukan Omar malik yang itu. Ayah Nayaka adalah pria yang tidak pernah bertanggung jawab pada putranya. Lalu, bagaimana bisa tiba-tiba Nayaka menjadi putra orang terkaya? Sangat membingungkan tentunya.
Delilah kembali menghubungi kekasihya itu, tetapi hasilnya tetap sama. Nomor Nayaka tidak lagi aktif. Pria itu benar-benar marah saat ini, dan untuk pertama kalinya, Delilah merasakan kekhawatiran.
"Nayaka mencintaku dan dia tidak bisa melepasku begitu saja. Aku akan membujuknya setelah bertemu nanti," gumam Delilah.
Sementara Diki segera mengirim email pada situs Hawwas properti yang berada di Indonesia. Email itu mendapat balasan, dan ia terhubung kepada Fahmi.
Hubungan itu lalu berlanjut. Tentu saja Omar yang tidak tahu apa-apa menyambut maksud baik dari Reyhan yang akan bertandang ke rumahnya.
"Sepertinya ini tidak sopan. Sebaiknya saya saja yang datang bersama Nayaka," ucap Omar dari balik teleponnya. "Kalian pihak dari perempuan. Saya masih mengerti adabnya."
"Oh, tentu saja. Bagaimana kalau besok malam?" Reyhan menawarkan.
"Boleh, saya dan Nayaka akan datang besok malam."
Reyhan dapat menebak kalau Omar tersenyum. Dari nada suaranya saja begitu bahagia. Reyhan pun ikut menyunggingkan bibir, meski Omar tidak dapat melihatnya.
"Baik, sampai jumpa besok. Bawa juga Kyomi, saya merindukannya."
"Oh, pasti, kami akan membawanya."
Selesai beramah-tamah, Reyhan memutus sambungan teleponnya. Ia memandang Diki yang masih setia duduk di kursinya.
"Besok malam kau datang kemari."
Diki mengangguk. "Iya, aku akan datang besok malam."
Reyhan menghela napas panjang. "Sepertinya Omar sangat senang dengan pernikahan ini. Kita belum pernah bekerja sama bisnis dengannya, kan?"
"Ya, mungkin juga karena Omar tahu kalau Delilah anak dari Dion. Ini juga bagus untuk reputasi perusahaan keluargamu." Diki menyahut.
"Itu sudah pasti. Tidak mungkin orang sebesar Omar tidak punya info tentang Delilah."
"Nanti aku suruh Maya dan Sera kemari untuk membantu Anna. Dia pasti repot menyiapkan semuanya."
Reyhan tertawa. "Para wanita selalu seperti itu, meski ada pelayan atau bisa saja memesan katering, Anna ingin campur tangannya selalu ada."
Diki menyunggingkan senyum, lalu beranjak dari duduknya. "Aku pulang. Jangan lagi meneleponku untuk ini dan itu. Suruh Kiano saja menghubungi orang suruhan kita."
__ADS_1
"Kau sungguh ingin pensiun?"
"Saat Sara menikah, aku ingin pensiun dari dunia kerja."
"Ya, aku pun, meski saat ini masih bekerja. Paling tidak Kiano harus menikah, lalu si kembar juga."
Diki menepuk pundak sahabatnya. "Semoga dia dapat jodoh cepat."
"Kau sungguh tidak ingin menjadikan Kiano menantumu?"
Diki menggeleng. "Sera bisa tertekan bersamanya."
Diki tertawa setelah mengatakan hal itu, lalu ia segera berlari keluar dari ruang kerja. Reyhan mendengkus, masih saja Diki bersikap konyol padanya.
...****************...
Omar pun tidak sabar memberitahu Nayaka yang saat ini tengah berada di ruang kerja. Tentu saja putranya itu harus memperdalam lagi pengetahuannya tentang bisnis.
Nayaka tidak ingin perusahaan yang ia ambil alih nanti bisa menurun. Bila perlu, Nayaka akan membuat perusahaan itu lebih berkembang lagi. Bersama Fahmi, ia belajar dengan giat, sedangkan Kyomi tidak lagi sekolah karena mereka akan pindah ke Dubai. Nayaka sudah meminta bantuan Angel untuk mengurus surat kepindahan putrinya.
Omar masuk begitu saja, dan Nayaka menghentikan sesi belajarnya ini. "Paman, terima kasih untuk hari ini."
Fahmi keturunan arab, tetapi lancar berbahasa Indonesia karena ayahnya memang berasal dari tanah air dan ibunya dari Qatar.
Nayaka mengangguk. "Ya, aku tidak sabar untuk itu."
"Sudahi belajar kalian." Omar menyela. "Papa ada kabar. Besok, kita makan malam di rumah calon mertuamu. Kau mau Papa melamar langsung Delilah? Kita bisa siapkan dulu hantaran sederhana. Nanti baru diadakan pertunangan yang meriah."
Nayaka terdiam beberapa saat. Lalu, sedetik kemudian ia berkata, "Paman Fahmi, aku perlu bicara pada Papaku."
Fahmi mengangguk. "Ya, saya permisi dulu."
Nayaka baru bicara setelah Fahmi keluar dari ruang kerjanya. Omar mendengarkan, lalu ia keluar begitu saja.
"Kakek kenapa?" tegur Kyomi yang tiba-tiba muncul.
"Kakek sedikit pusing."
"Oh, coba Kyomi periksa. Mungkin Kakek kurang minum jus buah."
Omar tertawa mendengarnya, lalu ia menggendong sang cucu. "Coba periksa."
Kyomi menempelkan telapak tangannya di dahi Omar. "Kening Kakek hangat. Harus cepat minum obat."
__ADS_1
"Iya, Sayang. Ayo, temani Kakek minum obat."
Sementara Nayaka mengusap foto-foto Delilah. Dari gadis itu remaja sampai sekarang. Dari Delilah yang polos sampai pada selalu asal bicara. Penampilan sederhana hingga glamour.
"Hubungan ini harus diperjelas bukan?" Nayaka memencet nomor yang sudah ia hapal betul di luar kepala. "Sudah cukup aku mendiamkanmu."
Telepon tersambung. Tidak lama menunggu, Nayaka dapat mendengar suara dari wanita yang ia cintai.
"Halo!" sapa Delilah.
"Del, ini aku Nayaka."
"Kakak!"
Dari seberang telepon sana, Nayaka dapat mendengar suara Delilah yang berseru. Mungkin juga lega karena dapat mendengar suara kekasihnya.
"Kita alihkan lewat video saja," ucap Delilah.
Nayaka menurunkan ponsel dari daun telinga, lalu mengubah telepon menjadi panggilan video. Ia dapat melihat wajah Delilah di rumah lainnya.
"Kau sengaja mendiamkanku. Kau tidak memberitahu kalau kau sudah menemukan ayahmu. Kau berbohong padaku!" Delilah marah karena Nayaka tidak jujur.
"Bukan begitu, tapi aku memang tidak ingin membicarakannya. Kau tahu hubunganku dengannya, kan? Aku sangat membencinya," ungkap Nayaka.
"Kau tidak pulang ke apartemen. Kau marah padaku? Seharusnya aku yang marah. Kau memukulku."
"Iya, aku tahu. Aku minta maaf." Nayaka berkata dengan lemah lembutnya.
"Kakak harus pulang ke rumah. Aku tunggu nanti malam."
"Besok saja kita bertemu. Sekalian pertemuan keluarga."
"Kau sangat keterlaluan. Kau tidak bilang kau begitu kaya. Kau anak dari Omar Malik Hawwas itu, kan?" Delilah mencoba memastikan lagi.
Nayaka mengangguk. "Iya, aku putranya."
Delilah berbinar mendengar pengakuan itu dari kekasihnya. "Aku tidak sabar untuk besok malam. Pernikahan kita sebentar lagi. Aku ingin kita merencanakannya secara matang."
"Terserah kau saja."
"Baiklah. Kakak jangan khawatir, aku akan urus semuanya. Aku tidak pernah salah memilih kekasih. Kau pengemis yang rupanya seorang jutawan."
Nayaka tersenyum getir. "Kau benar, aku memang seorang pengemis."
__ADS_1
Bersambung