
Kehebohan terjadi di restoran hotel mahal itu. Delilah dan Angel dibawa ke ruang keamanan dan dimintai keterangan.
"Dia mencuri dokumen milik temanku," ucap Delilah. "Aku akan memeriksanya."
"Dia sengaja ingin mencuri barang dalam tasku!" Angel juga tidak ingin kalah.
"Dia wanita berbahaya. Kau bisa menghubungi temanku!" Delilah mengeraskan suaranya.
Petugas keamanan sampai pusing sendiri dibuatnya. Keduanya sama-sama menuduh kalau barang mereka hendak dicuri.
"Nona-nona, tenanglah dulu. Kami tidak bisa bekerja kalau kalian malah bertengkar. Sekarang aku ingin bertanya pada kalian. Apa kalian saling kenal?" tanya petugas keamanan hotel itu.
"Ya, kami saling kenal. Kau bisa lihat di CCTV. Aku datang kemari memang ingin menemuinya. Dia menyembunyikan dokumen pribadi milik teman dekatku. Aku harus memeriksanya."
Angel mengumpat dalam hati. Delilah ini sedikitnya bisa bahasa setempat. Sementara petugas keamanan ini tidak bisa berbahasa Inggris.
"Nona, kami akan memeriksa tas Anda." Petugas pria itu mengambil tas Angel, lalu memeriksa semuanya. Jelas tidak ada di sana karena Angel tidak akan membawa dokumen bersamanya saat di luar. "Tidak ada apa pun, Nona."
"Pasti di dalam kamarnya. Aku yakin itu."
"Kau tidak seenaknya begini, Delilah!" Angel geram ia terus dipojokkan.
Delilah melipat tangan di perut. "Kalau kau tidak menyembunyikan dokumen itu, kau pasti tidak takut untuk menunjukkan kamarmu, kan? Biar kami cari paspor Nayaka. Atau kau mau aku melapor pada pihak berwajib." Delilah terlihat meremehkan. "Siapa yang akan membelamu, Angel? Tidak ada, kau bisa masuk penjara nanti."
Angel mengepalkan tangan. "Aku akan kembalikan dokumennya."
"Nah, seharusnya kau melakukan itu sejak tadi." Delilah menoleh pada petugas itu. "Dia bersedia mengembalikannya, tetapi aku ingin kau ikut juga."
"Baik, Nona."
Karena Angel telah setuju, maka Delilah ikut bersama petugas keamanan menuju kamar yang mantan madunya tempati. Sebuah kamar mewah, dan Delilah yakin jika Angel masih memakai kartu yang diberikan Nayaka. Mengapa ia jadi kesal karena itu? Setelah bertemu Nayaka nanti, ia akan membuat perhitungan.
"Ini, ambil milik suamimu!" ucap Angel.
Delilah mengambil dokumen itu, lalu memeriksanya. "Ini sudah semua. Terima kasih. Apa yang harusnya menjadi milik orang lain, maka kau harus mengembalikannya. Kupastikan, kau tidak mendapatkan apa pun."
"Kau masih terlalu kejam. Nayaka tidak akan membiarkan itu. Dia akan tahu kau yang sebenarnya."
"Aku tidak pernah menyembunyikan siapa diriku di depannya. Tidak seperti kau." Delilah menunjuk Angel. "Kau tahu, kenapa dari saat kecil dulu aku tidak suka kau? Karena aku tahu, kau tidak sepolos penampilanmu."
Setelah itu, Delilah pergi bersama penjaga keamanan. Angel menutup pintu keras. Amarah dalam dada tidak dapat lagi dibendung. Ia hanya bisa melempar tas mahal miliknya di tempat tidur dan menangis di sana.
__ADS_1
Karena dokumen sudah didapatkan, Delilah langsung menghubungi Nayaka. "Lihat ini. Kau tidur dengannya? Milikmu dicuri, kau tidak sadar. Apa batangmu itu sudah karatan? Gatal?"
"Jaga bicaramu, Del."
"Apa perkataanku tidak benar? Dia istrimu."
"Saat aku pulang dari Swiss, aku tidur di kamar kita. Setelah itu kami bertengkar. Aku menceraikannya. Terus aku pindah ke apartemen."
"Lalu, ini bagaimana?" Delilah menunjuk dokumen milik Nayaka. "Papa Omar dan Kyomi sudah pulang."
"Sofwan dalam perjalanan ke sana. Dia akan membawa penjaga lagi."
"Kau pikir aku ini tahanan? Kau akan membuat tetangga sekitar menjadi heran."
"Aku hanya takut saja. Sofwan datang hanya mengambil dokumenku, lalu pulang lagi dengan pesawat malam. Besoknya, aku akan ke Swiss."
"Aku capek melihatmu bolak-balik."
"Ya, mau bagaimana lagi? Aku lakukan ini demi kau dan anak-anak, Sayang."
"Aku tidak ingin kembali bersamamu." Delilah terang-terangan mengatakan itu. Enak saja Nayaka, setelah lepas dari Angel, langsung ingin bersamanya. Delilah bertekad kalau ia tidak akan mudah luluh.
Nayaka menghela. "Aku belum mulai kau sudah menolaknya."
Nayaka tidak bisa berkata apa-apa lagi. Percuma berdebat dengan Delilah. "Aku mau lihat Kanaka."
"Sebentar."
Barulah Nayaka mendengar sahutan lembut dari mantan istrinya. Kanaka, si tampan yang lucu. Nayaka tidak ingin jauh, tetapi apalah daya jika kondisinya memang seperti itu.
Nayaka juga harus menyelesaikan masalahnya dengan Angel. Bicara mengenai mantan istri yang satu lagi, Nayaka diselimuti kemarahan.
Sofwan memang datang hanya untuk mengambil dokumen, lalu ingin kembali lagi ke Bandara tanpa bicara atau makan. Delilah heran sendiri, apa Sofwan ini robot?
"Kau tidak lelah?" tanya Delilah.
"Saya hanya duduk di pesawat, Nyonya."
Delilah mengangguk. "Ya, sudah. Di mana penjaga itu?"
"Mereka akan menginap di sekitar sini. Saya sudah mengirimkan nomor telepon mereka. Nona akan aman."
__ADS_1
"Kau juga tidak perlu khawatir. Aku di sini bersama dua asistenku."
"Tetap saja, Nyonya. Kalau tidak ada apa-apa lagi, saya langsung saja."
Delilah mengiakan. "Hati-hati di jalan."
Dikira Delilah, Nayaka tidak akan datang. Keesokan harinya, saat santai sore menikmati teh melati, Nayaka muncul dengan senyum manisnya.
"Aku datang, kan?" Nayaka memeluk Delilah. Tidak peduli mantannya itu meronta. Mumpung Kyomi juga tidak ikut. Ah, mengapa Nayaka merasa ia bebas sekarang? Ini seperti dulu. Hasratnya akan hidup bangkit. "Sayang, aku merindukanmu."
"Hei, kau ini kenapa?" Delilah mendorong tubuh Nayaka. "Datang, langsung main peluk."
"Aku bersemangat. Aku bebas. Rasanya beban dihidupku lepas."
"Angel masih di sini?" tanya Delilah.
"Aku belum menghubunginya. Aku perlu bicara padanya. Del, aku ingin semua berakhir baik."
Delilah mengangguk. "Aku pun ingin begitu. Kau uruslah dulu masalahmu. Hidup dengan rasa sakit orang lain tidak akan berkah."
Nayaka mencubit kedua pipi Delilah. "Sejak kapan kau menjadi pintar bicara? Kau ini selalu menggemaskan." Entah refleks, kebiasaan, atau sengaja, Nayaka mengecupi wajah Delilah.
"Kakak!" Delilah memukul lengan Nayaka. "Aku bukan lagi adik kecilmu."
"Eh, jadi ingat waktu dulu. Masa kecil kita menyenangkan, bukan?"
"Hanya saat kau bersamaku."
Nayaka mengangguk. "Selalu bertengkar, lalu aku akan menggendongmu di punggung."
"Kita sembunyi dari pengawal Kakekku."
"Andai aku kaya sejak dulu." Nayaka menghela.
"Aku mau bersamamu, meski kau miskin."
"Sekarang aku sudah sukses, kenapa kau menolakku?"
"Aku hanya ingin sendiri dulu."
Ya, mungkin ini lebih baik untuk menentukan lagi ke arah mana perasaan mereka sekarang. Apa ini memang cinta atau kasih sayang antar adik kakak saja?
__ADS_1
Keputusan ini Nayaka terima. Menata hati dulu sembari merawat kedua buah hati mereka. Untuk ini, Nayaka akan membicarakannya lagi pada Delilah.