Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Tuan Muda


__ADS_3

Nayaka tetap mengunakan bahasa Perancis yang membuat Delilah tidak mengerti. Kesal sudah pasti karena ayah dan anak itu begitu lancar bicara, sedangkan ia hanya menjadi seorang penyimak.


"Jangan katakan pada siapa pun jika Kyomi bertemu kakek Omar."


Kyomi mengangguk. "Iya, Papa."


"Kak, pakai bahasa Indonesia saja. Kenapa mesti bicara dengan bahasa asing. Aku tidak mengerti."


"Kyomi tidak apa-apa. Kau jangan khawatir." Nayaka bangkit berdiri, mengusap rambut panjang putrinya.


Tatapan curiga mulai dirasakan Nayaka. Sang kekasih tentulah bukan wanita yang begitu mudah dibohongi. Nayaka mengusap lembut pipi Kyomi, lalu putrinya itu meraih jari telunjuk Delilah.


"Kyomi tidak melihat apa pun, Mama."


Berdesir hati Delilah mendengar ucapan lembut dari Kyomi. "Sayang, Mama tidak bisa jauh darimu." Delilah memeluk Kyomi. "Tidak bisa, Mama harus mencari penjaga untukmu."


"Sudahlah, Kyomi bukan anak pejabat." Nayaka tidak setuju akan itu, bila Delilah benar-benar melakukannya.


"Kakak, tapi ibunya keturunan dari Dion Handoko."


"Kau ini kenapa, sih, Del? Dulu kau tidak begini. Pertama, aku menyukaimu karena kau terlihat sederhana."


"Jangan membahas masa lalu. Lebih baik kita pulang. Ukur bajunya sudah selesai, kan?" Delilah mengalihkan topik.


"Kyomi aku bawa pulang ke rumah sewa. Biar pengasuhnya saja yang menjaga. Dia juga bisa diam di rumah. Toh, Kyomi terbiasa sendiri."


"Kau begini lagi," protes Delilah, tanpa peduli karyawan butik memperhatikan mereka.


"Aku tidak ingin Kyomi menjadi dirimu. Kau selalu saja membanggakan keturunanmu."


Tepat mengenai sasaran apa yang diucapkan Nayaka. Ingin sekali marah, tetapi Delilah tidak mau sampai hubungan ini kembali renggang.


"Aku minta maaf. Biarkan Kyomi bersamaku. Kami akan kembali ke apartemen. Kau juga harus ke kantor, kan?"


Nayaka menatap putrinya. "Kyomi pulang sama Mama. Papa harus ke kantor."


Kyomi cemberut karena tidak bisa pulang bersama sang ayah. Ia melepas tangannya dari Nayaka, lalu beralih pada ibunya.


"Papa tidak akan telat pulangnya."


"Kapan kita jalan-jalan? Papa sudah janji, kan?"

__ADS_1


"Nanti malam, Sayang," sahut Delilah. "Kita ke hotel buat lihat persiapan pameran perhiasan."


"Iya, Kyomi mau."


Pelan-pelan Delilah bisa membuat Kyomi menurut padanya. Ketiganya keluar dari butik. Nayaka yang mengendarai sepeda motor, sedangkan Delilah dan Kyomi berada dalam mobil, menuju perjalanan masing-masing.


Nayaka tidak ke kantor, melainkan mengunjungi hotel. Tempat diselenggarakannya pameran perhiasan milik perusahaan Delano Jewerly.


"Kalian sudah di sini rupanya," tegur Nayaka pada dua rekannya, Mary, dan Sofi.


"Mumpung tim kita berada di sini. Sehabis cek semua, bisa pulang cepat," Sofi menyahut.


"Model Rachel mana?" Nayaka tidak melihat peraga utama yang akan memakai perhiasan perusahaannya.


"Pulang." Mery menyahut. "Tinggal empat model yang lagi latihan."


Nayaka mengangguk. "Begitu rupanya."


"Kenapa?" Mary menatap curiga. "Kau naksir Rachel?"


"Celetukanmu bisa bahaya kalau di dengar."


Mary tertawa. "Kau bisa digantung sama bu Delilah."


Keduanya mengangguk, Nayaka memisahkan diri dari dua rekannya menuju kayu pajangan yang sudah dihias. Etalase juga sudah disusun berdasarkan ukurannya.


"Tuan Nayaka."


Sontak hal itu membuat Nayaka kaget. Ia menoleh ke belakang, matanya membulat melihat sosok tinggi, berlengan kekar yang mengintip dari kaus hitam yang pria itu kenakan.


"Paman Fahmi!"


"Saya di sini, Tuan."


Nayaka melirik kiri dan kanan, lalu melangkah menuju pojok ruang ballrroom agar tidak menimbulkan tatapan mencurigakan dari orang yang tengah bekerja.


"Tadi Omar, dan sekarang kau." Nayaka berkata kesal.


"Anda disuruh pulang, Tuan."


"Aku tidak akan pulang," ucap Nayaka.

__ADS_1


"Tuan Omar bilang harus pulang."


Nayaka mengepal tangan. "Aku menghormatimu karena kau lebih tua dariku. Tapi katakan kepada Omar, aku tidak ingin kembali sekarang. Katakan juga padanya, aku akan menikahi Delilah."


"Tapi Anda harus pulang." Fahmi tetap kekeh agar Nayaka mengiakan permintaannya.


"Dia ingin memukuliku kalau aku tidak pulang?"


"Tuan Omar sudah menyesali semuanya. Jangan lagi mengungkit masa lalu."


"Selama belasan tahun aku terlantar. Ibuku mengemis dan menjual diri demi sesuap nasi. Lalu, dia datang dengan segala harta yang ia punya. Sekarang, tua bangka itu ingin mengekangku." Nayaka tidak dapat menahan emosinya. "Aku tidak akan menuruti perintahnya."


"Anda anak satu-satunya. Tolonglah, Nayaka." Fahmi berkata lembut. "Tuan Omar sudah mendapat karmanya. Dua istrinya tidak bisa mengandung, dan Anda satu-satunya keturunan dari Omar Malik Hawwas."


"Peduli setan dengan nama di belakangku. Aku bukan keturunannya. Katakan padanya, aku akan pulang jika aku menginginkannya."


Nayaka melangkah melewati Fahmi yang cuma bisa mematung memandang anak majikannya pergi. Ia gagal menyakinkan putra tunggal dari Omar Malik Hawwas, pengusaha Real Estate yang terkenal di Indonesia, Dubai dan Amerika.


Nayaka buru-buru keluar hotel. Sepertinya ia tidak akan tenang berada di Jakarta. Omar kembali ke Indonesia setelah memutuskan menetap di Dubai bersama dua orang istrinya.


Pria yang suka menyiksa istri, bermain wanita, kembali mengakuinya sebagai anak. Ke mana Omar selama bertahun-tahun ini. Mengapa baru kembali setelah memberikan Nayaka banyak penderitaan.


Nayaka juga tidak habis pikir. Mengapa pria itu bisa menjadi sukses? Omar menyiksa ibunya karena kondisi keuangan mereka waktu itu tengah terguncang. Nilam meminta cerai dengan dibantu oleh Dion. Rupanya setelah perpisahan itu, malah membuat Omar sukses bukan main. Tapi Nayaka senang karena Tuhan mahaadil. Omar tidak punya keturunan, meski telah memiliki dua istri.


Buru-buru Nayaka menaiki sepeda motornya. Namun, arah pandangnya tertuju pada mobil sedan mewah dengan nomor kendaraan, yang bila dibaca menjadi "Omar".


"Sialan! Dia benar-benar mengikutiku," decak Nayaka.


Kaca mobil itu turun menampilkan seorang pria keturunan timur tengah. Mata cokelatnya tajam, alisnya tebal, hidung mancung dengan bentuk wajah tegas. Ketampanan itu masih terpancar, tetapi dibalik sosoknya, ada sisi kejam. Suka menyiksa istri dan anak.


Nayaka tidak mau mempedulikan ayahnya sendiri. Langsung saja ia mengendarai sepeda motornya, melewati mobil mewah itu begitu saja.


Omar menghela napas ketika melihat putranya pergi begitu saja tanpa menghampiri dirinya dulu. "Dia masih marah padaku."


Fahmi masuk dalam mobil yang sama dengan atasannya. Ia merasa tidak enak telah gagal menyakinkan Nayaka untuk pulang.


"Tuan muda bilang, akan pulang kalau waktunya tiba. Dia juga bilang akan menikahi nona Delilah dulu," ucap Fahmi.


"Dia masih ingin berpura-pura. Sampai kapan dia akan tunduk pada gadis itu." Omar memijat keningnya. Entah bagaimana pikiran Nayaka yang selalu ingin berada di bawah kendali seorang Delilah. "Kau sudah mencari tahu cucuku tinggal di mana?"


"Masih di apartemen. Mungkin tidak akan kembali ke rumah itu. Kyomi lebih banyak bersama tuan Reyhan."

__ADS_1


"Aku jadi susah menemuinya kalau begitu."


Bersambung


__ADS_2