Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Memulai Dari Awal


__ADS_3

Air mata Angel sama sekali tidak membuat Nayaka luluh. Keduanya bertemu di restoran, tempat sang mantan menginap. Kesal sudah pasti lantaran perbuatan Angel. Namun, Nayaka memakluminya. Ia masih memberi kesempatan untuk sang mantan.


"Aku tidak ingin bermusuhan, Angel. Tapi kenapa kau mau membuat masalah denganku?"


"Aku tidak terima keputusanmu." Angel masih berharap pernikahannya bisa diselamatkan.


"Bagaimanapun kau harus menerimanya. Ini bukan dirimu, Angel. Aku seolah tidak mengenal sahabatku lagi." Nayaka mengulurkan map merah di hadapan Angel. "Buka lah."


"Kau ingin memberiku uang karena telah mencampakkan diriku?"


"Pikiranmu yang mengatakan itu. Aku memberimu sedikit uang bukan karena aku mencampakkanmu, melainkan karena kita pernah menjadi suami dan istri. Aku ingin kau menjalani hidup baik di luar sana. Kau bisa bahagia tanpa diriku, Angel. Aku memberimu satu unit rumah, dan uang 3 Milyar. Kuharap itu cukup untuk kau melanjutkan hidup."


Angel memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak memandang ataupun membuka isi map itu. Nayaka pun tidak ingin memaksa, yang penting, ia sudah memberi.


Nayaka bangun dari duduknya. "Maafkan aku, Angel. Semoga kau mendapatkan pria yang mencintaimu apa adanya."


Nayaka berlalu begitu saja. Tanpa diperintah, air mata menetes dari pelupuk mata Angel. Sakit hati, tidak terima, tentu saja ia rasakan. Namun, apa ia harus memaksakan kehendak? Sementara Nayaka saja sudah terang-terangan tidak ingin bersamanya. Yang bisa dilakukan hanya menerima ini dengan ikhlas.


Angel meraih map yang berada di atas meja itu. Ia membuka, membaca sebentar, lalu menutup kembali. Kemudian, Angel bangun dari duduknya, lalu beranjak dari sana. Ia akan ambil semua apa yang telah Nayaka berikan.


Lega rasanya telah menyelesaikan masalah dengan Angel. Kini, Nayaka benar-benar seorang duda. Ia tidak terikat pada wanita mana pun. Namun, hatinya masih tertaut pada Delilah. Sang mantan istri yang tidak ingin kembali bersamanya.


"Mau apa?" Delilah berdiri di depan pintu sembari berkacak pinggang.


"Mau masuk, Sayang. Aku sudah menyelesaikan urusanku dengan Angel. Aku duda sekarang."


"Oh, jadi, kau ingin menikah lagi?"


"Tentu saja. Tapi bersamamu. Ayo, kita nikah lagi."


Delilah menggeleng. "Aku tidak cinta padamu lagi."


"Kau yakin?"


Delilah menatap Nayaka lekat. "Aku akui kau ada di hatiku. Tapi aku tidak ingin menikah. Untuk saat ini. Setidaknya sampai beberapa tahun kedepan."


"Apa?" Nayaka kaget mendengarnya. "Beberapa tahun kedepan?"


"Iya. Aku ingin berkarier dulu. Kalau kau ingin mendapatkanku, maka lepaskan semua yang kau miliki sekarang. Mulai dari awal lagi. Tunjukkan kalau kau bisa berhasil dengan usahamu sendiri."


Nayaka menghela. "Dulu, aku harus bekerja di tempatmu supaya aku tidak perlu merangkak naik jabatan. Sekarang, di saat aku langsung menjadi atasan, kau menyuruhku mengulangnya dari bawah lagi."


"Aku hanya tidak ingin ada gosip yang mengatakan kalau kau kaya karena ayahmu. Aku ingin kau berusaha sendiri."


"Baiklah. Jika itu kemauanmu, aku ikut saja."


"Kau harus bekerja keras."

__ADS_1


"Aku akan berusaha. Tapi, aku mohon padamu. Izinkan aku masuk. Aku akan tidur di mana?"


"Kau bisa tidur di hotel. Uangmu, kan, banyak."


"Nah, siapa tadi yang bilang kalau aku harus memulai hidup dari awal lagi? Kau bilang, aku harus melepas semua. Aku tidak punya uang, dan ini adalah negara orang. Kau ingin aku tidur di jalan?"


Terjebak oleh ucapan sendiri. Nayaka begitu licik. Mau tidak mau Delilah mengizinkannya masuk ke dalam rumah.


"Sayang, aku belum makan. Kau siapkan aku makan, ya?" Nayaka tersenyum ketika mengatakannya.


Delilah mendengkus. Tapi, ia tetap berjalan menuju dapur, menyiapkan makanan untuk Nayaka.


"Hanya ada salmon panggang, sayur dan roti."


"Tidak masalah. Aku suka apa yang kau berikan. Lagi pula lidahku, terbiasa makan, makanan barat."


Delilah meletakkan piring berisi makanan pada sang mantan, lalu duduk. "Apa yang kau berikan pada Angel?"


"Uang dan rumah."


"Berapa jumlahnya?"


Nayaka tidak jadi menyuap makanan. Ia memandang Delilah. "Hanya sedikit."


"Berapa?" Delilah terus mendesak.


"Fantastis."


"Kau tidak setuju?"


"Bagiku itu biasa saja."


"Aku bilang padanya untuk berpisah baik-baik. Dia sahabatku, Del."


"Tidak ada sahabat sesama lawan jenis."


"Kau benar. Aku pun tidak setuju kau berteman dengan lawan jenis."


Delilah tahu kalau Nayaka menyindirnya. "Sudahlah. Jangan lagi membahasnya. Aku ingin ke kamar."


"Aku tidur bersamamu."


"Aku tidak ingin hamil di luar nikah lagi. Kau tidur di luar."


Nayaka tergelak mendengarnya. "Kita nikah, yuk!"


"Dalam mimpimu saja," sahut Delilah.

__ADS_1


Tentu saja, Omar tidak setuju pada keputusan Nayaka yang secara tiba-tiba ingin pindah ke Inggris menemani Delilah. Terlebih, Nayaka memutuskan untuk memulai bisnis baru.


"Papa tidak mengerti. Lalu, apa gunanya ini semua? Aku baru saja menemukan pewarisku, tapi kau malah ingin pergi," kata Omar.


Ini sebuah berita yang mengejutkan. Nayaka baru pulang dari Swiss, dan langsung memberitahu kalau ia akan pindah bersama Kyomi ke Inggris. Mereka akan tinggal di sana bersama Delilah dan Kanaka.


"Dua tahun. Aku janji dalam dua tahun bisa membesarkan namaku sendiri. Aku tidak ingin keberhasilanku nantinya disangkutpautkan dengan namamu."


"Kau sudah dibutakan cinta, Nak."


"Aku memang mencintainya. Apa pun yang Delilah ingin aku lakukan, maka aku akan menurutinya."


Omar mengembuskan napas. Mau dilarang, juga Nayaka tidak akan mengurungkan niatnya itu. Nayaka akan tetap pada keputusannya.


"Baiklah. Kau lakukan apa yang kau suka. Jika dalam dua tahun, kau tidak mewujudkan impianmu itu, maka kau harus pulang," ucap Omar.


Nayaka mengangguk. "Iya, aku akan kembali ke Dubai."


Dua bulan yang melelahkan bagi Nayaka. Ia harus menyelesaikan semua pekerjaan karena di usia Kanaka yang akan menginjak ke tiga bulan, mereka akan pindah.


Nayaka juga menyiapkan apartemen untuk mereka. Lalu, kepindahan sekolah Kyomi. Untung sang putri turut senang dengan kepindahan kali ini lantaran dekat dengan sang adik.


Dalam waktu dua bulan itu juga, Nayaka tidak berkunjung ke Swiss. Ia ingin menghemat waktu. Kerinduan pada sang buah hati harus di tahan. Delilah dan Nayaka sama-sama berjanji akan bertemu di Inggris pada hari yang telah ditentukan.


"Jadi, kau akan pindah ke Inggris?" tanya Dareen.


Kyomi mengangguk. "Iya. Aku akan tinggal bersama ibu dan adikku. Keluarga kami lengkap sekarang."


"Bagaimana dengan les musiknya?"


"Aku bisa les di sana."


"Kau akan meneleponku, kan?"


"Aku tidak janji. Anak kecil tidak boleh menelepon."


"Aku bahkan bisa menelepon panggilan darurat saat ibuku terjatuh di kamar mandi."


Kyomi menepuk pundak Dareen. "Kau tenang saja. Aku akan meneleponmu. Kami juga akan sering kemari."


Dareen tampak kecewa karena Kyomi harus pindah sekolah. Ayahnya masih tugas di Dubai, dan mungkin mereka akan menetap di negara ini selamanya.


Dareen berjalan mendekat, lalu mengecup pipi Kyomi. "Aku akan merindukanmu."


Kyomi melotot.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2