
Perintah Nayaka, sama sekali tidak dipatuhi oleh Delilah. Ia tetap kembali dengan kesenangannya. Berpesta bersama para teman satu kelompoknya, lalu jalan bersama Ashraf.
Bahkan Delilah menjadi terkenal di dunia maya. Ia selalu memamerkan kegiatannya itu melalu media sosial. Ia menjadi wanita terkenal, dan beberapa situs berita gosip online mulai mengulas tentang siapa dirinya.
Banyak juga beberapa produk yang menginginkan Delilah sebagai bintang iklannya. Wanita itu lupa akan resepsi pernikahan, bahkan Delilah mengundurkan acara itu secara sepihak.
"Kau mau ke mana lagi?" tanya Nayaka. "Ini weekend. Kau harus di rumah."
"Aku harus kerja. Ada sebuah brand lokal yang jauh-jauh kemari ingin aku mempromosikan produknya."
"Kau kurang apa, sih, Del? Tidak cukup uang bulanan yang kukasih?"
"Ini bukan masalah itu. Aku ingin berkarier juga. Jadi selebgram itu sangat menyenangkan, Kak."
"Sebagai suamimu, aku melarang kau keluar. Kau tidak boleh bekerja!" Nayaka meninggikan suaranya.
"Kau ingin mengekangku?" Delilah menatap tajam suaminya. "Bukan hanya kau yang ingin sukses. Aku juga. Kau jangan egois!"
"Egois, kau bilang?" Nayaka menggeleng. "Kau lupa pada anak dan suamimu."
"Kyomi sudah ada yang menjaga dan dia sudah besar. Jangan selalu merepotkanku."
Nayaka terdiam, bagaimana ia menjelaskan semua ini kepada istrinya? Bukan menjaga, tetapi perhatian yang harus diberikan Delilah pada Kyomi dan dirinya. Nayaka seperti hidup tanpa seorang pendamping. Tidak ada lagi baju ganti, sarapan atau makan malam yang disiapkan oleh istrinya itu.
"Aku pergi dulu."
"Kau akan pulang malam lagi?" Nayaka mengepalkan tangannya.
Delilah mengembuskan napas panjang. "Aku memang sudah menikah, tetapi aku tidak ingin kehilangan moment masa mudaku."
Setelah mengatakan itu, Delilah meraih tasnya, lalu keluar dari kamar. Bertepatan dengan Kyomi yang memang ingin ke kamar orang tuanya.
"Mama mau pergi lagi?" tanyanya.
"Hanya sebentar, Sayang."
"Tapi, Mama. Hari ini Kyomi ada pertunjukkan musik."
Ya, Delilah baru ingat jika Kyomi akan mengisi acara di sebuah mal. Tempat les-nya berpartisipasi untuk acara itu. Lagi pula hanya pertunjukkan seni biasa untuk amal.
"Mama lagi sibuk, Sayang. Sama Papa saja." Delilah mengecup kening putrinya, lalu beranjak pergi.
Wajah Kyomi berubah cemberut. Ia ingin Delilah datang dan menunjukkan semua keterampilan yang sudah ia kuasai.
__ADS_1
"Sayang!" Nayaka menegur.
"Kyomi enggak mau ikut pertunjukkan itu."
"Kenapa?"
"Pokoknya enggak mau!"
"Enggak mau tunjukin ke Papa kalau Kyomi sudah pandai main piano?"
Kyomi menggeleng. "Kan, Papa sudah tahu."
"Kan, Papa belum lihat penampilan Kyomi. Ayo, ikut. Kan, pertunjukkan itu untuk amal. Teman-teman Kyomi yang lain sangat membutuhkan bantuan. Kyomi harus tampil."
Anak itu mengangguk. "Iya, Kyomi bakal tampil."
"Sekarang siap-siap saja. Nanti Papa antar.
Semangat yang tadi luntur, kembali bangkit. Kyomi berlari menuju kamar tidurnya untuk berganti pakaian. Sementara Nayaka, masuk kamar, lalu menelepon Sofwan.
"Kirim orang untuk memata-matai istriku."
"Baik, Tuan Muda."
Aroma alkohol, parfum pria, dan seringnya Delilah sibuk bersama telepon genggamnya. Pulang yang selalu larut malam, itu semua mengarah pada pikiran buruk.
Sungguh Nayaka ingin percaya, jika Delilah pastilah bisa menjaga diri. Tidak akan mungkin istrinya itu membiarkan pria lain menyentuhnya.
Namun, kebiasaan ini sudah kelewat batas. Bahkan, Delilah sengaja mengundurkan resepsi pernikahan mereka, dan beralasan jika itu hanya buang uang saja. Mereka sudah menikah, dan itu sudah cukup.
Alasan itulah yang membuat Nayaka curiga. Wanita seperti istrinya rela membatalkan resepsi mewah mereka. Pasti ada sesuatu dibalik itu. Nayaka ragu jika ini masalah kerjaan istrinya yang ingin meniti karier sebagai artis dunia maya.
Memang benar ada pemotretan sebuah produk kecantikan kulit yang ingin memakai Delilah sebagai bintangnya. Tapi itu di laksanakan pada sore hari, dan sekarang ia berada di apartemen Ashraf.
"Ada apa kau memanggilku kemari?"
"Ini sudah satu bulan kita bersama. Kenapa kau tidak mau menerimaku?" ucap Ashraf.
"Aku menunda resepsi pernikahan karena dirimu. Apalagi?"
"Kau tinggalkan Nayaka. Aku bisa berikan apa pun padamu. Aku lebih dari dia. Kau tahu itu, Del."
"Kau ingin aku meninggalkan suamiku? Itu tidak mungkin, Ashraf. Sudahlah, kalau kau terus begini, aku tidak ingin berteman denganmu."
__ADS_1
"Aku ingin menikahimu."
"Tapi aku tidak bisa," ucap Delilah. "Aku tidak ingin membahas ini. Lebih baik aku pergi saja."
Ashraf berdecak. Entah pakai jurus apalagi agar ia bisa mempersunting wanita ini. Delilah. Namanya sangat cocok sebagai wanita yang memiliki kecantikan luar biasa. Mampu membuat pria tergila-gila padanya.
"Aku ingin bersamamu siang ini. Biar aku temani kau."
Delilah mengangguk. "Ya, aku suka itu. Kau mendukungku."
Ashraf mendekat, ia meraih dagu Delilah, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di bibir.
...****************...
Semakin dibiarkan, Delilah bebas. Bahkan, Nayaka sampai menitipkan Kyomi di rumah sang ayah lantaran kondisi rumah tangganya yang tidak sehangat dulu.
Delilah tetap pulang, meski itu larut malam. Ketika wanita itu bangun, Nayaka sudah pergi. Lalu, ketika Delilah pulang, suaminya sudah tidur.
Tidak ada ocehan Nayaka tentang ini dan itu. Ia membebaskan Delilah untuk melakukan apa pun. Mau itu berkumpul bersama teman, mabuk, Nayaka tidak protes sama sekali, bahkan sudah seminggu terakhir keduanya puasa bicara.
"Sofwan, kau sudah dapat kabar dari orang yang kusuruh memata-matai istriku?" Sudah seminggu, Nayaka tidak sabar untuks mengetahui aktivitas istrinya di luar.
Sofwan ragu untuk bicara. Tapi, fakta ini harus segera dibeberkan. "Maaf, Tuan. Ini foto-foto yang diberikan oleh pria yang kita suruh, dan ini juga ada rekamannya."
Nayaka mengambil amplop cokelat itu. Tanpa ragu, ia membuka dan mengeluarkan isinya. Foto-foto Delilah bersama teman-temannya serta beberapa foto yang membuatnya membelalak.
"Kelab mana ini?" tanya Nayaka.
"Dream Night." Sofwan menjawab.
"Tinggalkan aku sendiri."
Buru-buru Sofwan keluar dari ruang kantor. Nayaka masih memandangi potret mesra istrinya bersama seorang pria yang ia kenal.
"Begini kerjaanmu di luar." Nayaka berucap lirih.
Selain foto dan rekaman, Nayaka sendiri ingin menyaksikan langsung perbuatan istrinya. Malamnya, ia mendatangi kelab yang dikatakan Sofwan karena tiap hari, Delilah berkunjung ke sana bersama Ashraf.
Suara musik berdengung. Nayaka menunjukkan kartu VVIP yang ia dapat dari Sofwan. Memang kelab ini untuk kalangan atas. Tidak heran kalau Delilah sangat suka berada di dalamnya.
Nayaka melepas topinya. Ia mengedarkan pandangan ke arah lautan manusia yang tengah berpesta. Nayaka mencoba mencari posisi istrinya ke arah meja yang berjejer, dan di meja paling pojok, ia melihat Ashraf yang mengangkat tubuh Delilah agar bisa berpangku padanya. Lalu keduanya saling berpelukan dan menyatukan bibir.
Bersambung
__ADS_1