
Kebetulan sekali, ketika Angel sudah pergi, Nayaka pun datang. Sedikit merepotkan memang, apalagi bertemu dengan Angel. Tapi, mau bagaimana lagi? Nayaka harus bicara pada mantan istrinya. Ia akan berikan apa pun sebagai bayaran untuk luka hati yang ia sebabkan.
"Selamat datang, Tuan." Para pelayan memberi hormat pada Tuan Muda mereka.
"Panggilkan Angel kemari." Nayaka langsung duduk di sofa.
"Nyonya ...."
Nayaka mengangkat tangannya. "Aku tidak sempat memberitahu kalian. Dia bukan Nyonya di rumah ini lagi. Aku dan Angel sudah berpisah."
Pelayan saling lihat dalam pandangan bertanya-tanya. Kapan majikan mereka berpisah? Rasanya keduanya baik-baik saja. Memang Nayaka pergi kemarin tanpa sarapan. Lalu, tidak pulang sampai pagi ini mereka kembali melihat majikannya. Kemudian, Angel juga keluar dengan koper di tangan semalam, dan sekarang Nayaka tiba dan mengatakan hal yang membuat semuanya kaget.
"Nona Angel bilang, dia mau liburan keliling Eropa untuk menenangkan diri."
Kening Nayaka berkerut, lalu ia memandang si pelayan wanita. "Apa kau bilang?"
"Nona Angel pergi liburan ke Eropa."
"Kapan?" Nayaka benar-benar kaget mendengarnya.
"Kemarin sore, Tuan. Nyonya pergi dan mengatakan ingin liburan."
"Sialan! Eropa?" Nayaka tidak dapat lagi membendung ucapannya. Ia segera bangun dari duduknya, lalu ke kamar utama.
Mendengar itu, Nayaka terpikir pada satu orang, yaitu Delilah. Mungkinkah Angel akan menemui Delilah? Nayaka tidak ingin itu terjadi. Pertama, ia takut karena sakit hati, Angel melukai Delilah, dan begitu pula sebaliknya. Mungkin bagus bila Angel dan Delilah bertemu. Setidaknya, Delilah akan tahu jika ia telah berpisah dari istri kedua.
Entahlah. Apa pun itu, Nayaka ingin segera menemui Delilah. Ia takut Angel bicara yang tidak-tidak, lalu membuat Delilah tidak ingin bersamanya lagi.
"Di mana tasku?" Nayaka mencari tas yang menyimpan dokumen keberangkatan luar negeri. Ia tidak membawa itu ke apartemen.
Nayaka mengobrak-abrik kamar, lalu memanggil semua pelayan yang membereskan ruangan untuk mencari tas miliknya. Di mana dokumen itu? Kan, tidak mungkin hilang begitu saja.
"Kami tidak menemukannya, Tuan." Pelayan takut bila Nayaka marah, tetapi tas milik Nayaka memang tidak ada.
"Tuan, ini tasnya!" Pelayan wanita bergegas menyerahkan tas itu.
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Nayaka.
"Di bawah tempat tidur Nyonya, eh, Nona Angel."
Nayaka mengambil tas itu, lalu membukanya. Ia mengumpat. Emosinya memuncak. Hanya ada kertas biasa di sana. Dokumennya hilang, dan Angel pasti mengambilnya atau menyembunyikannya. Sekarang, bagaimana ia harus menemui Delilah di Swiss? Mengurus dokumen itu tidak bisa dalam satu jam.
"Bagaimana ini?" Nayaka hilang akal. Sungguh di saat begini, otaknya tidak bisa berpikir. "Telepon Delilah!"
__ADS_1
Namun sayang, panggilan video itu tidak tersambung. Aplikasi media dengan logo gagang telepon milik Delilah, tidak aktif.
"Ke mana lagi, Delilah?" Nayaka memijat keningnya. Secepatnya Nayaka mengetik sebuah pesan untuk ibu dari anaknya. Ia juga menghubungi Omar untuk menyampaikan pesan, tetapi tidak kunjung tersambung. Hanya ada centang satu. "Apa mereka dalam perjalanan pulang?"
Memang benar. Kyomi dan Omar dalam perjalanan pulang. Bukan hanya Kyomi, tetapi keluarga Reyhan dan Diki juga.
Pagi hari yang sibuk untuk Delilah. Omar ingin pulang karena sorenya akan ada acara. Tadinya Delilah ingin menahan Kyomi, tetapi putrinya harus sekolah.
Sementara keluarga Reyhan, ingin menuju Inggris untuk liburan bersama. Sayang sekali, Delilah tidak bisa ikut. Kanaka masih terlalu kecil untuk dibawa.
"Tiba-tiba saja menjadi sepi," ucap Delilah, saat ia telah melepas kepergian putri dan keluarga. Memang rombongan Omar dan Reyhan pergi bersama-sama ke bandara. Pesawat pribadi mereka berada di sana dengan sewa tempat yang cukup menguras kantong. Tapi tidak untuk para konglomerat itu.
Delilah meraih ponsel miliknya. Ketika ingin membaca chat masuk, telepon dari nomor baru muncul. Langsung saja ia mengangkatnya, lalu bicara.
Telepon diputus. Delilah bangun dari duduknya. "Mbak Santi!"
"Ya, Nona."
"Aku titip Kanaka sebentar. Susunya ada di dalam freezer. Kau tahu cara menghangatkannya, kan?"
Santi mengangguk cepat. "Iya, Nona."
"Aku mau pergi sebentar."
Delilah mengiakan. Tapi, kamera tetap ia hidupkan untuk memantau si kecil Kanaka. Delilah berganti baju, merapikan rambutnya, lalu pergi dengan tas ransel di pundak.
Ia akan pergi dengan kereta bawah tanah untuk menuju tempat yang telah si penelepon janjikan. Delilah tertawa dalam hati. Sepertinya ini akan jadi hal yang paling menarik dalam hidupnya.
Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke pusat kota Zurich. Delilah menuju hotel bintang lima yang ada di sana. Ia menatap sebentar penginapan mewah itu. Di sini, ia akan menemui istri sultan.
Tas bermerek tergeletak di atas meja. Kacamata besar bertengger di hidung. Baju, perhiasan, serta sepatu yang melekat semua keluaran dari mode ternama.
Bukan ingin mengejek, tetapi apa harus sampai dipamerkan. Angel pasti menginap di hotel ini. Lalu, untuk apa tas itu ia tenteng? Cukup dengan clucth saja. Lalu, kacamata besar itu, cukup dinaikkan di atas kepala agar terlihat elegan. Kemudian baju bulu-bulu itu. Angel ini mau berlenggak-lenggok di mana?
"Oh, aku bertemu istri sultan rupanya." Delilah langsung saja duduk di kursi hadapan Angel.
Kacamata hitam dengan frame besar itu dibuka. Angel tersenyum memandang Delilah, dan ia memperhatikan penampilan mantan madu yang tidak seperti biasanya.
"Kau bisa masuk kemari?"
"Ada yang aneh kenapa aku bisa kemari? Orang di sini, bisa melihat seseorang itu kaya dari wajah dan seberapa keren pembawaannya." Delilah memperhatikan Angel. "Kau terlalu norak berpenampilan begini. Kau lihat orang di sekitarmu. Mereka berpenampilan biasa saja. Tapi, jangan salah, kantong mereka tebal semua."
"Mulutmu ini tidak pernah berubah."
__ADS_1
"Dari mana kau dapat nomorku, dan untuk apa kau menemuiku?"
Jelas Angel sudah merencanakan ini sejak Nayaka mengatakan akan kembali ke Swiss saat acara Kanaka. Angel menyalin nomor Delilah, dan mempersiapkan dokumen keberangkatan ke luar negeri.
"Aku ingin bicara padamu."
"Kau sudah bicara," ucap Delilah.
"Sesama wanita, Delilah. Aku minta padamu, kembalikan suamiku."
Delilah terdiam mendengar ucapan Angel. Ia mengerjap beberapa kali, lalu tertawa, dan membuat pengunjung menoleh padanya.
"Astaga!" Delilah menggeleng. "Katakan sekali lagi?"
"Aku minta kembalikan suamiku. Nayaka suamiku!"
Delilah membuka tas ransel, lalu mengambil compact powder. Ia membukanya. "Ini, kau lihat wajahmu di kaca ini. Aku tidak membawa cermin besar, tapi kurasa ini cukup." Bedak itu ditutup. "Sebelum kau bicara, apa kau sudah berkaca? Pantas kau bicara begitu padaku?"
"Kalian sudah berpisah. Kenapa kau menganggu kehidupan pernikahanku, Delilah?"
"Pertanyaan itu kukembalikan padamu. Kenapa kau masuk ke dalam rumah tanggaku? Sesama wanita, aku ingin kau mengembalikan suamiku. Teman kecilku. Kekasihku. Kembali semuanya!" Delilah menatap tajam Angel.
Angel terkesiap mendengar itu. Delilah tersenyum penuh arti. Lucu, sangat lucu. Bahkan ini hal paling konyol yang Delilah alami sepanjang hidupnya.
"Aku minta padamu, Angel. Segera tinggalkan rumahku. Sudah cukup aku membiarkanmu berada di sana."
Angel tersentak. "Apa maksudmu?"
Delilah tertawa meremehkan. "Apa perlu keberitahu faktanya? Kau wanita paling tidak tahu malu yang pernah kukenal. Suami apa yang kau maksud, hah? Nayaka sudah menceraikanmu."
"Itu tidak benar!" Angel menyangkalnya.
Delilah menggeser ponselnya untuk panggilan video. Ia tersenyum. "Halo, Sayang. Mantanmu ada di sini. Bersamaku."
Ponsel itu diarahkan kepada Angel, dan di sana Nayaka berada dalam keadaan marah.
"Di mana dokumen keberangkatanku, Angel? Kau menyembunyikannya."
"Tenang, Sayang. Aku akan mencarinya."
Delilah sigap mengambil tas Angel, dan memeriksanya. Angel berteriak meminta tolong.
"Sialan!" umpat Delilah.
__ADS_1
Bersambung