Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Persalinan


__ADS_3

Reyhan memandang lekat sang adik yang tengah hamil tua ini. Mana penampilan Delilah yang glamour itu. Sekarang, ia melihat adiknya memakai kaus kebesaran yang dilapisi dengan jaket rajut. Bukan dress yang bermerek.


Sepertinya Delilah juga tidak lagi mengurus dirinya. Rambut yang disanggul sembarangan. Wajah polos tanpa polesan make up, dan tubuhnya yang tetap langsing, meski tengah mengandung.


"Sepertinya aku salah tempat. Aku mencari adikku yang kaya raya, bukan wanita miskin seperti di hadapanku ini."


"Kakak!" Delilah berhambur memeluk Reyhan. "Maafin, Delilah."


"Ayo, kita masuk dulu."


Keduanya masuk rumah. Reyhan menggeleng melihat betapa berserakannya kediaman sang adik. Dulu, ada Nayaka yang selalu membereskan rumah ketika mereka tinggal di Inggris dan Paris. Sekarang Delilah tinggal sendiri, dan dalam kondisi hamil, ia malas untuk berbenah.


"Kenapa Kakak bisa tahu aku di sini?"


"Kau menelepon Andy dan minta dikirimkan uang. Kau ini tidak menganggapku Kakak?"


Delilah mendengkus. "Om Andy tidak bisa menjaga rahasia. Uang tabungan persalinanku mungkin tidak akan cukup, makanya aku minta dikirimkan uang."


"Kita pulang saja ke Indonesia. Kalau di sini, siapa yang akan mendampingimu?"


"Tapi aku suka di sini."


"Beberapa bulan lalu, Nayaka datang ke rumah. Dia mencarimu."


Delilah terdiam mendengarnya. Ia juga baru mendengar suara dari sang mantan suami. "Aku tidak ingin membahasnya."


"Mungkin dia akan kemari sebentar lagi. Nayaka masih saja mematai-matai rumah."


"Untuk apa lagi dia mencariku? Dia juga sudah punya Angel."


"Untuk Kyomi."


"Aku tidak ingin menemuinya sebelum anak ini lahir. Aku tidak ingin dia mengambil anakku lagi." Delilah merasakan kontraksi pada perutnya. "Kok, sakit, sih?"


"Itu anak siapa?" tanya Reyhan.


"Kakak!" Delilah menegur. "Kau pun tidak percaya padaku?"


"Apa harus? Kalau aku jadi Nayaka, juga berpikiran aneh. Kau ini kurang apa, sih, Del? Sampai berselingkuh begitu." Saking penasarannya, Reyhan pun tidak tahan untuk bertanya.


"Aku salah, Kak. Tapi anak yang kukandung adalah anak Nayaka. Aku tidak tidur dengan pria lain selain dirinya."


"Kau sendiri yang membuat pernikahanmu hancur. Aku tidak ingin membelamu atau membela Nayaka. Kalian memang sepatutnya berpisah."


"Sudahlah, Kak. Aku tidak ingin membahas ini. Tapi terima kasih karena Kakak telah datang kemari." Delilah sekali lagi memeluk Reyhan. "Aku minta maaf atas kesalahan yang lalu."


"Enak saja."


Delilah mengangkat kepalanya. "Kakak tidak mau memaafkanku?"


"Nanti, deh, dipikirin dulu."


Wajah Delilah cemberut. "Ayolah, demi keponakanmu sendiri."


Reyhan menghela napas. Ia tidak suka mengingat kekerabatan asli ini. Ia cocok menjadi kakek, dan bukannya seorang paman. Sampai akhir pun, Dion tetap menyiksanya dengan status ini.

__ADS_1


"Kita jalan-jalan saja. Kau beli lah barang yang kau butuhkan. Aku harus menyuruh seseorang untuk menemanimu di sini."


"Kak, aku tidak ingin Nayaka kemari."


"Tenang saja. Nayaka tidak akan kemari," ucap Reyhan sembari mengusap puncak kepala sang adik.


"Setelah anak ini lahir, aku berencana untuk pindah lagi. Mungkin ke Denmark. Di sana juga negaranya indah."


"Kau tidak ingin kembali ke Inggris?"


"Nanti, setelah anakku sedikit besar."


Sementara di negara lain, Angel tengah menanti hari-hari menjelang persalinannya. Kamar bayi sudah dipersiapkan dan tentu saja Angel tidak ingin kekurangan satu apa pun. Ia juga berhak memberi barang bagus untuk sang buah hati.


"Kau masih marah, Sayang?" Angel menegur anak tirinya.


"Tidak. Hanya kesal saja."


"Sayang, kita makan dulu. Dari tadi kau duduk menghadap telepon. Ayo, Mama sudah buatkan makanan kesukaanmu."


"Kyomi mau di sini," ucapnya sembari memainkan koleksi batu permata sang ayah yang ia ambil dari kamar utama.


"Kyomi, kau belum makan. Papamu akan marah nanti." Angel merebut toples kaca dari tangan anak tirinya, dan membuat beberapa batu permata itu terjatuh. "Kau tahu, kan? Papamu akan marah bila kau memainkan ini."


"Yah, Mama! Permatanya jadi jatuh."


Angel menggeleng. Benar-benar ibu dan anak. Kyomi juga seperti ibunya. Akhir-akhir ini, anak itu tidak lagi menuruti kata-katanya. Selalu saja ada bantahan dari bibir Kyomi.


"Biar Mama simpan permata ini. Kau pergi lah ke ruang makan. Mama akan panggil Papa di ruang kerja."


Angel berteriak kesakitan. "Nayaka!"


"Mama Angel!"


"Sakit sekali."


Kyomi lekas berlari. "Tolong! Papa!" teriaknya.


Pelayan segera menghampiri sang majikan, dan Nayaka yang mendengar teriakan Kyomi, keluar dari ruang kerjanya.


"Kyomi, ada apa?"


"Mama Angel, Papa."


Nayaka segera berlari menuju pada pelayan yang juga ikut menghampiri Angel. "Ada apa ini?" Nayaka kaget ketika melihat noda merah mengucur di sela kaki istrinya. "Cepat siapkan mobil!"


"Nayaka ... anak kita."


"Tidak akan terjadi apa-apa pada anak kita."


Nayaka segera mengangkat istrinya dengan dibantu oleh pelayan. Sopir sudah siap sedia. Angel dibawa masuk mobil bersama Nayaka, dan sopir segera mengendarainya menuju rumah sakit.


"Cepatlah!" perintah Nayaka.


"Nay, aku takut."

__ADS_1


"Tenanglah, Angel."


Nayaka juga berharap tidak akan terjadi apa-apa pada istri dan bayinya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa bisa Angel ini terduduk di lantai. Jika ini keteledoran pelayan, maka ia akan memberinya pelajaran.


"Sakit, Nay. Sepertinya aku akan melahirkan."


"Iya, tenang dulu, ya. Kita akan segera sampai rumah sakit."


Kembali Nayaka memerintahkan sopir agar mempercepat laju kendaraannya. Ini adalah anak laki-laki pertama, dan pewarisnya. Jangan sampai terjadi sesuatu hal.


"Kak, pinggangku sakit."


Delilah menghentikan langkah Reyhan. Saat ini keduanya tengah berada di jalan pertokoan untuk melihat-lihat.


"Kita istirahat dulu."


Delilah semakin meringis sakit. "Sakit, Kak."


"Kau ingin melahirkan atau apa?"


Delilah menggeleng. "Waktunya masih sekitar satu bulanan lagi. Sudah hilang sakitnya."


Keduanya melanjutkan perjalanan kembali. Lagi-lagi Delilah merasakan bagian bawah perutnya sakit.


"Sakit, Kak."


"Kau benar-benar ingin melahirkan, Del. Kita ke rumah sakit sekarang."


"Bagaimana bisa? Waktunya masih lama."


"Apa pun itu, kita harus ke rumah sakit."


Reyhan menghentikan taksi. Ia membawa Delilah masuk mumpung sakit sang adik hilang datang.


"Sakit lagi. Dia berkontraksi." Delilah merengek.


"Kakak tahu, Del. Kau bisa diam tidak?" Reyhan menjadi panik kalau begini.


"Sakit, Kak. Pinggangku ini."


Reyhan mencoba memijat pinggang adiknya. Ia menyesal karena tidak membawa Anna. Mengapa malah ia yang dihadapkan dalam situasi sulit begini?


Taksi tiba di rumah sakit. Reyhan segera meminta bantuan perawat untuk membawa adiknya masuk ke ruang tindakan.


"Kak, tas persalinan tinggal di rumah."


"Jangan kau pikirkan soal itu," ucap Reyhan.


Untungnya Delilah selalu membawa identitasnya ketika keluar rumah. Reyhan tidak merasa sulit untuk mengurus administrasi.


Dokter segera memeriksa, dan memang benar jika Delilah akan melahirkan, tetapi pembukaannya belum sempurna.


"Kak, aku minta maaf padamu. Nayaka, aku minta maaf padamu. Aku ingin persalinan ini lancar," ucap Delilah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2