
"Maaf, Tuan Reyhan. Dulu aku memang ingin bertanggung jawab. Sekarang jelas masalahnya berbeda. Delilah pergi meninggalkanku, dan aku membesarkan Kyomi sendiri. Kami putus hubungan, lalu kembali bersama. Sekarang, aku ingin hubungan cinta kami diakhiri detik ini juga."
"Nayaka!" Delilah bangun dari duduknya.
"Kau, bawa Kyomi ke mobil." Nayaka menyuruh salah satu pengawalnya membawa Kyomi.
"Kyomi enggak mau," tolaknya.
"Nanti Papa menyusul, Sayang."
Nayaka harus tega membuat putrinya dipaksa masuk ke mobil. Ini demi kebaikan Kyomi agar tidak mendengar lebih lanjut pertengkaran yang saat ini akan terjadi.
"Kau menghamiliku, dan kau harus bertanggung jawab," ucap Delilah.
"Ya, lalu di mana tanggung jawabmu sebagai ibu. Kau meninggalkan putrimu dan memutuskan hubunganmu denganku. Kau jangan membahas masa lalu, Delilah. Ini masalah sekarang. Aku ingin putus darimu!"
"Kau mencintaiku, kan?"
"Iya, tapi aku tidak bisa hidup bersamamu."
Delilah terperangah. Lalu ia berkata, "Aku minta maaf kalau pernah menyakiti hatimu. Tapi ini tentang kita, Kak. Kau membatalkan pernikahan yang sebentar lagi akan digelar."
"Sudah kubilang padamu, Del. Daripada aku tidak bahagia, lebih baik kita akhiri sampai di sini saja."
"Aku tidak terima!" Delilah berteriak. "Kau harus menikah denganku."
"Duduk dulu, Del." Reyhan mencoba menenangkan Delilah.
"Tidak bisa, Kak. Nayaka harus menikah denganku. Aku sudah memberi segalanya untuk dirinya. Dari kami remaja, aku sudah membantunya." Delilah menatap tajam Nayaka. "Karena kau kaya dariku sekarang, kau ingin melepasku?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Lalu apa? Kau kaya sekarang dan kau menolak menikah denganku. Kau mencampakkanku begitu saja setelah apa yang kita lalui. Apa yang julukan untukmu ini, Nayaka? Kau menegak manisnya madu, setelah kau puas, lalu kau pergi begitu saja."
"Seharusnya kau sadar kenapa aku sampai ingin melepasmu. Ini semua karena dirimu sendiri." Nayaka mencoba untuk mengingatkan Delilah. Perlakuan wanita itu padanya.
"Karena diriku? Kau memutuskan hubungan kita karena diriku yang tidak sesuai dengan kemauanmu?" Delilah tertawa samar. "Harusnya kau sadar, Nayaka. Aku mencintaimu tanpa memandang status. Kau pria miskin dulunya. Kau selalu direndahkan, dan siapa yang menolongmu kalau bukan diriku? Delilah menunjuk dirinya sendiri. "Sadar diri, Nayaka. Kau pria miskin yang kupungut dari jalanan."
"Delilah!" Nayaka bangun dari duduknya. "Hentikan omongan ini."
__ADS_1
"Benar, kan? Siapa yang membiayai kehidupanmu dulu? Jangan hanya karena sekarang kau kaya, kau ingin mencampakkanku begitu saja."
"Karena sifatmu ini aku tidak ingin menikahimu. Kau terlalu egois, dan kau tidak pernah melihatku sebagai seorang pria yang mampu."
"Kau tidak punya kemampuan. Kau itu cuma pencundang yang hanya bisa berlindung di belakangku. Kau itu cuma pengemis yang menunggu uluran tanganku. Hidupmu itu semuanya dariku!"
Semua terdiam mendengar ucapan Delilah yang terus memojokkan Nayaka. Omar menggelengkan kepala karena ia sudah tahu alasan dari Nayaka yang berniat untuk membatalkan pernikahan.
"Terima kasih, Del. Aku tidak bersusah payah untuk menjelaskan semuanya pada keluargamu. Mereka bisa melihat sendiri perlakuanmu padaku." Nayaka mengeluarkan sebuah cek dari saku jas yang ia kenakan. "Kuharap cukup untuk membayar semua yang telah kau berikan dan kuambil darimu. Kau benar, aku memang pencundang, pengemis, pria tidak berguna. Ayo, Papa, kita pulang. Sudah cukup kita berada di sini."
Nayaka langsung saja melangkah pergi. Omar bangun dari duduknya. Ia memandang Delilah. "Maaf, Nak. Selama ini Nayaka telah menyusahkanmu." Lalu beralih pada Reyhan. "Tuan Reyhan, saya berterima kasih kepada mendiang sahabat Anda, Dion. Sekali lagi, Nayaka sudah memutuskan, saya tidak bisa berbuat apa-apa."
Omar pun melangkah pergi. Namun, Delilah ingat akan Kyomi. Ya, putrinya yang dibawa oleh Nayaka. Tidak! Delilah tidak akan membiarkan Nayaka memisahkan ia dan Kyomi lagi.
"Nayaka!" Delilah mengetuk jendela mobil. "Kau tidak bisa membawa putriku."
Nayaka tidak mempedulikan itu. Setelah Omar masuk mobil, ia segera menyuruh sopir untuk mengemudikan kendaraan roda empatnya.
"Nayaka!" teriak Delilah. "Kau tidak bisa memperlakukan aku begini."
Delilah bergegas masuk ke rumah, ia lekas menghampiri Reyhan yang belum beranjak dari duduknya. "Kak, kau lihat Nayaka. Dia membawa Kyomi. Kau harus membawa Kyomi kembali padaku."
"Apa? Kau lihat Nayaka tadi. Dia menghinaku!"
"Kau yang menghinanya. Apa kau selalu bicara seperti itu pada Nayaka?"
"Itu memang benar, kan? Selama ini aku yang membantu Nayaka. Setelah dia kaya, dia mencampakkan aku."
"Nak, kurangi berkata kasar. Nayaka sakit hati padamu. Datanglah padanya, minta maaf padanya. Kau terlalu kejam menghinanya." Anna menyahut.
"Kak Anna tidak tahu apa-apa. Jangan ikut campur urusanku."
Reyhan bangkit dari duduknya. "Dalam keadaan begini kau masih tidak sadar atas apa yang kau lakukan? Kau sadar selama ini kau terlalu semena-mena, Del."
"Semena-mena? Kenapa membahas ini?" Delilah terlihat kesal. "Aku ingin anakku kembali. Kakak harus membawakan Kyomi untukku!"
Reyhan melayangkan tangannya. Amarahnya sudah tidak dapat ditahan lagi. Sudah cukup rasanya Reyhan menuruti semua kemauan dari adiknya itu.
"Kau masih tidak sadar juga. Pergilah minta maaf pada Nayaka atas apa yang tadi kau ucapkan padanya!"
__ADS_1
"Minta maaf?" Delilah menggeleng. "Aku tidak salah apa-apa. Nayaka yang salah di sini. Dia membatalkan pernikahan kami."
"Pikirkan kenapa dia membatalkan pernikahan ini. Aku tidak pernah mengajarimu bersikap kurang ajar. Kau menghina seorang pria yang tulus padamu. Bagaimana perasaannya?"
"Kakak jangan ikut campur." Delilah dengan lantang mengatakannya. "Kau kuminta untuk membawa Kyomi kemari!"
"Delilah!" Anna menegur.
"Diam kau!" bentak Delilah.
"Anak kurang ajar!" Reyhan ingin lagi melayangkan tangannya, tetapi dicegah oleh Diki.
"Jangan, Rey. Tahan emosimu."
Reyhan menarik tangannya. "Pergi dari sini!"
"Kau ingin mengusirku?" Delilah melotot.
"Kubilang pergi!"
"Aku akan pergi. Tidak perlu diusir. Jika Kakak tidak bisa mendapatkan Kyomi, aku bisa sendiri."
"Bisa sendiri?" Reyhan mengangguk. "Kau memang perlu diajar, Delilah." Reyhan menoleh pada Diki. "Ambil semua milik gadis manja ini. Semuanya!"
Delilah melotot. "Apa?"
"Jangan sisakan satu pun untuknya. Biar dia rasakan bagaimana hidup di luar sana tanpa uang."
"Kau tidak berhak melakukan ini padaku. Aku punya hak atas harta dari orang tuaku." Delilah menantang balik Reyhan.
"Harta itu atas kekuasaanku. Kau baru bisa mendapatkannya setelah menikah. Begitu wasiat dari orang tuamu, Delilah."
Delilah tersentak mendengarnya. "Kakak pikir, aku akan mati di jalan sana tanpa uang. Kau akan lihat kalau aku bisa hidup tanpa bantuanmu!"
"Hentikan ini, Reyhan, Delilah. Apa yang kalian lakukan?" Anna mencoba menengahi.
"Biarkan dia, Anna. Kalian semua, jangan sampai ada yang membantu anak ini. Mulai hari ini, tidak ada nama Delilah di dalam keluarga kita!" ucap Reyhan.
Bersambung
__ADS_1