Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
TTM


__ADS_3

Hal yang tidak biasa. Delilah enggan untuk melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan di pagi hari. Sarapan dibuat oleh pelayan, dan Kyomi di antar oleh sopir.


"Kau sakit, Sayang?" Nayaka mendekatkan punggung tangannya di kening sang istri.


Mendengar itu, Delilah menggeleng. "Aku hanya merasa kantuk saja. Nanti siang aku bakal jemput Kyomi dan antar dia ke tempat les musik."


Nayaka mengangguk, mendaratkan kecupan di pipi istrinya. "Istirahat saja. Aku berangkat dulu."


"Iya, hati-hati di jalan, Sayang."


Satu senyuman Delilah menjadi penyemangat bagi Nayaka dalam memulai aktivitasnya pagi ini.


Sebenarnya, bukan karena Delilah itu malas. Tapi ia ingin mempersiapkan diri demi bertemu Ashraf. Ia ingin memberi kesan baik pada pria itu untuk pertama kalinya.


Masuk kamar, Delilah langsung membuka lemari. Mengambil beberapa gaun yang ia anggap pantas untuk makan siang ini.


"Pakai warna oren, terlalu ramai. Putih malah terlihat formal. Merah, kesannya terlalu berani."


Delilah bingung. Ini tidak seperti ia berkencan bersama Nayaka. Dulu ia memakai baju apa saja, Nayaka tetap mengatakan dirinya cantik. Asharf seperti Juno, yang menginginkan seorang wanita sempurna


Maxi dress, baju yang Delilah pilih. Gaun bermotif cerah dengan potongan berleher rendah. Ini pilihan tepat, dan Delilah akan melengkapi penampilannya dengan aksesoris nanti.


Asik mempersiapkan diri, waktu yang dijanjikan tiba. Delilah sengaja untuk datang terlambat agar Ashraf yang menunggunya. Biar pria itu yang sepertinya memerlukan kedatangannya.


"Aku mau pergi. Jangan lupa untuk menjemput putriku." Ucapan yang Delilah katakan pada pelayan rumah. Padahal tadi ia sendiri mengatakan pada Nayaka ingin menjemput dan mengantar Kyomi ke tempat les.


"Baik, Nyonya," jawab salah satu pelayan wanita.


Kacamata hitam besar, tas branded serta sepatu bertumit tinggi sebagai penunjang penampilannya siang ini. Sangat cocok dipadu padankan dengan dress yang Delilah pakai. Sayangnya, kulit Delilah berwarna putih. Ini kurang seksi bila dilihat dari segi tipe Ashraf.


Pria kaya seperti itu pasti memilih wanita yang seksi dari segi postur tubuh. Ditambah warna kulit yang begitu eksotis. Tapi tak mengapa, Delilah akan membuat kulitnya menjadi gelap nantinya.


Untuk bertemu, Ashraf telah menentukan tempat yang baginya aman bagi mereka. Sebuah hotel berbintang dengan ruang khusus VVIP tentunya.


Empat puluh lima menit, Delilah sampai di hotel. Langsung saja ia menuju restoran di dalamnya. Baru tiba di sana, sudah ada pelayan pria yang mengantarnya menuju tempat khusus.


Ashraf bangkit dari duduknya. Menyunggingkan senyum saat melihat wanita yang memang ia tunggu kehadirannya.


"Kau datang juga akhirnya." Ashraf meraih tangan Delilah, lalu mengecupnya.


"Hai! Maaf, aku datang terlambat. Ada sedikit urusan tadi." Alasan yang klise. Karena memang Delilah ingin datang terlambat demi melihat reaksi Ashraf.


"Aku selalu menunggu sampai kau datang." Senyum itu begitu manis. Ashraf menarik kursi, lalu mempersilakan Delilah duduk.


"Kau sudah pesan makanan?"


"Aku menunggumu, Baby."


Pelayan pria menghampiri, memberi buku menu, lalu mencatat pesanan makanan dari keduanya. Kemudian beranjak dari sana.

__ADS_1


"Tempat yang bagus," ujar Delilah, mencoba untuk berbasa-basi.


"Kau belum pernah ke sini?"


"Aku baru pindah, dan belum sempat untuk jalan-jalan ke tempat indah lainnya."


"Sayang sekali. Aku bisa meluangkan waktu untuk menemanimu."


"Sungguh?" Delilah berpura-pura kaget, padahal ia tahu kalau ini sebuah trik Ashraf saja untuk bersamanya.


"Tentu saja."


Delilah tersenyum. "Aku akan sangat senang bila kau bisa menemaniku."


"Tentu, Baby." Ashraf kembali meraih tangan Delilah, lalu mengecupnya.


Obrolan itu berlanjut ke arah lain. Delilah senang bersama Ashraf, setidaknya ada hal baru yang ia ketahui dari pria itu. Sementara bersama Nayaka, ia terlalu bosan.


Pertemuan itu berlanjut ke hari-hari selanjutnya. Delilah seolah lupa pada hari resepsi yang sebentar lagi akan diselenggarakan.


Ia sibuk bersama Ashraf, dan teman sosialitanya. Delilah tidak lagi mengantar dan menjemput Kyomi, bahkan ia biasa pulang malam.


"Nyonya belum pulang?" tanya Nayaka pada pelayan rumahnya.


"Belum, Tuan."


"Kyomi mana?"


Nayaka mengangguk, lalu mengibaskan tangan, menyuruh pelayan itu pergi. Sudah pukul 11 malam, tetapi Delilah belum juga pulang. Nayaka memang pulang larut malam karena ada pertemuan bersama rekan kerja yang lain. Tiba di rumah, malah tidak menemukan istri tercinta.


"Dia sibuk apa akhir-akhir ini?" gumam Nayaka.


Tanpa Nayaka tahu, bahwa istrinya tengah bersama Ashraf saat ini. Keduanya berkunjung ke kelab malam untuk menikmati hiburan malam.


"Aku harus pulang. Suamiku pasti mencariku," kata Delilah.


"Tidak bisakah kau menginap bersamaku?"


Delilah tergelak. "Aku tidak tidur dengan sembarang pria."


"Ayolah, Del. Kita bisa bersenang-senang."


"Oh, Ashraf. Aku ingin kita berteman saja."


"Kukira kita ini pacaran." Ashraf meraih dagu Delilah, lalu mendaratkan kecupan di bibir merekah itu.


Tak kuasa menolak, Delilah membalas perlakuan pria itu padanya. Cukup lama keduanya saling membelit hingga keduanya sama-sama menarik diri.


"Aku hanya bisa sebatas ini. Aku tidak ingin berhubungan jauh lagi bersamamu."

__ADS_1


"Aku mencintaimu. Kau bisa tinggalkan Nayaka. Aku juga tidak kalah hebat darinya, Delilah."


"Aku tahu, Ashraf. Dari awal aku hanya ingin berteman saja. Sudahlah, aku harus pulang."


"Kita baru saja tiba di sini."


"Aku sudah seharian bersamamu. Kumohon, lepaskan aku." Delilah memelas.


"Baiklah, tapi besok kita harus bertemu."


Delilah tersenyum. "Pasti, Sayang."


Pukul dua malam, Nayaka belum juga beranjak dari duduknya. Sedari tadi juga ia menelepon Delilah, tetapi istrinya itu tidak menjawab panggilannya. Ini salahnya. Harusnya Nayaka menyewa bodyguard untuk selalu bersama Delilah. Atau ia bisa mengekang kebebasan wanita itu.


Tapi, ini tidak mudah seperti yang ingin ia lakukan. Delilah bilang kalau ia mau terlihat seperti orang biasa saja waktu itu, dan Nayaka menyetujuinya.


Suara klakson mobil terdengar, Nayaka bangkit dari duduknya menuju pintu depan. Nayaka sengaja menyuruh pelayan dalam rumahnya untuk beristirahat, karena ia ingin menunggu istrinya.


Pintu dibuka, Delilah kaget ketika melihat Nayaka. "Sayang!"


"Masuk!"


Delilah masuk, Nayaka menutup pintu dengan keras. "Dari mana? Ini sudah sekian kali kau pulang larut malam."


"Aku dari kelab malam."


Nayaka meraih tangan Delilah. "Dari kelab?"


"Aku butuh hiburan, Kak."


"Perlu aku katakan apa statusmu, hah? Kau itu sudah menikah! Pantas, kau itu pergi ke sana dan pulang tengah malam? Kau itu seharusnya tetap di rumah mengurus anak dan suamimu!"


"Kau itu memperistriku hanya untuk mengurus anak dan kau saja? Aku itu juga perlu hiburan."


"Kapan aku melarangmu, hah? Aku selalu membebaskanmu. Tapi selalu mengingatkan agar kau ingat pada statusmu yang sebenarnya. Setiap hari kau pergi keluar dan pulang larut malam. Apa begini sikap seorang istri yang baik?"


"Aku cuma perlu hiburan."


Delilah melangkah pergi, tetapi Nayaka berhasil kembali meraih pundaknya. Bahkan ia dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari tubuh istrinya.


"Keterlaluan kau, Del!" Nayaka murka. "Kau mabuk?"


"Aku hanya minum sedikit."


Satu tamparan melayang di pipi. Nayaka sudah geram karena ini. Delilah mengusap pipinya yang terasa panas.


"Pukul aku lagi! Kemampuanmu hanya ini, kan? Kau marah, lalu memukulku!" teriak Delilah.


"Kau sudah keterlaluan! Tamparan itu pantas untukmu!" Nayaka pun tidak kalah bersuara lantang. "Sekali lagi kau pulang larut malam, kau tahu sendiri akibatnya. Kali ini, kau tidak akan kumaafkan!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2