Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Kita Hanya Teman


__ADS_3

Sebuah kejutan. Delilah dipeluk erat oleh sang putri yang telah ia rindukan selama beberapa waktu.


"Oh, Sayang. Kau tidak bilang pada Mama jika akan datang." Delilah menunduk, mengecup dua sisi pipi Kyomi, kening dan hidungnya.


"Sengaja. Biar kasih kejutan."


Delilah memeluknya. "Mama kangen sekali sama Kyomi."


"Kyomi juga."


"Ayo, masuk."


Pandangan Delilah tertuju pada pria yang menatapnya lekat. Berbeda dari penampilan sebelumnya yang ia lihat lewat panggilan video. Sekarang, Nayaka terlihat rapi.


"Hai!" Delilah mengutuk dirinya. Kenapa malah ia yang menyapa lebih dulu? Memang bibir bisa berkelit di saat hatinya masih teguh untuk tidak mempedulikan Nayaka.


Nayaka sendiri berada dalam keraguan. Ia ingin memeluk Delilah. Ia juga rindu pada kekasih kecilnya.


"Kau baik-baik saja?" Akhirnya, kalimat itu yang Nayaka lontarkan.


"Seperti yang kau lihat. Aku baik. Tidak kurang dari satu apa pun."


Jawaban tersirat. Nayaka mengerti jika Delilah seolah menyindirnya. Tanpa dirinya, sang mantan bisa hidup dengan baik.


"Aku turut senang."


"Ayo, Mama. Kyomi ingin lihat adik."


Basa-basi buyar oleh celetukan Kyomi. Delilah membawa anak dan mantan suaminya masuk rumah. Nayaka memperhatikan bangunan serta perabot yang sederhana. Ada segala macam pernak-pernik yang berserakan di lantai.


"Kalian duduk dulu. Aku akan panggil Santi untuk membereskan ini semua."


"Kau tinggal di tempat ini?" Nayaka ingin memastikan jika ini memang Delilah.


"Apakah aneh? Bukannya kita pernah tinggal di tempat sederhana seperti ini?"


"Biar aku bantu kau bereskan."


"Tidak perlu. Kau adalah tamu. Tidak mungkin aku menyuruhmu membereskan rumah."


Hati Nayaka teriris perih ketika mendengarnya. Tamu. Ia orang asing bagi Delilah sekarang.


"Aku juga tidak sabar untuk bertemu anak kita." Nayaka tersenyum saat mengatakannya. Lebih baik segera bertemu Kanaka.


"Mandi dulu."


"Ya, Mama. Kyomi tidak sabar buat ketemu adik bayi."


"Mandi dulu, Kyomi. Astaga! Mama belum menyiapkan kamar. Kenapa tidak bilang dulu kalau mau kemari?" Delilah berkacak pinggang.


"Tidak perlu repot-repot, Del." Nayaka menyahut.


"Kalian bisa memakai kamarku. Kamar mandinya juga di sana." Delilah menunjuk ruangan sebelah kanan.


Nayaka mengangguk. "Ayo, Kyomi. Kita mandi dulu."

__ADS_1


Ini seperti Nayaka berada di rumah sewa ketika keduanya hidup bersama di Inggris. Ia kira Delilah akan tinggal di sebuah apartemen. Tapi, bangunan ini begitu nyaman dan hangat. Sangat cocok ditempati pada musim gugur.


Ketika ia membuka kamar, Nayaka merasa tidak asing. Ia kenal aroma dari wanita yang menempati ruangan ini. Delilah tidak mengubah sama sekali seleranya. Ini baru beberapa bulan mereka berpisah, dan Nayaka tidak tahan merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Kok, Papa malah tidur, sih? Katanya mau mandi," protes Kyomi.


"Kyomi duluan saja. Papa mau rebahan sebentar." Nayaka raih bantal kepala dalam pelukannya. Aroma Delilah masih ada.


"Bukain dulu koper Kyomi."


"Kopernya belum dibawa ke dalam. Kyomi ambil dulu, ya." Nayaka tersenyum ketika mengatakannya.


"Papa aneh, deh. Awas, loh, Mama bisa marah kalau Papa tidur dengan kaus kaki."


Nayaka kaget mendengarnya. Segera ia membuka kaus kaki. Namun, sudah keburu Delilah masuk kamar.


"Sepertinya kau butuh istirahat, Nayaka."


"Nayaka?"


"Namamu Nayaka, kan? Mustahil kau lupa dengan namamu." Delilah masuk, lalu meletakkan koper Kyomi di atas sofa. "Biar Mama ambilkan baju gantimu."


Itu berarti ada kemarahan di diri sang mantan. Jika Delilah sudah memanggil nama lengkapnya artinya, memang wanita itu marah. Ya, Nayaka tahu ia punya banyak salah.


"Aku akan ganti seprainya." Nayaka menyahut.


"Tidak perlu. Kau lakukan apa pun yang kau inginkan."


Jawaban yang sama sekali tidak Nayaka harapkan. Kyomi masuk ke kamar mandi setelah menerima handuk dan baju ganti dari sang ibu.


Delilah menoleh pada pria itu. "Untuk apa?"


"Aku bersalah padamu."


Delilah tersenyum. "Aku juga salah padamu. Maafkan aku."


"Aku bertemu Ashraf. Ya, dia mengaku mencintaimu. Tapi dia bilang belum menidurimu."


Nayaka sakit hati ketika mengatakannya. Tetap saja ia tidak rela ada yang menyentuh Delilah.


"Baguslah. Setidaknya kau tahu kebenarannya. Aku salah karena bermain bersamanya. Aku melakukan hal di luar batas sebagai seorang teman. Seharusnya aku tidak membiarkan pria lain menyentuh bibir dan memelukku. Aku sungguh minta maaf. Aku menyesal."


Nayaka bangkit dari tempat tidur. Ia melangkah mendekati Delilah. "Aku sudah menyakitimu."


"Sudahlah, jangan lagi dibahas. Aku juga menyakitimu."


"Aku menyakitimu lebih dalam. Aku tidak tahu kau mengandung. Aku tidak ada saat kau melahirkan."


"Semua sudah terjadi. Menyesal juga tidak bisa mengembalikan semuanya. Kau bahagia dengan pilihanmu dan aku bahagia atas kehidupanku."


"Delilah ...." Nayaka meraih tangan mantan istrinya. "Kita tidak perlu menjauh, kan?"


Perlahan Delilah melepas tangan Nayaka. "Kita bisa berteman. Dari dulu kita teman, atau kita bisa jadi sahabat."


"Dari dulu kita pasangan kekasih."

__ADS_1


"Hanya berlaku dulu. Sekarang kita teman. Kau mandilah dulu. Aku akan bawa Kanaka kemari."


Delilah mengerjap beberapa kali agar air matanya tidak keluar. Ia bisa mengontrol diri untuk tidak marah atau mengatakan kalimat yang tidak pantas pada Nayaka.


Tiba di kamar Kanaka, bayinya itu terbangun. Delilah tersenyum saat mata sang putra balas memandangnya.


"Kanaka kedatangan Kakak Kyomi dan Papa." Hati-hati Delilah mengangkat Kanaka dari dalam tempat tidurnya.


"Mama!"


Kanaka kaget, lalu menangis. Kyomi menutup bibirnya. Lalu, ia berkata, "Maaf ....".


"Tidak apa-apa, Sayang. Sini, lihat adik Kyomi."


Delilah duduk di sofa dengan Kyomi di sampingnya. Wajah Kanaka merah karena tangisan.


"Kanaka ...." Kyomi tidak tahan untuk mencubit pipi dan hidung sang adik. Hal itu semakin membuat Kanaka menangis.


"Pelan-pelan, Sayang. Adik bayi masih kecil."


"Sini, Kyomi mau sentuh pipi Kanaka."


Delilah mendekatkan Kanaka, lalu Kyomi mengecup pipi adiknya. Ia suka menghirup aroma bayi yang harum.


"Adik Kanaka wangi."


"Kyomi juga," sahut Delilah.


"Kanaka mau susu." Kyomi menyentuh pipi bayi itu dengan telunjuknya. Ia tertawa ketika Kanaka mengira jika jari itu adalah sumber nutrisi dari ibunya. "Kanaka lucu."


"Ini, Sayang." Delilah memasukkan ujung miliknya di mulut Kanaka. Bayi itu langsung diam ketika sudah merasakan air susu di tenggorokannya.


Sementara itu, Nayaka langsung keluar kamar ketika selesai membersihkan diri. Ia melihat seorang wanita yang membereskan pernak-pernik yang berserakan di lantai.


"Itu untuk apa?"


"Oh, ini untuk buat aksesoris, Tuan."


"Ya, saya tahu. Buat apa aksesorisnya?"


"Nona Delilah menjualnya lewat marketplace."


"Apa dia berjualan ini?" Nayaka sungguh penasaran.


"Saya kurang tahu, Tuan. Saya baru datang kemari."


Nayaka mengangguk. Ia bisa bertanya kepada Delilah sendiri nanti. "Di mana kamar bayinya?"


"Itu, Tuan. Sebelah kiri."


Rupanya berseberangan dengan kamar Delilah. Nayaka melangkah masuk begitu saja karena pintu terbuka.


"Delilah ...."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2