
Dengan setia Nayaka mendampingi Angel, begitu juga Reyhan yang tetap berada di samping sang adik.
Dua pendamping, dua negara, dan dua wanita yang beda pula. Namun, sama-sama hendak melahirkan keturunan seorang pria yang bernama Nayaka.
"Kau harus kuat. Kakak keluar dulu."
Reyhan tidak sanggup untuk terus berada di samping Delilah. Biarlah perawat serta Dokter yang menangani. Lagi pula rasanya tidak pantas ia yang berada di sana, ketika sang adik melahirkan.
Sementara di rumah sakit lain, Nayaka tetap di samping istrinya. Ia akan ikut menemani. Memberi support pada Angel.
Dokter serta suster telah siap dengan baju khusus, begitu juga Nayaka. Ia mengenggam tangan Angel, menguatkan istrinya, dan membisikkan kata-kata semangat.
"Ikuti intruksi saya," ucap Dokter wanita.
"Ayo, Angel. Kau turuti apa kata Dokter." Nayaka menimpali.
Angel menarik napas, lalu mengembuskannya sembari mendorong sang anak yang nyatanya tidak semudah itu untuk keluar.
Sementara itu, Reyhan mondar-mandir di depan ruang tindakan sembari menunggu detik-detik yang menegangkan ini. Haruskah ia menelepon Nayaka? Bukankah pria itu harus tahu kalau Delilah melahirkan? Reyhan menggeleng. Daripada Nayaka, lebih baik Anna. Ya, ia butuh ketenangan agar tidak khawatir seperti sekarang.
"Waktunya telah tiba. Anda bersiap, Nona."
Dokter wanita di depan Delilah ini juga telah bersiap untuk membantu. Delilah memang sudah ingin melahirkan. Tanda-tandanya jelas, dan sekarang memang ia merasakan ingin buang air besar.
"Ambil napas, embuskan, lalu dorong," kata Dokter.
Wajah Delilah memerah, tetapi sang bayi belum juga keluar. Suster menyeka keringatnya, menggenggam tangan Delilah, dan kembali memerintah agar Delilah melakukan hal seperti tadi.
"Dorong lagi."
Delilah terengah-engah. Ia kembali mengejan, tetapi belum berhasil juga.
"Ambilkan aku gunting," ucap Dokter.
Lalu, bagian negara lainnya. Angel menggeleng. Ia tidak sanggup mengeluarkan sang bayi.
"Kau bisa. Dia anak kita. Dorong dia terus," ucap Nayaka seraya mengecup punggung tangan istrinya.
"Sedikit lagi," ucap Dokter. "Berikan aku gunting."
Satu kali lagi percobaan. Antara Delilah dan Angel. Keduanya mengerahkan tenaga agar bayi yang mereka kandung keluar.
Suara tangisan bayi terdengar. Delilah tersenyum melihat anaknya yang masih berlumuran noda merah.
"Baby boy," ucap Dokter, yang segera menyerahkan bayi itu kepada suster.
"Bayi laki-laki."
Dokter yang menangani Angel, tersenyum. Bayi itu segera diberikan kepada suster. Nayaka mengecup kening Angel, dan ia bersyukur bayinya lahir dengan selamat.
"Silakan Anda keluar dulu, Tuan. Kami masih harus melanjutkan perawatan."
Nayaka mengangguk. Ia keluar setelah membuka pakaian khususnya. Tanpa menunggu lama-lama lagi, Nayaka langsung menghubungi ayahnya agar segera ke rumah sakit.
Dalam keadaan begini, ia memikirkan Delilah. Mungkin sudah saatnya ia tidak mengharapkan sang mantan istri. Bukan berarti Nayaka sudah hilang rasa cintanya, tetapi karena mereka tidak cocok bersanding sebagai suami dan istri.
Nayaka men-dial nomor Sofwan. Tidak lama, terdengar sahutan dari panggilannya itu. "Sofwan, aku minta kau hentikan pencarian Delilah."
"Tapi Tuan, saya baru saja dapat kabar kalau Tuan Reyhan tengah berada di Swiss."
__ADS_1
"Biarkan saja. Mungkin beliau ada kerjaan. Tarik semua anak buah kita. Jangan lagi mencari Delilah."
Telepon diputus. Nayaka menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia memejamkan mata sembari mengenang Delilah untuk yang terakhir kalinya.
Cinta atau tidak ia pada Angel. Sekarang, wanita itu adalah istrinya. Angel telah memberinya seorang anak laki-laki, dan bayi itu akan menjadi kebanggaan keluarganya.
Tidak lama, Omar datang bersama Kyomi. Sementara Angel telah dipindah ke ruang perawatan. Tentu sang kakek senang mendengar berita bahagia ini. Seorang bayi laki-laki adalah simbol kebanggaan bagi keluarga.
"Di mana bayinya?" tanya Omar.
"Masih di ruang perawatan. Kita masuk saja dulu. Angel sudah dipindah ke ruang rawat." Nayaka beralih pada Kyomi. "Sayang, adikmu telah lahir."
Kyomi sama sekali tidak tersenyum. "Baguslah."
Nayaka mengerutkan keningnya. "Ada apa, Sayang?"
"Tidak ada. Kyomi ikut senang."
Nayaka sepertinya mengerti apa yang dirasakan buah hatinya. "Papa tetap sayang sama Kyomi."
"Bagaimana dengan Mama Angel?"
"Pasti sayang juga sama Kyomi."
Kyomi mengangguk, lalu ia tersenyum. "Ayo, kita lihat adik bayinya!"
Ketiganya masuk ke ruang rawat. Angel tersenyum melihat keluarganya tiba. Sang mertua menghampiri, mengecup kening menantu kesayangannya.
"Selamat, Sayang. Aku sangat bahagia."
Angel tersenyum. "Terima kasih, Papa."
"Beri dia minum dulu, nanti Papa masuk lagi."
Omar keluar dulu, sedangkan Nayaka dan Kyomi tetap berada di dalam. Kyomi memandang adiknya yang tengah diberi nutrisi oleh sang ibu.
Nayaka tidak tahan untuk mengusap pipi bayinya. "Lucunya."
"Kau ingin memberinya nama apa?" tanya Angel pada suaminya.
"Kanaka Malik Hawwas."
"Iya, aku setuju. Kita bisa memanggilnya Kanaka."
Sementara itu, Reyhan mengerutkan kening dengan nama yang diberikan Delilah untuk putranya. Saat ini mereka tengah berada di ruang rawat bayi. Melihat si kecil yang ditempatkan di tabung kaca.
"Kanaka Shaquille Handoko?" Rey menatap adiknya. "Kau tidak bisa move on dari Nayaka?"
Delilah menyengir. "Ini, kan, anaknya."
Sebenarnya, nama itu sudah lama disiapkan. Nayaka dan Delilah pernah berangan memiliki anak laki-laki, dan nama itu yang akan mereka berikan pada sang putra kelak.
"Jadi, kau tidak ingin memberitahunya?"
Delilah menggeleng. "Dia juga pasti tidak percaya kalau ini anaknya."
"Bagi tahu saja pada Kyomi."
"Nanti saja. Takutnya Kyomi kaget. Tiba-tiba saja dia punya adik. Dia tidak tahu aku hamil."
__ADS_1
Delilah akan menelepon Kyomi nanti, dan memberitahu putrinya pelan-pelan. Mungkin juga Kyomi tengah berbahagia saat ini karena sudah pasti Angel telah melahirkan. Ya, Delilah memperkirakan itu karena istri muda Nayaka sudah cukup bulan pastinya.
"Ayo, kita kembali ke ruang rawat. Biarkan Kanaka berada dalam kamar perawatan bayinya." Reyhan mendorong kursi roda menuju kamar rawat sang adik.
Sisi lain, Omar tengah menggendong pewarisnya. Bahkan si kecil sudah diberi hadiah khusus. Satu hewan peliharaan, rumah, serta mobil. Omar juga menyediakan kereta bayi yang ia pesan khusus dari desainer ternama.
"Dia harus istirahat. Besok Papa akan datang lagi kemari." Pelan-pelan Omar meletakkan cucunya di dalam boks bayi.
"Kyomi juga mau ikut pulang."
"Enggak mau temenin Papa nginap di sini?" kata Nayaka.
Kyomi menggeleng. "Mau pulang saja."
"Sayang, Kanaka adalah adik Kyomi. Jangan iri begitu, dong."
"Kyomi enggak iri. Cuma mau pulang saja."
"Sudahlah." Omar menyela. "Lagi pula ini rumah sakit. Kyomi tidak boleh di sini lama-lama. Lebih baik pulang sama Papa saja."
"Biar saja Kyomi pulang, Nay." Angel turut menimpali.
Apa mau dikata kalau Omar dan Angel sudah berkata demikian. Nayaka mengiakan Kyomi yang pulang bersama sang ayah.
Tanpa sadar Nayaka tertidur. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, dan waktu telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia beranjak dari sofa menghampiri Kanaka. Sementara Angel masih terlelap.
"Bangun, Sayang. Kau harus menyusu." Nayaka menoel-noel pipi putranya. Ia juga memanggil Angel. "Angel, bangun dulu. Kanaka butuh susu."
Angel mengerjap. Ia bangun dari tidurnya. "Ya, ada apa?"
"Kau terlalu nyenyak tidur. Kanaka harus dibangunkan. Kau beri dia makan dulu."
"Dia menangis?"
"Apa dia tidak ada bangun?"
"Aku tidak tahu."
Nayaka mencoba membangunkan Kanaka. Ia usap pipi serta hidungnya. Tapi sang anak belum bangun. Nayaka mengangkatnya, lalu membawanya ke hadapan sang ibu.
"Kok, dia tidak bangun?" tanya Angel. "Tubuhnya dingin. Apa karena ruangan ini?"
Nayaka mendekatkan jari telunjuknya ke lubang hidung sang anak. "Kanaka!"
Ia lekas berlari keluar memanggil dokter. Angel yang melakukan hal sama seperti Nayaka juga kaget lantaran tidak ada embusan napas yang ia rasakan.
"Tidak mungkin!"
Suster tiba dengan mengambil alih bayi itu. Dokter anak segera dihubungi untuk memeriksa. Namun, suster sudah mengatakan kalau bayi itu telah meninggal.
"Tidak mungkin!" ucap Nayaka. "Tadi dia baik-baik saja."
"Bisa saja terjadi, Tuan. Bayi Anda terkena SIDS. Sindrom kematian mendadak."
Tiga puluh menit, dokter tiba memeriksa sang bayi. Tidak tahu apa penyebabnya, padahal bayi itu dinyatakan sehat. Tapi kematian mendadak pada bayi baru lahir sering terjadi.
"Aku akan menuntut rumah sakit ini!" Nayaka tidak bisa lagi mengontrol emosinya.
Pupus sudah harapan. Baru saja ia menemukan kebahagian, tetapi kini telah berganti menjadi kedukaan.
__ADS_1
Bersambung