Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Keluarga


__ADS_3

Delilah dan Kyomi saling lihat. Nayaka tiba di apartemen, tetapi wajahnya tidak enak dipandang. Ada kemarahan di sana. Nayaka berkali-kali menghela napas seakan menahan amarah dalam dirinya.


"Aku siapkan air mandi untukmu. Kau bisa berendam dengan air hangat. Aku juga akan menambahkan aromatherapy agar kau rileks." Delilah sedikit takut mengatakan hal itu, lalu lekas masuk kamar untuk menyiapkan segalanya.


Sementara Kyomi mencoba mendekati ayahnya yang tengah menengadahkan kepala memandang langit-langit ruangan.


Kyomi duduk di samping Nayaka. Menoleh sedikit, lalu menunduk. "Papa ...." tegurnya masih dalam kepala tertunduk.


"Kakek di sini. Kyomi ingin bertemu?" Nayaka menegakkan tubuhnya. Mengusap rambut panjang Kyomi yang lembab. Dari aroma buahnya, sudah pasti Kyomi selesai mandi. "Mama yang mandiin?"


Kyomi menggeleng. "Kyomi bisa mandi sendiri."


Nayaka tersenyum. "Kyomi semakin mandiri. Papa jadi senang."


Kyomi memberanikan diri memandang ayahnya. "Kita, jadi jalan-jalan?"


Nayaka mengangguk, lalu tersenyum. "Papa tidak akan ingkar janji. Kita jalan-jalan malam ini."


"Tapi ada kakek Omar. Nanti Papa disuruh pulang lagi."


"Papa sudah bilang akan pulang. Tapi, Kyomi jangan bilang sama mama atau siapa pun tentang kakek Omar."


Kyomi mengangguk, kemudian mengulurkan jari kelingkingnya. Nayaka juga mengulurkan jari yang sama, lalu Kyomi menautkan keduanya.


"Janji!" ucapnya.


"Kyomi tunggu di sini sebentar, ya. Papa mandi dulu."


"Oke," jawabnya seraya tersenyum lebar.


Nayaka bangun dari duduknya. Menyeret langkah ke kamar tidur yang tadi dimasuki oleh Delilah.


"Airnya sudah siap. Aku juga akan menyiapkan pakaian ganti untukmu." Delilah membuka lemari, mengambil pakaian Nayaka yang baru.


"Aku butuh dirimu, Del."

__ADS_1


Delilah menghentikan tangannya. Beralih menatap Nayaka. "Ada apa, Kak?"


Nayaka menggeleng. "Aku hanya butuh kau sekarang."


Delilah tersenyum, ia berjalan mendekat, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Nayaka. "Tumben sekali kau meminta diriku. Ini yang pertama kalinya kau yang mengatakannya lebih dulu."


"Aku butuh kehangatan."


"Aku siap memberi." Delilah merapatkan bibirnya di atas bibir Nayaka.


Keduanya memagut dengan tangan masing-masing saling membuka pakaian. Nayaka tahu betul di mana letak tempat tidur itu berada.


"Papa, Mama!"


Baik Nayaka dan Delilah sama-sama kaget karena ketukan serta teriakan dari Kyomi. Keduanya saling menjauh, memandang, lalu sedetik kemudian tertawa bersama.


Nayaka menghela napas. "Lebih baik aku mandi saja."


"Bersabarlah, nanti malam kita lanjutkan. Aku akan menemani Kyomi dulu."


"Rapikan dulu bajumu."


"Kita sudah berjanji. Kalian siap-siap saja." Nayaka langsung melangkah masuk kamar mandi dalam keadaan yang susah dijelaskan. Ia tengah bersemangat tadi, tetapi Kyomi mengagalkannya.


Perlahan Nayaka masuk ke bathtub. Air hangat serta aroma lavender membuatnya tenang. Terlebih bisa menurunkan gairah yang tadi sempat memuncak.


Nayaka ingat kembali pada pertemuannya pada sang ayah, Omar. Waktu itu, Kyomi berusia empat tahun. Nayaka yang masih bekerja di perusahaan aksesoris fashion, tanpa sengaja menawarkan tas keluaran terbaru kepada istri Omar.


Perusahaan Nayaka mengikuti pameran tiap tahun di acara fashion yang diadakan di Paris. Surga bagi sosialita yang ingin menghabiskan uang mereka demi sebuah barang. Istri Omar alias ibu tiri Nayaka tentu menyambut baik tawaran itu.


"Ini sungguh tas yang indah. Kulitnya terlihat cantik. Tunggu sebentar, aku panggil suamiku dulu." Wanita sekitaran 40 tahun itu, bergegas menghampiri suaminya yang tengah melihat barang lain bersama seorang perempuan.


Sementara Nayaka, tetap melayani calon pembeli yang lain. Karena ini adalah pameran khusus untuk kalangan atas, kesempatan bagi Nayaka untuk menarik mereka agar bisa naik jabatan.


"Hei, aku tertarik dengan tas ini."

__ADS_1


Nayaka menoleh pada wanita keturunan arab yang tadi. "Ya, silakan. Saya akan panggil teman yang lain."


"Ini suami saya, dia yang akan bayar." Norin meraih lengan baju Omar, lalu pria itu menoleh.


Saat itu keduanya saling tatap. Nayaka seperti bermimpi bisa bertemu lagi dengan pria yang paling ia benci, sedangkan Omar tidak menyangka bertemu lagi dengan anak yang ia cari.


"Nayaka! Nak, aku Papamu." Omar langsung memeluk putranya. "Kamu di sini rupanya. Papa lelah mencarimu." Omar bicara dalam bahasa Indonesia.


Nayaka mendorong tubuh yang masih bugar itu. "Aku tidak mengenalmu."


"Nayaka, Papa minta maaf. Sungguh Papa sudah lama mencarimu. Terakhir kau berada di Inggris. Papa sudah menyuruh orang untuk mencarimu."


Nayaka mengibaskan tangan, lalu memanggil rekannnya yang lain untuk menggantikan dirinya. "Maaf, kau mengangguku. Sungguh aku tidak kenal siapa dirimu."


Saat itu hari-hari Nayaka tidak tenang. Omar selalu datang menemuinya karena tahu tempat tinggalnya. Termasuk sang anak, Kyomi.


Meski sudah bertemu, Nayaka tetap tidak mempedulikan Omar. Ia kembali ke Indonesia tanpa memberitahu pria itu. Nayaka tetap menjalani hidup apa adanya, meski tahu sang ayah begitu kaya. Terlebih dua orang istri Omar tidak menyukainya. Mereka menganggap Nayaka akan mengambil semua harta milik Omar karena dia seorang pria. Kedudukannya begitu kuat, dan terlahir dari seorang istri yang sah.


Nayaka membasuh wajahnya ketika mengingat itu. Mau bagaimana pun Omar adalah ayahnya, dan Nayaka tidak dapat menyangkal hubungan darah itu.


Ketika keluar kamar mandi, sudah ada Delilah dan Kyomi yang sibuk berdandan. Kyomi yang ingin tahu segalanya, selalu mencoba apa yang Delilah kenakan.


Nayaka tersenyum melihat pemandangan itu. Sedikitnya Kyomi sudah mulai menerima Delilah sebagai ibunya.


"Oh, ya, Kak. Bagaimana kalau kita pindah ke rumahku?"


"Rumah orang tuamu?"


Delilah mengangguk. "Iya, lagi pula Kyomi belum pernah ke sana. Anak kita hanya melihat kakek dan neneknya dari foto serta video yang ditunjukkan oleh kak Reyhan."


"Boleh, malam ini saja."


"Kita menginap?" Delilah menawarkan.


Nayaka mengangguk. "Oke, kita menginap di sana."

__ADS_1


Delilah begitu antusias, ia segera menyiapkan pakaian ganti untuk Kyomi dan Nayaka. Sementara Kyomi sibuk melihat dirinya di depan cermin. Reyhan menghadiahkannya satu set alat make up Barbie warna pink khusus untuk anak-anak.


Bersambung


__ADS_2