
Jika Delilah sudah berkata demikian, maka Kiano tidak ingin memaksa. Biarlah bibinya itu mengurus dirinya sendiri. Kiano langsung pamit, tapi ia akan berada di hotel untuk dua hari ke depan. Ya, siapa tahu Delilah berubah pikiran.
Karena kehamilannya ini, Delilah mengirim pesan pada Nayaka. Ia ingin suaminya itu bersamanya malam ini. Delilah pun merindukan Nayaka juga.
Sekarang tidak seperti dahulu. Ketika ia merajuk, maka Nayaka yang akan mengemis. Tapi ini, malah kebalikannya. Delilah mencoba untuk tidak menghubungi suaminya. Namun, sang suami sama sekali tidak mencarinya.
Untuk menyambut Nayaka, Delilah memasak makan malam. Ia juga ingin memberitahu kabar bahagia ini. Siapa tahu, jika Nayaka mendapati ia hamil, maka melunaklah kemarahan dari suaminya.
Pukul delapan malam Nayaka datang ke apartemen. Delilah langsung memeluk suaminya. Rasanya ada yang berbeda dari Nayaka.
"Kau rajin olahraga, Sayang?" Delilah mencengkeram otot Nayaka yang timbul. "Keren, deh."
"Ya ...." Nayaka memperhatikan penampilan istrinya. "Kau sakit?"
"Aku baik-baik saja."
Nayaka mengangguk. "Kita tidur saja kalau begitu."
"Ini masih awal. Kita makan malam dulu. Aku memasak makanan kesukaanmu."
Nayaka menggeleng. "Aku sudah makan. Lagi pula, kenapa tidak bilang kalau kau ingin makan malam bersamaku?"
"Kita sudah lama tidak bertemu. Harusnya kau tahu kalau aku pasti akan mengajakmu makan malam." Delilah benar-benar tidak bisa mengendalikan amarahnya.
"Aku juga sudah bilang akan datang pukul 8, kan? Kau harusnya mengerti kalau aku pasti sudah makan malam di rumah."
Nayaka memandang lekat penampilan istrinya. Wajah yang pucat, kantung mata yang tampak, dan tubuh yang kurus.
"Aku akan panggil dokter kemari."
"Tidak perlu! Aku sudah ke sana."
"Kerjaanmu hanya belanja dan kumpul-kumpul. Tapi tubuhmu kurus begini."
"Jangan sok tahu!" ucap Delilah kesal.
"Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Kita ke kamar saja." Nayaka meraih tangan istrinya, tetapi ditepis Delilah.
"Aku tidak berniat tidur bersamamu."
"Aku tidak akan memaksa." Nayaka tetap melangkah ke kamar tidur.
Sementara Delilah menuju dapur. Ia sudah lelah memasak, tetapi Nayaka tidak memakannya.
"Lebih baik aku makan sendiri saja."
Baru makan sedikit, Delilah merasakan mual. Ia menuju wastafel dapur, memuntahkan makanan yang baru saja masuk. Suami ada di dekatnya, tetapi terasa jauh. Tidak ada Nayaka yang dulu mengusap punggung belakang atau menyeka bibirnya.
"Harusnya, Nayaka saja yang merasakan penderitaanku ini," gerutu Delilah seraya membersihkan mulutnya.
__ADS_1
Selepas itu, Delilah ke kamar. Ia masuk begitu saja di saat Nayaka tengah melakukan panggilan video.
"Iya, Sayang. Papa di sini dulu, ya. Besok pagi Papa pulang. Dedek bayi baik-baik di dalam sana," ucap Nayaka.
"Apa, sih, Nay?" Angel tertawa mendengar ucapan suaminya.
Delilah duduk di sisi kosong tempat tidur. Ia kira tadi suara Kyomi, rupanya sang madu. Nayaka menelepon, mengucapkan selamat tidur pada istri dan bayi yang masih dalam kandungan.
"Besok pagi mau dibawain apa? Mumpung aku keluar."
"Memangnya ada toko buka? Pulang cepat saja. Aku mau kita sarapan sama-sama."
Nayaka mengangguk. "Iya ... aku bakal pulang pagi besok."
"Ya, sudah, deh. Aku tidur duluan."
"Kalau ada apa-apa cepat telepon aku."
"Iya, Suamiku. I love you."
Nayaka tersenyum, lalu mematikan ponselnya. Ia meletakkan gawai itu di atas nakas, lalu merebahkan diri di atas bantal.
"Kenapa kau tidak membalas ucapannya?" tanya Delilah.
"Apa?"
Nayaka membalik dirinya. "Kau ingin tanya apa?"
"Dia mencintaimu. Kenapa kau tidak membalas ucapannya tadi?"
"Tidak perlu diucapkan. Tindakan dan kasih sayangku telah membuktikan kalau aku cinta padanya."
"Atau mungkin dari awal kau memang mencintai Angel."
"Mungkin benar."
Mendengar itu, Delilah ikut berbaring. Ia membelakangi Nayaka. "Tidurlah cepat, kau akan pulang subuh, kan?"
Tangan Nayaka terulur hendak mengusap punggung istrinya. Ia merindukan Delilah, tetapi mengingat pengkhianatan itu, Nayaka menarik diri.
"Apa kurangnya aku, Del?"
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kau berselingkuh dengannya?"
"Aku tidak selingkuh."
Nayaka terkekeh. "Apa belaiannya memuaskan dirimu? Dia mengecup wajahmu, bibirmu, lehermu, dan dia mengusap punggung belakangmu. Setelah itu kau membuka habis pakaianmu, dan melakukan hal itu bersamanya."
__ADS_1
Delilah memejamkan matanya. "Tidak sampai membuka baju. Aku tidak tidur dengannya."
"Apa permainan lidahnya lebih baik dariku? Apa jarinya lebih bisa membuat dirimu puas?"
"Hentikan, Nayaka!" Delilah sungguh tidak tahan lagi. "Lalu bagaimana kau bermain dengan istri barumu itu?"
"Aku memberinya kepuasan. Aku suka ketika dia berada di atas perutku, dan aku suka ketika kami melakukannya di kamar mandi."
Tanpa di sadari, air mata mengalir dari pipi Delilah. Semua itu adalah gaya kesukaannya. "Selera Angel sama sepertiku."
"Ya, tapi kami lebih sering melakukannya di tepi kolam renang. Aku sengaja menyewa hotel. Lagi pula, kami belum sempat ke luar negeri untuk jalan-jalan."
"Wow! Sungguh pasangan yang romantis." Delilah berdeham. "Aku tidur dulu. Kalau kau pulang nanti, tidak perlu membangunkan diriku."
"Ya, aku tidak akan membangunkanmu."
Seperti biasa, ketika Delilah bangun, suaminya tidak ada di samping. Perlakuan Nayaka membuat beban pikiran bagi Delilah. Ia seperti kehilangan sosoknya yang dulu.
Ia lemah untuk melabrak Angel. Ia enggan untuk protes atas perlakuan Nayaka selama ini. Setiap tiga kali seminggu, maka suaminya akan datang. Sesekali membawa Kyomi, tetapi tidak pernah Nayaka mengizinkan putrinya untuk bermalam bersama sang ibu.
Tubuhnya semakin kurus, padahal ia tengah hamil. Dokter yang memeriksa telah memberi nasihat untuknya. Delilah sadar jika ini tidak baik baginya, dan ia harus memperhatikan lagi kesehatan demi sang buah hati.
Delilah belum memberitahu Nayaka kalau ia tengah hamil. Saat suaminya datang, maka keduanya langsung menuju tempat tidur. Tidak ada obrolan tentang kegiatan mereka masing-masing.
"Kau baik-baik saja?" Nayaka heran melihat istrinya yang semakin kurus. "Aku panggilkan dokter saja."
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu repot-repot, Nayaka."
"Kau tidak lagi ke salon? Uang yang kuberikan cukup, kan?"
"Lebih dari cukup."
"Setiap aku datang, kau suka sekali memakai kaus kebesaran itu."
"Ini lebih longgar dan aku suka memakainya."
Nayaka mengangguk. "Aku pulang sebentar mengantar makanan ini. Tengah malam nanti aku akan datang."
Saat Nayaka telah berada di apartemen, telepon dari Angel datang. Karena mengidam, Nayaka berusaha untuk menuruti keinginan Angel dengan pergi membeli kebab.
"Tidak perlu, Nayaka. Aku tidak ingin kau bolak-balik. Antar saja makanan itu untuk Angel. Kasihan bayinya."
Nayaka menaikkan sebelah alisnya. "Kau tidak apa-apa?"
"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah. Aku tidur cepat saja."
"Aku tidak akan menganggumu." Nayaka lekas berlalu pergi.
Bersambung
__ADS_1