
Kyomi langsung mematikan telepon itu dan menyebabkan Delilah panik. Ia kembali men-dial nomor Nayaka yang masih belum diganti, tetapi Kyomi tidak mengangkatnya.
"Kak, Kyomi ini kenapa?"
"Mungkin dia kaget karena tiba-tiba punya adik. Nanti kau telepon saja dia. Ini, kau pegang Kanaka. Kakak mau keluar buat beli makan. Sekalian menjemput orang yang akan menemanimu di sini."
Delilah mengambil alih Kanaka yang menangis. Ia mengantar Reyhan sampai pintu depan, barulah menyusui putranya sembari terus menelepon.
Sementara itu, Kyomi berlari menemui ayahnya yang berada di kamar. Ia menangis dengan menunjukkan telepon genggam ke hadapan Nayaka.
"Ada apa?"
Jelas Nayaka kaget. Yang tadinya Kyomi bersuka cita, sekarang malah menangis tersedu. Nayaka memandang nomor baru yang meneleponnya. Ia yakin itu Delilah.
"Biar Papa angkat telepon dari Mama."
"Enggak boleh!" bentak Kyomi.
"Kau kenapa, Kyomi?"
Nayaka segera merebut ponsel dari tangan putrinya. Takutnya tiba-tiba Kyomi melempar gawai itu. Masalahnya bukan telepon genggam, tetapi data yang ada di dalam begitu berharga.
"Kyomi enggak mau punya adik. Mama enggak sayang sama Kyomi!"
"Adik?" ulang Nayaka.
"Mama punya adik bayi. Kakek Reyhan tadi yang pegang. Katanya itu adik Kyomi. Pokoknya Kyomi enggak mau punya adik. Titik!"
"Mama Delilah punya adik bayi?"
Kyomi mengangguk sembari terisak. Suaranya terbata-bata menjelaskan. "Kyomi enggak mau punya adik dan papa baru. Kyomi cuma mau Papa Nayaka saja."
"Mama punya Papa baru? Kyomi lihat?"
Papa baru? Apa Delilah sudah memiliki pasangan baru? Nayaka tidak percaya ini, terlebih Kyomi mengatakan ada seorang bayi yang dipegang oleh Reyhan.
"Papa harus bicara pada Mamamu."
"Nayaka!" Angel menegur.
Nayaka berhenti melangkah, ia melihat Angel sejenak. Tapi, rasa penasaran Nayaka terhadap Delilah lebih besar. Ia tetap melangkah keluar yang disusul oleh Kyomi.
"Papa mau ke mana? Jangan marah sama Mama." Kyomi masih terisak.
"Papa hanya bicara saja. Kyomi sama bibi pengasuh dulu, ya?"
Kyomi mengangguk. "Suruh Mama pulang. Tapi jangan bawa adik bayi itu. Kyomi enggak mau punya adik."
Satu hal yang Nayaka sadari jika Kyomi memang tidak bersedih atas kepergian Kanaka. Ini salahnya. Semua permasalahan rumah tangga ini berdampak pada Kyomi.
__ADS_1
"Sama bibi dulu. Papa harus bicara pada Mama Delilah."
Kyomi diambil alih oleh pengasuhnya, dan Nayaka segera melangkah masuk ke ruang kerja. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang.
Nayaka melakukan panggilan video. Tidak dijawab. Namun, ia tidak lelah untuk mencoba. Di negara Swiss sana, Delilah ragu untuk mengangkat panggilan video itu.
"Kenapa harus takut? Bersikap biasa saja."
Delilah menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Ia mengusap wajah, lalu merapikan poni rambut, kemudian menggeser tombol hijau.
Keduanya sama-sama diam ketika sudah bertatapan secara langsung. Delilah memandang Nayaka. Mantan suaminya sedikit berubah setelah beberapa bulan berpisah. Ada kumis yang menghiasi bibir itu.
Sementara Nayaka, melihat Delilah tanpa polesan make up. Wajah yang lembut, dan Delilah inilah yang ia sukai. Begitu polos, seperti waktu remaja.
"Apa kabar?"
Pertanyaan ini sebenarnya tidak ada dalam pikiran Nayaka. Ia ingin bertanya mengenai bayi. Namun, bibirnya malah ingin berkata basa-basi.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja."
"Kau menghilang begitu saja. Aku mencarimu ke mana-mana."
"Oh, ya? Untuk apa kau mencariku?"
"Aku ... aku ...."
"Selamat untukmu." Delilah memotong kalimat Nayaka. "Istrimu pasti sudah melahirkan. Laki-laki atau perempuan?"
"Kau kenapa?" Delilah menegur.
"Kau di mana?" Nayaka mengalihkan pembicaraan.
"Di suatu tempat."
"Swiss? Terlihat di nomor telepon yang kau gunakan."
"Kau sudah tahu itu."
"Kyomi merindukanmu."
"Aku tahu."
"Kau tidak ingin menjenguknya? Kita tidak harus musuhan, kan?"
"Kau yang memusuhiku. Kau masih dendam padaku? Kurasa kita memang harus menyudahi masalah ini. Kau sudah bahagia bersama dia dan aku bahagia dengan kehidupanku sekarang."
"Aku bertemu Ashraf, dan dia bilang ...."
Nayaka terdiam. Apa yang dikatakan Kyomi memang benar ketika ia mendengar suara tangis bayi. Delilah memiliki seorang bayi.
__ADS_1
"Bayi siapa itu?"
"Dia anakku. Maaf, nanti saja bicaranya. Aku perlu mengurus bayiku."
Panggilan video itu diputus. Nayaka tersandar di kursi kebesarannya. Ia menggeleng, lalu mengusap wajahnya dengan dua tangan.
"Dia punya bayi." Nayaka menggeleng. "Kapan dia hamil?"
Segera Nayaka bangun dari tempat duduknya. Ia keluar, berjalan menuju beranda depan.
"Tuan Muda." Sopir menegur.
"Aku ingin pergi sendiri."
Sopir itu mengangguk, lalu membuka pintu untuk sang majikan. Mobil dihidupkan, Nayaka segera mengendarai kendaraan mewahnya keluar dari halaman rumah. Sementara Angel melihat kepergian suaminya dari balkon kamar. Ia tengah menenangkan diri, dan tanpa sengaja melihat Nayaka masuk mobil dan pergi.
"Mau ke mana dia?"
Setitik air mata menetes dari pelupuk matanya. Entah ke mana Nayaka. Yang pasti Angel tahu jika suaminya pasti tengah mencari tahu tentang Delilah.
Memang benar dugaan Angel karena Nayaka kembali ke apartemen. Seminggu sekali selalu ada yang membereskan huniannya ini dan kebetulan pelayan itu ada di tempat.
"Apa kau pernah melihat kertas dari rumah sakit saat kau membereskannya? Aku sudah bilang, kan, barang di sini tidak boleh dibuang."
"Saya tidak pernah melihat kertas dari rumah sakit. Saya tidak berani membuka amplop surat." Pelayan wanita itu menjawab dengan rasa takut.
"Kau membuang amplop-amplop itu?"
"Saya menyimpannya di dalam toples."
"Cepat ambilkan semua kertas itu. Apa saja yang berbentuk kertas berikan padaku." Nayaka terduduk di sofa.
Pelayan itu segera beranjak pergi memenuhi perintah sang majikan. Tidak lama ia datang dengan membawa toples kaca berisi kertas.
"Ini, Tuan."
"Ini sudah semua, kan?"
Pelayan itu mengangguk. "Iya, sudah semuanya."
"Kau boleh pergi. Aku perlu waktu untuk sendiri."
Tanpa disuruh juga pelayan itu akan pergi dari hadapan majikannya. Nayaka membuka toples kaca itu dan mengambil isinya. Dasar Delilah. Kebanyakan kertas tentang bon belanjaan. Nayaka sampai pusing memilihnya.
Namun, Nayaka melihat beberapa kertas yang diikat menjadi satu. Ia baca kepala surat yang tertera nama rumah sakit
Nayaka membuka, lalu membacanya. Meski ia tidak mengerti dengan istilahnya, tetapi Nayaka paham tentang tanda plus dan kurang yang tertera. Terlebih di bawahnya dijelaskan bahwa Delilah memang mengandung. Ditambah ada foto USG di sana.
Kemudian surat-surat yang lain, dan surat resep dari apotik. Nayaka ingat. Fisik Delilah yang berubah drastis waktu itu. Tubuh istrinya yang kurus, dan ia hanya menanyakan keadaan Delilah saja, tanpa mau memaksanya untuk berobat ke rumah sakit.
__ADS_1
"Dia tidak memberitahuku. Dia menyembunyikan kehamilannya. Apa bayi itu anakku?"
Bersambung