
Pagi hari, Nayaka disibukkan dengan kerewelan Kyomi yang tiba-tiba saja tidak ingin ditinggal sendirian. Kyomi ingin ikut pergi bersama sang ayah bekerja. Lelah Nayaka membujuknya, tetapi gadis itu tetap ingin ikut.
"Papa ajak jalan-jalan sebentar pakai motor mau?"
Kyomi menggeleng. "Kyomi mau ikut."
"Papa harus kerja, Kyomi," ucap Nayaka. "Kau boleh main ponsel sesukamu. Siang nanti Papa akan pulang."
"Kyomi tidak ingin di sini. Kyomi mau pulang ke Paris."
"Kita tidak punya uang. Mengertilah, Sayang. Jika kau terus begini, Papa akan dipecat."
"Enggak mau tinggal di sini," ucap Kyomi yang mulai merengek.
Nayaka memeriksa kondisi putrinya. Biasanya jika Kyomi mulai merengek, pasti ada sesuatu dari kondisi tubuh anaknya yang sakit.
"Kyomi sakit?"
Anak itu menggeleng. "Mau ikut."
Nayaka menghela napas panjang. "Kalau ikut ke kantor, pasti Kyomi merasa bosan di sana. Tidak ada mainan, buku, terus Kyomi mau duduk di mana nanti?"
"Maunya sama Papa."
"Sama tante Angel mau? Kyomi bisa main di sekolah."
Kyomi menggeleng. "Mau ikut Papa pokoknya."
Waktu masuk kantor tinggal setengah jam lagi. Nayaka juga tidak mungkin bolos bekerja di hari keduanya. Ia harus profesional, pandai membagi waktu antara pribadi dan pekerjaan, tetapi faktanya ia adalah orang tua tunggal. Semua serba sendiri termasuk menenangkan anak kecil yang rewel.
"Kyomi pakai jaket dulu. Kita sama-sama ke kantor," kata Nayaka.
Mau marah, tetapi Kyomi hanya anak kecil. Kadang putrinya mengerti keadaannya, tetapi juga bisa merengek seperti ini. Masalahnya Nayaka tidak nyaman jika dilihat oleh teman kantor. Pasti akan ada berbagai pertanyaan yang dialamatkan kepadanya nanti.
"Kyomi sudah siap," ucapnya.
"Kita berangkat," ucap Nayaka sembari memasangkan helm di kepala putrinya, lalu keduanya naik ke atas motor dan berlalu.
Sampai di perusahaan, Nayaka langsung membawa Kyomi masuk ke kantin kantor. Jelas karyawan yang sarapan di sana heran melihat ada anak kecil yang dibawa Nayaka, tetapi mereka tidak bertanya sebab jam masuk kerja telah dimulai.
"Uang buat Kyomi jajan," kata Nayaka seraya menyerahkan selembar uang lima puluh ribu. "Kyomi jangan ke mana-mana, ya. Tunggu Papa di sini."
"Kyomi enggak mau di sini!" ucapnya dalam bahasa Perancis.
"Kyomi!" Nayaka mulai marah.
Ibu kantin heran akan bahasa yang digunakan keduanya, tetapi melihat dari raut wajah Nayaka, sudah pasti pria itu tengah marah.
"Oke, Kyomi akan di sini."
__ADS_1
"Maafkan, Papa. Tapi ini sudah jam masuk kantor. Tunggu di sini dan jangan membuat ulah," pesan Nayaka, lalu beralih pada ibu kantin. "Bu, tolong dilihat anak saya."
"Oh, iya, Mas," ucap Ibu kantin yang tidak mengenal Nayaka.
Nayaka bergegas keluar dari kantin. Peraturan dari perusahaan adalah pemotongan gaji jika telat. Ia baru saja masuk, dan sekarang malah terlambat.
"Sepertinya itu karyawan baru," gumam Ibu kantin, lalu memandang Kyomi. "Eh, kok, mirip ibu Delilah."
Kyomi memandang ibu paruh baya itu. "Bisa beri aku jus jeruk?" Kyomi mengatakannya dalam bahasa Perancis.
"Apa, Nak? Kamu ngomong apa?" tanya Ibu kantin.
"Kyomi ingin jus jeruk."
"Nah, kalau itu Ibu ngerti. Waduh, anak sekarang pada hebat semua."
Fokus Nayaka terganggu. Tiada henti ia melihat jam dari layar ponselnya. Takut dan khawatir menyelimuti karena Kyomi yang berada di kantin.
"Kau tidak fokus, Nayaka," ucap Mery.
"Maaf, aku sedikit pusing," kata Nayaka beralasan.
"Ini tugas penting, Nayaka. Kita harus menyelesaikan semua ini dalam dua bulan. Ibu Delilah ingin selesai sebelum pernikahannya berlangsung."
Mendengarnya saja darah Nayaka langsung mendidih, hatinya sakit teriris. "Kita akan selesai dalam dua bulan. Kau tidak perlu khawatir. Bos kita akan mendapat kabar manis sebagai hadiah pernikahannya."
"Aku baik-baik saja, Mery. Kita lanjutkan saja menyusun kegiatan untuk promosinya."
Sama hal dengan Delilah yang tidak fokus dengan pekerjaannya karena mengingat kejadian tadi malam di tempat Nayaka. Masih kaget akan permintaan sang mantan kekasih yang begitu keterlaluan. Delilah tidak habis pikir. Nayaka yang lembut dan penuh kasih sayang, bisa bertindak kasar. Delilah tidak heran sebab ayah kandung Nayaka begitu kasar meski ia tidak pernah mengenalnya.
Pintu ruang terbuka. Nela masuk dengan membawa beberapa berkas lagi di tangan. Ia meletakkan map itu di meja.
"Oh, ya, Bu. Tuan Andy memberi pesan agar Anda datang ke kantor," ucap Nela.
Delilah menghela napas panjang. "Enggak sempat. Katakan saja pada om Andy atau minta om Diki saja yang datang."
Perusahaan peninggalan Dion dan Bastian dikelola oleh Andy, orang kepercayaan Dion semasa hidupnya. Delilah memang tidak memperhatikan perusahaan itu karena ia fokus pada usahanya sendiri.
"Tuan Andy bakal marah pada saya, Bu. Katanya Ibu tidak mengangkat panggilannya."
"Nanti aku telepon. Kamu temani aku ke kantin. Aku perlu kopi buat menghilangkan kantuk."
"Biar saya saja yang buat, Bu."
Delilah menggeleng. "Aku tidak suka kopi instant. Aku suka buatan bibi kantin."
Nela mengiakan ajakan Delilah. Keduanya keluar bersama. Delilah mencuri lirik ke ruang yang ditempati Nayaka. Terlihat pria itu tengah asik mengobrol bersama Mery.
"Kemarin Angel, sekarang Mery. Dia menjadi pria penggoda sekarang," gumam Delilah.
__ADS_1
"Siapa, Bu?" tanya Nela.
"Bukan siapa-siapa," jawab Delilah.
Tentu saja Delilah kaget melihat Kyomi berada di kantin. Putrinya tengah makan roti dengan temani ibu kantin. Wajah cantik dan tawa manis anak itu menyentuh hati terdalam Delilah. Rasa bersalah muncul karena telah meninggalkan anak yang tidak tahu apa-apa.
"Kyomi," tegur Delilah.
"Tante!" Kyomi bangun dari duduknya, berlari memeluk Delilah. "Tante kerja di sini?"
"Iya, Sayang. Kenapa Kyomi ada di sini?"
"Kyomi ingin ikut papa."
"Bu, dia anak siapa?" tanya Nela.
"Pesankan aku makan dan kopi. Kami akan duduk di sana," kata Delilah tanpa menjawab pertanyaan Nela.
Delilah membawa Kyomi duduk, sedangkan Nela yang penasaran dengan anak kecil itu, mulai mencari informasi pada ibu kantin.
"Papa pasti marah Kyomi ikut kemari," kata Delilah.
"Kyomi tidak akan mengulanginya. Janji besok tidak akan kemari lagi."
"Kyomi mau ikut bersama Tante?" tanya Delilah.
"Ke mana?"
"Rumah boneka."
"Kau punya rumah boneka?" Kyomi mulai bicara dengan logat asing.
Delilah tertawa. "Tante tidak lancar bahasa Perancis."
"Sama seperti mama Kyomi."
Delilah tersentak mendengarnya. "Mama Kyomi? Siapa?"
"Tante Angel. Dia baik dan Kyomi ingin dia menjadi mama."
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Tidak boleh ada wanita lain yang menggantikan posisi mama kandungmu," ucap Delilah.
"Kyomi tidak mengerti."
Delilah memeluk Kyomi, mengecup kening serta pipinya beberapa kali. Timbul rasa sayang dalam hatinya. Putri yang ia abaikan, lupakan, Delilah menyesal telah meninggalkannya.
"Sayang, kau punya mama."
Bersambung
__ADS_1