Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Anggota Baru


__ADS_3

Ketika Delilah keluar kamar, Kyomi menegurnya. "Mama mau liburan?"


Pertanyaan yang sama, seperti Nayaka. Apa kepergiannya ini sebagai liburan atau sebenarnya selama ini Delilah telah menciptakan kalau kepergiannya ini hanya untuk bersenang-senang saja?


"Mama mau pindah ke apartemen. Di sini ada parasit. Mama akan kembali setelah Papamu membuangnya." Delilah mengucapkannya sembari menatap tajam Angel. "Kyomi mau ikut Mama?" senyum manis Delilah tunjukkan.


"Mau, Kyomi ...."


"Tidak!" Nayaka cepat memotong kalimat putrinya. "Kyomi pergi sama Papa saja nanti. Sekarang, Kyomi tidur saja. Papa harus mengantar Mamamu."


"Ayo, Sayang. Kita ke kamar saja." Angel meraih pundak Kyomi, memutar tubuh anak itu, lalu menggiringnya masuk kamar.


Delilah menatap Nayaka. "Tidak perlu. Kau temani saja istri barumu itu."


"Tentu saja, tapi jangan katakan kalau aku tidak berlaku adil padamu. Ayo, biar aku antar."


Delilah mendengkus, lalu berjalan sembari mengeret kopernya. Nayaka mengambil alih kunci mobil istrinya, membuka pintu dan mempersilakan Delilah masuk. Sementara koper pakaian, ia letakkan dalam bagasi.


"Kau sungguh ingin aku tinggal di apartemen?" Delilah bertanya ketika suaminya itu telah duduk di depan setir kemudi.


"Kau yang menginginkannya, kan?"


"Kau tidak mau mencegahku?"


"Buat apa?" Nayaka beradu pandang pada istrinya. "Aku takut kesayanganku ini akan mengatakan kalau aku mengekangnya. Aku tidak mau kalimat itu keluar dari bibirmu."


"Sampai kapan kau akan menyiksaku begini?"


"Kapan aku menyiksamu? Apa aku memukulmu, tidak, kan?"


"Sudahlah. Jalankan saja mobilnya."


Kali ini, Delilah yang malas untuk berdebat. Nayaka selalu bisa membuatnya tidak berkutik. Roda seakan berputar, sekarang suaminya ini bermulut pedas.


Sampai di apartemen, keduanya langsung menuju kamar tidur. Apartemen yang Delilah tempati sekarang, dihuni oleh satu orang pelayan yang ditugaskan untuk selalu membersihkan hunian itu.


"Ayo, cepat." Nayaka meraih tangan istrinya yang hendak membereskan pakaian dalam koper.


"Apa?"


"Malam ini giliranmu."


"Kau tidak tidur di sini? Aku bereskan pakaianku dulu."


Nayaka mengedikan bahu. "Entahlah ...."


Mendengar keraguan dari ucapan sang suami, Delilah langsung membuka pakaiannya, dan merebahkan diri di atas tempat tidur.


Nayaka mematikan lampu, ia membuka pakaian, lalu merangkak naik ke tempat tidur. Ini menjadi suatu kebiasaan baru bagi Nayaka.


Ketika ia menyentuh Delilah, maka lampu harus padam. Bahkan, Nayaka enggan untuk mengecup bibir yang selalu membuatnya candu itu. Permainan yang diberikan sangat kasar. Nayaka hanya sebentar memberi pemanasan.


Tidak ada lagi permainan lidah yang membuat Delilah melayang-layang. Nayaka bermain langsung, dan ketika selesai, maka dia akan segera membersihkan diri.

__ADS_1


Lampu dihidupkan, Nayaka turun dari ranjang, dan berjalan menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian, pria itu selesai. Memakai kembali pakaiannya, lalu merebahkan diri di samping Delilah dengan posisi membelakangi.


"Kau masih mengonsumsi pil KB?"


"Kenapa?" tanya Delilah.


"Aku hanya takut."


"Takut?"


"Pastikan kau menghitung tanggal setiap aku menidurimu. Takutnya kau hamil anak orang lain. Aku tidak ingin mengakuinya bila itu sampai terjadi."


Delilah melotot mendengarnya. "Aku tidak seburuk itu!"


"Aku hanya mengingatkan."


"Kau tidak percaya padaku lagi?" Delilah berkata lirih.


"Haruskah aku percaya pada istri yang selalu membuatku kecewa. Aku tidak ingin membahas ini, lebih baik kita tidur saja."


Delilah sadar ketika pukul empat pagi, Nayaka keluar dari apartemen. Suaminya itu bahkan tidak ingin sarapan bersama.


Perlakuan Nayaka itu berlanjut. Nayaka akan menemui Delilah seminggu tiga kali, dan selalu pulang di pukul 4 pagi. Delilah tidak pernah lagi sarapan bersama suaminya, dan pertemuan dengan Kyomi juga berkurang. Untuk menghibur diri, Delilah pergi belanja dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.


Delilah menggerutu, "Aku ingin sarapan bersamamu. Kau tidak pernah makan di sini."


"Kau sempat menyediakan sarapan untukku?"


"Kau ini kenapa, sih, Nay?"


"Aku cuma tanya. Oh, ya, aku ingin memberi kabar baik untukmu."


"Kabar baik?" Delilah antusias mendengarnya.


Nayaka tersenyum. "Anggota keluarga kita bertambah satu lagi."


"Anggota keluarga?" masih Delilah mengulangi ucapan Nayaka.


"Ya, Angel hamil."


"Apa, hamil?"


Nayaka mengangguk. "Kuharap anak laki-laki yang ia kandung. Aku sangat berharap."


"Pergi dari sini."


"Kau mengusirku?"


"Aku bilang pergi!" teriak Delilah.


Nayaka bangun dari duduknya. "Aku pulang."


Delilah meraih vas bunga, lalu melemparnya ke dinding. Nayaka berhenti melangkah, lalu memutar tubuh menatap istrinya.

__ADS_1


"Aku akan datang bila kau memanggilku." Lalu, Nayaka keluar.


"Dia begitu bahagia dengan kehamilan wanita itu. Dia berharap anak laki-laki." Delilah menangis.


Sejak mendengar berita kehamilan Angel, Delilah tidak menemui Nayaka. Satu bulan suami istri itu tidak bertemu. Uang tetap mengalir, hanya saja Nayaka pernah berkata akan datang bila dipanggil.


Ketika bangun tidur, Delilah merasakan mual. Hanya ia sendiri di apartemen. Untuk pelayan, Delilah memutuskan untuk memakai jasanya semimggu sekali saja.


"Harus ke dokter, nih."


Selesai membersihkan diri, Delilah pergi ke rumah sakit. Ia memeriksakan diri ke dokter kandungan karena firasatnya sudah berkata demikian. Sudah lama ia tidak mengonsumsi pil KB, dan mungkin saja ada kehidupan dalam perutnya.


"Anda hamil, Nyonya. Selamat," ucap Dokter yang memakai hijab di kepalanya. "Tapi kondisi Anda kurang sehat. Ini akan mempengaruhi janinnya. Saya akan berikan vitamin, obat mual dan penguat kandungan."


Delilah mengangguk saja. "Ya, terima kasih."


Hamil? Ada kehidupan di dalam perutnya. Delilah sendiri tidak tahu apakah ia harus senang dengan kehamilan kedua di tengah kondisi pernikahannya saat ini. Anak dan suaminya telah menjauh. Ia sendirian saat ini.


Selepas mengambil obat, Delilah segera pulang ke apartemen. Tidak tahu kenapa ia tidak ke rumah megah yang sudah beberapa minggu tidak ia kunjungi.


"Delilah!"


Delilah kaget. Ia menoleh pada suara yang memanggil. "Kiano, kau di sini?"


"Aku menunggumu di parkiran sini." Kiano mana bisa masuk ke sembarangan gedung apartemen.


"Kenapa tidak menelepon?"


"Kau mengganti nomormu!" Kiano ingin sekali mencekik bibinya saking kesalnya.


Delilah mengibaskan tangannya. "Kita ngobrol di flat saja."


Ada angin apa Kiano datang ke Dubai. Padahal sudah jelas kalau Reyhan melarang untuk mempedulikan dirinya.


"Kau ambil minum dan makan sendiri. Aku lelah." Delilah langsung mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Kyomi menelepon. Dia punya dua ibu sekarang. Satu ibunya tidak pulang ke rumah sejak lama. Ikut bersamaku, kita pulang ke Indonesia."


"Atas suruhan Kak Reyhan kau kemari?"


"Kau masih ingin bersama Nayaka?" Kiano tidak menanggapi pertanyaan Delilah tadi.


"Dia suamiku. Tentu aku akan bersamanya."


"Kau ingin merasa tersakiti begini terus? Lihat kondisimu, Del. Kau semakin kurus, kau pucat, dan mata pandamu terlihat."


"Benarkah?" Delilah memegang pipinya. "Aku sudah melakukan perawatan mahal."


"Keluarga kita tidak miskin benar. Kakak masih bisa menghidupimu."


"Aku tahu. Bukan soal itu, tapi aku ingin di sini. Jangan mencampuri masalahku, Kiano. Aku baik-baik saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Nayaka begitu karena aku bermain api. Ini bukan sepenuhnya salah dia."


Kiano menggeleng. "Terserah kau saja, Del. Pertahankan keras kepalamu itu."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2