
Sekarang Nayaka berada dalam satu persimpangan antara rugi atau tidaknya ia melihat suatu pemandangan indah yang telah benar-benar disuguhkan di depan matanya.
Bukan ia ingin mengambil satu kesempatan, melainkan dirinya menyukai moment di mana Delilah tengah menyusui bayi kecil yang merupakan putranya.
Nayaka akui ia merindukan bentuk padat yang besar karena terisi oleh asi. Ia sering mencucupnya, bahkan bisa dibilang hampir setiap saat ketika mereka berdua berada dalam kondisi akur.
Jika ia marah, maka Delilah akan membuka kancing bajunya. Memperlakukan dirinya seperti seorang bayi hingga berlanjut pada adegan yang hanya orang dewasa ketahui.
Sayangnya Nayaka tidak bisa menikmati itu lagi. Bahkan Delilah sekarang buru-buru meraih tisu untuk menutup bagian sensitifnya yang terbuka.
"Kau tidak bisa ketuk pintu dulu?"
Dari nada suara Delilah, Nayaka mengerti wanita itu tengah kesal pada dirinya yang masuk begitu saja ke dalam kamar.
"Maaf, aku hanya terbiasa saja."
Apa perpisahan ini juga menjadi jembatan antara dirinya? Dalam arti, Delilah membatasi apa yang boleh atau tidak. Rasanya aneh. Dari mereka remaja, Delilah tidak pernah menyembunyikan apa pun. Nayaka puas memandang bentuk polos dari kekasih kecilnya sampai pada usia di mana mereka tidur bersama untuk yang pertama kali.
Delilah ingin menjawab ucapan Nayaka. Hanya saja ada Kyomi di sampingnya. Ia tidak akan marah atau bertengkar lagi gara-gara sang mantan suami yang masuk kamar begitu saja.
"Sudah minumnya?" Nayaka melangkah ke sofa, lalu mendaratkan tubuhnya di samping Delilah. Tepatnya berada di ujung kepala si kecil hingga ia bisa mengusap rambut Kanaka.
"Belum. Masih lapar sepertinya."
Bayi yang masih kecil sekali. Umurnya baru beberapa hari. Tapi Nayaka merasa jika bayi itu mirip dengannya. Hidung mancung dan alis tebal. Rambutnya juga hitam.
"Lihat bibirnya. Sudah tidur, tapi masih mau susu." Nayaka menoel pelan pipi Kanaka. Ia menunduk, mengecup pipi bayi itu yang malah membuat Delilah beringsut menjauh.
"Kak, Kanaka masih menyusu. Maksudku, kau begitu dekat denganku." Daun telinga Nayaka menyentuh bagian depan sensitifnya. Itu sebab, Delilah bergeser sedikit.
"Kenapa Papa enggak boleh dekat sama Mama? Kalian bertengkar lagi." Kyomi menatap keduanya dengan wajah ditekuk.
Delilah tersenyum. "Tidak, Sayang. Papa boleh dekat sama Mama. Cuma adik Kyomi masih menyusu."
"Iya, Sayang. Mama benar." Nayaka menimpali.
Delilah sedikit membelakangi Nayaka. Ia melepaskan diri dari Kanaka yang sudah terlelap. Kemudian barulah ia menghadap sang mantan.
"Kau mau pegang?"
__ADS_1
"Tentu saja," jawab Nayaka sembari mengulurkan tangannya.
Nayaka tidak tahan untuk tidak mengecup wajah Kanaka. Ada aroma asi, tubuh Delilah, dan itu membuat Nayaka terus menghujani putranya dengan kecupan.
"Nanti Kanaka bangun, Papa." Kyomi sudah mulai protes.
"Nanti Papa yang jaga kalau Kanaka bangun."
"Ayo, Kyomi. Ikut Mama ke dapur. Kau ingin makan, kan?"
Kyomi mengangguk akan ucapan Delilah. Keduanya keluar meninggalkan Nayaka bersama Kanaka.
"Putra kecil, Papa." Sekali lagi Nayaka mengecup pipi putranya. "Mamamu tidak bilang kau ada. Maafin Papa, ya, Sayang. Papa tidak hadir saat kau lahir."
Kanaka mengeliat dalam kain yang membalutnya, dan Nayaka kembali mengecup dan memeluk sang buah hati.
Ini putranya. Keturunannya dari wanita yang sampai saat ini masih berada dalam lubuk hatinya. Nayaka mencintainya, sungguh, dan tidak ada yang dapat mengubah itu.
"Kak, makan dulu." Delilah masuk begitu saja.
"Iya ...."
Delilah memperhatikan itu. Saat Kyomi lahir, kebanyakan Nayaka yang mengurus. Ia sendiri tidak dapat membayangkan itu. Seorang pria mengurus bayi yang baru lahir. Tapi sekarang, ia juga merasakannya.
"Tiap dua jam sekali, kau susui dia, Del." Nayaka berkata sembari menepuk pelan kaki putranya.
"Aku tahu."
"Kau ingin Kanaka asi ekslusif?" Nayaka menoleh pada Delilah. Ia menegakkan tubuh, kemudian berjalan mendekat.
"Maunya begitu. Tapi Kanaka harus meminumnya lewat botol. Aku hanya ingin dia terbiasa. Kau tahu sendiri, aku seorang janda, dan aku harus bekerja untuk menghidupi anak-anakku."
Sindiran lagi, meski apa yang dikatakan Delilah saat ini benar adanya. Tidak habis pikir. Mereka seperti dua orang yang asing.
"Kau belum menjadi janda. Kita belum resmi berpisah."
Kening Delilah berkerut. "Maksudmu?"
"Kita masih suami istri. Aku tidak pernah mengurus surat perpisahan."
__ADS_1
"Kau tidak bisa move on dariku, ya?" Delilah menarik satu sudut bibirnya. "Kita sudah berpisah secara agama."
"Aku emosi waktu itu dan talak itu tidak sah."
"Ya, terserah apa yang kau katakan. Bagiku, kita sudah berpisah secara agama. Jika negara belum mengesahkan, kau tenang saja. Aku bisa mengurusnya. Kau tinggal duduk saja, lalu surat resmi itu akan kau terima."
"Aku minta maaf, Del."
"Kak, aku tidak ingin mengulang masa lalu. Aku sudah bahagia sekarang. Aku ingin hidup bersama anak-anakku. Aku tidak akan meminta apa pun padamu."
"Dengan berjualan aksesoris itu?"
Delilah menatap mantan suaminya. "Aku hanya ingin membuktikan kalau aku pantas bersama pria yang kucintai. Aku ingin melihat dia menyesal telah membuangku."
"Aku tidak pernah membuangmu."
"Aku bersalah padamu. Aku menjalani hidup seperti kau dulu. Hidup sederhana tanpa barang mewah sekalipun. Aku telah menyadarinya. Aku begitu kejam padamu. Aku merendahkanmu. Menganggapmu remeh, bahkan aku bermain gila bersama pria lain. Aku salah, Kak. Aku menyadarinya.
"Untuk itu aku merelakanmu bersamanya. Kau pantas bersama wanita yang lebih baik dariku. Dia lebih segalanya dariku. Dia memahamimu, sedangkan aku tidak. Dia memuaskan, dan aku tidak. Sifatku buruk. Hanya wajah yang akan menua ini menjadi kelebihanku."
"Jangan diteruskan, Delilah." Nayaka tidak sanggup mendengarnya. "Aku salah. Aku membuat kesalahan besar dengan mendatangkan wanita lain dalam rumah tangga kita."
Delilah menggeleng. "Jika aku jadi kau, aku mungkin akan melakukan itu."
"Tidak, Del. Aku tidak mendengarkan penjelasanmu. Aku mengabaikanmu."
"Semua sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Daripada menyakiti kembali, lebih baik jalankan saja kehidupan yang ada."
"Kau tahu perasaanku, Del." Haruskah Nayaka berteriak kalau ia mencintai wanita yang berdiri di depannya ini? Delilah tahu betul ke mana hatinya berlabuh.
"Lalu kenapa, Kak? Kenapa kau tidak percaya padaku atas nama cinta?" Delilah tidak dapat lagi menahan air matanya. "Kenapa kau menyakitiku dengan cintamu itu?"
"Sayang ...." Nayaka bersuara lirih.
Delilah menggeleng. "Jika kau datang untuk membujukku, aku tegaskan kalau aku menolakmu. Aku tidak ingin hidup bersamamu lagi."
"Maaf, Del." Nayaka ingin memeluk, tetapi Delilah menghindar.
"Aku sudah menghapus nama Nayaka di hatiku."
__ADS_1
Bersambung