
Paginya setelah berkunjung ke rumah sewa Nayaka, Delilah menemui Juno di apartemen pria itu. Sedari tadi tunangannya menelepon agar ia segera datang.
Delilah menekan angka-angka sandi, setelah pintu itu terbuka, ia masuk, dan tidak menyangka Juno langsung menarik tangannya dan menghempaskan tubuh langsingnya ke sofa.
"Sialan! Apa-apaan kau ini?" murka Delilah.
"Kau yang murahan, Sialan!" Juno benar-benar marah menatap tunangannya. "Apa yang kau lakukan bersama Nayaka?"
"Aku hanya makan bersamanya."
"Fely dan Chika sudah memberitahuku segalanya. Kau berbohong padaku. Nayaka itu kekasihmu, kan? Kau sengaja menyusulnya ke Inggris dan kalian bersama di sana."
"Lalu, kau mau apa?" tanya Delilah. "Memang Nayaka adalah kekasihku! Kami berpisah lantaran kakekku yang tidak suka padanya."
Juno menunjuk Delilah. "Lalu sekarang kau ingin dekat dengannya. Ingat, Delilah, kita sudah bertunangan dan akan segera menikah. Jika sampai kau membuat malu keluargaku, tanggung sendiri akibatnya. Keluargamu dan Nayaka akan kuhancurkan!"
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak boleh dekat dengan Nayaka hanya sebagai teman?"
"Aku benci kau dekat dengan pria lain!" bentak Juno.
"Aku tidak sanggup dengan sifat posesifmu ini. Aku muak dan aku ingin kita putus!"
"Kau bilang apa?" tanya Juno.
"Aku ingin kita putus," jawab Delilah.
Juno mencengkeram lengan Delilah. "Lalu, kau ingin kembali bersama Nayaka."
Delilah menggeleng. "Aku hanya berteman dengannya."
"Lalu, kenapa kau ingin putus dariku?"
"Aku hanya tidak suka sifatmu."
Tangan Juno terulur mengusap pipi Delilah. "Kau tahu aku sangat mencintaimu, kan?"
Delilah mengangguk. "Iya, aku tahu."
"Aku tidak ingin menunjukkan sisi tergelapku, Delilah. Sekarang fokuslah pada pernikahan kita."
"Iya, aku mengerti," ucap Delilah.
"Keluarkan Nayaka dari perusahaanmu. Aku tidak ingin dia berada di dekatmu."
"Nayaka adalah kakakku. Jangan pisahkan aku darinya," pinta Delilah.
"Kau pernah mencintainya dan aku sangat membenci fakta itu."
"Itu hanya cinta monyet. Kurangi rasa cemburumu itu."
"Hanya sampai kontrak kerja itu berakhir. Setelah itu, kau harus memecatnya. Jika dia butuh pekerjaan, aku bisa memasukkannya di perusahaan lain," ucap Juno.
Delilah mengangguk. "Iya, hanya sampai kontrak kerja itu berakhir."
Juno memeluk kekasihnya. "Aku sangat merindukanmu, Sayang. Jangan sampai aku mendengar atau melihat dirimu bersama Nayaka. Aku bersumpah akan menghancurkan dirinya."
"Aku harus pulang ke rumah kakakku, Juno," ucap Delilah.
"Aku ingin bersamamu hari ini. Jangan lagi membuatku marah, Sayang. Aku bisa menyakitimu nantinya."
"Apa kau mencintaiku?"
__ADS_1
"Tentu saja," jawab Juno.
"Aku ingin mengakui sesuatu," ucap Delilah.
"Aku tahu kalau kau mencintaiku," sahut Juno.
"Aku serius, Juno. Aku ingin mengaku sesuatu."
"Diamlah, Sayang. Biarkan aku memelukmu. Aku baru saja lepas kendali tadi. Biarkan aku tenang dulu."
Pengakuan ini memang butuh ketenangan. Mendengar Delilah bersama Nayaka saja, Juno sudah meradang, apalagi jika Delilah memberitahu rahasianya, sudah pasti pria itu akan marah besar dan saat ini Delilah seorang diri. Ia tidak ingin mati sia-sia di tangan Juno.
Sampai sore hari Delilah bersama Juno. Menemani pria itu melepas rindu padanya. Untunglah hari ini ia memakai baju berlengan panjang dan berkerah tinggi. Juno tidak akan melihat tanda yang Nayaka tinggalkan di tubuhnya.
"Sudah sore, aku harus pulang," ucap Delilah.
"Perlu kuantar?"
"Tidak perlu. Bersenang-senanglah bersama temanmu. Mereka mengajakmu bertemu, kan?"
"Ya, katanya perayaan masa lajang. Sebelum aku menikah, mereka ingin selalu berkumpul bersamaku."
"Pergilah bersenang-senang sebelum aku melarangmu," ucap Delilah.
"Sungguh ingin pulang sekarang?" tanya Juno.
"Aku harus bertemu kakakku."
"Baiklah, berikan aku satu kecupan." Juno menunjuk bibirnya.
Delilah mengecup kecil bibir itu, lalu beranjak dari duduknya. "Jangan lagi menahanku. Aku harus segera pulang."
Delilah hanya mengangguk. Menjauhi Nayaka tidaklah mungkin karena keduanya telah berhubungan terlalu jauh. Bahkan Delilah telah menyerahkan tubuhnya kepada pria itu.
Keluar dari apartemen, Delilah mengendarai mobil menuju kediaman Reyhan. Hanya kepada sang kakak saja ia dapat meminta bantuan untuk pembatalan pernikahan ini.
Sampai di rumah yang begitu ia kenal, Delilah ragu untuk turun dari mobil. Takut sudah pasti bila sang kakak nanti akan marah besar. Namun, lebih menakutkan jika Reyhan sampai tahu jika ia telah menelantarkan seorang anak.
Suara klakson menggagetkan Delilah. Ia turun bersamaan dengan Kiano dan seorang wanita yang merupakan sahabat kecilnya yang juga turun dari mobil.
"Sera!" seru Delilah.
"Aku merindukanmu," ucap Sera dengan memeluk Delilah. "
"Kau baik-baik saja, kan?" ucap Delilah.
Sera melirik Kiano. "Dia datang tepat waktu."
"Kalian masuklah dulu," kata Kiano.
Ketiganya masuk ke rumah, dan rupanya ada kedua orang tua Sera yang berkunjung. Semakin ragu Delilah ingin mengutarakan niatnya terlebih ada masalah keluarga antara Reyhan dan Diki.
"Kakak kira kau tidak datang," tegur Reyhan pada adiknya. "Kau terlalu sibuk, Delilah. Pernikahan sebentar lagi dan kau sibuk entah ke mana."
"Tenang, Rey," ucap Diki.
"Kau suruh aku tenang? Aku meneleponnya beberapa kali dan dia tidak menjawab. Kau tahu kalau aku tidak suka diabaikan, apalagi jika itu dilakukan oleh istriku."
Diki mendengkus. "Kemari, Nak. Om kangen, nih."
Delilah menghampiri Diki dan Maya. Keduanya saling berpelukan melepas rindu. Meski begitu, Delilah jarang bertemu keduanya lantaran punya kesibukan masing-masing.
__ADS_1
"Semua sudah berkumpul, Delilah ingin bicara," ucapnya.
"Katakan, Sayang. Kalau kau tidak suka kakakmu, katakan saja," ujar Diki.
"Dengarkan Delilah bicara," sela Maya.
"Kakak, Delilah ingin membatalkan pernikahan ini."
Reyhan tidak salah dengar dan ini yang kedua kalinya sang adik meminta pembatalan pernikahan. Entah alasan apa yang membuat Delilah bisa sampai mengutarakan hal itu.
"Sayang, kau harus memberi alasannya pada kakakmu Reyhan," ucap Diki, yang selalu tahu apa keinginan sahabatnya.
"Delilah merasa tidak cocok pada Juno. Dia terlalu posesif. Kelakuannya semakin menjadi-jadi saja."
"Itu saja?" tanya Reyhan.
"Delilah ingin pernikahan ini batal," ucapnya.
"Anna, segera undang keluarga Juno. Kita adakan pertemuan keluarga," kata Reyhan.
"Iya, aku akan mengundang mereka segera," sahut Anna.
"Kak, aku serius," ucap Delilah.
"Kau juga serius untuk menghancurkan nama baik keluarga, kan? Kalau kau tidak suka Juno, kenapa kau menerima lamarannya?"
"A-aku ...."
"Katakan!" bentak Reyhan.
"Aku menyukai pria lain," aku Delilah.
"Apa maksudmu, Delilah?" tanya Kiano. "Kau mengkhianati sahabatku."
"Aku .... "
Delilah malah menangis karena ia tidak sanggup jujur kepada keluarga. Semua yang berkumpul tentu saja sangat penasaran dengan tingkahnya.
"Kau tidur dengan pria lain?" tanya Kiano.
"Apa?" sahut Reyhan, lalu menatap adiknya. "Delilah!"
"Maaf, Kak," ucap Delilah.
"Jadi itu benar!"
Reyhan beranjak dari duduknya, meraih tangan Delilah untuk bangkit dari sofa. Satu tamparan mendarat di pipi wanita itu.
"Kau akan menikah, dan kau selingkuh dengan pria lain. Apa aku mengajarimu begitu?" tanya Reyhan marah.
"Kak, aku punya anak."
Bersambung
Juno
Kyomi waktu umur 4 tahun
__ADS_1