Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Dibawa


__ADS_3

Delilah terkesiap. "Kau tidak mungkin melakukan itu, kan?"


"Ini masalah berbeda. Dia memukuliku," kata Juno.


"Kau yang lebih dulu memukulnya!" bentak Delilah.


Juno tertawa samar. "Kau tahu, aku ingin sekali memukulmu. Tapi aku tidak akan melakukan itu. Kau telah menyakitiku dan aku akan membalas rasa sakit ini."


Delilah tidak menjawab, lalu segera keluar dari apartemen Juno. Ia lelah, tetapi tetap harus mengunjungi Nayaka. Jika itu benar, artinya, tidak butuh waktu lama untuk pihak berwajib meringkus kekasihnya.


Lalu Kyomi? Delilah tidak ingin putrinya mengalami trauma. Ia segera mengendarai mobil menuju rumah sewa Nayaka.


Sesampainya di sana, tidak terjadi apa pun. Rumah Nayaka hening, dan Delilah merasa lega. Ini sudah larut malam, tetapi matanya sama kali tidak mengantuk. Hati Delilah begitu bimbang.


Tidak peduli dengan tanggapan tetangga yang mungkin saja melihat kedatangannya, Delilah turun dari mobil. Sekali lagi ia bertandang ke rumah sang kekasih untuk memastikan bahwa Nayaka dan Kyomi baik-baik saja.


Nayaka membuka pintu, rupanya pria itu sendiri belum tidur sebab Delilah mengatakan kalau ia akan kembali.


"Kukira kau tidak akan datang," kata Nayaka.


"Bagaimana Kyomi?" tanya Delilah yang langsung duduk di kursi. Ia begitu lelah serta banyak pikiran.


"Dia sudah tidur dan untungnya aku sudah menenangkannya," jawab Nayaka. "Bagaimana pertemuanmu?"


"Aku sudah mengatakan segalanya pada Juno. Kau tahu setelah itu apa yang terjadi. Baiknya Kakak segera pergi. Bawa Kyomi ke Paris. Aku akan pesan tiket penerbangan pertama secepatnya. Dokumen kalian masih berlaku, kan?"


Nayaka mengangguk. "Iya, masih berlaku."


"Baguslah, kau cepatlah bergegas. Aku akan menyusul setelah masalah ini beres."


Nayaka menggeleng. "Aku tidak akan pergi. Kenapa aku harus lari? Kau membenciku yang lemah. Sekarang aku ingin membuktikan diriku, tetapi kau malah menyuruhku melarikan diri."


"Sekarang kita punya Kyomi, Kak. Memangnya apa yang kau bisa lakukan? Kau tahu siapa Juno? Keluarganya setara denganku. Meski aku mengeluarkan banyak uang, belum tentu kau bisa lepas darinya," ucap Delilah.


"Kau selalu menganggap semua bisa dibereskan dengan uang."


"Karena beginilah cara kerja dunia. Yang kuat, maka dia yang bertahan. Lihat dirimu, apa kau bisa melindungi ibumu yang dipukuli? Tidak, kan? Kau hanya melihatnya, bahkan kau juga dipukuli," ungkap Delilah.


"Kau tidak tahu apa-apa. Jangan membuatku marah karena aku tidak akan segan untuk menahan diri."


Delilah terdiam mendengarnya. Nayaka baru saja membuat Juno babak belur. Padahal secara fisik, Juno lebih unggul, tetapi Nayaka bisa membuat pria itu tumbang. Ketakutan itu tiba-tiba saja hadir, dan Delilah merasa Nayaka hanya menahan diri selama ini.


"Aku hanya ingin menjadi pria baik-baik. Ayah yang bisa melindungi putrinya," ucap Nayaka.


Ketika Delilah ingin menjawab, pintu rumah digedor. Suara keras berasal dari luar, dan Delilah merasa takut. Apakah mereka di sana adalah pihak berwajib? Delilah lantas memegang lengan Nayaka agar pria itu tidak bangkit dari duduknya.


"Jangan buka," ucapnya.

__ADS_1


"Aku harus membukanya," kata Nayaka, yang melepas tangan Delilah, lalu beranjak membuka pintu. "Ada apa?"


"Anda yang bernama Nayaka?"


Nayaka mengangguk. "Iya, saya Nayaka."


"Ikut kami ke kantor polisi. Ini surat penangkapannya."


Nayaka menoleh pada Delilah, lalu ia mengangguk. "Iya, aku akan ikut kalian."


"Jangan!" teriak Delilah.


"Maaf, Nona. Kami harus membawanya," ucap pria berjaket kulit dan di pinggangnya terdapat senjata api.


"Dia tidak bersalah," kata Delilah.


"Saudara Nayaka telah melakukan pemukulan dan dia harus ditahan. Untuk lebih detilnya, kami akan jelaskan di kantor. Bekerja samalah dengan baik."


Suara gaduh itu membuat Kyomi yang pulas terbangun. Ia keluar kamar dan melihat Nayaka yang diborgol.


"Papa!" teriaknya.


Nayaka menoleh. "Kyomi!"


Kyomi menangis. " Papa, jangan pergi."


"Papa akan segera kembali. Kyomi bersama Mama dulu, oke," ucap Nayaka.


Anak itu berlari hendak meraih Nayaka, tetapi Delilah langsung memeluknya, dan menjauhkan diri dari beberapa orang yang menyuruh sang kekasih masuk ke mobil.


"Papa!" teriak Kyomi.


"Kita akan menyusul Papa," ucap Delilah.


"Tidak!" Kyomi mendorong Delilah, dan ia berlari ke jalan mengejar mobil yang membawa Nayaka.


"Kyomi!" panggil Delilah yang ikut berlari menyusul putrinya. "Ayo, kita pulang."


"Papa!" isaknya.


Delilah menggendong putrinya, membawanya masuk ke dalam rumah. Kyomi yang menangis, membuatnya tidak bisa berpikir. Pertama ia mencoba menelepon Juno, tetapi pria itu tidak menjawabnya. Kemudian menghubungi nomor Reyhan, tetapi hasilnya sama saja.


"Telepon lagi saja," ucap Delilah yang tidak ingin putus asa. Setelah beberapa kali, barulah terdengar suara di sana. "Kak, tolong Delilah."


"Kau di mana? Suara siapa yang menangis?" tanya Reyhan.


Delilah memberitahu alamat Nayaka pada Reyhan dan berharap kakaknya itu segera datang menjemputnya.

__ADS_1


"Diamlah, Kyomi," ucap Delilah.


"Kau jahat. Kau jahat!" kata Kyomi.


"Diam!" bentak Delilah.


Kepalanya sudah pusing, ditambah lagi mendengar suara tangis dari sang anak. Delilah ingin sekali berteriak untuk melepas beban yang ada di pundaknya saat ini.


Kyomi memukul perut Delilah. "Aku mau papa!"


"Kita akan bertemu sebentar lagi," kata Delilah.


"Kau jahat!" teriaknya. "Kau nenek sihir."


Delilah memeluk Kyomi agar berhenti meronta. "Jangan menangis, Sayang. Papa akan kembali."


Kyomi tetap saja menangis. Sementara Delilah mendengarkan saja. Ia tidak tahu bagaimana menenangkan sang anak yang terus menerus memanggil Nayaka.


Suara mobil terdengar, Delilah beranjak membuka pintu. Untunglah Reyhan dan Kiano telah datang.


"Kak, Nayaka dibawa oleh polisi. Tolong dia, Kak," ucap Delilah.


Jika diturutkan dengan niat hati, Reyhan sungguh ingin melayangkan tamparan lagi pada adiknya. Masalah pertunangan saja belum kelar, dan ditambah lagi masalah Nayaka yang dibawa polisi.


"Kau ini tahunya membuat masalah," ucap Kiano. "Kau tanggung sendiri perbuatanmu."


"Kiano!" tegur Reyhan.


"Lihat, anak itu menangis. Kau tidak mendiamkannya?" kata Kiano.


Delilah melangkah meraih Kyomi, tetapi anak itu tidak mau. "Ayo, Sayang. Kita ikut paman Reyhan."


"Enggak mau! Kyomi mau di sini. Kyomi mau papa!" ucapnya.


Reyhan menghampiri keduanya. Ia menggeleng melihat wajah anak kecil itu yang berlelehan air mata.


"Ayo, Nak. Ikut sama Kakek," ucap Reyhan lembut.


Kyomi menggeleng. "Enggak mau."


Perlahan Reyhan meraih tangan anak itu. "Sayang Kakek. Kita pulang ke rumah. Nanti kita ketemu sama papa."


Kyomi mengangguk, dan akhirnya, ia mau digendong Reyhan. Delilah merasa lega, sedangkan Kiano semakin kesal pada bibinya itu.


"Kiano, kau bawa mobil. Biar Delilah pulang sendiri," kata Reyhan.


"Iya, Pa," sahut Kiano, lalu beralih pada Delilah. "Cepat pulang dan jelaskan apa yang terjadi."

__ADS_1


Reyhan masuk kendaraan roda empatnya bersama Kyomi dan Kiano. Delilah baru menyusul ketika mobil yang dikendarai keponakannya berlalu.


Bersambung


__ADS_2