
Kyomi sama sekali tidak semangat mengikuti les musiknya. Apa yang guru sampaikan tidak ia terima dengan baik sampai kelas itu bubar dengan sendirinya.
"Satu bulan lagi kita ada pertunjukkan. Kau tidak semangat, Kyomi. Di kompetisi ini kita harus menang. Aku mengharapkan hadiah dari Daddy-ku."
Kyomi menoleh pada Dareen. Anak laki-laki berusia 7 tahun. Rambut hitam dengan bola mata kecokelatan. Keluarga Dareen berasal dari Perancis. Ayahnya merupakan pembisnis hotel ternama.
"Waktunya masih lama. Lagi pula aku bosan dengan pelajaran yang diulang."
"Kau bilang saat dewasa nanti ingin jadi pianis handal."
"Aku tidak ingin jadi dewasa. Mereka semua rumit."
Kyomi bangun dari duduknya, lalu melangkah pergi. Sementara Dareen bingung dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu.
"Tunggu aku, Kyomi!" Dareen lekas menyusul.
Meski Delilah berusaha untuk memaklumi pembalasan dendam Nayaka, tetap saja hatinya sakit.
Hari-hari ia jalani dengan perasaan tertekan dalam kondisi berbadan dua. Pergi ke rumah sakit sendirian, memenuhi kebutuhan sendiri, bahkan saat ia ingin bersama suami, Delilah harus mengurungkan niatnya.
Jika ia menyampaikan sesuatu, pasti Nayaka akan kembali mengungkit kesalahannya. Hingga tanpa terasa, usia kandungannya memasuki tiga bulan.
Haruskah Delilah bersyukur? Janin ini sepertinya betah berada dalam rahimnya, padahal sang ibu betul-betul dalam kondisi hati yang buruk.
Bukan Delilah tidak berusaha, ia ingin mengabaikan, dan masa bodoh dengan situasi ini. Ia ingin fokus pada bayinya. Namun, undangan dari Nayaka semakin membuatnya sakit hati.
Usia kandungan Angel sudah memasuki 4 bulan, dan di rumah akan diadakan pengajian. Ia diundang untuk menghadirinya, dan Nayaka mengatakan kalau sudah lama dirinya tidak pulang.
Bagaimana Delilah bisa pulang jika masih ada sumber sakit hatinya berdiam di sana. Ia tidak ingin menyakiti Angel. Sungguh! Memukul sang madu malah akan membuat Nayaka membenci dirinya, dan sebab itu, Delilah diam saja selama ini.
Namun, kebencian sang suami tidak pernah surut rupanya. Delilah tidak tahu harus dengan apa ia membujuk Nayaka agar hubungan mereka membaik. Bersikap baik pun Nayaka menganggapnya sebagai kepura-puraan semata saja.
Karena mendapat panggilan, Delilah nekat untuk menghadirinya. Ia putuskan untuk pulang, dan ia juga merindukan Kyomi yang telah jauh darinya.
Sampai di kediaman, berderet mobil mewah para tamu. Mungkin kerabat Omar serta sahabat yang datang untuk mengikuti acara ini. Delilah datang terlambat karena dari rumah sakit, ia langsung menuju kediaman Nayaka.
Delilah masuk, Omar tengah berpidato dalam bahasa arab. Ada Nayaka, Angel, dan Kyomi. Tapi anak itu menunduk saja dengan kaki yang digoyangkan.
__ADS_1
Sesekali Delilah melihat Nayaka mengusap perut Angel. Tersenyum, dan sang madu merebahkan kepalanya di lengan kekar sang suami. Nayaka mengecup kening wanita itu, lalu keduanya saling bertatapan. Kecupan itu turun ke perut yang sudah terlihat buncit. Jelas sekali perbedaannya. Delilah kurus kering dan Angel berisi.
Tanpa disadari, air mata itu jatuh. Delilah menghapusnya kasar, dan ia hendak melangkah pergi.
Namun, Delilah mengurungkan niatnya itu. Pantang baginya membuat sepasang suami istri itu bahagia. Ia melangkah menghampiri Omar yang berada di atas dekorasi indah itu.
"Mama!" seru Kyomi.
Delilah tersenyum, kedatangannya mengundang rasa penasaran para tamu yang hadir. Mereka tahu kalau ini perayaan untuk istri kedua, dan mereka tahu siapa itu Delilah. Namun, dengan penampilan yang berubah, tentu membuat semuanya bertanya-tanya.
"Papa, boleh aku pinjam mikrofon-nya?" Delilah mengulurkan tangan.
Omar memberikan apa yang diminta menantunya. "Jangan buat kekacauan, Del."
Hanya sebuah senyum yang Omar dapatkan sebagai jawaban. Delilah mengetes mikrofon itu, lalu ia mulai berbicara dalam bahasa Inggris agar semua yang hadir mengerti.
"Aku Delilah Malik Hawwas. Istri dari Nayaka Malik Hawwas. Aku di sini turut senang karena bisa menghadiri pesta ini, dan ingin mengucapkan selamat pada Angel dan suamiku, Nayaka atas kehamilan anak pertama mereka. Aku ingin mengatakan, semoga hidup kalian tidak pernah bahagia."
Tentu ucapan Delilah membuat riuh tamu yang hadir. Selepas mengatakan itu, Delilah mengembalikan mikrofon pada Omar, dan berjalan pergi.
"Mama!" seru Kyomi yang berlari mengejar. "Tunggu Kyomi, Mama!"
Malamnya, Nayaka mendatangi Delilah di apartemen. Tentu saja karena ucapan tidak pantas istrinya tadi.
"Jika kau hanya datang untuk menyumpahiku, sebaiknya jangan hadir saja tadi. Kau tahu betapa malunya keluarga kita, Delilah?" Nayaka masih menahan emosinya.
"Aku ingin tanya padamu. Apa kau mencintaku, Nayaka? Apa kau masih mencintaiku?"
Nayaka mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan yang Delilah sendiri tahu apa jawabannya.
"Aku tidak ingin hubungan kita memburuk begini. Kita teman masa kecil. Kita kekasih sejak masih remaja."
"Kau yang membuat hubungan ini memburuk."
"Aku akui aku salah. Aku minta maaf."
"Sangat mudah kau mengucapkannya. Setelah itu kau akan mengulanginya."
__ADS_1
"Sekarang tidak lagi. Aku menyerah. Aku ingin kita berpisah."
Ucapan terakhir itu yang membuat Nayaka memandang lekat istrinya. "Berpisah?"
"Kau pernah bilang, aku boleh pergi dan bertahan. Aku sudah bertahan cukup lama dan saat ini aku ingin pergi. Dari pernikahan dan dari kehidupanmu."
"Aku akan urus suratnya. Hak asuh Kyomi tetap bersamaku dan aku akan membagi semuanya padamu. Butuh waktu untuk mengurusnya."
Delilah menggeleng. "Aku tidak butuh apa pun."
"Aku akan mengurus surat-suratnya dulu."
"Aku ingin kau menalakku sekarang. Untuk suratnya, kau bisa bilang kalau aku mati. Semua prosesnya akan cepat."
"Kau istirahatlah dulu. Ayo, biar kutemani tidur." Nayaka hendak meraih tangan istrinya, tetapi Delilah lekas menghindar.
"Talak aku sekarang."
"Itu keputusanmu?" tanya Nayaka.
Delilah melepas cincin pernikahannya, lalu meletakkannya di atas meja. "Ya, aku tidak ingin hidup bersamamu lagi."
"Aku menceraikanmu. Mulai detik ini, kau bukan istriku lagi."
Delilah tersenyum. Bayang-bayang kebersamaan mereka telah terpecah. Tidak ada lagi Nayaka Delilah. Mereka telah berpisah. Nayaka langsung pergi dari apartemen, dan Delilah kembali ke kamarnya.
Ia meraih jaket, koper serta tas yang telah ia siapkan tadi siang, lalu keluar dari apartemen. Dengan berderai air mata, Delilah pergi dengan menumpang taksi. Ia tidak membawa mobil pemberian suaminya.
Tiba di depan rumahnya. Nayaka sadar telah mengucapkan sebuah kalimat yang seharusnya tidak ia ucapkan.
"Delilah!"
Nayaka memutar mobilnya. Ia kembali mengendarai kendaraan roda empat itu menuju apartemen. 30 menit, ia sampai, dan Nayaka bergegas naik ke lantai huniannya berada.
Ia masuk setelah membuka kode kunci. Keheningan yang ia rasakan seolah pemiliknya memang tidak berada di tempat.
Perlahan Nayaka berjalan ke arah kamar. Ia masuk, dan tidak ada seseorang yang ia harapkan. Nayaka membuka lemari. Hanya tinggal beberapa helai saja yang ditinggalkan mantan istrinya.
__ADS_1
Nayaka terduduk di atas tempat tidur. Air mata menetes tanpa ia perintah. Inilah akhir yang ia harapkan. Perpisahan. Entah ini akan mengobati luka atau malah semakin membuatnya menderita.
TBC