Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Kyomi Membandingkan


__ADS_3

Itu artinya, Nayaka mengira jika Kanaka adalah putranya. Ya, memang bayi yang dilahirkan Delilah adalah putra kandung pria itu.


Namun, Delilah tidak mengira jika Nayaka akan beranggapan begitu. Selama ini, ia berusaha jujur, tetapi Nayaka tetap saja tidak percaya dan mengira kalau ia telah tidur bersama Ashraf.


Sekarang apa? Mungkin juga ini karena Nayaka tidak ingin Kyomi menangis. Tidak peduli hal itu. Jika Nayaka beranggapan Kanaka bukan putra kandungnya, Delilah akan terima. Mau dibiayai atau tidak, bukan masalah. Toh, ia masih mampu memberi perawatan terbaik untuk sang buah hati.


Delilah tersenyum memandang Kyomi. "Mama tunggu di sini. Nanti Kyomi kabari saja kalau mau datang."


Kyomi mengangguk. "Iya, Mama."


"Sudah dulu, ya. Nanti kita telepon lagi."


Delilah memberi kecupan tangan sebagai perpisahan mereka, lalu panggilan itu terputus. Kyomi turun dari tempat tidurnya, kemudian menyerukan nama Nayaka. Tadi anak itu bersedih. Tidak lama, raut bahagia kembali muncul di wajahnya.


"Papa!" serunya.


"Kyomi ...." Angel menegur.


"Mama Angel, Papa mana?"


"Lagi ganti baju. Mama mau siapin makan siang dulu."


"Kau ini kenapa, sih?" Nayaka menegur. Pria itu berada di belakang istrinya. "Ayo, istirahat."


"Aku baik-baik saja, Nay."


"Kau baru saja melahirkan. Ayo, kau tidur saja." Nayaka meraih pundak Angel.


"Papa!" Kyomi menyanggah. "Adik Kyomi namanya Kanaka juga."


Baik Angel dan Nayaka sama-sama menghentikan langkah kakinya. Angel menyahut, "Kanaka?"


"Iya, kata Mama Delilah nama adik bayi, Kanaka. Terus Kyomi bilang kalau namanya sama seperti bayi Mama Angel. Tapi Mama Delilah bilang kalau Kanaka, adik Kyomi lebih tampan dari Kanaka Mama Angel. Wajahnya mirip Kyomi, loh."


"Kyomi, Kanaka Mama Angel itu adikmu juga." Nayaka tidak bisa membiarkan perbandingan ini.


"Tapi Mama Angel bukan Mama Kyomi. Kalau Kanaka ada di sini, pasti dia jahat sama Kyomi."


"Kyomi!" sekali lagi Nayaka menegur.


"Papa jangan marah, dong. Kyomi mau bilang sama Kakek Omar dulu."


Anak itu berlari memanggil pengasuhnya. Dengan tidak sabarnya Kyomi ingin bercerita tentang mendapat adik baru, tetapi dari ibu kandungnya.


"Jangan dengarkan, Kyomi. Kau istirahat saja."


Angel meraih tangan Nayaka. "Nay, apa nama Kanaka adalah nama yang telah kau persiapkan untuk bayi Delilah?"

__ADS_1


"Jangan salah paham, Angel. Dulu aku dan Delilah pernah berharap mendapat anak laki-laki. Kami akan memberinya nama Kanaka."


"Begitu rupanya. Sampai nama anak kita juga kau tidak mau melepas Delilah, Nay." Angel menepis tangan suaminya, lalu masuk kamar.


Nayaka menghela napas. Ia tidak menyusul Angel, melainkan mengikuti Kyomi yang sudah lebih dulu ke rumah Omar. Angel masih dalam keadaan marah. Jika dibujuk sekarang, takut akan semakin marah. Lebih baik dibiarkan saja dulu.


Baru tiba di rumah sang ayah, Nayaka dihujani rentetan pertanyaan oleh si Tua Omar.


"Bagaimana ceritanya kau tidak tahu istrimu hamil?"


"Dia tidak bilang padaku." Nayaka memberi kode kepada pengasuh agar membawa Kyomi menjauh dari pembicaraan keduanya.


"Kau bisa lihat perbedaan tubuhnya."


"Papa lihat saat terakhir Delilah berkunjung, kan? Tubuhnya kurus, dia tertekan dalam kondisi mengandung."


"Sekarang bagaimana?"


"Aku akan menyusul Delilah ke Swiss."


Omar mengangguk. "Suruh dia pulang."


"Ke mana? Aku dan dia sudah berpisah."


"Kalian rujuk, Nak. Kalian sudah memiliki dua anak. Ini demi putra dan putri kalian juga."


"Semua sudah terjadi. Tapi dia cucu laki-lakiku." Omar menghela. "Semoga Angel cepat mengandung kembali."


"Aku akan mengurus keberangkatanku ke Swiss."


"Kau akan pergi bersama Kyomi?"


Nayaka mengangguk. "Tentu saja. Mungkin besok atau lusa. Dokumen kami masih berlaku untuk kunjungan ke luar negeri. Aku dan Kyomi juga punya visa schengen."


"Izin dulu pada istrimu. Kau tidak berniat mendaftarkan pernikahanmu secara negara?"


"Aku masih sibuk," ucap Nayaka beralasan.


Sampai di rumah, Nayaka masih belum mengutarakan keinginannya untuk mengunjungi Delilah. Dalam arti, ia ingin pergi besok lusa setelah mendapat tiket. Istrinya baru beberapa hari selesai melahirkan, lalu sekarang ia malah ingin pergi ke luar negeri.


Makan malam juga terasa hening. Angel diam saja karena masih enggan pada Nayaka. Hatinya sakit karena nama bayi yang sama. Anak Delilah sehat, sedangkan putranya telah tiada. Ini seperti pertukaran takdir. Seolah nyawa anaknya, bersemayam di tubuh putra Delilah.


"Angel, aku ingin pergi ke Swiss bersama Kyomi."


Garpu dan sendok jatuh di tangan Angel. Ia menatap suaminya. "Jika aku melarang, apa kau tidak akan pergi?"


"Aku ingin menemui putraku."

__ADS_1


"Kau yakin, Nay?"


"Aku sudah selidiki riwayat medis Delilah. Bayi itu adalah putraku."


"Bisa saja saat di apartemen, Delilah kembali bermain gila bersama pria lain."


Nayaka menggebrak meja. Untungnya Kyomi tidak pulang dan asik bermain di rumah sang kakek.


"Ada apa denganmu? Kau tidak seperti ini sebelumnya. Kau tahu, kan, mengapa aku menikahimu?"


"Kau menikahiku hanya untuk balas dendam pada Delilah. Aku tahu itu. Tapi aku ini tetap istrimu. Seorang istri wajar melarang suaminya bertemu wanita lain."


"Aku dan Delilah tidak resmi berpisah. Aku menalaknya dalam keadaan marah. Lagi pula dia tengah hamil. Perpisahan itu tidak sah. Delilah masih istriku!"


"Secara agama kalian telah berpisah."


"Secara negara, Delilah adalah istri sah-ku. Aku tidak berniat menceraikannya." Nayaka bangun dari duduknya. Menggeser kursi, lalu pergi dari ruang makan.


"Nayaka ...." Angel bersuara lirih.


Sekeras apa pun Angel mencegah Nayaka, tetap saja tidak bisa. Kapan Nayaka menuruti ucapannya? Tidak ada. Nayaka hanya bisa luluh jika mendengar omongan Delilah saja.


Sayangnya Delilah harus merelakan Reyhan untuk pulang ke Indonesia. Sang kakak akan pulang dan berjanji datang kembali, tetapi dengan membawa rombongan keluarga.


Wanita yang disuruh untuk menemaninya telah tiba. Seorang perempuan yang umurnya tidak begitu jauh dari Delilah.


Sementara itu, Delilah juga belum mendengar kabar dari Kyomi ataupun Nayaka yang akan bertandang ke rumahnya. Ini sudah lewat dua hari dari waktu ia dan Kyomi melakukan panggilan video.


Delilah mencoba menelepon putrinya, tetapi telepon itu tidak tersambung. Kebiasaan Kyomi yang hanya boleh bermain ponsel di hari Sabtu dan Minggu. Ketika Nayaka datang nanti, ia akan protes. Zaman sekarang anak-anak memang senang bermain telepon pintar. Ia tidak ingin Kyomi menjadi kolot karena selalu dilarang ini dan itu.


Suara Kanaka menangis terdengar. Delilah bangun dari hadapan laptop-nya. Baru saja membuka benda segi empat itu, ia mendapat pesan. Ada yang berminat membeli aksesorisnya. Namun, Delilah belum sempat mengerjakan semua pesanan yang telah ia terima.


Ketika telah bersama Kanaka, suara lonceng pintu terdengar. Delilah berseru memanggil pelayan rumahnya.


"Mbak Santi!" serunya. "Tolong kau lihat siapa di luar sana."


"Iya, Nona." Santi melepas benang dan permata dari tangannya. Untungnya Santi ini bisa diandalkan. Sedikit-sedikit wanita itu bisa memasukkan permata pada benang. Santi bukan menuju pintu, melainkan masuk ke kamar. "Saya harus bicara apa, Nona? Saya tidak mengerti bahasanya."


Delilah tergelak. "Biar aku saja yang buka. Kau jaga dulu Kanaka."


Santi mengangguk. Delilah meletakkan Kanaka dalam tempat tidurnya, lalu beranjak keluar kamar. Lonceng rumah terus saja berbunyi.


"Bisa sabar sedikit tidak, sih?" teriak Delilah, lalu menarik gagang kunci dan membuka pintu. "Ya ...."


"Mama!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2